Laman

Tampilkan postingan dengan label Mutiara Salaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Salaf. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Sepucuk Surat Untuk Sahabatku ...



Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى


“Sahabat, dengarkanlah sejenak..
Diriwayatkan bahwa apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat yang selalu bersama mereka di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala ..


“Yaa Rabb.. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada keimanan walaupun hanya sebesar dzarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”)

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu’min-mu, karena Mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat.”

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis,

“Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta’ala tentang aku, “Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami dalam Surga-Mu.”


Sahabatku.. Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu tentang Allah ta’ala ..
Agar aku dapat besamamu kelak di surga & meraih Ridha-Nya..


Ya Allah..
Aku memohon kepada-Mu..


Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk, patuh & taat pada Syariat-Mu..

Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu..

Amiin…

(Disadur dari cuplikan ceramah Ust. Badrussalam Lc, -hafidzahullah- dengan sedikit perubahan)

Renungan Sesat ....




Nabi Adam melanggar larangan..
Ia pun bertaubat..
Iblis tidak mau menaati perintah..
Ia tak mau bertaubat..

Melanggar larangan biasanya karena syahwat..
Sedangkan tidak mau taat..
Seringnya karena kesombongan..

Memberi faidah untuk kita..
Bahwa meninggalkan perintah..
Lebih berat dari melanggar larangan..
Walau keduanya berat..

Melakukan maksiat karena kesombongan..
Menyebabkan pelakunya tak mau taubat..
Berbeda bila ia lakukan karena terdorong syahwat..
Lebih mudah kembali dan bertaubat




Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Jumat, 23 Mei 2014

Hati Yang Buta ...



Oh, betapa malangnya hati yang buta,


yang tidak sabar menahan kepahitan sesaat,
dan lebih memilih kehinaan sepanjang abad;


ia berkelana memburu dunia, 
padahal dunia kelak pasti sirna


sementara, ia justru malas meniti jalan menuju akhirat,
padahal semua akan berakhir disana !





(al-fawaid, hal 141)

Allah mencintaimu ...




Ketika ada manusia yang mencintaimu, 
maka kau akan merasa bahwa dirimu cantik 
dan duniapun menjadi luas.



Maka bagaimana kalau Allah yang mencintaimu, 
dan Dialah Rabb yang Maha Indah, 
Rabb di kala kesempitan, 
dan Rabbnya segala sesuatu.




@elmasrw - Dr Ahmad Isa al Mu’sharawi, 
ketua lajnah tashih al Quran di al Azhar, Doktor ilmu hadits Universitas al Azhar, Mesir.
 9/5/2014  via Twit Ulama

Sabtu, 18 Januari 2014

Kesombongan itu .....



Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,


" Maha suci Allah; 

Di dalam jiwa kita terdapat kesombongan iblis, 

kedengkian Qabil, 

keangkuhan kaum 'Ad, 

sikap melampaui batas kaum Tsamud, 

kelancangan Namrud, 

kecongkakan Fir'aun, 

kelaliman Qarun, 

kekerasan Haman, 

hawa nafsu Bal'am,

tipu daya Ash-habus Sabt (orang-orang Bani Israil yang melanggar larangan Allah di hari Sabtu), 

kesewenangan-kesombongan al-Walid (ibnul Mughirah), 

dan kebodohan Abu Jahl. 



Pada jiwa ini juga terdapat perilaku-perilaku binatang, 

ketamakan gagak, 

kerakusan anjing, 

kepandiran burung merak, 

kerendahan kumbang, 

kedurhakaan biawak, 

sifat pendendam onta, 

lompatan (keganasan) macan kumbang, 

terkaman singa, 

kefasikan tikus, 

kekotoran ular, perbuatan kesia-siaan kera, 

sikap suka mengumpulkan (harta) yang dilakukan semut, 

makar rubah, 

ketergesaan kuda, 

dan tidurnya anjing gurun. 

Hanya saja latihan dan kesungguhan akan menghilangkan semua (sifat buruk) itu. 

Barangsiapa yang membiarkan (terus-menerus melazimi) tabiat bawaannya, 

maka ia termasuk pasukan ini dan barang dagangan (amalan) nya tidak bisa (ditawarkan) 
untuk akad (jual beli dengan Allah) ini ;


"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang beriman jiwa-jiwa mereka." 

{at-Taubah 111} 

Sedangkan Allah tidaklah membeli melainkan barang dagangan berupa jiwa yang telah tertempa dengan keimanan. 

Sehingga hanya orang-orang yang bertaubat dan banyak beribadah (kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya) yang bisa keluar dari tabiat jiwa (yang rendah) menuju negeri tempat menetap (yang dijanjikan)-Nya. 

(Al Fawaid Ibnul Qayim 82) 




Diterjemahkan oleh Ummu Maryam Latifah.

Jumat, 10 Januari 2014

Menyendiri Untuk Merenung '''''



# Menyendiri Untuk Merenung #



Bersendirian dengan jiwa 

akan memperbaharui ruhnya, 

membenahi pikirannya, 

mendekatkan jiwa tersebut pada Rabbnya, 

menjadikan jiwa mengenali kekurangan-kekurangannya 

dan menyingkap rahasia-rahasianya.





@nasseralqtami Nashir Al Qathami, sedang menempuh program Magister di bidang Studi Ilmu Al Qur’an, Imam Masjid Jami’ Al Qadhi Riyadh, Saudi Arabia. 132

Saat Hidayah Menyapa .....



•SAAT HIDAYAH MENYAPA•


Terbukanya hati seseorang itu merupakan milik Allah subhanahu wa ta'ala semata..


Allah berfirman (yang artinya) :

"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya."
 (QS. Yusuf: 103)


Ketika hidayah belum menyapamu...
Sanggupkah engkau membelinya??!


Masalah hati orang menerima atau tidak?!
Itu adalah kuasa Allah subhanahu wa ta'ala semata...
Dan tidak ada orang yang bisa campur tangan dalam urusan itu!


Ketika engkau medambakan hidayah...
Sudahkah engkau memintanya??


Empat hal yang dimohon dan diminta oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam 
kepada Allah subhanahu wa ta'ala...

Ya Allah...

Aku mohon kepada Engkau petunjuk,

Aku mohon kepada Engkau ketaqwaan,
Aku mohon kepada Engkau agar aku mampu untuk menjaga kehormatan diriku..
Dan aku mohon kepada Engkau ya Allah akan kecukupan..




Ketika hidayah menyapa hatimu...
Sanggupkah engkau mempertahankannya??
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan akan suatu zaman, 
akan ada hari-hari kesabaran, orang yang berpegang kepada agamanya,
Seperti memegang bara api..



Ia panas, tapi ia harus dipegang,
 karena apabila ia lemparkan maka akan menjadi api neraka untuknya..
Ia panas, namun harus segera ia pegang..
Karena itu merupakan kebahagiaan untuk hidupnya di dunia dan akhiratnya...


Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan kabar gembira bagi mereka, 
yang kokoh, tegar, dan memegang sunnah Rasulullah di zaman fitnah seperti itu,
 beliau bersabda: "Orang yang berpegang kepada sunnahku di hari itu mendapatkan pahala 50 sahabat 
yang mengamalkan sunnah tersebut..."





Penggalan Jeddah Radio Rodja 756am

ℳenebαr Dαkwɑ̈н II ̈́ ͂ ͂ 

Semoga Manfaat..

بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْ

— 








Rabu, 27 November 2013

Kejujuran Tak Akan Melukai Siapapun .....



Bismillah.

"Kejujuran tak akan melukai siapapun; 

sementara kebohongan hanya melukai si pelaku kebohongan."

---------------------------------------------------------------------

Perkataan Ibnul Jauzi Rahimahullah… seorang ulama yang dilahirkan
pada tahun 510H…. dalam bukunya Shaidul Khatir:

"“Terkadang muncul kesadaran ketika seseorang tengah mendengarkan nasehat,
 namun ketika ia sudah berpisah dari majlis ilmu tersebut, 
kerasnya hati dan kelalaianpun muncul kembali."


Dan aku perhatikan orang-orang berbeda dalam masalah ini :

Kondisi umumnya orang-orang, bahwa saat mendengar nasehat ketika berada dalam majlis ilmu dan seusai mendengar nasehat, hati tidak mempunyai sifat kesadaran yang sama dikarenakan dua sebab :


Pertama : bahwa nasehat itu bagaikan cambuk.

Dan cambuk sendiri setelah masa reaksinya habis tidak lagi menyakitkan seperti halnya rasa sakit kala cambuk itu dipukulkan.


Kedua : dalam kondisi tengah mendengarkan nasehat, seseorang menyingkirkan penyakit hatinya saat itu.
Dia kosongkan badan dan pikirannya dari berbagai tendensi duniawi dan dia mendengarkan dengan seksama sepenuh hati.

Namun kala dia kembali pada kesibukannya, dia pun terjerat virus yang bersarang dalam aktifitas dunianya.

Maka bagaimana mungkin kondisi hatinya menjadi seperti kondisi sebelumnya (yakni saat tengah mendengarkan nasehat).

Kondisi ini berlaku umum bagi semua orang.
Hanya saja orang-orang yang punya kesadaran yang berbeda-beda dalam hal sejauh mana pengaruh tersebut terus tetap membekas (dalam dirinya).

Diantara mereka ada yang mempunyai tekad bulat tanpa ada keraguan. Dia terus melenggang tanpa menoleh.
Andaikan tabiat jiwa menghentikan langkah mereka, pastilah mereka meradang.

Diantara mereka adapula orang-orang yang tabiat mereka sesekali condong kepada kelalaian.

Dan nasehat-nasehat tadi kadang bisa memotivasi mereka untuk beramal. 

Maka mereka ini bagaikan bulir padi yang diombang-ombingkan angin.


Ada lagi orang-orang yang mana nasehat tidak berpengaruh

pada mereka kecuali sebatas apa yang dia dengar,

seperti halnya air yang engkau gulirkan diatas batu yang halus.”



(Dikutip dari buku Shaidul Khatir : Untaian Renungan Hikmah Pembangkit Energi Takwa karangan Ibnul Jauzi, halaman 3-4)


Jumat, 04 Oktober 2013

Aku Tahu .....




Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata :


Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, 
karenaitulah aku tenang. 


Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan
orang lain,
 karena itulah aku sibuk beramal. 


Aku tahu Allah
selalu mengawasiku, 
karena itulah aku malu bila Dia
melihatku sedang dalam maksiat. 


Aku tahu kematian itu menungguku, 
karena itulah aku selalu sibuk menambah
bekal untuk hari pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla.


Billahi taufik.

Minggu, 15 September 2013

Manusia Yang Paling Memberi Manfaat Kepadamu .......


Bismillah...

فصل أنفع الناس لك رجل مكنك من نفسه حتى تزرع فيه خيرا أوتصنع إليه معروفا فأنه

نعم العون لك على منفعتك وكمالك فانتفاعك به في الحقيقة مثل انتفاعه بك أو أكثر

وأضر الناس عليك من مكن نفسه منك حتى تعصي الله فيه فإنه عون لك على مضرتك

ونقصك

→Manusia yang paling memberi manfaat untukmu adalah seseorang yang membiarkan dirimu bergaul dengannya, sehingga engkau bisa menanamkan kebajikan atau memberi kebaikan padanya.

Karena dia merupakan sebaik-baik penolong bagimu agar engkau bisa memberikan manfaat dan menuju kesempurnaanmu.

Pada hakekatnya, ketika engkau memanfaatkan temanmu itu sama saja dia sedang memanfaatkan dirimu, atau bahkan lebih banyak lagi.



→Sementara manusia yang paling berbahaya bagimu adalah orang yang bisa mempengaruhimu, sehingga engkau bermaksiat pada Allah dalam pertemanan itu.

Karena dia sesungguhnya telah menjadi penolongmu untuk membahayakan dirimu dan menuju kekuranganmu.



(Al-Fawaid, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hlm. 192).



Senin, 26 Agustus 2013

10 Sampah Jiwa Menurut Ibnul Qayyim



10 Sampah Jiwa Menurut Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim rahimahullaah (wafat: 751-H) mengatakan:

"Ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat, layaknya sampah buangan bagi seorang insan":

(1)
علم لا يعمل به

Ilmu yang mengendap lantas mati, tidak terhidupkan dalam wujud amal yang shalih.

(2)
وعمل لا إخلاص فيه ولا اقتداء

Amal yang kosong dari ruh keikhlasan dan sunyi dari spirit mutaaba’ah kepada sunnah.

(3)
ومال لا ينفق منه فلا يستمتع به جامعه في الدنيا ولا يقدمه أمامه في الآخرة

Harta yang tidak di-infaq-kan di jalan Allaah, tidak pula mampu dinikmati oleh para penimbunnya di dunia, dan tidak juga akan dihadirkan di hadapannya kelak di akhirat.

(4)
وقلب فارغ من محبة الله والشوق إليه والأنس به

Hati yang kosong dari Mahabbatullaah (cinta pada Allaah), melompong dari rasa kerinduan dan kesukaan pada-Nya.

(5)
وبدن معطل من طاعته وخدمته

Badan yang kosong dari ketaatan dan pengkhidmatan pada-Nya subhaanahu wata’aalaa.

(6)
ومحبة لا تتقيد برضاء المحبوب وامتثال أوامره

Rasa cinta pada Allaah yang tidak terikat dengan keridhaan dan kepatuhan pada perintah-Nya.

(7)
ووقت معطل عن استدراك فارط أواغتنام به وقربة

Waktu yang kosong dari koreksi terhadap kealpaan diri, hampa dari amalan yang bermanfaat, dan sunyi dari ibadah yang bisa mendekatkan pada Ilahi.

(8)
وفكر يجول فيما لا ينفع

Pikiran yang berkelana, lalu singgah pada hal-hal yang tidak bermanfaat

(9)
وخدمة من لا تقربك خدمته إلى الله ولا تعود عليك بصلاح دنياك

Pengkhidmatan kepada mereka yang tidak bisa mendekatkan dirimu pada Allaah, dan tidak pula pengkhidmatan tersebut kembali padamu dalam wujud kemaslahatan dunia bagimu.

(10)
وخوفك ورجاؤك لمن ناصيته بيد الله وهو أسير في قبضته ولا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا.

Rasa takut dan harapmu yang engkau peruntukkan bagi selain Allaah, padahal Allaah adalah Dzat yang memegang ubun-ubun mereka yang memiliki dan menguasai mereka secara mutlak.

Sementara mereka, adalah tawanan dalam kekuasaan-Nya.

Sementara mereka, tidak mampu mendatangkan manfaat bagi diri mereka sendiri sekalipun, tidak juga mampu menolak mudharat, tidak sanggup menolak maut, kehidupan dan kebangkitan.

(Nukilan dari kitab Mausuu’atul Akhlaaq waz Zuhdi war Raqaa-iq: 1/10-11, Yaasir Abdurrahmaan, cet.-1 Mu-assasah Iqraa’, tahun 1428).

***

“Semua itu adalah buih yang mengendap, sampah tak bermanfaat yang menumpuk, lantas mengerak, untuk kemudian mengotori jiwa, lalu membunuhnya perlahan dengan racunnya.
Semoga Allaah membersihkan sampah-sampah jiwa, sebelum jiwa itu menjadi sampah yang terpaksa dibuang dan dibersihkan.”

Sabtu, 22 Desember 2012

Nasihat Dari Hati ke Hati tentang Hati.



Ibnul Qayyim -rahimahullah- adalah salah seorang ulama besar yang telah banyak berbicara tentang hati. Berikut ini adalah beberapa untaian kalimat Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- tentang hati, yang tertuang dalam salah satu bukunya al-Fawaid. Semoga kalimat-kalimat ini bisa memberikan manfaat besar kepada kita semua.

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata:

~Tidaklah seseorang dihukum dengan hukuman yang lebih berat dibandingkan dengan kerasnya hati dan jauhnya dari Allah.

~Neraka telah diciptakan untuk mencairkan hati-hati yang keras.

~Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.

~Jika hati mengeras, keringlah air mata.

~Kerasnya hati disebabkan oleh empat hal jika engkau melampaui batas yang dibutuhkan (yaitu); makan, tidur, berbicara dan pergaulan.

~ Sebagaimana badan jika sakit tidak akan bermanfaat padanya makanan dan minuman, maka demikian pula hati jika sakit karena syahwat tidak akan manjur padanya berbagai nasihat.

~Barangsiapa menghendaki kejernihan hatinya, hendaknya dia melebih utamakan Allah atas syahwatnya.

~Hati-hati yang terikat dengan syahwat, berarti tertutup dari Allah sesuai dengan keterikatannya dengan syahwat.

~Kehancuran hati disebabkan karena merasa aman (dari siksaan Allah -pent) dan kelalaian.

~Sedangkan kemakmuran hati disebabkan oleh rasa takut dan selalu ingat.

~Kerinduan kepada Allah dan perjumpaan dengan-Nya adalah angin segar yang bertiup kepada hati yang akan mendinginkan darinya panasnya dunia.

~Barangsiapa menempatkan hatinya disi Rabbnya niscaya akan tenang dan tenteram.

~Barangsiapa membebaskan hatinya pada manusia, niscaya dia akan kebingungan dan akan semakin tegang (stress).

~Kecintaan kepada Allah tidak akan masuk ke dalam hati yang padanya terdapat kecintaan terhadap dunia kecuali sebagaimana onta masuk ke dalam lubang jarum.

~Jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya Dia akan memilihnya untuk Diri-Nya, memilihnya untuk mencintai-Nya, memilihnya untuk beribadah kepada-Nya, sehingga Dia akan menyibukkan pikirannya dengan-Nya, menyibukkan lisannya untuk berdzikir kepada-Nya, dan menyibukkan anggota tubuhnya untuk mengabdi kepada-Nya.

~Hati bisa sakit sebagaimana badan bisa sakit. Dan obat hati ada pada taubat dan perlindungan diri.

~ Hati juga bisa kotor sebagaimana cermin bisa kotor. Dan mengkilapnya hati adalah dengan dzikir.

~ Hati bisa telanjang sebagaimana tubuh juga bisa telanjang.

~Dan perhiasan hati adalah ketakwaan.

~Hati juga bisa lapar dan haus sebagaimana halnya badan.

~Dan makanan dan minuman hati adalah ma’rifah (pengetahuan tentang Allah), mahabbah (kecintaan terhadap Allah), tawakal, senantiasa kembali dan mengabdi hanya kepada Allah.


[Sumber: al-Fawaid 146-147, diterjemahkan dari al-Majmu'ul Qayyim min Kalam Ibnil Qayyim 110-111]

Senin, 10 Desember 2012

Mutiara Salaf




“Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, niscaya Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.”— Q.S. Al-Mâ`idah: 72



الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“(Perbuatan) kebajikan (berasal) dari akhlak yang baik, sedang dosa-dosa adalah segala sesuatu yang menyesakkan dadamu dan engkau enggan bila manusia mengetahuinya.”— H.R. Muslim



“Zina kedua mata adalah memandang.”
Yakni bahwa melihat hal yang diharamkan adalah seperti zina sebab itu adalah perantara untuk berzina.— Muttafaqun ‘Alaihi



مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Segala sesuatu yang berada di sisi kalian akan sirna, sedangkan segala sesuatu yang berada di sisi Allah akan kekal.” — Q.S. An-Nahl: 96



يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
Ayat di atas adalah celaan terhadap orang-orang yang mengenal berbagai jalan untuk mendapatkan dunia, tetapi lalai terhadap akhiratnya. — Q.S. Ar-Rûm: 7



إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”— Q.S. Al-Hujurât: 13



مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan memahamkannya dalam agama.” — H.R. Al-Bukhâry dan Muslim



مَنْ مَشَى فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ إِلَى الْمَسَاجِدِ آتَاهُ اللَّهُ نُورًا يوم القيامة
“Barangsiapa yang berjalan ke masjid pada kegelapan malam, Allah akan memberi cahaya kepadanya pada hari kiamat.” — H.R. Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, & Selainnya, Ats-Tsamrul Mustathâb hal. 502-503



إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai bila salah seorang di antara kalian mengerjakan amalan yang dilakukan secara mutqin (sempurna/lengkap).” — H.R. Abu Ya’lâ dan selainnya, Silsilah Ahâdist Ash-Shahîhah no. 1113



نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ، وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” — H.R. Al-Bukhâry



“Sesungguhnya kebaikan adalah sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk.Sesungguhnya kejelekan adalah kegelapan pada wajah, gulita pada alam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.” — Ibnu ‘Abbâs, Al-Jawâb Al-Kâfy hal. 62



Biasakanlah mengucapkan, ‘Insya Allah,’ atas sesuatu hal yang akan datang.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا. إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah’.”— Q.S. Al-Kahf: 23-24



وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ، وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ، صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Barangsiapa yang mendengar pembicaraan suatu kaum, sedang kaum itu tidak senang kepadanya atau mereka lari darinya, akan dituangkan timah putih pada telinganya pada hari kiamat.” — H.R. Al-Bukhâry



Dalam menghadapi fitnah, Thalq bin Habib menasihatkan agar berlindung dengan ketakwaan. Ketika ditanya, “Apa takwa itu?” Beliau menjawab,
“Takwa adalah beramal ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah, mengharap rahmat Allah, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah, takut akan siksaan Allah.” — Siyâr A’lam An-Nubalâ` dan selainnya



ثَلَاثَةٌ لَا تَرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ حَرَسَتْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ
“Ada tiga (orang) yang mata-mata mereka tidak akan melihat neraka pada hari kiamat: mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang berjaga-jaga di jalan Allah, dan mata yang menundukkan pandangan dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah.”— Dishahihkan oleh Al-Albâny dari sejumlah shahabat, Ash-Shahîhah no. 2673



مَا لِيْ لَا أَرَى مِيْكَائِيْلَ ضَاحِكًا قَطُّ قَالَ مَا ضَحِكَ مِيْكَائِيْلُ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ
“Mengapa saya sama sekali tidak pernah melihat Mika`il tertawa? (JIbril) menjawab, ‘Mika`il tidak pernah tertawa semenjak neraka diciptakan.’.” — Dihasankan oleh Al-Albany dengan seluruh jalurnya, Ash-Shahîhah & Shahîh At-Targhîb



‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhany berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan keselamatan itu?”
Rasulullah menjawab,
أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ
“Jagalah lisan engkau, hendaknya engkau merasa lapang dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.” — H.R. At-Tirmidzy dan selainnya, Shahîh At-Targhîb & Ash-Shahîhah



اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan segera lima perkara sebelum (datang) lima perkara: waktu mudamu sebelum (datang) waktu tuamu, kesehatanmu sebelum (datang) sakitmu, kekayaanmu sebelum (datang) kefakiranmu, waktu luangmu sebelum (datang) waktu sibukmu, dan kesehatanmu sebelum (datang) kematianmu.” — H.R. Al-Hâkim dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albâny



“Dan orang-orang yang kafir, kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci terhadap (Al Qur’an) yang Allah turunkan, lalu Allah menghapus (pahala-pahala) amal-amal mereka.” — Q.S. Muhammad: 8-9



Dari Al-Barâ` bin ‘Âzib radhiyallâhu ‘anhumâ, beliau bertutur, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pada sebuah jenazah, kemudian beliau duduk di pinggir kubur, lalu menangis hingga membasahi tanah. Beliau bersabda,

يَا إِخْوَانِى لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا
‘Wahai saudara-saudaraku, untuk (keadaan) seperti ini hendaknya kalian bersiap.’.” — Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan selainnya., Baca Ash-Shahîhah no. 1751



Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapakah yang mau menerima kalimat-kalimat ini agar diamalkan dan diajarkan kepada siapa saja yang akan mengamalkannya?’ Abu Hurairah menjawab, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ Kemudian beliau memegang kedua tanganku seraya bertutur,
‘Takutlah engkau kepada segala sesuatu yang diharamkan, niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah. Ridhailah segala sesuatu yang Allah bagi kepadamu, engkau pasti menjadi manusia yang paling cukup. Berbuatbaiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin. Cintailah untuk manusia,segala sesuatu yang engkau cintai untuk dirimu, engkau pasti menjadi seorang muslim, dan janganlah terlalu banyak tertawa karena banyak tertawa akan mematikan hati.’.”— Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, dan selainnya., Baca Ash-Shahîhah no. 930



“Sesungguhnya salah seorang dari kalian berbicara dengan sebuah kalimat berupa keridhaan Allah -tidak pernah dia menyangka akan tersebar sedemikian rupa- maka, lantaran (kalimat itu), Allah menulis keridhaan baginya hingga hari tatkala dia menghadap kepada-Nya. Dan sungguh seorang lelaki di antara kalian berbicara dengan sebuah kalimat berupa kemurkaan Allah -tidak pernah dia menyangka akan tersebar sedemikian rupa- maka, lantaran (kalimat itu), Allah menulis kemurkaan baginya hingga hari saat dia menghadap kepada-Nya.”— Diriwayatkan oleh Imam Malik, Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ibnu HIbban, Al-Hakim, dan selainnya., Ash-Shahîhah no. 888



مَنْهُومَانِ لَا يَشْبَعَانِ: مَنْهُومٌ فِي عِلْمٍ لَا يَشْبَعُ، وَمَنْهُومٌ فِي دُنْيَا لَا يَشْبَعُ
“Dua ketamakan yang tidak pernah kenyang: ketamakan terhadap ilmu tidak pernah kenyang, dan ketamakan terhadap dunia tidak pernah kenyang.” — Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan selainnya., Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahîh Al-Jamî’



لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ
“Andaikata seorang lelaki kepalanya ditusuk dengan jarum besi, hal itu lebik baik daripada dia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya (baca: bukan mahramnya).” — Diriwayatkan oleh Ar-Rûyâny, Ath-Thabarâny dan Al-Baihaqy., Dikuatkan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 226



“Wahai sekalian manusia, barangsiapa yang beriman dengan lisannya, sedangkan keimanan belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin juga janganlah mencela mereka, serta janganlah kalian mencari-cari aurat mereka. Sesungguhnya, barangsiapa yang mencari-cari aurat saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Barangsiapa yang auratnya dicari-cari oleh Allah, niscaya Allah akan mempermalukannya, walaupun dia berada di tengah rumahnya.” — Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan selainnya., Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalamShahîhul Jamî’


Bilâl bin Sa’d rahimahullâh berkata,
لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيئَةِ، وَلَكِنِ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ
“Janganlah engkau melihat kepada kecilnya dosa, tetapi lihatlah terhadap siapa engkau bermaksiat.”— Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd


“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada jalan yang benar).” — Q. S. Ar-Rûm: 41


وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahan-kesalahan kalian).” — Q. S. Asy-Syûrâ: 30


Dari Anas bin Mâlik radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga diiitari dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan neraka diitari dengan berbagai syahwat.”— Diriwayatkan oleh Muslim


“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian (dalam hal keduniaan) dan janganlah kalian memandang orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah terhadap kalian.” — Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim., Lafazh hadits milik Muslim


Ibnul Mubarak rahimahullâh berkata,

رُبَّ عملٍ صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ
“Kadang sebuah amalan kecil diperbesar oleh niat, dan kadang sebuah amalan besar diperkecil oleh niat.”— Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ sebagaimana dalam Jâmi’ Al-‘Ulûm wa Al-Hikâm