Laman

Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Jika suatu saat nanti kau jadi Ibu



Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..

Jadilah seperti Nuwair binti Malik 
yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri 
dan mengembangkan potensi anaknya .
Saat itu sang anak masih remaja. 

Usianya baru 13 tahun. 

Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. 

Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. 
Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. 

Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.

Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. 

Beberapa tahun berikutnya, 
ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. 

Karena ibu, 
namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.



Jika suatu saat nanti kau jadi ibu...

Jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. 

Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. 

Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. 
Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.


Jika suatu saat nanti kau jadi ibu...

Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. 
Seperti Ummu Habibah. 
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. 

Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: 

“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! 
Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh,
menuju keridhaanMu. 
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. 
Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. 
Peliharalah keselamatannya,
panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”.


Doa-doa itu tidak sia-sia. 
Muhammad bin Idris, nama anak itu, 
tumbuh menjadi ulama besar. 
Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya,
tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i .


Jika suatu saat nanti kau jadi ibu...

Jadilah ibu yang menyemangati anaknya 
untuk menggapai cita-cita. 
Seperti ibunya Abdurrahman .

Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, 
dan ia pula yang menyemangati anaknya 
untuk mencapai cita-cita itu.

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, 
katanya memotivasi sang anak.
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, 
kamu adalah imam masjidil haram…”,

sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan.

Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. 

Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, 
anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.


Jika suatu saat nanti kau jadi ibu...

Jadilah orang yang pertama kali yakin 
bahwa anakmu pasti sukses. 
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. 

Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan 
“Kamar DR. Zewail” 
di pintu kamar anak itu. 

Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. 
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, 

jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. 
Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. 
Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.




By Laksamana Yuda C

-------------------------------

Sabtu, 11 April 2015

Agar Musibah Anda Berpahala.. Dan Kesedihan Anda Seakan Tiada



Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى


Seringkali seseorang sangat sedih ketika kehilangan uang, atau didenda, atau kecurian, atau dibegal, atau musibah lainnya…


Memang ini manusiawi, tapi alangkah ruginya bila kita tidak mendapatkan pahala darinya… Dan alangkah terobatinya hati ini bila dengannya kita mendapatkan pahala.

Dan itulah yang diinginkan oleh Agama Islam yang mulia ini, cobalah renungkan beberapa syariat berikut ini:

1. Dzikir saat musibah menimpa.

قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَل

“Ini adalah takdir Allah, apapun yang Dia kehendaki, pasti Dia lakukan”.

Ulangilah dzikir ini beberapa kali dan ingatkan diri Anda akan kandungan maknanya, hingga Anda benar-benar meresapinya.

Tidak lain, agar hati Anda rela dengan apa yg terjadi, karena itu adalah putusan Allah yang harus berjalan sesuai kehendakNya, dan Dia telah memberikan banyak kenikmatan di sepanjang hidup Anda.

Sungguh tidak ada pilihan yang lebih baik saat musibah menimpa, kecuali menjalankan dua syariat berikut ini:


2. Doa saat tertimpa musibah.

اَللَّهُمَّ اأْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا

“Ya Allah berikanlah PAHALA kepadaku karena musibahku, dan berikanlah ganti untukku sesuatu yang lebih baik darinya”.

Alangkah pas dan baiknya doa ini, cobalah mengulang-ulangnya saat tertimpa musibah… sehingga doa Anda dikabulkan, dan Anda mendapatkan pahala, sekaligus ganti yang lebih baik dariNya.


3. Bersabar dalam menghadapinya.

Ini bukan berarti pasrah, namun menerima musibah tersebut dengan lapang dada, sembari melakukan perbaikan keadaan semampunya.

Ini juga akan mendatangkan pahala dan kebaikan, tentunya kita masih ingat sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, semua keadaannya adalah kebaikan.

Jika dia mendapatkan kenikmatan; dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan untuknya.

Sebaliknya, bila dia tertimpa musibah, dia BERSABAR, maka itupun menjadi kebaikan untuknya.”

———

Sungguh, tiga syariat yang mendatangkan kebaikan untuk umat Islam saat musibah menimpa: mulai dari ketegaran jiwa, pahala yang akan kekal selamanya, dan ganti yang lebih baik saat di dunia.

Intinya, saat musibah menimpa… berdzikirlah, berdoalah, dan bersabarlah, sehingga kita mendapatkan kebaikan di akherat dan juga di dunia.

Janji Persahabatan Yang Dilupakan




Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى


لِمَاذَا تَرَانِي بِقَفْرٍ سَحِيْقٍ ===== فَتُعْرِضُ عَنِّي وَتَنْسَى الصَّدِيْقَ
Kenapa tatkala engkau melihatku dalam padang tandus yang sangat jauh…. lantas engkau berpaling dariku dan engkau melupakan sahabatmu ini

وَأَلْمَحُ فِي نَظَرَاتِكَ هَجْرًا ===== فَتَتْرُكَنِي فِي الْمَعَاصِي غَرِيْق
Aku merasakan dari pandanganmu engkau menjauhiku dan menghindar dariku…. engkau membiarkan ku tenggelam dalam kemaksiatan


لِمَاذَا أُخَيَّ أَمُدُّ يَدَيَّ ===== فَتَتْرُكَهَا لِلَّظَى وَالْحَرِيْقِ
Mengapa wahai sahabatku? tatkala aku menjulurkan kedua tanganku (untuk kau tolong) …. lantas engkau membiarkan juluran tanganku dalam api yang membakar dan menyala-nyala?


أَتَعْلَمُ أَنِّي أَزِيْدُ انْحِدَارًا ===== وَأَنْتَ تَرَانِي بِهَذَا الطَّرِيْقِ
Tidakkah engkau tahu bahwasanya aku semakin tersesat ke jalan yang menyimpang…. padahal engkau melihat aku berjalan di jalan menyimpang tersebut


لِمَاذَا أُخَيَّ تُشِيْحُ بِوَجْهٍ ===== عَبُوْسٍ قَنُوْطٍ بِأَنْ لاَ أُفِيْقُ
Wahai sahabatku, kenapa engkau membuang mukamu…. dengan wajah yang merengut dan masam yang putus asa seakan-akan aku tidak akan bisa sadar kembali


أَتَنْسَى زَمَانًا بَهِيًّا نَدِيًّا ===== أَمِ الشَّوْقُ وَلَّى فَهَانَ الرَّفِيْق
Apakah engkau lupa masa yang indah …. Ataukah kerinduanmu telah sirna dan rendahlah sahabatmu ini

أَتَذْكُرُ عَهْداً قَطَعْنَاهُ يَوْمًا ===== بِأَنْ نَتَآخَى كَظِلٍّ لَصِيْقٍ
Apakah engkau ingat janji yang pada suatu hari pernah kita patrikan…. bahwasanya kita akan bersaudara sebagaimana bayangan yang selalu menempel


زَهِدْتَ بِقُرْبِي وَخَلَّفْتَ قَلْبِي ===== حَزِيْنًا رَهِيْنًا لِغَمٍّ وَضِيْقٍ
Engkau semakin menjauh dariku dan engkau meninggalkan hatiku… dalam kesedihan dan kegelisahan dan kesempitan


تُسَاوِرُنِي وَسْوَسَاتُ الدَّنَايَا ===== وَيُطْرِبُنِي عَزْفُ مَكْرٍ رَقِيْبق
Bisikan-bisikan keburukan menggrogotiku…dan lantunan tipu daya yang halus telah membuai dan melenakanku…


فَخُضْتُ الذُّنُوْبَ وَكَمْ مِنْ مَلاَهٍ ===== أَتَيْتُ وَكَمْ مِنْ حَيَاءٍ أُرِيْقُ
Maka akupun tenggelam dalam dosa-dosa, betapa banyak perkara yang melalaikan aku kerjakan… dan betapa banyak rasa maluku yang aku tumpahkan (karena bermaksiat)


أُخَيَّ تَمَهَّل وَخُذْنِي إِلَيْكَ ===== فَمَا عَادَ قَلْبِي لِبُعْدٍ يُطِيْقُ
Sahabatku berhentilah sejenak dan ambil dan ajaklah diriku bersamamu… Sungguh hati ini tidak sanggup untuk menjauh…


وَمُدَّ الْأَيَادِي وَلاَ تَنْتَقِصْني ===== وَكُنْ لِجِرَاحِي الطَّبِيْبَ الشَّفِيْقَ
Dan ulurkanlah kedua tanganmu dan janganlah engkau mencelaku… dan jadilah engkau terhadap luka-lukaku seorang tabib/dokter penyayang …


إِذَا مَا مَرَرْتَ بِقُرْبِي سَرِيْعًا ===== تَذَكَّرْ قَدِيْمًا عُهُوْدَ الصَّدِيْقِ
Jika tatkala engkau lewat di dekatku lantas engkau berjalan dengan cepat (untuk menjauhiku)… maka ingatlah janji persahabatan kita dahulu…


Sungguh ada sahabat-sahabat dekat kita dahulu yang saat ini butuh untuk kita dekati. Justru tatkala ia semakin jauh dari jalan Allah bukan semakin kita jauhi…akan tetapi semakin kita dekati.


Persahabatan yang dulu pernah kita jalin hendaknya tidak terlupakan dan sirna. Justru persahabatan lampau menuntut kita untuk menyayangi sahabat kita yang berada di persimpangan jalan….


Kasus yang sering terjadi juga adalah tatkala ada saudara atau sahabat kita yang futur (malas beribadah) atau bahkan terjerumus dalam kemaksiatan lantas sebagian kita malah menjauhinya…bahkan menjauh sejauh-jauhnya. Tidak ada yang mengunjunginya…tidak ada yang menasehatinya…akhirnya iapun semakin terpuruk dan semakin jauh dari jalan Allah.


Persaudaraan terlebih lagi persahabatan mengkonsekuensikan sikap yang sebaliknya, yaitu …mendekati dan menasehati…bukan menjauhi dan mencibir…

Kamis, 12 Maret 2015

Sepucuk Surat Untuk Sahabatku ...



Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى


“Sahabat, dengarkanlah sejenak..
Diriwayatkan bahwa apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat yang selalu bersama mereka di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala ..


“Yaa Rabb.. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada keimanan walaupun hanya sebesar dzarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”)

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu’min-mu, karena Mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat.”

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis,

“Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta’ala tentang aku, “Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami dalam Surga-Mu.”


Sahabatku.. Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu tentang Allah ta’ala ..
Agar aku dapat besamamu kelak di surga & meraih Ridha-Nya..


Ya Allah..
Aku memohon kepada-Mu..


Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk, patuh & taat pada Syariat-Mu..

Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu..

Amiin…

(Disadur dari cuplikan ceramah Ust. Badrussalam Lc, -hafidzahullah- dengan sedikit perubahan)

Selasa, 05 Agustus 2014

Nasehat Imam Asy Syafe'i ....



Imam Al-Muzany bercerita:

“Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?”


Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”


Aku berkata, “Nasihatilah aku.”


Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku,

“Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, 
jadikanlah kematian antara kedua matamu, 
dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. 
Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, 
jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, 
laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, 
dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. 
Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. 
Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, 
pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. 
Maafkanlah orang yang menzhalimimu, 
sambunglah (silaturrahmi dari)orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, 
berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu,
 bersabarlah terhadap segala musibah, 
dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”


Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”


Beliau melanjutkan,
“Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, 
rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, 
kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, 
kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, 
ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, 
rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, 
shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. 

Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, 
tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, 
dan kefakiran sebagai pembaringanmu. 
Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, 
Al-Qur`an sebagai juru bicaramu dengan kejelasan,
 serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. 
Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”


Kemudian, Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,


Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-

kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa

Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku

kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku

Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu

kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar

Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus

Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan

Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis

bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu,Adam

Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan

seorang yang congkak, zhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa

Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,

walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku

Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,

namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar



[Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431]



Jumat, 23 Mei 2014

Musibah Menghapus Dosa ...



Akhi ukhti..

Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita

Dan kita mengetahui pula bahwa jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya

Bahkan kalau kita mempekerjakan diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang

Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit.


Sekarang coba bayangkan, dalam setiap harinya,

berapa banyak dosa yang kita lakukan

Kita tidak pernah menghitungnya,


kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung..

sebagian tidak merasa berbuat dosa,

karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan..


Lepas dari semua itu, Allah, ar Rahman ar Rahiem..

Yang Maha mengetahui dengan segala kekurangan hambanya,

telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah..

Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ
مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى
- حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا - إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih, kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.”

(HR. Bukhari no.5641 dan Muslim no.2573)


Jadi yang lagi sakit,

pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya

Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah


Salah satu ulama' salaf berkata:

لولا مصائب الدنيا
لوردنا الآخرة مفلسين

"Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut".


Bagi akhi ukhti yang sedang dapat musibah..

saatnya menjadikan musibah itu sebagai ladang pelunasan dosa..

Dengan menata hati,

Bersabar

Meridhoi takdir ilahi

Bersyukur kepada Rabbi

Selamat mengamalkan




Ditulis oleh Ustadz Dr. Syafiq Reza Basalamah MA

Saatnya Mengoreksi diri ....



Akhi... ukhti...



Betapa nikmatnya menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari yang sejuk

Betapa lezatnya menikmati suguhan es teler di tengah panasnya terik mentari yang menyegat

Betapa indahnya duduk di sebuah taman yang indah bersama orang-orang yang dicintai



Namun semua kenikmatan itu akan terputus

Akan sirna dan lenyap

Berganti dengan azab Allah dan siksanya bila ternyata kita terlena Selama berada di dunia

Tersilaukan dengan kenikmatan sementara sehingga lupa

Bahwa setiap detik yang berlalu akan ditanya



Mereka yang tidak lulus dalam menjawab soal-soal tersebut

Maka tiada lagi senyum yang menghias di bibir

Tiada lagi secangkir teh hangat

Atau semangkuk es teler

Yang ada hanyalah siksaan dan siksaan

Tiada pernah berhenti sejenakpun

Pernahkah kau melihat ikan goreng yang telah mengelupas kulitnya

Bagaimana kiranya bilah wajahmu yang digoreng??



Tengoklah rintihan penghuni neraka



وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ (٥٠)

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” ( Al-A’raf 50)



Bahkan karena pedihnya siksaan yang diterima, mereka minta mati

Iya mereka minta mati...

Mereka menyeru MALIK penjaga neraka

“Mereka berseru: “Hai Malik(2) biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)..”(Qs. Az-Zukhruf 77)

Tiada kematian di sana....

Akhi ukhti...

Sebelum nasi menjadi bubur

Saatnya mengoreksi diri

Setiap kau meneguk air

Tanyakan pada dirimu apakah kelak aku akan meneguknya di akhirat?

Atau.......


YAA ALLAH MASUKKAN HAMBA KE SYURGAMU

DAN JAUHKAN HAMBA DARI NERAKAMU

AMIEN...

~Ust. DR. Syafiq Reza Basalamah, MA~

Allah mencintaimu ...




Ketika ada manusia yang mencintaimu, 
maka kau akan merasa bahwa dirimu cantik 
dan duniapun menjadi luas.



Maka bagaimana kalau Allah yang mencintaimu, 
dan Dialah Rabb yang Maha Indah, 
Rabb di kala kesempitan, 
dan Rabbnya segala sesuatu.




@elmasrw - Dr Ahmad Isa al Mu’sharawi, 
ketua lajnah tashih al Quran di al Azhar, Doktor ilmu hadits Universitas al Azhar, Mesir.
 9/5/2014  via Twit Ulama

Sabtu, 15 Maret 2014

Belajarlah mencintai karena Allah...




Belajarlah mencintai karena Allah...


Jika engkau mencintai istrimu karena Allah -

selain karena pesona paras wajahnya- 

niscaya kecintaanmu akan lebih langgeng, 

meskipun usia istrimu semakin bertambah..., 

niscaya engkau lebih menerima kekurangan yang ada pada istrimu..., 

niscaya engkau lebih mudah menjaga pandangan matamu...


Jika engkau mencintai sahabatmu karena Allah...,

niscaya engkau tetap baik kepadanya karena berharap wajah Allah 

meskipun ia kurang bersikap baik kepadamu. 

Karena persahabatanmu bukan dibangun di atas hubungan timbal balik antara engkau dengannya, 

akan tetapi karena mengharapkan kecintaan Allah padamu








By. Ust. Firanda Andirja

~ 3 Kelompok yang Shalatnya Tidak Terangkat ~




~ 3 Kelompok yang Shalatnya Tidak Terangkat ~


Oleh : Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafidzahullah



Saudara saudariku..

Berapa tahun kita berIslam?

Berapa tahun kita beribadah?

Berapa banyak ibadah kita yang diterima?

Berapa banyak amalan kita yang tidak diterima?

Untuk yang pertama dan kedua, kita tau...

Untuk yang ketiga, wallahu a'lam..

Untuk yang keempat, insyaAllah kita dapat mengetahuinya..

Bagaimana??...



Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Ada tiga kelompok yang shalatnya tidak terangkat walaupun hanya sejengkal diatas kepalanya (tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala) yaitu :

1. Orang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya

2. Istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya

3. Dua saudara yang saling mendiamkan (memutuskan hubungan)."

(HR. Ibnu Majah di hasankan oleh al-Albani, al Misyakah no. 1128)



Kalo Anda termasuk yang diatas, maka ketahuilah bahwa amalan Anda tidaklah di angkat.

Untuk yang ketiga, ingatlah bahwa orang-orang yang beriman itu saudara, bukan hanya dari saudara kandung saja.


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menekankan dalam hadits riwayat Muslim yang artinya :

"Pintu-pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan di ampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, 'Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai." 


(HR. Muslim)




Membaca Surat Al Kahfi Setiap Jum'at



Kenapa kita membaca surat al Kahfi setiap Jumat?

Agar tergambar pada hatimu 4 kisah mengenai ujian yang banyak menimpa manusia saat ini
(1) ujian karena agama (pada kisah pemuda ashabul kahfi –pent),
(2) ujian karena harta (pada kisah pemilik kebun –pent),
(3) ujian karena ilmu (pada kisah nabi Musa dan Khidr –pent),
(4) ujian karena kedudukan (pada kisah Dzulqarnain –pent).

Dan jalan keluar dari keempat ujian tersebut adalah: Keimanan pada hari kiamat.



@ibrahim_aldwish - Dr Ibrahim ad Duwaisy, Dosen sunnah nabawiyyah di Universitas Qashim, Kepala Pusat Studi Kemasyarakatan.

Sabtu, 18 Januari 2014

Kesombongan itu .....



Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,


" Maha suci Allah; 

Di dalam jiwa kita terdapat kesombongan iblis, 

kedengkian Qabil, 

keangkuhan kaum 'Ad, 

sikap melampaui batas kaum Tsamud, 

kelancangan Namrud, 

kecongkakan Fir'aun, 

kelaliman Qarun, 

kekerasan Haman, 

hawa nafsu Bal'am,

tipu daya Ash-habus Sabt (orang-orang Bani Israil yang melanggar larangan Allah di hari Sabtu), 

kesewenangan-kesombongan al-Walid (ibnul Mughirah), 

dan kebodohan Abu Jahl. 



Pada jiwa ini juga terdapat perilaku-perilaku binatang, 

ketamakan gagak, 

kerakusan anjing, 

kepandiran burung merak, 

kerendahan kumbang, 

kedurhakaan biawak, 

sifat pendendam onta, 

lompatan (keganasan) macan kumbang, 

terkaman singa, 

kefasikan tikus, 

kekotoran ular, perbuatan kesia-siaan kera, 

sikap suka mengumpulkan (harta) yang dilakukan semut, 

makar rubah, 

ketergesaan kuda, 

dan tidurnya anjing gurun. 

Hanya saja latihan dan kesungguhan akan menghilangkan semua (sifat buruk) itu. 

Barangsiapa yang membiarkan (terus-menerus melazimi) tabiat bawaannya, 

maka ia termasuk pasukan ini dan barang dagangan (amalan) nya tidak bisa (ditawarkan) 
untuk akad (jual beli dengan Allah) ini ;


"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang beriman jiwa-jiwa mereka." 

{at-Taubah 111} 

Sedangkan Allah tidaklah membeli melainkan barang dagangan berupa jiwa yang telah tertempa dengan keimanan. 

Sehingga hanya orang-orang yang bertaubat dan banyak beribadah (kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya) yang bisa keluar dari tabiat jiwa (yang rendah) menuju negeri tempat menetap (yang dijanjikan)-Nya. 

(Al Fawaid Ibnul Qayim 82) 




Diterjemahkan oleh Ummu Maryam Latifah.

Jumat, 10 Januari 2014

Menyendiri Untuk Merenung '''''



# Menyendiri Untuk Merenung #



Bersendirian dengan jiwa 

akan memperbaharui ruhnya, 

membenahi pikirannya, 

mendekatkan jiwa tersebut pada Rabbnya, 

menjadikan jiwa mengenali kekurangan-kekurangannya 

dan menyingkap rahasia-rahasianya.





@nasseralqtami Nashir Al Qathami, sedang menempuh program Magister di bidang Studi Ilmu Al Qur’an, Imam Masjid Jami’ Al Qadhi Riyadh, Saudi Arabia. 132

Jumat, 20 Desember 2013

Sahabat .....



Jika sahabatmu berlaku buruk terhadapmu, 
catat keburukannya di atas pasir, 
agar angin ‘kan menghapusnya..


Bila ia berlaku baik terhadapmu,
 catat kebaikannya di atas batu
 agar angin tak dapat menghapusnya.





.@almonajjid - Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA.

Senin, 07 Oktober 2013

Waktumu..... Dan cerminmu berkata apa ya?





Ust. Syafiq Riza Basalamah MA hafidzahullah.

Akhi/ukhti...

Berapa banyak waktu yang kamu habiskan di depan cermin...???

Biasanya yang banyak menghabiskan waktunya di depan cermin adalah

putri-putri adam.

Kalau putra biasanya tidak banyak, kecuali putra-putra separuh putri...

Ingatlah bahwa dirimu adalah hamba...

Kamu tidak merdeka...
Kamu tidak berhak berbuat sesuka hatimu...

Karena kamu tidak menciptakan dirimu sendiri.
Kamu tidak menciptakan makananmu sendiri.

Semua sudah disediakan oleh Allah ta'ala.
Kamu, hanyalah pegawai dengan upah yang tinggi kalau kerjaan kamu benar.


Tapi kalau tidak...


Kamu harus memberikan laporan pertanggungjawaban atas segala nikmat yang kau rasakan.
Dan setiap detik dari waktu yang kau lewatkan..

لاَ تَزُولُ قَدَمَ عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ

فِيمَا أَبْلَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ كَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ


“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai dia ditanya tentang empat perkara:

(1) tentang umurnya untuk apa dia habiskan,
(2) tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan,
(3) tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan
(4) untuk apa dia belanjakan.”

(HR. At-Tirmidzi )


Mulai saat ini, Kalau bercermin, jangan lama-lama!
Atau kalau lama-lama, jangan lupa sambil berdzikir dan bershalawat..

Andai cermin bisa berbicara...
Kira-kira dia akan mengatakan...apa ya???

Khusus pada mereka yang setiap lewat cermin, selalu tersenyum sendiri,

mikir..... itu cermin di lift, di jalan, atau dimana aja...

Kira-kira ngomong apa itu cermin?




Jumat, 04 Oktober 2013

Aku Tahu .....




Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata :


Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, 
karenaitulah aku tenang. 


Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan
orang lain,
 karena itulah aku sibuk beramal. 


Aku tahu Allah
selalu mengawasiku, 
karena itulah aku malu bila Dia
melihatku sedang dalam maksiat. 


Aku tahu kematian itu menungguku, 
karena itulah aku selalu sibuk menambah
bekal untuk hari pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla.


Billahi taufik.

Kamis, 19 September 2013

Koreksi Diri Kita Terlebih Dahulu, Sebelum Menyalahkan Orang Lain ......





Jika anda sholat berjam'ah lantas tidak bisa khusyu' maka jangan salahkan imam, 
dengan alasan suara sang imam buruk...,

Jika anda berkaca lantas tanpak wajah anda yang kurang rupawan maka jangan salahkan cermin...

jika anda memiliki rambut yang kurang berkilau maka jangan salahkan sampo yang anda pakai...

jika anda belajar lantas kurang paham apa yang disampaikan guru maka janganlah salahkan sang guru....

jika ... , jika....


Belajarlah menyalahkan dan mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyalahkan orang lain

Para salaf menasehati agar kita tatkala melihat orang lain berusahalah untuk melihat kebaikan-kebaikan mereka, 

adapun tatkala melihat diri kita sendiri maka hendaklah kita berusaha melihat kekurangan-kekurangan kita agar kita tidak tertimpa penyakit ujub,

dan mengakui serta menghargai kelebihan orang lain, 

serta berusaha mencari udzur untuk kesalahan orang lain.


Oleh Ust. Firanda Andirja

Minggu, 15 September 2013

Jika Engkau Dicintai Allah .....



Jika engkau dicintai Allah

maka kebencian manusia kepadamu tidak akan memudhorotkanmu,

akan tetapi jika engkau dibenci oleh Allah

maka kecintaan manusia kepadamu tidak akan memberi manfaat kepadamu


Perbanyak amalan-amalan sunnah agar engkau meraih kecintaan Allah


Dalam hadits qudsi

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

"Senantiasa hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Akupun mencintainya"


source : ust. Firanda Andirja

Senin, 26 Agustus 2013

10 Sampah Jiwa Menurut Ibnul Qayyim



10 Sampah Jiwa Menurut Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim rahimahullaah (wafat: 751-H) mengatakan:

"Ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat, layaknya sampah buangan bagi seorang insan":

(1)
علم لا يعمل به

Ilmu yang mengendap lantas mati, tidak terhidupkan dalam wujud amal yang shalih.

(2)
وعمل لا إخلاص فيه ولا اقتداء

Amal yang kosong dari ruh keikhlasan dan sunyi dari spirit mutaaba’ah kepada sunnah.

(3)
ومال لا ينفق منه فلا يستمتع به جامعه في الدنيا ولا يقدمه أمامه في الآخرة

Harta yang tidak di-infaq-kan di jalan Allaah, tidak pula mampu dinikmati oleh para penimbunnya di dunia, dan tidak juga akan dihadirkan di hadapannya kelak di akhirat.

(4)
وقلب فارغ من محبة الله والشوق إليه والأنس به

Hati yang kosong dari Mahabbatullaah (cinta pada Allaah), melompong dari rasa kerinduan dan kesukaan pada-Nya.

(5)
وبدن معطل من طاعته وخدمته

Badan yang kosong dari ketaatan dan pengkhidmatan pada-Nya subhaanahu wata’aalaa.

(6)
ومحبة لا تتقيد برضاء المحبوب وامتثال أوامره

Rasa cinta pada Allaah yang tidak terikat dengan keridhaan dan kepatuhan pada perintah-Nya.

(7)
ووقت معطل عن استدراك فارط أواغتنام به وقربة

Waktu yang kosong dari koreksi terhadap kealpaan diri, hampa dari amalan yang bermanfaat, dan sunyi dari ibadah yang bisa mendekatkan pada Ilahi.

(8)
وفكر يجول فيما لا ينفع

Pikiran yang berkelana, lalu singgah pada hal-hal yang tidak bermanfaat

(9)
وخدمة من لا تقربك خدمته إلى الله ولا تعود عليك بصلاح دنياك

Pengkhidmatan kepada mereka yang tidak bisa mendekatkan dirimu pada Allaah, dan tidak pula pengkhidmatan tersebut kembali padamu dalam wujud kemaslahatan dunia bagimu.

(10)
وخوفك ورجاؤك لمن ناصيته بيد الله وهو أسير في قبضته ولا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا.

Rasa takut dan harapmu yang engkau peruntukkan bagi selain Allaah, padahal Allaah adalah Dzat yang memegang ubun-ubun mereka yang memiliki dan menguasai mereka secara mutlak.

Sementara mereka, adalah tawanan dalam kekuasaan-Nya.

Sementara mereka, tidak mampu mendatangkan manfaat bagi diri mereka sendiri sekalipun, tidak juga mampu menolak mudharat, tidak sanggup menolak maut, kehidupan dan kebangkitan.

(Nukilan dari kitab Mausuu’atul Akhlaaq waz Zuhdi war Raqaa-iq: 1/10-11, Yaasir Abdurrahmaan, cet.-1 Mu-assasah Iqraa’, tahun 1428).

***

“Semua itu adalah buih yang mengendap, sampah tak bermanfaat yang menumpuk, lantas mengerak, untuk kemudian mengotori jiwa, lalu membunuhnya perlahan dengan racunnya.
Semoga Allaah membersihkan sampah-sampah jiwa, sebelum jiwa itu menjadi sampah yang terpaksa dibuang dan dibersihkan.”

Senin, 08 April 2013

10 Nasehat Ibnul Qayyim tentang bersabar ...





Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling mulia. 

Amma ba’du.


Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:


Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.


Kedua, merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…


Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.

Apabila engkau berlimpah nikmat
maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap


Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.


Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya


Kelima, mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.


Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… 
Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…


Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…


Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.


Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.


Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati…
Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya.

Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… 
dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah…

Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.



***




Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li Shabri ‘anil Ma’shiyah, www.ar.islamhouse.com




Alih Bahasa: Abu Muslih Ari Wahyudi