Laman

Selasa, 08 Maret 2011

ROTI ala PRANCIS


Roti ala Prancis ini harumnya menggugah selera .. “


Bahan :

- Roti Tawar
- Telur ayam
- Mentega blue band
- Gula pasir/gula halus

Cara :

1. Potong roti tawar menjadi 2 atau 4 bagian
2. Masukan roti tawar ke telur yang telah dikocok
3. Goreng di pan datar dengan mentega blue band.
4. Bolak-balik hingga kecoklatan

Dapat disajikan dengan gula pasir/gula halus atau taburan parutan keju. Enak disantap selagi masih hangat.

"SUAMIMU ADALAH IMAMMU...DIALAH SYURGA DAN NERAKAMU"




Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar..
seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam,...
sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu.
“anty sudah menikah?”.
“Belum mbak”, jawabku.
Kemudian akhwat itu bertanya lagi
“kenapa?”
hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.
“nunggu suami” jawabnya.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya
“mbak kerja dimana?”,
ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” ,
jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab
“karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.
“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing.
Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata,
“abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”. Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.
“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya. Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali,

menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho. Ya Allah…. Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku. Pelajaran yang membuatu menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku.. Subhanallah.. Dapatkah seperti itu??

(copas dari note Asma' ummuGita, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah diatas)

SOSOK BIDADARI, SOSOK SEDERHANA



Beribu nasehat telah diucap, berjuta perintah telah tersirat. Tetapi tetap saja banyak yang gugur ditelan gemerlap dunia. Semua gemerlap akan sirna oleh sosok bidadari yang hidup dengan kesederhanaan.

Kini, banyak kita jumpai orang yang hidup dalam kesempitan, sabar dengan ujian, dan tabah dalam menjalani seraya mendekatkan diri pada Rabb-Nya. Namun, setelah keadaan berubah, sempit menjadi lapang, derita menjadi bahagia, semua kebutuhan hidup terpenuhi; namun banyak yang tidak siap dengan perubahan tersebut. Tidak sadar bahwa gemerlap dunia telah menjebaknya.

"Sesungghnya dunia itu manis dan menawan dan Allah mengangkatmu sebagai khalifah di dalamnya sehingga Allah dapat memperhatikan perbuatanmu. Oleh karena itu waspadalah terhadap dunia, hati-hatilah terhadap wanita karena sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah kaum wanita." (HR. Muslim).

Kedudukan, harta senantiasa bersanding dengan wanita. Misalnya di keluarga, kedudukan wanita sangat berpengaruh baik kedudukannya sebagai pendamping suami maupun dalam pemeliharaan harta suami. Seperti kisah rumah tangga Umar Abdul Azis ra dengan Fatimah binti Abdul Malik ra kemewahan berubah menjadi kesederhanaan. Sebelum Umar menerima amanat kekhalifahan, dia terkenal dengan gaya hidup yang serba mewah. Istana megah, pakaian sutra, permata, dan parfum yang seharga satu rumah pun dimilikinya. Semua berubah dengan seketika. Akal pikiran, hati dan perasaannya telah tergugah, karena hakikat pengawasan Allah telah hidup dalam jiwanya.

Dengan gaya hidupnya yang baru, Umar bertekad untuk meniti kehidupan dengan serba sederhana. Dia pun segera mengungkapkan keinginannya pada Fatimah, "Sesungguhnya harta yang kita miliki serta yang dimiliki oleh saudara-saudaramu berasal dari hartanya kaum muslimin. Aku bertekad akan mengembalikannya pada mereka. Dan, jika Adinda tidak sabar pada kesempitan hidup setelah kekuasaan, maka pulanglah ke rumah ayahmu." Mendengar itu Fatimah segera menepis, "Saya tidak akan menyertai Kakanda dalam keadaan senang lantas meninggalkan Kakanda dalam keadaan susah. Saya ridha dengan apa yang Kakanda ridhai."

Kemudian semua hartanya didermakan dan kini yang dimilikinya hanya permata peninggalan ayah Fatimah. Umar pun kembali bertanya, "Wahai Fatimah engkau tahu bahwa dulu permata itu diambil oleh ayahmu dari kaum muslimin dan lantas dia hadiahkan kepadamu. Sesungguhnya aku tidak suka permata itu tinggal dirumahku. Karena itu, pilihlah antara mengembalikan permata itu ke Baitul Maal atau engkau izinkan aku untuk menceraikanmu." Fatimah pun kembali memenuhi permintaan suaminya, "Demi Allah, tentu aku akan memilihmu daripada permata ini, bahkan berlipat-lipat dari yang kumiliki."

Dengan kesederhanaanlah Umar dan Fatimah mulai mengikuti realita kehidupan sebenarnya. Sang khalifah mulai memerdekakan budak, mengembalikan seluruh harta yang dimiliki ke Baitul Maal. Begitu juga dengan Fatimah mulai menanggalkan permata yang dipakainya. Mereka lebih memilih tinggal di rumah yang sangat sederhana. Dengan kata lain, mereka dengan sikap kesederhanaannya berhasil menghancurkan belenggu kemewahan yang mengikat jiwanya dan mematahkan jembatan yang mengantarkan pada fitnah dunia.

Fatimah dalam hal ini bisa disebut sosok bidadari yang turun ke bumi. Sebab ia berani melepaskan semua kemewahan dunia dan lebih memilih hidup sederhana bersama suami yang justru setelah mendapat amanat besar sebagai khalifah. Juga memilih kesederhanaan sebagai jalan hidupnya. Begitu halnya dengan sosok Aisyah ra Ummul Mukminin. Kezuhudan terhadap dunia menjadi teladan bagi umat. Hampir tidak ada harta di tangannya. Dia bagikan seluruh hartanya kepada kaum-kaum miskin. Di antara kedermawanannya adalah membagikan seratus ribu dirham, sementara ia sendiri dalam keadaan shaum. Umar bin Zubair ra juga pernah mengisahkan kedermawanan dan kesederhanaan Aisyah, "Aku pernah melihat Aisyah membagi-bagikan harta sebanyak tujuh ratus ribu dirham sementara dia sendiri menjahit bajunya."

Subhanallah, merenungi kedua kisah di atas betapa mulianya sosok Fatimah dan Aisyah. Ya, dengan kesederhanaannya menjadikan mereka sosok bidadari yang turun ke bumi. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengikuti jejak Fatimah dan Aisyah? Siapkah kita tanggalkan semua kemewahan dunia hingga kita siap menyandang gelar bidadari?

Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari surga. Mereka itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati. Jadi bidadari adalah wanita shalehah yang senantiasa tawadhu, tidak bermewah-mewah dengan keindahan dunia, bersikap sederhana. Seandainya berperan sebagai istri maka ia taat kepada suaminya, menjaga harta suami, mendidik anak-anaknya dan memotivasi agar istiqamah dalam membela agama Allah.

"Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dijadikan bekal seseorang? wanita yang baik (shalihah); jika dilihat suami ia menyenangkan; jika diperintah ia mentaatinya; dan jika suami meninggalkannya ia menjaga diri dan harta suaminya." (Diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasai).

Wahai muslimah, kisah di atas mewakili dari sebagian kisah para sahabiyah, begitu juga dengan untaian riwayat yang tersirat. Namun, apalah artinya sebuah kisah bila kita tidak bisa mengambil ibrah. Dan apalah artinya seuntai riwayat jika kita tidak mau belajar darinya. Untuk itu selamat berjuang, siapkan diri menjadi sosok bidadari, sosok yang menapaki kehidupan dengan kezuhudan, dan kesederhanaan.

Sumber : Kotasantri.com

Brownies Kukus ala Amanda Bandung




Bahan- Bahan :
  • Telur 6 butir
  • Gula 225 gram
  • Pasta Coklat
  • Garam secukupnya
  • Emulsifier 1  sdt teh
  • Terigu 125 gram, ayak, aduk rata dg coklat bubuk
  • Coklat bubuk 50 gram, ayak, aduk rata dg terigu
  • Susu Kental Manis (SKM) 75 ml
  • Minyak  goreng 175 ml
  • Dark Cooking Cokelat 100 gram, lelehkan, campur dg minyak
  •  
Cara membuat
  1. Kocok telur gula, emulsifier, garam dan pasta coklat  hingga mengembang dan kaku.
  2. Masukkan campuran tepung terigu dan cokelat bubuk. Aduk perlahan hingga rata.
  3. Masukkan campuran minyak dan coklat yang sudah dicairkan, aduk hingga rata.
  4. Sisihkan sepertiga bagian adonan, beri  susu kental manis, aduk rata.
    Bagi 2 adonan tanpa susu kental manis, bagian I kukus selama 10 menit, tambahkan
    adonan dg SKM selama 10 menit, terakhir masukkan adonan sisa tanpa
    SKM, lanjutkan mengukus selama kira kira 20 menit. Angkat.


Tips pembuatan :
  • Adonan telur, gula dan emulsifier harus dikocok sampai benar benar kaku
  • Kukusan harus benar benar panas saat adonan dimasukkan ke dalam kukusan.
  • Jangan lupa membungkus tutup kukusan dengan serbet bersih supaya air kukusan tidak turun dan membasahi kue yang sedang dikukus
  • Pengukusan menggunakan api sedang, api yang terlalu besar menyebabkan permukaan brownies kukus menjadi bergelombang dan berlubang lubang

RESEP MARTABAK MANIS




Bahan Kulit:

Tepung terigu 230 gr
Tepung kanji 20 gr
Susu hangat 375 ml
Gula pasir 150 gr
Telur 2 butir
Ragi 1 pack (11 gr)
Baking powder 1 tsp


Bahan Isi:
Susu kental manis, gula pasir, messes coklat, keju parut, kacang giling kasar, dan mentega.



Cara Membuat: 
  • Campur tepung terigu, tepung kanji, baking pow­der dan gula pasir dalam suatu wadah.
  • Di wadah terpisah, campur ragi dengan susu hangat, aduk rata. Lalu campurkan ke dalam cam­puran nomor 1. Aduk hingga rata.
  • Masukkan telur satu per satu sambil terus diaduk rata.
  • Hangatkan oven sebentar lalu matikan. Tutup adonan tadi dengan lap yang sudah dibasahi den­gan air hangat. Masukkan ke dalam oven selama 20 menit hingga berbuih.
  • Sebelum menuangkan adonan ke loyang terang bulan/wajan teflon datar, panaskan terlebih dahulu dengan api kecil dan olesi dengan mentega. Bagi adonan menjadi empat bagian. Tuang satu bagian.
  • Tutup dengan tutup panci (yang kaca lebih disukai). Masak selama 10 menit atau sampai atas­nya berlubang dan kering. Taburi dengan gula pasir, tutup lagi sejenak, lalu angkat.
  • Olesi dengan mentega, cicirkan susu kental manis, beri keju, kacang, gula pasir dan messes, lalu lipat dua menjadi setengah lingkaran. Olesi luarnya dengan mentega lagi. Potong menjadi 8 bagian.

Pisang Molen Kartika Sari Bandung




--Akhirnya dapat juga resepnya 

Bahan untuk kulit :
500 gr tepung terigu
10 gr garam
15 gr gula pasir
1 butir telur
200 ml air dingin
20 gr margarin

Bahan Isi :
4 buah pisang, dikukus matang lalu dipotong-potong 10 cm
50 gr keju ceddar, dipotong sesuai ukuran pisang

Bahan Olesan:
2 kuning telur

Directions:
1. Adonan kulit, tepung, garam, gula, telur, margarine dicampur semua jd satu, aduk rata.
2. Tuang air dingin sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga kalis.Istirahatkan 15 menit dlm lemari es.
3. Giling adonan bentuk persegi -+ 10 x 10 cm dgn tebal -+ 1/2 cm.
4. Tata potongan Pisang dan Keju.
5. Lipat Rapi dengan lipatan di bagian bawah
6. Susun di loyang 12x24x4cm yg telah dioles margarin
7. Kocok bahan olesan. Oleskan ke adonan, lalu oven sampai matang.

NASI KEBULI ( Pakai Rice Cooker / Magic Com )






Bahan rempah2 :

-Serai 2, memarkan
-Cengkeh 4
-Kapulaga 4,
-Kayu manis 4 cm,
-Pala ¼ butir (kalau pakai pala bubuk cukup 1/2 sdt aja, diikutsertakan di bumbu halus),

Kemudian haluskan bahan2 berikut:
-Bawang merah 8
-Bawang putih 6
-Jahe seibu jari
-Merica butir 1 sdt,
-Jintan 1 sdt,
-Ketumbar butir 2 sdt,
-Garam 2 sdt.

Jangan lupa bahan utamanya, yaitu:
-Beras 5 cangkir
-Ayam ½ ekor, potong seperti mau bikin sop.

Yang ngk boleh lupa:
-Margarin secukupnya untuk menumis.
-Air mendidih untuk memasak beras yaitu sebanyak untuk memasak 6 cangkir beras 


Cara membuatnya:
1. Panaskan margarin, tumis bumbu halus dengan api kecil hingga wangi.
2. Masukkan rempah2, tumis sebentar, lalu masukkan ayam, aduk hingga merata dan masak hingga berubah warna dengan api sedang (10 menit)
3. Matikan api, dan tutup wajan agar bumbu meresap.
4. Sementara itu siapkan beras yang sudah dicuci dan air mendidih.
5. Masukkan beras ke dalam wadah rice cooker, lalu masukkan ayam bumbu dan air mendidih, aduk rata.
6. Nyalakan rice cooker, tunggu sampai matang.
7. Setelah matang, buka rice cooker, dan aduk nasi (hati2 panas, baiknya pakai sarung tangan).
8. Tunggu 10 menit, agar bumbu nerata dan nasi menjadi agak kering.
9. Nasi kebuli siap dihidangkan bersama bawang goreng dan kerupuk (maklum, orang indonesia), serta minuman teh manis hangat.

Untuk 8 orang