Laman

Tampilkan postingan dengan label Children. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Children. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2018

Kadang Aku Minder Karena Miskin





Apabila kita telah berusaha dan bekerja keras.

Apabila kita telah jalani Sholat yang lima waktu.

Apabila kita sudah melakukan Sholat Dhuha, Tahajud, Dzikir, Sholawat dan DOA.

Namun tetap miskin juga.

Tak perlu minder apalagi protes pada-NYA




Seorang anak bertanya kepada ibunya :

"Ibu, mengapa kita miskin?"


Dengan tenang sang ibu berkata :

"Nak, hidup ini seperti jalan jalan di Supermarket. 
Semua orang boleh memilih dan membawa barang apa saja yang ia inginkan".

"Siapa yg membawa sepotong roti, 
maka ia harus membayar seharga sepotong roti."

"Siapa yg membawa tiga potong roti, 
iapun harus membayar tiga potong roti".

"Sementara kita tak mungkin membawa apa-apa. 
Karena tak punya uang untuk membelinya."

"Dipintu kasirpun kita tak akan diperiksa, 
dibiarkan jalan begitu saja"

"Begitu pula kelak di Hari Kiamat Nak."

"Saat orang-orang kaya antri menjalani pemeriksaan untuk dimintai pertanggung jawaban.

"Saat orang-orang kaya ditanya tentang :

Darimana hartanya mereka peroleh ?.

Dan kemana hartanya mereka gunakan ?."



"Kita dibiarkan terus berjalan tanpa beban.

"Lebih enak bukan !."

"Apakah engkau masih juga belum bisa menerima ?."



Anakku,

"Jika kita memang ditakdirkan menjadi orang miskin :


BERSABARLAH SEJENAK,
Karena setelah kematian, kemiskinan itu akan sirna.

BERPIKIRLAH POSITIF,
Barangkali, jika kita kaya belum tentu bisa lebih bertakwa

Mungkin juga, dengan kemiskinan kita akan lebih mudah meraih SURGA-NYA.


JANGAN PERNAH MINDER

Karena kaya dan miskin bukanlah ukuran Mulia dan Hinanya manusia.

Tetaplah berprasangka baik pada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.

Singkirkan rasa iri , cemburu & buanglah tanda tanya,

Tentang Kehendak-NYA Pembagi Nikmat.

Mungkin jatah yang buat kita masih tersimpan di SURGA.

Menunggu kita Siap Menerimanya....


Ingatlah apa yg disampaikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam 
Bahwa "sesungguhnya kekayaan itu bukan terletak pada banyaknya harta benda, tapi pada hati dan ketenangan jiwa"





Barakallohu Fiikum


Kamis, 14 November 2013

Problema Anak Berbohong .....




Seorang ibu merasa kewalahan menghadapi puteranya yang berusia 9 tahun yang suka berbohong. 
Sang anak sering sekali berbohong bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. 
Ia berbohong tentang nilai ulangan hariannya,
 ia berbohong tentang siapa yang memecahkan pot bunga saat bermain bola,
 ia berbohong saat hendak pamit les, dan lain sebagainya. 


Sang ibu merasa sudah mengajarkan nilai kejujuran pada anaknya,
 bahkan sering memarahinya jika ketahuan bohong,
 tapi tidak nampak tanda-tanda anak ini mau berubah. Lalu, harus bagaimana?


Tidak diragukan lagi bahwa berbohong adalah sebuah perilaku tercela yang bisa menjadi kebiasaan apabila tidak ditangani sedini mungkin. Para pendidik, khususnya orang tua harus mencurahkan perhatian dan melakukan upaya-upaya perbaikan dari kebiasaan berbohong ini agar tidak menjadi kebiasan buruk yang mengakar kuat dalam diri seorang anak.


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.”
(HR. Bukhari No. 6094, Muslim No. 2607)


Anak-anak memang tidak dilahirkan dengan kode moral. 
Moralitas adalah sesuatu yang dipelajari oleh seorang anak dalam tumbuh kembangnya secara bertahap dari tahun ke tahun. 
Dan perilaku berbohong adalah salah satu dari tahapan tersebut.


Dalam tumbuh kembangnya, anak-anak belajar tentang aturan-aturan sosial. 
Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada yang dinamakan khayalan, kebohongan, dan kenyataan. Dan umumnya, perilaku berbohong ini muncul dalam diri anak ketika ia mulai bisa bicara.


Rentang usia 4 sampai 9 tahun, anak-anak masih banyak hidup dengan khayalan-khayalan mereka. 
Mereka belum bisa membedakan yang mana khayalan dan mana kenyataan. 
Mereka sering beranggapan bahwa binatang bisa bicara layaknya manusia,
mereka mengira bahwa hantu dan monster itu benar-benar ada,
mereka yakin bahwa kartun-kartun animasi itu benar-benar hidup dan menjadi teman mereka. 
Dan sering kali mereka menempatkan diri mereka menjadi bagian dari khayalan tersebut.


Setelah usia 9 tahun, anak-anak mulai memahami aturan “tidak boleh berbohong”. 
Mereka mulai memahami bahwa sesuatu yang bukan sebenarnya itu berarti berbohong. 
Namun mereka masih memilah dan memilih, atau mempertimbangkan kapan mereka bisa berbohong atau tidak. 
Dalam artian, mereka belum benar-benar faham bahwa berbohong itu tercela. 
Karena ada kebutuhan lain yang lebih penting bagi mereka, yaitu kebutuhan untuk diterima dengan baik oleh suatu kelompok sosial tertentu.


Alasan Mengapa Anak Berbohong

Berikut ini ada beberapa alasan mengapa anak-anak berbohong :

1. Contoh yang salah dari orang tua

Anak-anak adalah peniru yang sangat baik. Mereka meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang dewasa di sekitarnya, termasuk berbohong.

Ya, anak-anak belajar berbohong pertama kali dari orang tuanya. Disadari atau tidak, orang tua seringkali memberikan contoh yang salah dalam perilaku berbohong ini, sehingga anak-anak menirunya di kemudian hari.

Contoh kecil, saat seorang ibu ingin mengalihkan perhatian anakknya atau menghentikan tangis anaknya, ibu itu berkata, “Eh, lihat itu ada cicak!” atau “Eh, lihat ada pesawat terbang!”. Padahal sesungguhnya tidak ada cicak atau pesawat terbang disana.

Contoh lagi, saat ada tamu atau telpon, sedangkan ibu atau ayah sedang menghindari orang yang bertamu atau telpon tersebut, ibu akan mengatakan, “Bilang saja ibu nggak ada di rumah…”. Padahal ibu jelas-jelas ada di rumah.


Atau, saat hendak mengajarkan anak berpisah dari orang tua saat di sekolah, ibu berjanji pada anaknya yang belum mau ditinggal untuk menunggu di luar kelas. 
Tapi, ternyata setelah anak masuk, sang ibu pergi untuk pulang hingga datang kembali untuk menjemput sang anak.


Kita sebagai orang tua ada role model utama bagi anak-anak kita. Karena kitalah yang paling sering berada di dekat mereka. 
Jadi kita harus berhati-hati tentang masalah berbohong ini. Jika kita sering berbohong, maka jangan salahkan anak bila kelak mereka ikut berbohong.
 Namun, bila kita membiasakan anak untuk jujur sejak kecil, maka insyaallah anak-anak pun akan menjadi anak yang jujur dan mudah untuk diarahkan.


2. Anak terlalu sering dikritik, tetapi jarang diberi pujian

Sering kali kita terburu-buru mengecap anak kita berbohong, mencurigainya, mengkritiknya, padahal anak berkata jujur. 
Dan kita akan langsung memberikan label “pembohong” ketika anak pernah sekali berbohong pada kita. Sehingga pada akhirnya, anak pun mengambil kesimpulan bahwa “bohong atau jujur sama saja, ibu akan tetap bilang aku ini pembohong”.

Dan kita juga lebih sering mengeluarkan kalimat-kalimat negatif pada anak, alih-alih memberinya semangat dan dorongan untuk selalu berbuat baik. 
Kita lebih sering mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan anak, mengecilkan hati anak, memberikan julukan yang negatif, dan lain sebagainya sebagai bentuk dari “kekerasan verbal” terhadap seorang anak.


Contohnya, kita masih sering terpatok pada “hasil akhir” dan bukannya “usaha” dari seorang anak. 
Kita akan mengkritik, “Hitungan mudah begini saja kamu nggak bisa” atau “sudah sering kamu diajari wudhu tapi masih saja nggak bisa wudhu yang benar!” dan yang semisal dengan itu.


Anak-anak yang terlalu sering mendapatkan kritikan dari orang tuanya, akhirnya menjadi haus pujian. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat orang tuanya mau memujinya. Salah satunya adalah berbohong. 
Dengan berbohong, mereka beranggapan bahwa mereka bisa menyelamatkan diri dari “omelan ibu” dan akan mendapatkan “pujian ibu”.


3. Bentuk pengalihan perhatian atau menghindari hukuman

Suatu ketika, saya pernah menegur keras putri saya yang baru berusia 3 tahun karena suatu hal. 
Saat saya memarahinya, putri saya tiba-tiba mengatakan pada saya, “Bunda, sakit perut…”. Dan akhirnya saya pun tidak marah lagi dan kemudian menyuruhnya untuk segera ke kamar mandi.
 Rupanya, putri saya ini merekam kejadian hari itu. Mungkin dalam benaknya, kalau bunda marah-marah aku bilang sakit perut, bunda jadi nggak marah. Dan esok harinya, saat saya menegurnya lagi karena hal yang lain, ia pun mengatakan hal yang sama, “Bunda, sakit perut…” padahal ternyata tidak keluar. Dan itu terjadi beberapa kali, sampai kemudian saya baru sadar bahwa “sakit perut” adalah alasan untuknya mengalihkan perhatian saya agar saya tidak marah-marah lagi.


Anak-anak yang masih kecil biasanya cenderung “tidak sengaja” berbohong. Dalam artian, mereka belum bisa memprediksi sebab-akibat. 
Jika kita menganggap jelas bahwa anak bermain bola dan memecahkan vas adalah suatu kesalahan, maka anak-anak tidak bisa berpikir demikian. Mereka hanya berpikir, “Aku main bola, dan aku ngga mecahin vas ibu. Bola yang mecahin vas ibu”. Dan itulah yang akan mereka katakan.


Anak-anak juga berbohong dengan menyalahkan orang lain atau hal lain untuk menyelamatkan diri dari hukuman. Contohnya, mereka menyalahkan kucing untuk pot bunga yang pecah saat mereka bermain di halaman, atau membuat alasan “kue ini buat kucing” saat ia kedapatan mengambil kue tanpa izin, dan lain sebagainya.


4. Ingin diterima oleh lingkungan dan teman-temannya

Pada anak-anak yang sudah lebih besar atau remaja, umumnya mereka berbohong untuk meningkatkan rasa percaya diri dan status sosialnya. 
Misalnya, mereka berbohong soal kekayaan keluarga, atau bersahabat dengan orang terkenal, dan lain sebagainya.
 Tujuannya adalah mereka ingin diterima oleh suatu komunitas sosial tertentu di kalangan teman-temannya. Mereka juga ingin dianggap “hebat” atau “keren” dan segala hal yang berbau pamor di kalangan para remaja. 
Terkadang, hal yang dimikian juga disebabkan karena anak pernah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari teman-temannya, seperti dipermalukan atau diremehkan.


Kebohongan lain adalah bohong terhadap orang tua agar orang tua mau menerima teman-teman sepermainannya. 
Mereka biasanya berbohong dengan mengendalikan informasi, seperti memberikan alasan belajar bersama di rumah teman, padahal mereka pergi main ke mall atau ke tempat persewaan PS, dan lain sebagainya.


Mendidik Anak Agar Tidak Bohong

Setiap orang tua tentunya merasa sedih dan kecewa bila melihat dan mendengar anaknya berbohong. 
Dan tidak jarang kita langsung merasa panik dan buru-buru men-judge anak “kamu bohong” atau “kamu pembohong”.


Yang harus kita lakukan adalah memahami perilaku tersebut sebagai tahapan perkembangan anak dan mencari solusinya agar tidak menjadi kebiasan di kemudian hari.

● Keteladanan dari orang tua

Menanamkan sikap jujur dan tidak suka berbohong adalah tugas orang tua dan pendidik. Namun, tentu saja tidak bisa hanya sekedar teori, melainkan dengan keteladanan. 
Berusahalah untuk bersikap jujur dalam perkataan dan perbuatan. Karena anak-anak melihat dan mencontoh apa yang mereka lihat dan mereka dengar.

Jika kita ingin mengalihkan perhatian anak dari tangisnya, alih-alih kita mengatakan “lihat itu ada cicak!” kita bisa menggantinya dengan kalimat ajakan, “yuk, kita cari cicak,” sambil mengajaknya keluar.

Orang tua juga tidak boleh berpura-pura akan memberikan sesuatu pada anak jika anak menurut. Misalnya, kita bilang, “ayo nurut sama ummi, nanti ummi belikan mainan” atau yang semisal dengan itu. Padahal itu hanya untuk memancingnya saja tanpa benar-benar akan memberikannya mainan bila ia sudah menurut.


● Menanamkan kejujuran sejak dini

Sesungguhnya kejujuran itu sederhana, tapi sulit untuk dilakukan. Semakin dewasa usia seseorang, akan semakin sulit dan makin banyak godaannya untuk berbuat jujur. Padahal, kejujuran adalah salah satu kecerdasan moral. Dan untuk melatih kecerdasan moral seperti ini jauh lebih sulit dari pada melatih kecerdasan intelegensi.


Para psikolog dan pakar pendidikan anak banyak menilai bahwa orang tua masa kini jauh lebih bisa mencerdaskan intelegensi anak dari pada mencerdaskan moral anak. Bukan berarti terjadi kemerosotan moral di sini, melainkan orang tua merasa tidak percaya diri dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Sehingga kemudian, orang tua pun menyerahkan tugas tersebut pada sekolah atau guru anak-anak mereka. Padahal, sejatinya pendidikan moral adalah hal yang juga harus diberikan oleh orang tua, bersama dengan pendidikan agama.


● Hindari memberi hukuman yang terlalu berat pada anak

Jika kita ingin memberikan anak hukuman karena kesalahannya, maka hukumlah dengan “adil”. Dalam artian, tidak setiap kesalahan anak harus mendapatkan hukuman yang berat. Lihat dan pertimbangkan seberapa berat kesalahan anak dan hukuman apa yang paling tepat untuknya.

Misalnya, anak menumpahkan air. Ini adalah perkara yang sepele sebenarnya. Bisa jadi anak tidak sengaja melakukannya. Maka berikan ia konsekuensi, untuk mengambil lap dan mengeringkan airnya dengan bantuan Anda.

Atau misalnya, anak tidak menabungkan uangnya dan malah menggunakan uang tersebut untuk membeli mobil-mobilan baru. Jangan langsung menghukumnya dengan memukul atau mengomelinya sepanjang hari. Tapi, nasehati anak dengan baik dan minta ia untuk tidak mengulanginya. Konsekuensinya, anak belajar untuk menabungkan sebagian uang jajannya sebagai ganti dari uang tabungan yang telah ia pakai kemarin.

Hukuman yang terlalu berat dan sering dapat menimbulkan rasa takut pada anak yang dapat mendorong anak untuk berbohong.


● Hargai setiap usaha yang dilakukan anak

Sudah kodratnya anak-anak itu butuh pujian dari orang tuanya. Mereka butuh penghargaan dari setiap usaha baik yang mereka lakukan. Selaras dengan “teguran” yang mereka dapatkan ketika mereka melakukan kesalahan.

Tentunya anak-anak akan bertanya-tanya, kalau aku salah aku selalu dimarahi, tapi kalau aku jadi anak baik, ibu dan ayah biasa saja.

Seorang anak lama-kelamaan akan merasa frustrasi dan jenuh ketika setiap usaha yang ia lakukan ia hanya mendapatkan kritikan pedas dari orang tuanya. Mereka akan merasa gagal, ditolak, tidak mampu, tidak percaya diri, dan rendah diri. Lebih-lebih jika orang tuanya membanding-bandingkan dirinya dengan saudaranya atau anak orang lain. Rasa frustrasi dan jenuh itulah yang juga bisa mendorong seorang anak untuk berbohong demi pengakuan.

Jika si kecil melakukan sesuatu, bahkan jika hasilnya kurang memuaskan, cobalah untuk mengatakan, “wah…subhanallah…kakak sudah pintar ya. Nanti kita buat lagi yang bagus supaya kakak bisa semangat lagi ya!”.

Penghargaan yang diterima oleh seorang anak anak menumbuhkan sikap menghargai orang lain di kemudian hari.


● Hindari dan jauhkan anak dari tontonan atau cerita-cerita bohong
Sering memperdengarkan cerita-cerita bohong juga membuat anak-anak belajar berbohong. Karena sebagian besar anak-anak belum bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya khayalan saja.

Dari mana anak mengenal monster dan hantu jika bukan dari buku cerita fiksi dan film di TV? Karena itu orang tua harus benar-benar selektif dalam memilihkan buku bacaan dan tontonan untuk anak.

Saat ini banyak sekali buku-buku dan film-film yang isinya hanya merusak moral anak-anak, atau memperlihatkan adegan kekerasan, kisah-kisah yang tak masuk akal dan membuat anak-anak takut.

Jelaskan pada anak-anak bahwa monster dan hantu itu tidak ada dan hanya rekaan manusia. Kalau perlu, apalagi di jaman teknologi yang sudah canggih ini, kepada anak-anak yang sudah lebih besar, kita bisa memperlihatkan bagaimana “efek” monster dan hantu itu dibuat dengan komputer.


● Dengarkan anak saat mereka bicara

Mendengarkan keinginan anak bukan berarti harus mewujudkan setiap keinginannya. Akan tetapi, mendengarkan di sini adalah menunjukkan antusiasme dan perhatian kita bahwa kita menghargai apapun yang mereka katakan.

Jika ternyata apa yang mereka katakan itu bukan hal yang sesungguhnya terjadi atau hanya khayalan mereka, jangan buru-buru marah atau menudingnya sebagai pembohong. Tapi, luruskanlah, agar anak-anak memiliki pola pikir yang lurus pula.


● Berikan kepercayaan pada anak

Akan tiba masanya anak-anak harus bisa melakukan banyak hal sendiri, tanpa bantuan dan pantauan orang tua. Apalagi ketika usia mereka beranjak remaja, tentulah mereka tak ingin terus menerus dibayangi atau terlalu diatur oleh orang tua.

Seiring dengan bertambahnya usia, bertambahnya tanggungjawab, bertambah pula keinginan seorang anak untuk dihargai sebagai seorang “anak yang sudah besar”. Mereka menginginkan tanggungjawab yang lebih besar pula, dan menginginkan kemandirian. Karena itu, sudah sepatutnya orang tua memberikan kepercayaan pada anak-anaknya.

Ajarkan anak-anak bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi, dan harus dipertanggungjawabkan. Tanamkan bahwa setiap tindakan mereka adalah cerminan bagaimana orang tua mereka mendidik mereka. Lalu berikan mereka kepercayaan.

Sesekali waktu, anak-anak mungkin melakukan kesalahan. Namun, bantulah mereka untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan percayakan bahwa mereka belajar dari kesalahan tersebut.

Dari pada mengatakan, “tuh, kan…ternyata kamu memang nggak bisa dipercaya”, lebih baik katakan, “oke…ummi ngerti kalau hari ini kamu salah. Sekarang kita cari penyelesaiannya sama-sama, dan ummi harap kamu tidak mengulanginya lagi.”

Anak-anak yang mendapatkan kepercayaan dan merasa dipercaya, pada akhirnya akan belajar untuk menjaga kepercayaan tersebut dan mau belajar untuk senantiasa jujur dalam perbuatan dan perkataan.


***


Muslimah.or.id
Penulis: Nisa Sabardin Ummu Alifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Minggu, 20 Oktober 2013

Wahai Ibu Jangan Terlalu Keras Pada Anakmu....



Allah Ta’ala adalah Zat yang Maha Lemah Lembut.
 Allah Ta’ala menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan. 


Karenanya, telah menjadi kemestian bagi seorang muslim untuk senantiasa mengedepankan sikap lemah lembut ini.
 Dalam mendidik anak, hendaknya menghindari cara-cara kekerasan. 
Baik kekerasan bersifat fisik, juga kekerasan dengan menggunakan lisan (verbal).
 Demikian pula dalam urusan lainnya, hendaknya redam cara-cara yang berbau kekerasan.


Kekerasan verbal bisa dimaknai sebagai bentuk kekerasan yang tidak menggunakan tutur kata yang santun, yang bersifat menyakiti dan menzalimi orang lain. Mengumpat, mencaci maki, berdusta, menggunakan kosa kata tak patut dan santun, adalah bagian dari kekerasan bersifat verbal.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan hal ini berdasar hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Kata beliau (artinya):

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir berucaplah yang baik atau (bila tak mampu berkata yang baik) hendaklah diam.”

(HR. Muttafaqun ‘alaihi).


Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah muslimin yang utama itu?” Jawab Rasulullah, “Kaum muslimun yang menjadikan orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”

(HR. Muttafaqun ‘alaihi, hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)


Dalam hadits lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan sosok suami beliau yang tak pernah melakukan kekerasan fisik kepada anggota rumah.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah menggunakan tangannya sedikit pun (melakukan kekerasan fisik) terhadap istri dan pembantunya, kecuali saat jihad di jalan Allah.”

(HR. Muslim)


إن الله رفيق يحب الرفق في الامر كله
“Sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Lemah Lembut, dan Dia menyukai kelemahlembutaN dalam setiap perkara.”

(HR. Muttafaqun ‘alaihi)

Karenanya, sudah sepantasnya bagi setiap muslim meninggalkan kebiasaan melakukan kekerasan. 
Jangan didik anak-anak dan lingkungan kita dengan wajah kekerasan. 
Mulailah dari rumah kita. Wallahu ‘a’lam.



Jikalau anak bertingkah laku yang memancing emosi, bersabarlah dan menahan diri baik lisan maupun tangan. 
Bersikap tegas dan disiplin itu penting dalam rangka mendidik, namun bukanlah berarti dengan kekerasan verbal maupun fisik. 
Selain bisa membekas menjadi luka hati, juga bisa menjadi 'contoh langsung' yang dapat ditiru anak untuk melampiaskan kekesalan dengan amarah pada orang lain yang ia anggap lemah posisinya, seperti adiknya, khodimat (PRT) atau pada anaknya atau istrinya kelak saat ia sudah dewasa.


Jangan sampai menyesal di kemudian hari..

Hanya Allah yang memberi taufiq...

Allahu a'lam

Kamis, 24 Mei 2012

Ibarat Mengukir Di Atas Batu



Penulis : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran

Usia kanak-kanak adalah masa keemasan dalam kehidupan seseorang. Segala yang dipelajari dan dialami pada masa ini –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala– akan membekas kelak di masa dewasa.

Tak heran bila di kalangan pendahulu kita yang shalih banyak kita dapati tokoh-tokoh besar yang kokoh ilmunya, bahkan dalam usia mereka yang masih relatif muda. Dari kalangan sahabat, ada ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum, dan banyak lagi. Kalangan setelah mereka, ada Sufyan Ats-Tsauri, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i, dan Al-Imam An-Nawawi rahimahumullah.

Begitulah memang. Dari sejarah kehidupan mereka kita bisa melihat, mereka telah sibuk dengan ilmu dan adab semenjak usia kanak-kanak. Jadilah –dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala– apa yang mereka pelajari tertanam dalam diri dan memberikan pengaruh terhadap pribadi.
Demikian yang diungkapkan oleh ‘Alqamah rahimahullahu:

مَا حَفِظْتُ وَأَنَا شَابٌّ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فِي قِرْطَاسٍ أَوْ وَرَقَةٍ

“Segala sesuatu yang kuhafal ketika aku masih belia, maka sekarang seakan-akan aku melihatnya di atas kertas atau lembaran catatan.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/304)

Bahkan ayah ibu mereka berperan dalam mengarahkan dan membiasakan anak-anak untuk menyibukkan diri dengan ilmu agama sejak dini dan menghasung mereka untuk mempelajari adab.

Muhammad bin Sirin rahimahullahu mengatakan:

كَانُوا يَقُوْلُوْنَ: أَكْرِمْ وَلَدَكَ وَأَحْسِنْ أَدَبَهُ

“(Para pendahulu kita) mengatakan: ‘Muliakanlah anakmu dan perbaikilah adabnya!’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/308)

Senada dengan ini, Ibnul Anbari rahimahullahu mengatakan pula:

مَنْ أَدَّبَ ابْنَهُ صَغِيْرًا قَرَّتْ عَيْنُهُ كَبِيْرًا

“Barangsiapa mengajari anaknya adab semasa kecil, maka akan menyejukkan pandangannya ketika si anak telah dewasa.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/306)

Dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu contohnya. Beliau selalu menyertakan putranya, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma di majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara orang-orang yang duduk di sana adalah orang-orang dewasa. Bahkan betapa inginnya ‘Umar agar putranya menjadi seorang yang terkemuka di antara para sahabat yang hadir di situ dari sisi ilmu. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:

كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: أَخْبِرْنِي بِشَجَرَةٍ تُشْبِهُ أَوْ كَالرَّجُلِ الْمُسْلِمِ لاَ يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا وَلاَ وَلاَ وَلاَ، تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لاَ يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ. فَلَمَّا لَمْ يَقُوْلُوْا شَيْئًا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: هِيَ النَّخْلَةُ. فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَاه، وَاللهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ. فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ تَكَلَّمُوْنَ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُوْلَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرَ: لَأَنْ تَكُوْنَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا.

“Dulu kami pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya pada kami, ‘Beritahukan kepadaku tentang sebatang pohon yang menyerupai atau seperti seorang muslim, tidak pernah gugur daunnya, tidak demikian dan demikian, selalu berbuah sepanjang waktu.’ Waktu itu terbetik dalam benakku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tapi kulihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak menjawab apa pun sehingga aku pun merasa segan untuk menjawabnya. Tatkala para sahabat tidak juga mengatakan apa pun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu pohon kurma.” Ketika kami bubar, kukatakan kepada (ayahku) ‘Umar, “Wahai Ayah, sebetulnya tadi terlintas di benakku bahwa itu pohon kurma.”“Lalu apa yang membuatmu tidak menjawab?” tanya ayahku. “Aku melihat anda semua tidak berbicara, hingga aku merasa segan pula untuk menjawab atau mengatakan sesuatu,” jawab Ibnu ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Sungguh, kalau tadi engkau menjawab, itu lebih kusukai daripada aku memiliki ini dan itu!” (HR. Al-Bukhari no. 4698)

Lihat pula Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha yang menghasung putranya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu untuk selalu melayani RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam di usia kanak-kanaknya. Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha mengantarkan anaknya memperoleh faedah besar berupa ilmu dan pendidikan dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah ketika aku berumur delapan tahun. Maka ibuku pun menggandengku dan membawaku menghadap beliau. Ibuku mengatakan pada beliau, “Wahai Rasulullah, tak seorang pun yang tersisa dari kalangan orang-orang Anshar, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali telah memberikan sesuatu padamu. Sementara aku tidak mampu memberikan apa-apa kepadamu, kecuali putraku ini. Ambillah agar dia bisa membantu melayani keperluanmu.” Maka aku pun melayani beliau selama sepuluh tahun. Tak pernah beliau memukulku, tak pernah mencelaku maupun bermuka masam kepadaku.” (Siyar A’lamin Nubala’, 3/398)

Begitu pula ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sepupu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baru belasan tahun umurnya ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, sementara sebelum itu dia banyak mengambil faedah ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mendapatkan doa beliau. ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengungkapkan, bagaimana inginnya dia mendapatkan ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رَقَدْتُ فِي بَيْتِ مَيْمُوْنَةَ لَيْلَةَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَهَا لِأَنْظُرَ كَيْفَ صَلاَةَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ

“Aku pernah tidur di rumah Maimunah1 pada malam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermalam di sana untuk melihat bagaimana shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di waktu malam.” (HR. Al-Bukhari no. 698 dan Muslim no. 763)

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, semangat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma untuk mencari ilmu tidaklah surut. Didatanginya para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada pada saat itu untuk mendengarkan hadits dari mereka. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan tentang hal ini:

“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan waktu itu aku masih belia, aku berkata kepada salah seorang pemuda dari kalangan Anshar, ‘Wahai Fulan, mari kita bertanya pada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belajar dari mereka, mumpung mereka sekarang masih banyak!’ Dia menjawab, ‘Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu ‘Abbas! Apa kau anggap orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang kaulihat?’ Aku pun meninggalkannya. Aku pun mulai bertanya dan menemui para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika, aku mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu hadits yang kudengar bahwa dia mendengarnya dari RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata dia sedang tidur siang. Aku pun rebahan berbantalkan selendangku di depan pintunya, dalam keadaan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai dia keluar. ‘Wahai putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini?’ tanyanya ketika dia keluar. ‘Aku ingin mendapatkan hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku ingin mendengar hadits itu darimu,’ jawabku. ‘Mengapa tidak kau utus saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang mendatangimu?’ katanya. ‘Aku lebih berhak untuk datang kepadamu,’ jawabku. Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal, orang tadi (dari kalangan Anshar tersebut, red.) melihatku dalam keadaan orang-orang membutuhkanku. Dia pun berkata padaku, ‘Engkau memang lebih berakal daripadaku’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/310)

Dari kalangan setelah tabi’in, kita kenal Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu. Salah satu hal yang mendorong Sufyan Ats-Tsauri sibuk menuntut ilmu sejak usia dini adalah hasungan, dorongan, dan arahan ibunya agar Sufyan mengambil faedah dari para ulama, baik berupa ilmu maupun faedah yang didapatkan dengan duduk bersama mereka, hingga ilmu yang diperolehnya akan memiliki pengaruh terhadap akhlak, adab, dan muamalahnya terhadap orang lain.

Ketika menyuruh putranya untuk hadir di halaqah-halaqah ilmu maupun majelis-majelis para ulama, ibunda Sufyan Ats-Tsauri berpesan, “Wahai anakku, ini ada uang sepuluh dirham. Ambillah dan pelajarilah sepuluh hadits! Apabila kaudapati hadits itu dapat mengubah cara dudukmu, perilakumu, dan ucapanmu terhadap orang lain, ambillah. Aku akan membantumu dengan alat tenunku ini! Tapi jika tidak, maka tinggalkan, karena aku takut nanti hanya akan menjadi musibah bagimu di hari kiamat!” (Waratsatul Anbiya’, hal.36-37)

Begitu pula ibu Al-Imam Malik rahimahullahu, dia memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Al-Imam Malik mengisahkan:
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan akumismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah2! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’ (Waratsatul Anbiya’, hal. 39)

Biarpun dalam keadaan kekurangan, mestinya keadaan itu tidak menyurutkan keinginan orangtua untuk memberikan yang terbaik bagi sang anak. Lihat bagaimana ibu Al-Imam Asy-Syafi’i berusaha agar putranya mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang baik.

Diceritakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu: “Aku adalah seorang yatim yang diasuh sendiri oleh ibuku. Suatu ketika, ibuku menyerahkanku ke kuttab3, namun dia tidak memiliki sesuatu pun yang bisa dia berikan kepada pengajarku. Waktu itu, pengajarku membolehkan aku menempati tempatnya tatkala dia berdiri. Ketika aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an, aku mulai masuk masjid. Di sana aku duduk di hadapan para ulama. Bila aku mendengar suatu permasalahan atau hadits yang disampaikan, maka aku pun menghafalnya. Aku tak bisa menulisnya, karena ibuku tak memiliki harta yang bisa dia berikan kepadaku untuk kubelikan kertas. Aku pun biasa mencari tulang-belulang, tembikar, tulang punuk unta, atau pelepah pohon kurma, lalu kutulis hadits di situ. Bila telah penuh, kusimpan dalam tempayan (guci) yang ada di rumah kami. Karena banyaknya tempayan terkumpul, ibuku berkata, ‘Tempayan-tempayan ini membuat sempit rumah kita.’ Maka kuambil tempayan-tempayan itu dan kuhafalkan apa yang tertulis di dalamnya, lalu aku membuangnya. Sampai kemudian Allah memberiku kemudahan untuk berangkat menuntut ilmu ke negeri Yaman.” (Waratsatul Anbiya’, hal. 36)

Namun betapa mirisnya hati kita bila melihat anak-anak kaum muslimin sekarang ini. Dalam usia yang sama dengan para tokoh ini tadi, mereka tidak mempelajari ilmu agama ataupun memperbaiki adabnya. Akankah kita biarkan ini terus berlangsung?
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Catatan kaki:

1 Maimunah, istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah bibi Ibnu ‘Abbas, karena Maimunah adalah saudari Ummul Fadhl, ibu Ibnu ‘Abbas.
2 Al-Imam Rabi’ah rahimahullahu adalah guru Al-Imam Malik rahimahullahu.
3 Kuttab adalah tempat anak-anak kecil belajar baca-tulis Al-Qur’an, semacam TPA/Q di Indonesia.

(Sumber: Asy Syariah No. 45/IV/1429 H/2008, halaman 76 s.d. 78, judul: Ibarat Mengukir di atas Batu, penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran, katagori: Permata Hati)

Teman Untuk Anakku



Penulis : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah Bintu ‘Imran

Setiap anak membutuhkan teman. Oleh karena itu, menjadi kewajiban orang tua untuk memilihkan teman yang baik bagi anak-anaknya.

Pendidikan anak ternyata tak sebatas dalam lingkup keluarganya semata. Ketika kematangan sosial anak terus bertambah, bertambah pula ruang lingkupnya. Teman menjadi satu kebutuhan tersendiri bagi si anak. Teman bermain, teman belajar di sekolah, suatu saat menjadi bagian hidup seorang anak.

Pada saat itulah, orang tua harus menyadari betapa pentingnya pengawasan mereka terhadap anak-anak. Mengarahkan anak-anak, memilihkan teman yang baik untuk mereka, menjadi kewajiban bagi setiap orang tua yang menghendaki keselamatan anak-anaknya.Tidak jarang terjadi, orang tua yang telah berusaha menanamkan budi pekerti yang baik pada anak-anaknya di tengah keluarganya, mendapati anaknya menjadi seorang yang bengal dan rusak, akibat salah bergaul dengan teman-temannya.

Ini tidaklah mengherankan, karena bagaimanapun teman akan memberikan pengaruh yang besar terhadap diri seseorang. Sebagaimana Rasulullah memperingatkan hal ini dalam ucapan beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu `anhu:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” (HR. Abu Dawud no. 4833, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Dawud)


Oleh karena itu, siapa saja yang diridhai agama dan akhlaknya hendaknya dijadikan teman, dan siapa yang tidak seperti itu hendaknya dijauhi, karena tabiat itu akan saling meniru. (‘Aunul Ma’bud, Kitabul Adab, Bab Man Yu`maru an Yujaalisa)


Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam memberikan gambaran yang jelas tentang perbedaan antara teman yang baik dan teman yang jelek. Beliau Shallallahu `alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيْسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ المِسْكِ وَكِيْرِ الْحَدَّادِ: لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ المِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيْهِ أَوْ تَجِدَ رِيْحَهُ، وَكِيْرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَيْتَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيْثَةً

“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual misik (sejenis minyak wangi, red.) dan pandai besi. Tidak lepas dirimu dari penjual misik, bisa jadi engkau membeli darinya atau pun engkau mendapati bau harumnya. Sementara pandai besi, bisa jadi dia membakar rumah atau bajumu atau engkau dapati bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 2101 dan Muslim no. 2628)

Dalam ucapan Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam ini terkandung keutamaan duduk bersama orang-orang yang shalih, yang memiliki kebaikan, muru`ah, akhlak yang mulia, wara’, ilmu serta adab. Juga terkandung larangan duduk bersama orang-orang yang jelek, ahlul bid’ah, orang yang suka menggunjing orang lain, atau sering melakukan perbuatan fajir, banyak menganggur, dan berbagai macam perbuatan tercela lainnya. (Syarh Shahih Muslim, 16/177)


Inilah sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam yang di dalamnya terkandung larangan duduk bersama orang yang dapat mengakibatkan kerugian pada agama maupun dunia, serta anjuran untuk duduk bersama orang yang dapat diambil manfaatnya bagi agama dan dunia. (Fathul Bari 4/410)


Dalam kitab-Nya yang mulia, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya agar selalu bersama orang-orang yang beriman dan senantiasa kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menjauhi orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’alasehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum mereka dengan dilupakan dari mengingat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya menaati orang seperti ini, karena akan menggiring mereka untuk mencontohnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang senantiasa menyeru Rabb mereka pada pagi dan senja hari dengan mengharapkan wajah-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah mengikuti orang yang hati-Nya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta mengikuti hawa nafsunya, sementara keadaan mereka sia-sia.” (Al-Kahfi: 28)


Di dalam ayat ini didapati perintah untuk bergaul dengan orang-orang yang baik, dan mengupayakan diri untuk tetap bersama mereka serta bergaul dengan mereka, walau mereka adalah orang-orang yang fakir. Karena bergaul bersama mereka membuahkan faidah yang tidak terhitung banyaknya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 475)


Dengan begitu, orang tua wajib mengarahkan anak-anak, serta menekankan mereka untuk memilih kawan, teman duduk maupun teman dekat yang baik. Hendaknya orang tua menjelaskan kepada anak tentang manfaat di dunia dan di akhirat apabila duduk dan bergaul dengan orang-orang shalih, dan bahaya duduk dengan orang-orang yang suka melakukan kejelekan ataupun teman yang jelek. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 154)


Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mencari tahu setiap keadaan anak, menanyakan tentang teman-temannya. Betapa banyak terjadi seorang anak yang jelek mengajak teman-temannya untuk berbuat kemungkaran dan kerusakan, serta menghiasi perbuatan jelek dan dosa di hadapan teman-temannya. Padahal anak kecil seringkali meniru, suka menuruti keinginannya serta suka mencari pengalaman baru. Oleh karena itu, orang tua hendaknya berupaya agar anak berteman dengan teman-teman yang baik dan shalih, serta berasal dari keluarga yang baik. Di samping itu juga berupaya untuk memuliakan teman-teman si anak agar mudah memberi bimbingan dan arahan pada mereka dan mereka pun akan bersikap lembut di hadapan orang tua. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 155)


Bila suatu ketika orang tua mendapati anaknya berbuat kejelekan dan kerusakan, tidak mengapa orang tua berusaha mencari tahu tentang keadaan anaknya. Walaupun dengan hal itu mereka terpaksa melakukan salah satu bentuk perbuatan tajassus (mata-mata). Ini tentu saja dengan tujuan mencegah kejelekan dan kerusakan yang terjadi, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai kerusakan. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 156)


Inilah kiranya sebuah kewajiban yang tak boleh dilupakan oleh setiap orang tua. Hendaknya orang tua mengingat sebuah ucapan yang dituturkan oleh ‘Amr bin Qais Al-Mala`i rahimahullah:

إِنَّ الشَّابَّ لَيَنْشَأُ، فَإِنْ آثَرَ أَنْ يَجْلِسَ أَهْلَ العِلْمِ كَادَ أَنْ يَسْلَمَ، وَإِنْ مَالَ إِلَى غَيْرِهِمْ كَادَ أَنْ يَعْطَبَ

“Sesungguhnya pemuda itu sedang tumbuh. Maka apabila dia lebih mengutamakan untuk duduk bersama orang-orang yang berilmu, hampir-hampir bisa dikata dia akan selamat. Namun bila dia cenderung pada selain mereka, hampir-hampir dia rusak binasa.” (Dinukil dariLammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, bab Hukmus Salaf ‘alal Mar`i bi Qarinihi wa Mamsyahu no.517)


Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber: http://www.asysyariah.com

Jumat, 18 Mei 2012

Keutamaan Anak Perempuan



Detik-detik saat kelahiran adalah saat-saat yang sangat menegangkan bagi seorang suami….begitu besar harapan yang telah ia gantungkan bagi anak yang ia nanti-nantikan kehadirannya. Begitu besar kegembiraan yang ia rasakan tatkala terdengar suara sang anak…

Akan tetapi semuanya menjadi berubah…tatkala sang suami mengetahui bahwa anak yang ia nanti-nantikan ternyata perempuan. Jadilah wajah yang tadi riang menjadi mengkerut…, nampak kegembiraan yang terkeruhkan dengan kemasaman dan kekesalan…, meskipun sang suami berusaha untuk meredamnya !!!

Yang sangat disayangkan ternyata masih ada saja kondisi para suami yang seperti ini.



Konsekuensi-Konsekuensi Buruk dari Kebencian Terhadap Anak Perempuan

Kebencian atau ketidaksukaan terhadap anak perempuan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi buruk, diantaranya :

Pertama : Sikap ini merupakan bentuk protes kepada taqdir Allah.

Kedua : Anak adalah pemberian/anugerah dari Allah, maka sikap seperti ini merupakan bentuk penolakan kepada pemberian Allah

Allah berfirman :

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (٤٩)أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (٥٠)

"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki,
Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa" (QS Asy-Syuuroo : 49-50)

Bahkan sebagian Ahli Tafsir menyebutkan bahwa dalam ayat ini Allah mendahulukan penyebutan anak-anak perempuan sebelum anak-anak laki-laki dengan tujuan :

- Untuk menenangkan hati ayah-ayah anak-anak perempuan tersebut, karena mendahulukan penyebutan anak-anak perempuan dari pada anak-anak laki-laki adalah tasyriif (pemuliaan) kepada anak-anak perempuan

- Untuk mencela orang-orang jahiliyah yang telah merendahkan derajat anak-anak perempuan, bahkan hingga menguburkan mereka hidup-hidup (lihat : Fathul Qodiir 4/774, Tafsiir Ruuhul Bayaan, 8/262 dan Tafsiir Al-Muniir li Az-Zuhaili 25/101)


Ketiga : Pada sikap sang suami ini ada penghinaan terselubung kepada sang istri dan pemaksaan kepada sang istri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuannya.

Seakan-akan para perempuanlah yang telah bersalah 100 persen tatkala tidak bisa melahirkan anak laki-laki.

Disebutkan bahwasanya ada seorang Arab yang menghajr (meninggalkan) istrinya hanya karena istrinya melahirkan anak perempuan. Maka sang istripun berkata :



مَا لِأَبِي حَمْزَةَ لاَ يَأْتِينَا

Kenapa (suamiku) Abu Hamzah tidak mendatangiku…??

يَظَلُّ فِي الْبَيْتِ الَّذِي يَلِينَا

Ia senantiasa berada di rumah yang lain (rumah istri Abu Hamzah yang lain)…

غَضْبَانَ أَلاَّ نَلِدَ الْبَنِينَا

Ia marah karena aku tidak bisa melahirkan anak-anak laki-laki

تَاللَّهِ مَا ذَلِكَ فِي أَيْدِينَا

Demi Allah…perkaranya bukanlah dibawah kekuasaan kami (para istri)

فَنَحْنُ كَالأَرْضِ لِزَارِعِينَا

Kami ini ibarat tanah untuk ditanami oleh para penanam kami

نُنْبِتُ مَا قَدْ زَرَعُوهُ فِينَا

Kami hanya menumbuhkan apa yang ditanam oleh mereka pada kami…



(lihat Tafsiir Al-Qurthubi 16/70, Ruuh Al-Ma'aani 25/70 akan tetapi dengan lafal syair yang sedikit berbeda)



Keempat : Sikap ini menunjukkan kebodohan dan rendahnya akal sang suami

Bagaimana seorang suami yang seperti ini tidak dikatakan bodoh jika ia memaksakan perkara yang diluar kuasa istrinya sama sekali. Bahkan bukankah anak perempuan tersebut adalah hasil tanamannya??, dialah yang menanam…lantas ia tidak menerima hasil tanamannya !!!


Kelima : Sikap seperti ini adalah bentuk meniru-niru adat jahiliyah

Allah berfirman :

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (٥٨)يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu" (QS An-Nahl : 58-59)


Merupakan perkara yang sangat menyedihkan dan memilukan adalah adanya sebagian suami yang sampai mengancam istrinya dengan berkata, "Jika kamu tidak bisa melahirkan anak lelaki maka kamu akan saya ceraikan !!!"

Jadilah sang perempuan tatkala hamil penuh dengan kecemasan….bahkan penuh dengan ketakutan…jika ternyata ia melahirkan anak perempuan lagi maka akan sirnalah kebahagiaan yang selama ini ia dambakan bersama suaminya.

Di zaman sekarang ini sering pula perubahan sikap suami telah dirasakan oleh sang istri jauh sebelum kelahiran, yaitu tatkala jenis kelamin janin telah diketahui jauh sebelum waktu kelahiran dengan menggunakan USG. Jika setelah melewati proses USG nampak janin berkelamin laki-laki maka sungguh bergembira sang suami. Akan tetapi yang jadi masalah jika USG menunjukkan bahwa jenis kelamin sang janin adalah perempuan…maka akan berubahlah reaksi dan sikap sang suami. Perhatiannya terhadap sang istri menjadi kurang…kebutuhan sang istri kurang terpenuhi…kebutuhan persiapan kelahiran pun kurang diperhatikan. Inilah sisa-sisa dari adat jahiliyah yang masih ada di umat ini…



Islam Memuliakan Anak-Anak Perempuan

Islam datang mengangkat kedudukan para perempuan. Islam memerangi adat jahiliyah yang merendahkan anak-anak perempuan.

Pemuliaan anak-anak perempuan nampak dari poin-poin berikut :

Pertama : Anak-anak perempuan merekalah yang kelak akan menjadi ibu atau bibi atau saudari perempuan.

Dan sangatlah jelas bagaimana perhatian Islam dan pemuliaan Islam kepada seorang ibu, seorang bibi, dan seorang saudara perempuan.

Kedua : Sebagaimana telah lalu (dalam QS Asy-Syuuroo : 49-50) bahwasanya Allah menyatakan bahwa anak-anak perempuan adalah pemberian (anugerah) dari Allah

Ketiga : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits-haditsnya akan keutamaan memelihara, mendidik, dan menyayangi anak-anak perempuan. Bahkan keutamaan yang sangat besar…

Siapakah diantara kita yang tidak ingin terhijab/terhalangi dari Api neraka…??

Siapakah diantara kita yang tidak ingin dikumpulkan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di padang mashyar kelak…, hari yang sangat menakutkan…??

Siapakah diantara kita yang ingin wajib baginya untuk masuk surga…?? Bahkan di surga dekat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam??

Semua ini bisa anda raih dengan kesabaran dalam mendidik putri-putri kita.

Aisyah radhiallahu 'anhaa berkata:

دَخَلَتْ امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ

Seorang ibu bersama dua putrinya menemuiku meminta makanan, akan tetapi ia tidak mendapati sedikit makananpun yang ada padaku kecuali sebutir kurma. Maka akupun memberikan kurma tersebut kepadanya, lalu ia membagi sebutir kurma tersebut untuk kedua putrinya, dan ia tidak makan kurma itu sedikitpun. Setelah itu ibu itu berdiri dan pergi keluar. Lalu masuklah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka akupun mengabarkannya tentang ini, maka Nabi bersabda :

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

"Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka" (HR Al-Bukhari no 1418 dan Muslim no 2629)

Dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;

إنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنْ النَّارِ

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan surga bagi sang ibu atau Allah telah membebaskannya dari api neraka" (HR Muslim no 2630)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثَةُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقَاهُنَّ وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan lalu ia bersabar atas mereka, dan memberi makan mereka, memberi minum, serta memberi pakaian kepada mereka dari kecukupannya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat" (HR Ibnu Maajah no 3669 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 294)

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi bersabda

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

"Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku" (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau) (HR Muslim no 2631)

Dalam riwayat yang lain :

دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهَاتَيْنِ - وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ

"Aku dan dia di surga seperti dua jari ini" (dan beliau mengisyaratkan dengan dua jari jemari beliau) (HR At-Thirmidzi no : 1914 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Dari Jabir radhiallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ يُؤْوِيْهِنَّ وَيَكْفِيْهِنَّ وَيَرْحَمُهُنَّ فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ الْبَتَّةَ . فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَعْضِ الْقَوْمِ : وَثِنْتَيْنِ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : وَثِنْتَيْنِ ] . وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ : حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّ إِنْسَانًا ( لَوْ ) قَالَ : وَاحِدَةً ؟ لَقَالَ : وَاحِدَةً

"Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, ia mengayomi mereka, mencukupi mereka, dan menyayangi merekamaka tentu telah wajib baginya surga". Maka ada salah seorang dari kaum berkata, "Kalau dua anak perempuan Ya Rasulullah?". Nabi berkata, "Dua anak perempuan juga"

Dalam riwayat lain ada tambahan, "Sampai-sampai kami menyangka kalau ada orang yang berkata, "Kalau satu anak perempuan?", maka tentu Nabi akan berkata, "Satu anak perempuan juga". (Dihasankan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1027)

Sungguh agama Islam adalah agama yang memuliakan anak-anak perempuan !!!, bahkan memuliakan orang-orang yang memuliakan mereka dengan ganjaran yang besar di akhirat kelak !!!.


Akan Tetapi Ingatlah Para Ayah…Anak-Anak Perempuan Adalah Ujian dari Allah !!

Al-Qurthubi rahimahullah mengomentari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ (Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan…) dengan berkata :

فَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْبَنَاتِ بَلِيَّةٌ، ثُمَّ أَخْبَرَ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَيْهِنَّ وَالْإِحْسَانِ إِلَيْهِنَّ مَا يَقِي مِنَ النَّارِ

"Dalam hadits ini dalil bahwa anak-anak perempuan adalah ujian. Kemudian Nabi mengabarkan bahwa pada sikap sabar terhadap anak-anak perempuan dan berbuat baik kepada mereka terdapat pencegahan dari api neraka" (Tafsiir Al-Qurthubi (10/118) dari surat An-Nahl ayat 59)

Memang merawat anak-anak perempuan hingga dewasa membutuhkan ekstra kesabaran, terlebih lagi di zaman kita yang penuh dengan fitnah dan syahwat. Merawat mereka sejak kecil dibutuhkan kesabaran, terlebih lagi jika mereka telah dewasa…bukan hanya kesabaran akan tetapi perlu ditambah dengan kehati-hatian mengingat pergaulan muda-mudi yang kian bertambah parahnya.

Hanya sekedar memiliki anak-anak perempuan tidaklah mendatangkan kemuliaan dan kebaikan bagi sang ayah… akan tetapi keutamaan-keutamaan di atas hanya bisa diperoleh bagi seorang ayah yang mengayomi, mencukupkan, dan menyayangi anak-anak perempuan mereka serta bersabar dalam menjalankan itu semua, sebagaimana telah jelas dalam lafal hadits-hadits di atas.



KARENANYA…

Janganlah bersedih jika anda mendapatkan anak perempuan…sesungguhnya itu adalah anugerah dan pilihan Allah untukmu. Ingatlah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki 4 orang putri.

Bahkan jadikanlah putri-putrimu sebagai sarana dan kesempatan bagimu untuk meraih surga… agar engkau bisa bersanding dekat dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ingatlah seluruh kesabaranmu…kasih sayangmu kepada putri-putrimu sangat bernilai di sisi Allah..maka janganlah kau remehkan senyuman dan pelukanmu kepada putri-putrimu.

Didiklah mereka sejak kecil…Tanamkanlah rasa malu dalam diri mereka…sesungguhnya rasa malu itu adalah perhiasan mereka…itulah nilai keperempuanan mereka.



Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 01-03-1433 H / 23 Januari 2011 M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

www.firanda.com

Minggu, 13 Mei 2012

Pendidikan Anak Dalam Islam



Jenis-Jenis Fitnah

Hendaknya setiap muslim harus mengetahui jenis-jenis fitnah, agar ia dapat berjalan di atas ilmu dan keterangan yang nyata, dan hingga ia tidak terkicuh, terutama bagi para pemuda. Sebab jika Allah tidak memberinya akal yang cemerlang dan sikap santun serta pemahaman dan pengetahuan yang cukup mengenai fitnah ini, niscaya banyak di antara mereka yang terkicuh dengan tipu daya setan. Dengan mudah ia akan mengikuti setiap ajakan setan. Maka dari itu, kita harus menyebutkan beberapa bentuk dan beberapa jenis fitnah pada zaman sekarang ini. Sebagaimana yang dimaklumi bersama, bahwa juru fitnah (kesesatan) tidak terang-terangan mengajak orang kepadanya. Namun ia mengajak melalui corong-corongnya, para penyebar dan para penyeru kepadanya. Merekalah yang disebut sebagai da’i-da’i penyebar kesesatan.


Fitnah ada dua jenis:
 
Penyeru kepada syirik, kekufuran, kese-satan dan penyebar aqidah menyimpang.
Penyeru kepada perbuatan dosa dan mak-siat, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Akan kita sebutkan satu per satu dengan ringkas dan gamblang supaya menjadi peringatan dan penjelasan. Sebab sangat disayangkan sekali risalah sederhana ini tidak cukup memuat seluruhnya.

Jenis Pertama: Penyeru Kepada Syirik, Kekufuran, Kesesatan dan Penyebar Aqidah Menyimpang

Sesungguhnya merupakan fitnah zaman sekarang adalah merebaknya ajakan kepada perbuatan syirik, kufur dan sesat serta menyebarnya aqidah-aqidah yang menyimpang di mana-mana. Sudah barang tentu Allah Subhannahu wa Ta'ala telah meletakkan fitrah pada diri manusia untuk mengenal-Nya. Dan untuk mengakui-Nya sebagai Rabb dan ilaah (sesembahan). 

Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah mencip-takan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengeta-hui.” (Ar-Rum: 30)


Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam juga telah menegaskan hal itu dalam sabdanya:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ. (متفق عليه)

“Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (muslim muwahhid), namun kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati cacat padanya.” (Muttafaq 'alaih)


Dalam hadits ini Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menjelaskan bahwa seorang insan lahir ke dunia dalam keadaan yang sem-purna, siap menerima kebaikan. Sekiranya ia dibiarkan begitu saja, niscaya ia dapat mengenali Rabbnya. Ia akan mengetahui apa yang diperintahkan kepadanya, serta menyadari bahwa ia tidak dibiarkan begitu saja. Ia dibebani tanggung jawab dan kewajiban. Akan tetapi di sekitarnya ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ada yang baik, yang akan menghidupkan fitrah dan nalurinya. Dan ada yang buruk, yang membelokkannya dari aqidah yang benar, hingga terjerumus dalam aqidah-aqidah sesat. Faktor berpengaruh tersebut bisa jadi dari orang tuanya sendiri dan bisa jadi dari guru atau orang lain.


Fitnah semacam ini bergerak mengajak orang kepada kesesatan dan kemaksiatan. Dengan ajakan seperti ini dan dengan metode yang penuh tipu daya tersebarlah berbagai macam kemaksiatan secara otomatis semakin banyak pula orang-orang yang mempromosikannya. Coba lihat, betapa banyak penyeru kepada kekufuran, kebatilan dan kesesatan.


Tidak syak lagi, bahwasanya siapa saja yang menggandrungi sebuah keyakinan, menyenanginya dan merasa puas dengannya, pasti senang bila keyakinan seperti itu semakin banyak penganutnya dan tersebar luas. Ia akan segera menawarkan keyakinan itu kepada orang lain dan berusaha agar orang lain menyukainya dan memandangnya bagus. Tanpa ambil peduli dengan kesalahan dan kesesatan yang ada padanya. Sebagai contoh, kita meyakini kesesatan kaum Nasrani, Yahudi dan Majusi, siapa saja yang mempelajari dan mengetahui keyakinan mereka pasti yakin bahwa mereka jauh dari kebenaran. Walaupun begitu mereka meyakini bahwa mereka berada di atas kebenaran. Oleh sebab itu mere-ka berusaha sekuat tenaga menyebarkan keyakinan mereka melalui berbagai media. Dan menyebarkan juru-juru dakwah yang mereka namakan missionaris, namun pada hakikatnya mereka adalah penginjil dan penyebar kesesatan. Mereka ini adalah fitnah terbesar, yang mana mereka telah berhasil menyesatkan banyak orang. Hanya orang-orang yang diselamatkan Allah Subhannahu wa Ta'ala saja yang terhindar dari bahaya mereka para missionaris dan penginjil itu. Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikan mereka sebagai batu ujian dan cobaan bagi umat manusia. Namun di balik itu semua ada hikmah yang besar dan bukti yang terang.


Termasuk fitnah yang tersebar pada hari ini adalah ajakan-ajakan kepada aqidah yang sesat. Siapa saja yang meyakini sebuah aqidah sesat, maka aqidah itu akan menjadi kepercayaannya. Ia akan menyeru kepada-nya dan mengangkat juru-juru dakwah untuk menyebar-kannya. Dan rela mengeluarkan hartanya untuk itu sekalipun aqidah itu batil dan jauh dari kebenaran. Namun setan membuta-tulikan mata hatinya sehingga merasa dirinyalah yang benar dan memandang salah orang-orang yang menyelisihinya.


Lihat saja, setiap ahli bid’ah pasti mengajak orang kepada bid’ahnya. Sebagai contoh kaum Syi’ah Rafidhah, ajaran mereka telah tersebar luas di beberapa negeri Islam. Padahal jika engkau menilik keyakinan mereka, pasti engkau dapati sangat jauh dari kebenaran. Jika engkau membaca buku-buku mereka, pasti engkau akan terhenyak kaget melihat kisah-kisah khurafat dan dusta bertebaran di sana-sini.


Walau demikian, mereka bersungguh-sungguh dalam menyebarkan aqidah sesat tersebut. Bukan itu saja, bahkan mereka rela mengeluarkan harta yang berlimpah demi menjerat orang-orang jahil dan bodoh ke dalamnya. Jarang orang yang selamat jika sudah terperangkap jerat aqidah tersebut. Wal ‘Iyadzubillah


Setan menutup mata mereka sehingga mereka merasa berada di pihak yang benar. Lalu mereka pun berusaha memperdaya orang lain supaya meyakini merekalah golongan yang benar, selain mereka adalah ahli bathil. Ternyata banyak sekali orang-orang jahil dan terbelakang yang terkicuh dengan cara-cara mereka itu. Mereka menampakkan kelembutan, kerendahan hati dan ketawadhu’an namun di balik itu mereka berusaha menyeret orang ke dalam aqidah mereka yang sesat. Fitnah kelompok Syi’ah Rafidhah ini sudah sedemikian besar dan parah, kita memohon kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala semoga kaum muslimin terhindar dari kejahatan dan bahaya mereka.


Selain itu banyak pula kelompok-kelompok menyimpang lainnya. Misalnya kelompok Khawarij yang juga merupakan ancaman serius. Mereka masih tetap bergentayangan di beberapa negeri. Yang membuat api fitnah semakin marak.


Demikian pula kaum sufi, kaum ahli bid’ah yang mentakwil secara bathil sifat-sifat Allah. Mereka juga merupakan pemicu fitnah. Mereka ini menyebar di ber-bagai belahan dunia. Dan masih banyak lagi kelompok-kelompok menyimpang lainnya.


Maka sudah seyogyanya seorang insan berpe-gang teguh kepada al-Haq dan benar-benar meyakininya. Dan benar-benar bersandar kepada dalil-dalilnya. Serta menjauhkan diri dari juru-juru fitnah dan kesesatan tersebut. Jangan sekali-kali ia mendengar ajakan dan promosi mereka. Sekalipun ia seorang yang berilmu. Sebab keyakinan-keyakinan sesat itu ibarat racun dalam lemak. Kelihatannya enak, menarik minat untuk mema-kannya namun di balik itu adalah racun mematikan.


Tujuan kami menyebutkan oknum-oknum juru dakwah yang menyesatkan serta bid’ah-bid’ah mereka adalah sebagai peringatan bagi setiap muslim dari bahaya mereka dan bahaya bid’ah yang mereka serukan. Dan supaya kaum muslimin tidak bertumpu kepada mereka. Hendaklah selalu waspada dan berhati-hati terhadap setiap orang yang mengajak kepada kekufuran, syirik, bid’ah dan kesesatan.


source: http://www.alsofwah.or.id

Rabu, 25 April 2012

Ada Apa Dengan Putriku



Terdapat banyak faktor penyebab seorang ibu merasa terganggu dengan ulah anak gadisnya. Terkadang terjadi berbagai perselisihan dan permasalahan antara seorang ibu dan anak gadisnya dan tidak sedikit sampai pada tingkatan yang tidak baik. Dan untuk mempermudah setiap gadis dalam menentukan langkah (memperbaiki) permasalahan ini, serta menjalin hubungan yang harmonis dengan ibu, maka berikut ini kami paparkan beberapa faktor penyebab seorang ibu merasa tersakiti hatinya dengan ulah anak gadisnya, dan wajib wagi seorang anak gadis untuk menjauhinya. Adapun factor-faktor tersebut adalah:


1. Keras kepala

Terkadang ada seorang anak gadis dengan sengaja bersikap keras kepala kepada ibunya sendiri, hanya karena ingin menunjukkan kepada ibunya dan orang-orang sekelilingnya bahwasanya dia adalah seorang anak gadis yang sudah dewasa dan memiliki kepribadian yang mandiri. Tidak jarang seorang anak gadis menolak permintaan ibunya untuk melakukan satu hal, sekalipun hal tersebut bermanfaat. Hal itu dia lakukan semata-mata untuk menyelisihi orang tuanya. Sehingga merasa bebas, tidak terikat dan tampil beda serta menunjukkan kalau dia sudah dewasa, tidak mudah diatur orang lain.


2. Kritis

Terkadang seorang anak gadis ingin berposisi seperti seorang ibu dengan melontarkan kritik-kritik tajam kepada orang-orang disekelilingnya. Orang yang pertama kali menjadi sasaran ternyata adalah ibunya sendiri. Dia mengkritik penampilan ibunya karena dinilai tidak sesuai dengan model yang sedang tren atau menilai cara bergaul ibunya dengan orang lain sebagai cara yang tradisional dan tidak modern. Dengan sikap seperti ini maka anak tersebut telah menjadikan ibunya sebagai sasaran berbagai tuduhan yang terkadang bisa menyebabkan ibunya merasa susah dan sedih.


3. Privasi

Dalam usia remaja seorang anak gadis ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dirinya memiliki privasi dan kemerdekaan. Sehingga tidak boleh seorangpun campur tangan dalam urusannya. Seorang anak gadis sering menganggap ibunya sebagai orang yang kekanak-kanakan jika ibu berusaha untuk mengetahui atau campur tangan dalam urusan pribadinya.


4. Provokatif

Sebagian anak gadis sering memicu berbagai permasalahan semata-mata untuk memancing emosi orang lain. Sebagai contoh, terkadang sebagian anak gadis tidak mau mengakui kesalahannya untuk memicu emosi orang-orang disekelilingnya terutama ibunya sendiri.


5. Kerjasama

Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang dipenuhi suasana mau bekerja sama di antara anggotanya. Karena kerjasama itu makin mempererat hubungan dan menutup berbagai jalan yang menyebabkan pecahnya rumah tangga. Akan tetapi, terkadang ada seorang anak gadis yang menolak untuk bekerja sama dengan anggota keluarga yang lain. Sikap mau bekerjasama dalam pandangannya menunjukkan kalau dia belum dewasa. Disamping itu dia beranggapan bahwa hal tersebut merupakan salah satu bentuk ketundukan terhadap orang lain. Sikap seperti ini tentu menciptakan atmosfir yang menegangkan antara seorang ibu dengan anak gadisnya.


6. Minder

Banyak ibu yang mendapatkan permasalahan karena sikap anak gadisnya yang hidup mengucilkan diri karena merasa malu bergaul di lingkungan luar. Lebih-lebih ketika diajak keluar oleh anggota keluarganya untuk mengunjungi kerabat. Keterkucilan ini menyebabkan gadis tersebut menjadi gadis murung yang tidak tertarik dengan segala sesuatu, sekalipun telah diusahakan untuk menjadikannya ridha.


7. Model pakaian

Sesungguhnya perkara yang banyak menyibukkan perhatian anak gadis adalah pakaian, keelokan, perhiasan, dan segala sesuatu yang baru. Maka seorang ibupun merasa susah saat dia mendapati bahwa pikiran anak gadisnya hanya berkutat pada apa yang dia pakai. Sementara pakaian pilihannya bertentangan dengan perintah-perintah Islam.


8. Makanan bergizi

Perhatian seorang ibu yang paling dominan adalah kesehatan putra-putrinya. Oleh karena itu seorang ibu yang baik memiliki perhatian yang besar dengan makanan yang bergizi. Akan tetapi anda akan mendapatkan bahwa ada remaja putri yang masa bodoh dengan perhatian ini. Mereka lebih suka mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang menimbulkan dampak negatif dari sisi kesehatan dan tidak peduli dengan kecemasan dan kerisauan ibunya berkaitan dengan kesehatannya.


9. Emosional

Banyak ibu yang merasa terganggu dengan sikap emosional anak gadisnya. Seorang anak gadis sering bercanda dengan anggota keluarga yang lain, namun manakala ada sesuatu yang menyakiti hatinya, maka dia beranggapan bahwa hal tersebut merupakan sebuah bencana yang besar. Karenanya dia meluapkan amarah dan emosinya kepada semua anggota keluarga. Sebagian anak gadis sengaja menimbulkan percekcokan dengan saudara laki-lakinya sebagai sarana mengungkapkan amarah dan emosi.


10. Menyia-nyiakan waktu luang

Tidak sedikit anak gadis menghabiskan banyak waktunya di depan TV menonton film, sinetron, acara musik, kontes kecantikan dan berbagai acara televisi yang tidak bermanfaat dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Acara-acara tersebut sangat tidak baik bagi seorang anak gadis, sehingga hal ini menyebabkan kesedihan mendalam bagi sang ibu.

Inilah penjelasan ringkas tentang hal-hal yang menimbulkan kesedihan orang tua terutama ibu. Kami berharap agar setiap anak bisa mengambil faedah dari artikel ini dan menjauhi segala tindakan yang menyusahkan orang tua. Yang terbaik tanpa perlu disangsikan lagi adalah taat dan berbakti kepada orang tua dan ingatlah selalu bahwasanya orang tua merupakan salah satu jalan menuju surga.



(Sebab-sebab Seorang Ibu yang Merasa Terganggu oleh Ulah Anak Gadisnya, Majalah Qiblati Edisi 6 Tahun I)



http://gizanherbal.wordpress.com/2011/10/09/ada-apa-dengan-putriku/

Sabtu, 31 Maret 2012

Hadiah Terindah untuk Orang Tua ....





Ketahuilah duhai Anakku... Al Quran adalah Hadiah Terindah Untuk kami Orangtuamu

Duhai diri dan Saudara-saudariku, setiap kita pasti ingin bisa buat bahagia kedua orangtua. Setiap kita ingin ngasih yang terbaik untuk kedua orangtua. Pasti!

Coba perhatikan, ketika training motivasi. Setiap kali renungan kalo disentuh orangtua, walopun anak sebandel apapun pasti ia bisa nangis, percaya ga? Karena di setiap kita punya hati nurani. Dan itu sudah dikaruniakan oleh Alloh yang Maha Pengasih.

Duhai diri dan Saudara-saudariku, sebenernya apa sih yang orangtua ingin dari hidup kita (anaknya)?

Apakah harta? Harta kita mungkin seadanya. Dan kalaupun ada, hakikat sebenarnya harta tidak akan membawa manfaat kecuali dimanfaatkan di jalan Alloh.

Apakah nilai bagus? Nilai bagus memang impian kita. Tapi nilai itu tidak akan membawa manfaat bagi kedua orangtua kita, karena nilai itu akan kembali kepada diri kita bagus atau tidaknya.

Apakah perhatian dan kasih sayang? Ya, ini mungkin. Tapi sebenarnya, perhatian kita itu terbatas. Perhatian kita itu tidak sepenuhnya kepada orangtua. Karena kita banyak aktivitas sehingga terkadang lupa bahkan sekedar nelpon atau sms menanyakan kabar kadang kita mungkin lupa.

Orangtua yang sholih sebenarnya hanya ingin punya anak yang sholih. Anak yang bisa selalu taat kepada Alloh dan senantiasa mengamalkan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Salam. Sehingga dengan kesholihannya itu bisa membawa kepada kebaikan di dunia dan di akhirat. Dan anak yang sholih ini akan membawa kebaikan kepada kedua orangtuanya, karena doa anak yang sholih akan menolong kedua orangtuanya di akhirat kelak.

Namun, ada hadiah terbaik untuk kedua orangtua kita di akhirat kelak. Disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Salam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, bacalah dengan hatimu duhai diri, wahai anak-anakku juga saudara-saudariku ~> “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.”

SubhanAlloh, orangtua yang memiliki anak Hafidz / Hafidzah Al-Qur’an akan mendapatkan jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia.

Duhai diri, Wahai anak-anakku dan Saudara-saudariku, berjuanglah dengan sungguh-sungguh dan selalu bertekad untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Kuatkan azzam, “Saya ingin menjadi Hafidz / Hafidzah Al-Qur’an, agar saya bisa memuliakan kedua orangtua di dunia dan akhirat.” Senantiasa istiqomah dalam membaca Al-Qur’an, mempelajari, dan mengamalkannya, serta menghafalkannya. Ikutilah Halaqah Al-Qur’an, agar terus termotivasi untuk mempelajari Al-Qur’an dan senantiasa menajga diri dari kemaksiatan. Mudah-mudahan Alloh menolong kita semua, dan menjadikan kita menjadi anak yang bisa memuliakan kedua orangtua dengan menjadi penghafal Al-Qur’an. Aamiin Ya Robb.

Allohumma bariklana bil Qur’an (Ya Alloh berkahilah kami semua dengan Al-Qur’an)

Wallohu a'lam bisshowab.


[source: Kisah Islami Penuh Hikmah]

Senin, 26 Maret 2012

Jika Anak Suka Membantah





Bagaimana pendapat anda ketika si kecil sangat mudah membantah apapun perkataan anda? atau sikap apa yang harus dilakukan ketika anak selalu mengemukakan sanggahan yang membuat kita sebagai orang tua semakin marah dan sering kali tak tahan untuk tidak memukul?

Hal pertama yang harus diketahui oleh orang tua adalah, bahwa ternyata sikap membantah anak bukan murni terjadi karena kesalahannya. Banyak orang tua yang tidak memberikan kesempatan mengutarakan pendapat dan pikirannya. Sehingga, tipe orang tua yang terlalu memaksakan kehendak anaknya itulah, yang justru paling rawan untuk membentuk karakter anak- anak mereka sebagai tiruannya,yaitu memiliki sifat otoriter dan suka memaksa.


Maka dari itu, koreksi diri juga diperlukan para orang tua. Karena sadar atau tidak, terkadang orang tua juga memberikan argumen dan logika orang dewasa ketika berbicara dengan mereka, menuntut mereka melakukan apa yang orang tua inginkan, dan tidak memberi kesempatan anak memberikan pendapat tentang cita- citanya sendiri.


Ya, ternyata anak- anakpun juga sangat ingin dimengerti, dihargai, dan dipahami perasaan dan pendapatnya.



Berikut beberapa langkah yang harus kita lakukan ketika anak-anak kita mulai suka membantah:

1. Kesempatan Bicara

Perhatikan ketika dia mulai berbicara dengan anda, karena hal ini mengindikasikan bahwa anda memberinya kesempatan untuk mengungkapkan ide dan pikirannya. Namun,jika hal itu adalah menyangkut sesuatu yang prinsip yang menurut anak anda masih juga bisa ditawar,bicaralah dengan lemah lembut tanpa nada marah.


2. Beri pilihan yang tidak di sukai

Jika anda menjumpai bahwa anak anda tetap ngotot membantah, maka berikanlah pilihan yang tidak disukainya. Misalnya "mau ke masjid, atau mama ambil gamenya?”. pilihan yang menyenangkan hanya akan membuatnya tetap membantah, karena ia tidak ingin melakukan atau mendapatkan apa yang tidak disukainya.


3.Jangan Ulagi pilihan yang sama

Jadilah orang tua yang konsisten dan lakukan apa yang sudah anda katakan kepadanya, meskipun pilihan tersebut adalah tidak enak baginya. Karena, jika Anda tidak melaksanakan apa yang anda ucapkan, dia akan menganggap Anda remeh. Memang hal ini akan membuat anak-anak anda menggerutu di awalnya, tapi selanjutnya, anak- anak akan menentukan pilihan-pilihan yang terbaik baginya tanpa harus memilih sesuatu yang tidak enak karena membantah Anda.


4. Ubah pola didik

Jangan menakut- nakuti anak anda kecuali jika hal itu diperlukan, karena hal itu juga bisa mematikan sifat anak yang selalu ingin tahu. Orang tua perlu memberi jeda waktu kepada anak agar mencoba dan memacu kreativitasnya sendiri, sehingga akhirnya anak dapat belajar sendiri akibat baik dan buruknya tentang segala sesuatu, juga terbiasa untuk berfikir panjang sebelum melakukan sesuatu.

Kurangi juga hal yang terkesan menyudutkan dan terlalu mendiktenya. terkadang sebagai orang tua, kita perlu memberinya kesempatan untuk memilih, hal tersebut berguna untuk melatihnya
bersikap mandiri dengan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. selain itu, jika anak berhasil mmengatasi kesulitannya sendiri, dia akan merasa lebih berharga.
Orang tua cukup memberikan motivasi atau rambu- rambu ketika anak melakukan suatu sikap. Dengan demikian, ia akan berusaha untuk menampilakan yang terbaik yang mereka bisa.


5.Komunikasi

Komunikasi adalah cara paling efektif untuk mengetahui alasan apa saja yang dapat menyebabkan anak membantah perkataan orangtua.Ketika orang tua membuka komunikasi lambat aun anak juga akan membuka diri untuk mengungkapkan penyebab dan alasan mengapa mereka mempertahankan pendapatnya. Dengan komunikasi, orangtua dan anak akhirnya dapat menemukan jalan keluarnya bersama-sama.

Selain komunikasi,disiplin yang menyenangkan, terbuka namun konsisten, akan mempermudah penyelesaian kasus bantah membantah yang dilakukan anak. Karena, ketika anak sudah diminta untuk mentaati peraturan, dan orangtua juga konsisten melakukan kesepakatan,kemungkinan untuk anak memberikan masukan kepada orang tua juga akan semakin terbuka.


Jika suasana terasa menyenangkan bagi anak dan semua anggota keluarga, pembentukan karakter anak yang komunikatif dan anti konflik insyaAllah juga akan lebih mudah diciptakan. Selain itu penghargaan anak terhadap orangtua, juga akan muncul yang mengakibatkan mereka mudah mengurangi bahkan menghilangkan sifat negatifnya.








(Syahidah)

Senin, 12 Maret 2012

Ayah.. Ibu... Sayangilah Aku ...




Wahai ayah ~ ibu, menyayangi dan bersenda gurau dengan anak kecil termasuk bentuk kasih sayang dan kedalaman pemahaman seseorang dalam dien.


Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam adalah sosok pemimpin manusia yang sangat bersikap lemah lembut terhadap anak-anak kecil. Seperti kita ketahui beliau pernah menggendong Hasan di atas pundaknya, Beliau pun mengajak tertawa, membuka mulut dan menciumnya, serta memperlihatkan dia sedang bermain, lari ke sana ke mari. Setelah itu Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam pun menangkapnya. Subhannallah…


Wahai ayah ~ibu, tidakkah kita bercermin dari Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam?

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan:

“Bahwasanya Rasulullah mencium Al-Hasan bin Ali kala itu Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi duduk di sisinya, Al-Aqra’ berkata: “Saya punya sepuluh orang anak namun tidak satu anakpun pernah saya cium!” Rasulullah menoleh kepadanya lalu berkata:

مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ
“Barangsiapa yang tidak menyayangi niscaya tidak akan disayang!”


‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha meriwayatkan:

“Datang seorang arab badui menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia berkata: “Apakah kalian mencium anak-anak? Adapun kami tidak mencium anak-anak! 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya:
“Sanggupkah kamu bila Allah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu!?”

Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam juga bersenda gurau dengan menjulurkan lidah beliau kepada anak-anak. 


Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa ”Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya di depan Hasan bin Ali, lalu ketika Hasan melihat merah lidah beliau, ia segera mendekat kepada beliau” 3


Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam selalu memberi motivasi kepada para orang tua dalam hal menyayangi anak-anak, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Anas, 

”Bahwa suatu ketika ada seorang perempuan datang ke rumah ’Aisyah Radhiyallahu’Anha lalu ’Aisyah memberikan tiga butir kurma kepadanya. Lalu perempuan itu memberikan masing-masing anak sebutir kurma sehingga ia menyisakan sebutir kurma untuk dirinya. Lalu kedua anak itu masing-masing memakan kurmanya sambil memandang kepada ibunya. Kemudian ibunya mengambil kurma itu dan membelah mejadi dua lalu ia berikan kepada masing-masing anak separuhnya. 

Kemudian datanglah Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam, lalu beliau diceritakan ‘Aisyah Radhiyallahu’Anha. Setelah itu beliau bersabda:

”Sungguh apa yang dilakukan perempuan itu membuat kamu terpesona. Semoga Allah mengasihi dia karena kasih sayang dia kepada kedua anaknya yang masih kecil”4



Subhannallah…


Lalu kenapa ada ibu-ibu yang tega menyiksa anak-anak mereka, padahal Allah akan mengasihinya bila ia menyayangi anaknya?.


Bisa jadi dikarenakan mereka tidak mengetahui keutamaan dalam Islam untuk menyayangi anak kecil. Sungguh mereka telah merugi… Allahua’lam… 



[Bintu Nashrun]



1. Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim (2318), Abu Dawud (XIV/129), At-Tirmidzi (1911), Ahmad (II/228, 241, 269, 514), Ibnu Hibban (2236), Al-Baghawi dalam Syarah Sunnah (XIII/34), dari jalur Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih!

2 Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim ((2317), Ibnu Majah (II/390), Ahmad (VI/56-70), Al-Baghawi (XIII/34-35), dari jalur Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

3 Al Silsilah As Shahihah, hal.70

4 HR. Bukhari, di dalam kitab Adabul Mufrad, kitabul Walidat Rahimat I : 89



Referensi:

Bekal-bekal Menuju Pelaminan, ,At-Tibyan Solo
Tumbuh di bawah naungan Illahi, Doa dan Kiat Nabi Shalallahu’alahi wa sallaam mendidik anak Sejak dalam Sulbi Ayah dalam Kandungan Ibu hingga Dewasa, syaikh Jamal Abdul Rahman, Penerbit Media Hidayah

Selasa, 06 Maret 2012

Allah Selalu Mengawasi



Salah satu bekal yang penting diberikan para orang tua kepada anak-anaknya adalah upaya menumbuhkan rasa optimis pada diri anak dalam menghadapi kehidupan yang sarat dengan problema. Cara terbaik untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengenalkan pada anak akan pertolongan Allah yang diberikan kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Anak perlu dipahamkan bahwa bila Allah telah memberikan pertolongan-Nya, maka permasalahan seberat apapun akan bisa diselesaikan.

Anak, dengan segala keunikan yang ada pada pribadinya, tidak terlepas dari permasalahan, baik berkenaan dengan dirinya, tempat belajarnya, ataupun orang-orang di sekelilingnya. Begitu pun sisi berat ringannya permasalahan yang dihadapi berbeda-beda antara satu anak dengan yang lainnya. Tak jarang dijumpai dalam keseharian anak-anak yang begitu penakut terhadap segala sesuatu yang tak pantas dikhawatirkan. Semua itu terkadang membuat orang tua berkerut dahi, dengan jalan apa kiranya mengatasi hal-hal semacam ini?

Jika demikian, tentu sang anak membutuhkan bekal untuk menghadapi setiap problema yang dihadapinya. Dia membutuhkan bimbingan agar senantiasa merasakan pengawasan Rabb-nya, meminta hanya kepada-Nya, disertai keyakinan yang kokoh terhadap ketetapan dan takdir-Nya.

Ketika itulah selayaknya orang tua melihat kembali, bagaimana Rasulullah r menanamkan optimisme dan kebesaran jiwa pada diri anak, agar menghadapi gelombang kehidupan ini dengan keberanian dan penuh harapan, hingga kelak mereka menjadi sesosok pribadi yang bermanfaat bagi umat ini.

Beliau pesankan kepada putra pamannya, Abdullah bin ‘Abbas :
“Wahai anak(ku), sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat.  Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran.”
(Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dan beliau berkata: hadits hasan shahih).1

Dan dalam riwayat selain At-Tirmidzi: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan lapang, niscaya Dia akan mengenalimu dalam keadaan susah. Ketahuilah, sesungguhnya apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang ditetapkan menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu berrsama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Inilah kalimat yang agung dan mulia dari lisan Rasulullah r, seakan beliau mengatakan: Jagalah batasan-batasan dan syariat Allah I dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, juga dengan mempelajari agama-Nya hingga engkau dapat menunaikan ibadah dan muamalahmu. Jagalah semua itu, niscaya Dia akan menjaga agama, keluarga, harta maupun dirimu, karena Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik atas kebaikannya. Sementara balasan yang paling penting adalah penjagaan-Nya terhadap agamamu serta menyelamatkan dirimu dari kesesatan.

Sebaliknya, seseorang yang menelantarkan agama Allah I, maka Allah I pun akan menelantarkan dirinya dan dia tidak berhak mendapatkan penjagaan dari Allah U, sebagaimana firman-Nya:
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah jadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)

Pesan Rasulullah r ini juga memberikan pelajaran pada seorang anak untuk meminta ataupun memohon pertolongan hanya kepada Allah semata, tidak memintanya kepada makhluk. Karena Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Namun, tidak terlarang untuk meminta pertolongan kepada makhluk pada hal-hal yang mampu dia lakukan. Kalaupun dia harus meminta sesuatu atau mencari pertolongan kepada makhluk, maka sesungguhnya makhluk itu hanyalah sebab dan Allahlah yang menciptakan sebab, hingga kepada-Nyalah harus bersandar.

Demikian pula segala kebaikan yang diberikan dan bahaya yang ditimpakan oleh makhluk, semuanya telah ditetapkan oleh Allah. Namun, bukan berarti seseorang tidak diperkenankan untuk menolak bahaya dari dirinya, karena Allah I berfirman:
“Dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan yang semisal.” (Asy-Syura: 40)

Oleh karena itu, seorang hamba harus menggantungkan harapannya kepada Allah U dan tidak berpaling sedikit pun kepada makhluk, karena makhluk tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk memberi manfaat maupun menimpakan bahaya.

Begitu pun nasihat ini berisi anjuran untuk menunaikan hak Allah di saat lapang, sehat dan berkecukupan, niscaya Allah I akan mengenalinya ketika berada dalam kesusahan, hingga Dia ringankan penderitaannya, menolong dan menghilangkan kesusahannya itu.

Ditemui pula pengajaran pada sang anak bahwa apa pun yang ditetapkan akan menimpa tak akan dapat ditolak. Dan apa pun yang tidak ditetapkan tak akan bisa diraih, karena Allah telah menetapkan semua itu.

Di dalam nasihat ini juga terdapat anjuran agar bersabar untuk memperoleh pertolongan. Kesabaran ini mencakup sabar untuk taat kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat kepada Allah, dan sabar di atas ketetapan Allah yang ‘menyakitkan’ (menurut manusia, red). Inilah kabar gembira bagi orang yang bersabar, karena pertolongan akan mengiringi kesabaran.

 Inilah kabar gembira bahwa kelapangan itu mengiringi kesusahan. Hendaknya pula ketika ditimpa kesulitan, seorang hamba bersandar diri kepada Allah dengan menanti-nantikan kemudahan dari Allah serta membenarkan janji Allah, karena Allah telah mengatakan di dalam Kitab-Nya yang mulia:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6)[Dirangkum dari Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t2]

Di waktu yang lain, Rasulullah r memberikan nasihat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah z:
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing dari keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan merasa lemah. Apabila engkau ditimpa sesuatu, janganlah mengatakan ‘Seandainya aku dulu melakukan begini dan begini’, namun katakanlah ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa pun yang Allah kehendaki pasti Allah lakukan’ karena ucapan ‘seandainya’ itu membuka amalan setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Yang dimaksud dengan kuat dalam ucapan Rasulullah r ini adalah jiwa yang kokoh dan bersemangat terhadap perkara akhirat. Sehingga orang yang seperti ini menjadi orang yang paling pemberani terhadap musuh, paling cepat bertolak ke medan jihad, paling teguh dalam memerintahkan orang lain pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, dan bersabar dalam menempuh semua itu, serta tabah dalam menempuh kesusahan karena mengharap Allah I. Dia pun menjadi orang yang paling senang menunaikan shalat, puasa, dzikir, maupun seluruh ibadah, bersemangat pula untuk menjalankan dan menjaganya. Akan tetapi, baik orang yang kuat maupun orang yang lemah memiliki kebaikan karena mereka sama-sama beriman, juga karena ibadah yang dilakukan oleh orang yang lemah itu.

Dianjurkan pula oleh Rasulullah r untuk bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah I dan menginginkan apa yang ada di sisi-Nya, serta memohon pertolongan kepada-Nya untuk mendapatkan itu semua. Hendaknya seorang hamba tidak merasa lemah dan malas untuk mencari amalan ketaatan dan memohon pertolongan dari-Nya. (Syarh Shahih Muslim)

Inilah yang semestinya tergambar dalam sosok pribadi seorang anak. Tak ada salahnya bila suatu ketika orang tua menuturkan kisah-kisah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang perjalanan hidup orang-orang yang Allah I beri kemuliaan, yang sarat dengan optimisme dan keyakinan kepada Rabb-nya. Karena anak senang dengan cerita dan biasanya berbekas dalam jiwanya. Salah satunya dituturkan oleh Shuhaib bin Sinan z3 dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah r:

Dulu hidup seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Ketika usia tukang sihir itu telah menua, ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya aku ini telah tua, maka utuslah padaku seorang pemuda yang dapat kuajari sihir.” Lalu raja pun mengirim seorang pemuda untuk diajari sihir. Di tengah jalan yang biasa dilalui pemuda itu menuju tukang sihir ada seorang rahib. Pemuda itu singgah duduk dan mendengarkan ucapan sang rahib. Dia pun merasa takjub. Maka demikianlah bila dia mendatangi tukang sihir, dia melewati rahib lalu duduk di hadapannya. Bila tiba di hadapan tukang sihir, tukang sihir itu pun memukulnya. Dia adukan hal itu kepada rahib. Si rahib menjawab, “Kalau engkau khawatir terhadap tukang sihir, katakan padanya ‘Keluargaku menahanku’, dan kalau engkau khawatir terhadap keluargamu, katakan ‘Tukang sihir menahanku’.”

Demikian terus berlangsung sampai suatu saat, muncul seekor binatang besar yang menghalangi jalan manusia. Pemuda itu berkata, “Pada hari ini aku akan mengetahui, apakah tukang sihir yang lebih utama ataukah rahib.” Lalu diambilnya sebuah batu sambil berkata, “Ya Allah, bila ajaran rahib lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir, matikanlah binatang ini, hingga manusia dapat lewat kembali.” Dilemparnya binatang itu hingga akhirnya mati dan orang-orang pun dapat melewati jalan itu lagi.

Kemudian dia datang kepada rahib dan menceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu rahib berkata, “Wahai anakku, sekarang engkau lebih utama daripadaku, engkau telah mencapai kedudukan sebagaimana yang kulihat, dan nanti engkau akan diuji. Jika engkau mendapatkan ujian, jangan sekali-kali menunjuk padaku.”

Pemuda itu pun dapat mengobati orang yang buta sejak lahir, orang yang berpenyakit sopak ataupun segala penyakit. Hal itu didengar oleh seorang pendamping raja yang buta. Dia pun mendatangi pemuda itu dengan membawa banyak hadiah, lalu berkata, “Semua yang di hadapanmu ini menjadi milikmu kalau engkau bisa menyembuhkanku.” Si pemuda menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkanmu.” Pendamping raja itu pun beriman dan Allah pun menyembuhkannya.

Pendamping raja itu kembali duduk di sisi raja sebagaimana biasanya. Sang raja bertanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” “Rabbku,” jawab pendamping raja. “Apakah engkau punya rabb selain aku?” tanya raja lagi. “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah,” jawabnya.

Sang raja pun menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai akhirnya pendamping raja itu menunjukkan si pemuda. Didatangkanlah pemuda itu dan dia mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Mendengar itu, raja segera menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai pemuda itu menunjukkan si rahib.

Didatangkan pula si rahib dan dikatakan padanya, “Keluar dari agamamu!” Rahib itu menolak. Raja meminta sebilah gergaji, lalu digergajilah tepat di tengah-tengah kepala rahib hingga terbelah dua badannya. Kemudian didatangkan pendamping raja dan dikatakan pula, “Keluar dari agamamu!” Akan tetapi dia menolak hingga digergaji tepat di tengah kepalanya sampai terbelah dua badannya.

Setelah itu didatangkan si pemuda dan dikatakan juga padanya, “Keluar dari agamamu!” Dia pun menolak, hingga raja menyerahkannya pada para pengawal, “Bawa dia naik ke gunung. Kalau kalian telah sampai di puncak, tawarkanlah kalau dia mau keluar dari agamanya. Kalau tidak, lemparkan dia!” Mereka membawa pemuda itu naik ke gunung. Pemuda itu berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Tiba-tiba gunung itu bergoncang dahsyat hingga para pengawal itu berjatuhan dari atas gunung. Pulanglah pemuda itu dengan berjalan kaki ke hadapan raja. Raja pun bertanya heran, “Apa yang mereka lakukan?” Jawab pemuda itu, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”

Kemudian raja kembali menyerahkannya pada pengawal, “Bawalah dia dengan perahu hingga ke tengah lautan, lalu tawarkan kalau dia mau keluar dari agamanya. Kalau tidak, lemparkan dia ke lautan.” Mereka pun membawanya ke tengah lautan. Pemuda itu lalu berdoa, “Ya Allah, selamatkan aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Tiba-tiba perahu itu terbalik hingga para pengawal raja tenggelam. Pemuda itu pulang ke hadapan raja dengan berjalan kaki. Raja bertanya lagi, “Apa yang mereka lakukan?” Pemuda itu menjawab, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”
Pemuda itu berkata lagi, “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau laksanakan saranku.” “Apa itu?” tanya raja. “Engkau kumpulkan manusia di sebuah tanah lapang, dan engkau salib aku pada sebatang pohon. Lalu ambil sebuah anak panah dari tempat anak panahku dan letakkan di busur. Kemudian ucapkan ‘Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini’ lalu panahlah. Kalau engkau lakukan ini, engkau akan bisa membunuhku.”

Raja segera mengumpulkan manusia di suatu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada sebatang pohon. Lalu diambilnya anak panah dari tempatnya kemudian diletakkan di busurnya sambil berkata, “Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.” Dilontarkannya anak panah tepat mengenai dahi pemuda itu. Pemuda itu pun meletakkan tangannya di dahinya, di tempat sasaran anak panah, lalu meninggal.
Menyaksikan hal itu, manusia pun berkata, “Kami beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman kepada Rabb pemuda itu!”

Disampaikanlah kepada raja, “Tidakkah engkau melihat apa yang engkau khawatirkan? Demi Allah, sungguh telah terjadi apa yang engkau takutkan. Manusia telah beriman.” Maka raja memerintahkan untuk dibuat parit besar di setiap pintu kota dan dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, “Barangsiapa yang tidak mau keluar dari agamanya, lempar dan bakar dia di dalamnya!” Perintah itu pun segera dilaksanakan.

Suatu ketika, datang seorang wanita membawa anaknya yang masih kecil. Dia merasa bimbang untuk masuk ke dalam api. Tiba-tiba berucaplah sang anak, “Bersabarlah wahai ibu, sesungguhnya engkau di atas kebenaran.”

Inilah di antara banyak kisah yang memberikan gambaran tentang keadaan seorang mukmin yang senantiasa bersandar kepada Allah untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahannya. Semogalah tuturan ini memberikan bekas kebaikan yang tertanam dalam jiwa anak-anak.


Wallahu a’lamu bish shawab.



(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman  Anisah bintu ‘Imran)

1 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/2043 dan Al-Misykat no. 5302.
2 Diambil dari www.binothaimeen.com
3 Diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahihnya no. 3005


source: Asysyariah.com