Laman

Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2018

Kami Pernah !




Akan tiba saatnya nanti 
kau akan merasakan risih ketika 1 helai rambutmu ada yang terlihat...

Akan tiba saatnya nanti 
betapa malunya dirimu ketika kerudung yang kau gunakan itu tidak menutup dada..

Akan tiba saatnya nanti 
kau museumkan pakaian ketat dan celana jins mu. 
Lalu kau ganti isi lemari mu dengan gamis, rok, dan pakaian longgar...

Akan tiba saatnya nanti 
ketika kau ingin keluar rumah hal yang kau cari setelah kerudung adalah kaos kaki...

Akan tiba saatnya nanti 
kau merasa enggan menggunakan parfum yang sangat wangi harumnya hingga mengakibatkan orang-orang yang kau lewati terpesona dengan wanginya parfum itu...

Akan tiba saatnya nanti 
disaat kau ingin memposting kecantikan dirimu, 
kau akan merasa bahwa kecantikan mu itu hanya untuk mahrom mu saja. 
Bukan untuk dinikmati para pengguna sosmed...

Akan tiba saatnya nanti 
disaat ada laki-laki yang bukan mahrom mu mengajak berjabat tangan dengan mu, tangan mu sudah siap untuk tidak menerima jabat tangan itu...

Akan tiba saatnya nanti 
hari libur mu kau isi dengan menghadiri majelis taklim dan berkumpul dengan orang-orang sholih/ah.

Akan tiba saatnya nanti 
sosmed yang kau punya bermanfaat untuk mengajak pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar..

Kapan waktu ini akan tiba??
Saat hatimu peka terhadap sinyal-sinyal hidayah 
dari-Nya.
Saat hatimu mau terbuka dan masuk di dalam hidayah-Nya.
Saat hatimu sudah tidak sekeras detik ini.


Hidayah bukan ditunggu tapi dijemput.

Hidayah terkadang ada sekitar mu, 
tapi hatimu yang belum menyadarinya.


Sentuhlah hatimu 
agar hati itu tidak mengeras bagai batu.
Agar hidayah itu juga dapat mudah masuk 
di dalam qolbu.


Aku juga sama seperti mu...
Pernah begini dan begitu...

Tapi, aku rasa...

Hal-hal negatif itu tidak akan membuat ku 
selamat di akhirat...

Maka dari itu, 
perlahan ku perbaiki pondasi ku 
yang dulu amat rapuh... 

Ku ganti pondasi itu dengan lebih mendekat 
kepada-Nya...


Tidak ada manusia yang sempurna, 
pasti setiap manusia pernah melakukan kesalahan. 

Disini bukan tentang seberapa banyak kesalahan diri.
Tapi, tentang KAPAN kita akan membenahi kesalahan yang menggunung itu ?


Sahabat, 
mari kita sama-sama bertaubat...
Hijrah dan beristiqomahlah...




# copas

Sabtu, 11 April 2015

Sedih .....




Sedih adalah bunga kehidupan..
Yang akan menimpa setiap insan..
Karena itulah perjalanan hari..
Allah silih gantikan kepada manusia..


Namun..
Sedih tidak diperintahkan Allah..
Tidak pula memberi solusi dalam kehidupan..
Ia hanya menghanyutkan..
Tenggelam dalam arus perasaan..


Seorang mukmin..
Tak boleh larut dalam kesedihan..
Masih ada hari esok yang lebih berharga..
Segera bangkit..
Bergegas menuju kebaikan.. 





Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Karena Kita Butuh Hidayah ....




Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى



Mungkin pernah terbersit dalam benak kita, mengapa kita selalu membaca

“اهدنا الصراط المستقيم ”
( Tunjukilah kami jalan yang lurus) dalam sholat ?


Itu karena kita membutuhkan hidayah dan bimbingan Allah dI setiap waktu.


Kita butuh petunjuk-Nya, karena apa yang tidak kita ketahui jauh lebih banyak dari apa yang kita ketahui dan apa yang kita amalkan jauh lebih sedikit dari apa yang sudah kita ketahui.


Itulah alasan mengapa kita selalu memohon petunjuk-Nya dalam sholat,
agar Dia mengajari kita apa yang tidak kita ketahui dan memberi taufiq pada kita untuk mengamalkan apa yang sudah kita ketahui.


Kemudian ingatlah hidayah itu ditangan Allah, Dia memberi hidayah pada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.


Lihatlah nabi Nuh, walaupun dia seorang nabi, namun dia tidak bisa memberi hidayah pada anaknya.


Begitu juga dengan nabi Ibrahim, ia tidak dapat menyelamatkan Ayahnya dari kemusyrikan.


Tak terkecuali nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dia tidak dapat memberi hidayah taufiq pada siapa yang ia mau, bahkan pada orang yang sangat dicintai dan mencintainya.


Contohnya Abu Thalib, paman beliau yang selalu membela dakwahnya mati diatas agama Abdul Muttalib. Menjelang sakratulmaut Rasulullah berusaha membujuknya agar mengucapkan syahadat, namun Allah berkehendak lain, Allah bahkan mengingatkan nabi-Nya,

“إنك لا تهدى من أحببت”

“Engkau (Muhammad) sekali-kali tidak dapat memberi hidayah pada orang yang engkau cintai”

Imam Malik pernah mengatakan:

“Hidayah itu milik Allah bukan milik manusia”
Iya, hidayah itu ditangan Allah..


Kita perlu menyadari hal tersebut..
Agar kita tidak angkuh dihadapan orang-orang yang belum mendapatkan hidayah,
dan juga supaya kita tak berputus asa dalam memohonkan petunjuk untuk diri kita dan orang lain. Karena hati manusia berada dia antara dua jemari Allah.
Dia membolak balikkan hati itu sekehendak-Nya.



Catatan:

Ada dua macam hidayah:

Pertama: HIDAYATUL IRSYAD berupa kemampuan memberikan pengajaran, bimbingan dan penjelasan. Kemampuan ini dimiliki para nabi dan rasul serta orang-orang yang diberi taufik oleh Allah azza wa jalla. Sebagimana firman Allah kepada rasul-Nya,

“وإنك لتهدى إلى صراط مستقيم ”

“Sungguh engkau (Muhammad) adalah pemberi petunjuk ke jalan yang lurus (As-Syura: 52)

Kedua: HIDAYAH ATTAUFIQ, yaitu kemampuan menggerakkan hati orang lain untuk menerima kebenaran dan mengamalkannya. Ini mutlak hanya milik Allah azza wa jalla.

Wallahu a’lam


(Catatan Kecil Di Majelis Syaikh Anis Thohir Al Andunisy saat membahas kitab As-syariah bab ke 34 tentang “Allah memberi hidayah pada siapa yang dikehendaki-Nya”) (275)

Agar Musibah Anda Berpahala.. Dan Kesedihan Anda Seakan Tiada



Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى


Seringkali seseorang sangat sedih ketika kehilangan uang, atau didenda, atau kecurian, atau dibegal, atau musibah lainnya…


Memang ini manusiawi, tapi alangkah ruginya bila kita tidak mendapatkan pahala darinya… Dan alangkah terobatinya hati ini bila dengannya kita mendapatkan pahala.

Dan itulah yang diinginkan oleh Agama Islam yang mulia ini, cobalah renungkan beberapa syariat berikut ini:

1. Dzikir saat musibah menimpa.

قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَل

“Ini adalah takdir Allah, apapun yang Dia kehendaki, pasti Dia lakukan”.

Ulangilah dzikir ini beberapa kali dan ingatkan diri Anda akan kandungan maknanya, hingga Anda benar-benar meresapinya.

Tidak lain, agar hati Anda rela dengan apa yg terjadi, karena itu adalah putusan Allah yang harus berjalan sesuai kehendakNya, dan Dia telah memberikan banyak kenikmatan di sepanjang hidup Anda.

Sungguh tidak ada pilihan yang lebih baik saat musibah menimpa, kecuali menjalankan dua syariat berikut ini:


2. Doa saat tertimpa musibah.

اَللَّهُمَّ اأْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا

“Ya Allah berikanlah PAHALA kepadaku karena musibahku, dan berikanlah ganti untukku sesuatu yang lebih baik darinya”.

Alangkah pas dan baiknya doa ini, cobalah mengulang-ulangnya saat tertimpa musibah… sehingga doa Anda dikabulkan, dan Anda mendapatkan pahala, sekaligus ganti yang lebih baik dariNya.


3. Bersabar dalam menghadapinya.

Ini bukan berarti pasrah, namun menerima musibah tersebut dengan lapang dada, sembari melakukan perbaikan keadaan semampunya.

Ini juga akan mendatangkan pahala dan kebaikan, tentunya kita masih ingat sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, semua keadaannya adalah kebaikan.

Jika dia mendapatkan kenikmatan; dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan untuknya.

Sebaliknya, bila dia tertimpa musibah, dia BERSABAR, maka itupun menjadi kebaikan untuknya.”

———

Sungguh, tiga syariat yang mendatangkan kebaikan untuk umat Islam saat musibah menimpa: mulai dari ketegaran jiwa, pahala yang akan kekal selamanya, dan ganti yang lebih baik saat di dunia.

Intinya, saat musibah menimpa… berdzikirlah, berdoalah, dan bersabarlah, sehingga kita mendapatkan kebaikan di akherat dan juga di dunia.

Kamis, 12 Maret 2015

Sepucuk Surat Untuk Sahabatku ...



Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى


“Sahabat, dengarkanlah sejenak..
Diriwayatkan bahwa apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat yang selalu bersama mereka di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala ..


“Yaa Rabb.. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada keimanan walaupun hanya sebesar dzarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”)

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu’min-mu, karena Mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat.”

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis,

“Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta’ala tentang aku, “Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami dalam Surga-Mu.”


Sahabatku.. Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu tentang Allah ta’ala ..
Agar aku dapat besamamu kelak di surga & meraih Ridha-Nya..


Ya Allah..
Aku memohon kepada-Mu..


Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk, patuh & taat pada Syariat-Mu..

Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu..

Amiin…

(Disadur dari cuplikan ceramah Ust. Badrussalam Lc, -hafidzahullah- dengan sedikit perubahan)

Rabu, 04 Februari 2015

Hartamu Tidak Menambah Umurmu Sedetikpun....




HARTAMU TIDAK MENAMBAH UMURMU SEDETIKPUN…


Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى


Kapan terbetik dalam hatimu bahwa hartamu akan menambah umurmu,


maka sungguh engkau seperti yang disebutkan oleh Allah tentang orang yang terus mengumpulkan harta dan pelit karena menyangka hartanya akan menambah usianya…


الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ


yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,


يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ


dia mengira bahwa hartanya itu km dapat mengkekalkannya

(QS : Al-Humazah 2-3)






Justru sikap pelitlah yang merusak umur dan menghilangkan keberkahannya, sebaliknya perbuatan baik terlebih lagi bersedekah bagi kerabat akan menambah umur.


Ingatlah engkau dilahirkan dalam kondisi tidak membawa sepeserpun harta, maka demikian pula tatkala kau dibangkitkan tidak membawa sepeserpun harta yang selama ini engkau kumpulkan siang dan malam tanpa mengenal lelah…


Namun jika hartamu kau sedekahkan maka amal sedekahmu akan menemanimu pada hari kiamat






Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


كل امرء في ظل صدقته حتى يقضى بين الناس


“Setiap orang dibawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum diantara manusia”.





(HR Ahmad dan Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani) (29)

Jumat, 07 November 2014

5 Kelalaian Istri




Tidak diragukan bahwa istri shalihah adalah termasuk kenikmatan dunia yang terindah disamping sebagai tanda kebahagiaan sebuah keluarga. Keshalihan istri tidak hanya diukur dari ibadahnya kepada Allah, akan tetapi juga dipengaruhi bagaimana muamalah dia terhadap orang lain, terutama suaminya.


Dalam rangka menggapai keshalihan, seorang istri hendaknya mewaspadai berbagai kelalaian yang sering menjangkit para istri, baik kelalaian dalam hal ibadah ataupun kelalaian dalam hal muamalah pergaulannya terhadap orang lain. 

Berikut ini akan kami sampaikan sebagian kelalaian istri yang sering didapati di masyarakat kita, semoga para istri bisa menghindarinya, dan para suami bisa memberi nasihat yang baik kepada istrinya jika mendapati sebagian darinya.


1. Menunda-nunda Shalat

Shalat merupakan ibadah yang paling utama. Allah menempatkannya dalam kedudukan kedua setelah dua kalimat syahadat dalam rukun Islam, yang menunjukkan besar dan agungnya kedudukan shalat di sisi Allah. Ibadah yang demikian agungnya ini tentu sudah sepantasnya mendapatkan perhatian yang besar pula.

Sebagai seorang wanita, sudah dimaklumi bahwa shalat terbaik baginya adalah di rumahnya, dan dia tidak wajib melaksanakan shalat berjamaah sebagaimana kaum laki-laki. Keringanan yang Allah berikan bagi mereka ini tentu bukan bertujuan agar mereka meremehkan masalah shalat. Oleh karena itu, meski mereka melaksanakan shalat wajibnya di rumah, mereka tetap harus berusaha melaksanakannya di awal waktu, tidak menunda-nundanya.

Ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang amalan apa yang paling utama, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Shalat di awal waktunya” 1

Dan ini tentu saja membutuhkan pengaturan waktu yang sebaik-baiknya oleh para istri di rumah mereka. Kerja sama suami, tentu sangat diharapkan untuk bisa mewujudkan keutamaan yang mulia ini. Para suami hendaknya senantiasa memperhatikan istrinya, mengingat dan memerintahkannya untuk segera shalat jika memang belum shalat, dan membantu pekerjaan-pekerjaan yang mungkin menghalanginya untuk melaksanakan shalat di awal waktunya.


2. Membuka Aurat

Ini adalah satu hal yang sangat sering dilalaikan oleh kaum muslimah di masyarakat kita. Sangat banyak sekali wanita-wanita muslimah yang membuka aurat bahkan berhias dengan moleknya di hadapan kaum lelaki yang bukan mahram-nya. Kaum muslimah yang sudah menutup aurat pun di antara mereka ada yang masih meremehkan jika ada sebagian auratnya yang tersingkap, seperti lengan, betis, atau yang lain.

Entah karena ketidaktahuan mereka, atau karena mengikuti tren mode berpakaian, atau karena hal lain, yang jelas hal ini merupakan kelalaian yang seharusnya diperbaiki. Allah berfirman,


“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 59)

Dari ayat tersebut kita mengetahui bahwa pakaian muslimah yang menutup aurat bukanlah adat orang Arab, sebagaimana persangkaan sebagian orang, akan tetapi itu adalah perintah Allah kepada para wanita muslimah. Bahkan pakaian yang menutup aurat ini Allah perintahkan untuk membedakan para wanita muslimah dengan wanita-wanita jahiliyah, yang ini tentu menunjukkan bahwa adat wanita jahiliyah baik dari kalangan Arab ataupun non Arab adalah membuka aurat mereka.

Dan masih berkaitan dengan masalah pakaian dan penampilan istri, ada satu hal yang sering dilalaikan oleh para istri terhadap suaminya, yaitu berhias di hadapan suami. Yang sering terjadi malah sebaliknya, istri berhias ketika akan keluar rumah bertemu dengan orang lain, akan tetapi ketika di rumah dia lalai menghias diri. Hal seperti ini meski mungkin dianggap remeh, akan tetapi ini sangat mempengaruhi keharmonisan rumah tangga.


3. Ikut Serta Dalam Majlis Gunjing

Ini termasuk salah satu kebiasaan buruk para istri yang berbahaya. 
Ketika ada kesempatan berkumpul dengan sesamanya, tidak jarang mereka membicarakan keburukan-keburukan orang lain. 
Padahal menggunjing, yang dalam istilah syariat disebut ghibah, adalah perkara yang sangat buruk. Saking buruknya, Allah memperumpamakan ghibah dengan memakan daging saudara kita yang telah menjadi bangkai. Allah berfirman,


“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (al-Hujurat: 12)

Barangkali ada di antara mereka yang mengatakan, apa yang “diobrolkan” itu memang benar ada pada orang tersebut, bukan fitnah, apakah masih juga tercela? Maka ketahuilah bahwa itulah hakikat dari ghibah (menggunjing) yang sebenarnya. 

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian apa itu ghibah?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, “(Ghibah adalah) kamu menyebut tentang saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Lalu ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana jika apa yang aku katakan itu benar ada pada orang itu?” Maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika memang ada pada orang itu maka kamu berarti telah mengghibahnya, namun jika tidak ada pada orang itu berarti kamu berdusta tentangnya.” 2

4. Bermudah-mudah Dalam Berbicara Dengan Lawan Jenis

Dalam salah satu ayat Allah berfirman,


“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik,”(al-Ahzab:32)

Ayat ini berisi adab yang Allah perintahkan kepada para istri Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para wanita umat ini mengikut kepada mereka dalam hal ini. 3 Sehingga adab yang Allah perintahkan ini bukan hanya berlaku bagi para istri Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, namun juga bagi para wanita umat ini.

Dalam ayat tersebut Allah menerangkan adab berbicara seorang wanita, agar tidak melembutkan ucapan jika berbicara dengan lawan jenis, karena hal itu bisa menimbulkan fitnah (godaan) bagi para lelaki sehingga timbul keinginan buruk mereka, maka terjadilah bencana.

Dan di zaman teknologi seperti sekarang ini, ngobrol menjadi sesuatu hal yang sangat mudah dengan berbagai sarananya, diantaranya adalah facebook dan yang semisalnya. Meski barangkali obrolan itu hanya berbentuk tulisan, akan tetapi fitnah (bencana) yang ditimbulkan tidak kalah berbahaya daripada ngobrol secara langsung. Bahkan banyak bencana sosial yang diawali dari obrolan dalam facebook dan semisalnya. Maka ini adalah salah satu hal yang mestinya diwaspadai oleh para istri dan juga para suami, dalam rangka menjaga diri dan keluarga dari siksaan api neraka.

Akan tetapi ini bukan berarti haram sama sekali berbicara dengan lawan jenis. Hal ini dibolehkan jika memang benar ada keperluan untuk itu, namun harus tetap memperhatikan adab dalam berbicara dengan lawan jenis; berbicara seperlunya dan tidak melembut-lembutkan perkataan.


5. Kurang Bersyukur Pada Suami

Dalam salah satu hadits Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Aku diperlihatkan neraka, dan ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita, karena mereka berbuat kufur.” Ada yang bertanya, apakah mereka kufur kepada Allah? Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka kufur kepada suami, mereka kufur kepada kebaikan suami, jika kamu (suami) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka setiap masa, kemudian dia melihat sesuatu (keburukan) darimu, dia akan berkata, aku tidak pernah melihat satu kebaikan pun darimu.” 4

Sikap seperti ini secara tidak langsung berarti dia tidak bersyukur kepada Allah, karena Rasulullah juga bersabda,


“Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, dia tidak bersyukur kepada Allah.” 5

Demikian sebagian dari kelalaian para istri yang sering dianggap sepele. Sebenarnya, masih banyak hal lain yang mungkin dianggap sepele oleh para istri yang hakikatnya termasuk kelalaian mereka, hanya saja sebagiaan ini mudah-mudahan menjadi pengingat kita untuk lebih memperbaiki diri. Wallahu mustaan.



Sumber tulisan dari majalah Sakinah, Volume 11, No. 11, 15 Februari – 15 Maret 2013. Rabiul Awal – Rabiul Akhir. via Jilbab.or.id

Sumber ilustrasi

———————-

Catatan Kaki:

1 Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Kitab ash-Shalat, Bab al-Muhafazhah ‘ala Waqti ash-Shalawat, dan at-Tirmidzi dalam Kitab ash-Shalat, Bab Ma Ja’a fil Waqti al-Awwal minal Fadhl. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ish Shaghir no. 1093

2 Riwayat Muslim, Kitab al-Birr wash Shilah wal Adab, Bab Tahrimil Ghibah.

3 Taisirul ‘Aliyil Qadir (3/490)

4 Muttafaq ‘alaih

5 Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Kitab al-Birr wash Shilah, Bab Maa Jaa’a fisy Syukri Liman Ahsan Ilaika, dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6601.

Jumat, 31 Oktober 2014

Ujian Pasti Menyapa ...



Siapa yang tidak pernah ditimpa kesedihan dan duka? 
Siapa yang tidak pernah ditimpa musibah? 
Dan siapa yang selalu hidup senang dan gembira? 


Sesungguhnya semua orang pernah mengalami keadaan yang tidak menyenangkan bagi dirinya. 
Dan tidak diragukan lagi bahwa tidak ada seorang pun yang selamat dari hal tersebut, sampai para nabi dan rasul serta orang yang shaleh pun pernah mengalaminya, 
bahkan ujian yang mereka terima jauh lebih berat dari yang lainnya.


Renungkanlah bagaimana Allah mengabarkan dalam Al Qur’an tentang ujian dan kepahitan hidup yang menimpa para nabi dan rasul serta oleh orang shaleh, tetapi mereka tetap dan terus bersabar serta ridha menerima ketentuan Allah tersebut. 


Perhatikanlah bagaimana kisah Nabi Nuh dalam firman Allah berikut:


“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana besar.” 

(QS. Al-Anbiya: 76)


Nabi Ayyub ditimpa musibah sakit selama delapan belas tahun. Sungguh masa yang sangat panjang dalam menerima cobaan dan penderitaan, tetapi ia tetap sabar dan ridha menghadapinya.


Kisah Nabi Yunus juga Allah sampaikan dalam firman-Nya:


“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari padakedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” 

(QS Al-Anbiya: 87-88)


Tentang Nabi Musa, Allah berfirman:


“(Yaitu) ketika saudara perempuanmu berjalan, lalu dia berkata (kepada keluarga Fir’aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati. Dan engkau pernah membunuh seseorang, lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat); lalu engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau wahai Musa, datang menurut waktu yang ditetapkan.”

(QS. Thaha: 40)



Demikianlah seluruh nabi dan rasul hingga Nabi Muhammad saat mendapatkan ujian. 
Mereka semua tetap sabar saat ditimpa kesedihan bahkan saat disakiti oleh kaumnya sendiri, 
dan ini merupakan ujian yang besar. Allah berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari padakedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Anbiya: 87-88)


Perhatikan dan renungkan secara mendalam bagaimana Allah mengabarkan tentang para penghuni surga. Mereka adalah yang dahulu ditimpa duka dan kesedihan di dunia sebagaimana firman-Nya berikut ini:


“Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam temapt yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.” (QS. Fathir: 34-35)


Lihatlah bagaimana mereka memuji Allah atas karunia-Nya berupa surga yang penuh dengan kenikmatan, dan dihilangkannya semua duka dan kesedihan yang dirasakan saat mereka di dunia. Sungguh ayat ini merupakan penyejuk hati orang yang beriman dan obat bagi hati yang sedang berduka, sehingga menjadi sabar dalam menjalani kehidupan dunia ini.


Dari sini hendaknya disadari bahwa kehidupan ini penuh dengan ujian dan cobaan. 
Hal tersebut menuntut kita agar memiliki pemahaman dan sikap serta akhlak yang benar dalam menghadapinya sehingga dapat keliar dari ujian sesuai dengan apa yang Allah ridhai.



Sumber tulisan: “Tepis Duka Raih Kebahagiaan” oleh Abu Ya’la Kurnaedi, Naashirussunnah: Maret 2013/ Rabiul Akhir 1434 H. via Jilbab.or.id

Selasa, 05 Agustus 2014

Jangan sampai Iblis ikut membina anak dan harta kita ...



Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sepenggal hikmah di surat Al-Isra ayat 61 sampai 65.
Ketika Iblis diusir dari surga karena membangkang perintah Allah, dia diberi kesempatan untuk menyesatkan manusia untuk menjadi temannya di neraka Jahanam.
Dia juga diberi kesempatan untuk memanfaatkan setiap harta dan anak yang dimiliki manusia agar menjadi propertinya.


Allah berfirman,

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

“Bergabunglah dengan mereka (manusia) pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka” 
(QS. Al-Isra: 64).


Ulama berbeda pendapat tentang bentuk bergabungnya iblis bersama manusia dalam hal anak dan harta. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyimpulkan perbedaan tafsir tersebut dengan menyebutkan keterangan Ibnu Jarir at-Thabari,

قال ابن جرير: وأولى الأقوال بالصواب أن يقال: كل مولود ولدته أنثى، عصى الله فيه، بتسميته ما يكرهه الله، أو بإدخاله في غير الدين الذي ارتضاه الله، أو بالزنا بأمه، أو بقتله ووأده، وغير ذلك من الأمور التي يعصي الله بفعله به أو فيه، فقد دخل في مشاركة إبليس فيه من ولد ذلك الولد له أو منه… فكل ما عصي الله فيه -أو به، وأطيع فيه الشيطان -أو به، فهو مشاركة

“Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling mendekati kebenaran, bahwa setiap anak yang dilahirkan wanita, dan menjadi sebab seseorang bermaksiat kepada Allah, baik dengan memberikan nama untuknya dengan nama yang Allah Allah benci, atau dengan memasukkan anak ini ke dalam agama yang tidak Allah ridhai, atau anak hasil zina dengan ibunya, atau anak yang dibunuh dan dikubur hidup-hidup, atau perbuatan lainnya yang termasuk maksiat kepada Allah terhadap anak itu, semua keadaan di atas termasuk dalam bentuk ikut campurnya Iblis terhadap anak. Oleh karena itu, semua anak dan harta yang menjadi sarana bermaksiat kepada Allah dan sebab mentaati setan maka Iblis ikut bergabung di dalamnya”

(Tafsir Ibnu katsir, 5/94).


Ayat ini mengingatkan kita untuk lebih mawas diri dalam mendidik dan memperhatikan manfaat harta dan pendidik anak.
Bisa jadi secara zahir itu harta dan anak kita, namun sejatinya telah dikendalikan iblis.



Perhatikan dengan baik, jangan beri kesempatan Iblis untuk bergabung membina harta dan anak kita.

Allahu a’lam



Penulis: Ust. Ammi Nur Baits, BA.

Artikel Muslimah.Or.Id


Kamis, 31 Juli 2014

Tentang jiwa...




“Jiwa tidak akan bisa meninggalkan sesuatu kecuali jika ada sesuatu [yang menggantikannya]”

النفس لا تترك شيئا ألا بشيئ

~Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-




.::Jangan salahkan Islam, bila Anda setengah-setengah dalam menjalankannya::.


1. Menjauhi jimat adalah kebaikan dan keharusan, tapi bila Anda tidak baca dzikir pagi dan sore, maka Anda seperti orang yang perang tanpa senjata dan pelindung, sehingga Anda rentan terkena serangan lawan.

2. Menjauhi riba dan bisnis haram adalah kebaikan dan keharusan, namun tanpa doa, giat, dan tekun dalam usaha yang halal, maka Anda bagai burung yang diam tapi mengharap perutnya kenyang.
Dan itu akan menjadikan dunia Anda semakin terpuruk.

3. Meninggalkan musik adalah kebaikan dan keharusan, namun tanpa banyak dzikir; jangan harap hati Anda akan tenang dan bahagia.



Dan tentunya masih banyak contoh-contoh lainnya.

Intinya adalah firman Allah ta'ala (yang artinya):

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah Islam secara kaffah (total), jangan kalian ikuti jejak-jejak setan, sungguh dia adalah musuh yang nyata bagi kalian".

[Al-Baqarah: 208]





via ust. Ad Dariny di timeline sdr. Abdul Rokhman As-Syukur


Jumat, 23 Mei 2014

Hati Yang Buta ...



Oh, betapa malangnya hati yang buta,


yang tidak sabar menahan kepahitan sesaat,
dan lebih memilih kehinaan sepanjang abad;


ia berkelana memburu dunia, 
padahal dunia kelak pasti sirna


sementara, ia justru malas meniti jalan menuju akhirat,
padahal semua akan berakhir disana !





(al-fawaid, hal 141)

Musibah Menghapus Dosa ...



Akhi ukhti..

Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita

Dan kita mengetahui pula bahwa jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya

Bahkan kalau kita mempekerjakan diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang

Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit.


Sekarang coba bayangkan, dalam setiap harinya,

berapa banyak dosa yang kita lakukan

Kita tidak pernah menghitungnya,


kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung..

sebagian tidak merasa berbuat dosa,

karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan..


Lepas dari semua itu, Allah, ar Rahman ar Rahiem..

Yang Maha mengetahui dengan segala kekurangan hambanya,

telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah..

Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ
مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى
- حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا - إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih, kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.”

(HR. Bukhari no.5641 dan Muslim no.2573)


Jadi yang lagi sakit,

pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya

Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah


Salah satu ulama' salaf berkata:

لولا مصائب الدنيا
لوردنا الآخرة مفلسين

"Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut".


Bagi akhi ukhti yang sedang dapat musibah..

saatnya menjadikan musibah itu sebagai ladang pelunasan dosa..

Dengan menata hati,

Bersabar

Meridhoi takdir ilahi

Bersyukur kepada Rabbi

Selamat mengamalkan




Ditulis oleh Ustadz Dr. Syafiq Reza Basalamah MA

Saatnya Mengoreksi diri ....



Akhi... ukhti...



Betapa nikmatnya menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari yang sejuk

Betapa lezatnya menikmati suguhan es teler di tengah panasnya terik mentari yang menyegat

Betapa indahnya duduk di sebuah taman yang indah bersama orang-orang yang dicintai



Namun semua kenikmatan itu akan terputus

Akan sirna dan lenyap

Berganti dengan azab Allah dan siksanya bila ternyata kita terlena Selama berada di dunia

Tersilaukan dengan kenikmatan sementara sehingga lupa

Bahwa setiap detik yang berlalu akan ditanya



Mereka yang tidak lulus dalam menjawab soal-soal tersebut

Maka tiada lagi senyum yang menghias di bibir

Tiada lagi secangkir teh hangat

Atau semangkuk es teler

Yang ada hanyalah siksaan dan siksaan

Tiada pernah berhenti sejenakpun

Pernahkah kau melihat ikan goreng yang telah mengelupas kulitnya

Bagaimana kiranya bilah wajahmu yang digoreng??



Tengoklah rintihan penghuni neraka



وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ (٥٠)

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” ( Al-A’raf 50)



Bahkan karena pedihnya siksaan yang diterima, mereka minta mati

Iya mereka minta mati...

Mereka menyeru MALIK penjaga neraka

“Mereka berseru: “Hai Malik(2) biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)..”(Qs. Az-Zukhruf 77)

Tiada kematian di sana....

Akhi ukhti...

Sebelum nasi menjadi bubur

Saatnya mengoreksi diri

Setiap kau meneguk air

Tanyakan pada dirimu apakah kelak aku akan meneguknya di akhirat?

Atau.......


YAA ALLAH MASUKKAN HAMBA KE SYURGAMU

DAN JAUHKAN HAMBA DARI NERAKAMU

AMIEN...

~Ust. DR. Syafiq Reza Basalamah, MA~

Allah mencintaimu ...




Ketika ada manusia yang mencintaimu, 
maka kau akan merasa bahwa dirimu cantik 
dan duniapun menjadi luas.



Maka bagaimana kalau Allah yang mencintaimu, 
dan Dialah Rabb yang Maha Indah, 
Rabb di kala kesempitan, 
dan Rabbnya segala sesuatu.




@elmasrw - Dr Ahmad Isa al Mu’sharawi, 
ketua lajnah tashih al Quran di al Azhar, Doktor ilmu hadits Universitas al Azhar, Mesir.
 9/5/2014  via Twit Ulama

Jumat, 09 Mei 2014

Kekosongan dan Kesombongan



Kekosongan dan Kesombongan

Banyak orang merasa bangga dengan apa yang mereka miliki.

Saat mereka kaya dengan ilmu atau pun harta, 

maka akan sangat sulit untuk berbagi dan takut untuk disaingi.

Ketika orang menjadi sombong, mereka akan haus dengan pujian-pujian.

Kita dilahirkan dengan telanjang. 

Tidak ada bayi yang lahir dengan membawa gelar atau pun kekayaan.

Kita lahir pun juga karena pertolongan orang lain, 
kita tidak bisa lahir dengan sendirinya. 

Seorang ibu dengan bantuan dokter, 
bersama-sama berjuang melawan maut untuk melahirkan kita.

Lalu apa yang pantas untuk kita sombongkan?

Kesombongan dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Saat kita sombong, kita akan menjadi egois dan tidak membutuhkan orang lain.

Bagaimana saat kita mengalami kesukaran?

Dapatkah kita meminta pertolongan pada “kesombongan” itu sendiri?

Kesombongan dapat menjadi alat pembunuh untuk diri sendiri.

Kesombongan yang kita miliki 
dapat melukai perasaan orang-orang di sekitar kita. 
Dan sampai pada saatnya nanti, 
luka itu akan kembali pada kita.

Sombong itu tidak abadi. 
kerendahan hati membawa kenangan 
yang tak terlupakan. 

semoga bermanfaat.

Selasa, 18 Maret 2014

Merampas Hak Orang Lain...






Tidak akan merugi orang yang haknya dirampas orang lain, 
dan tidaklah beruntung orang yang mengambil hak orang lain... 


Barangsiapa mengambil bagian hak orang lain, 
maka hakikatnya dia telah mengambil bagian dari bara api neraka...



Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda : 

"Barangsiapa merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, 
maka ALLAAH mewajibkan neraka atasnya dan mengharamkan baginya Surga". 
Maka salah seorang bertanya, "Meskipun sedikit, wahai Rasulullah?" 
Rasulullah menjawab,"Ya, meskipun hanya setangkai kayu sugi (siwak)."

[HR Muslim]




Sabtu, 15 Maret 2014

Belajarlah mencintai karena Allah...




Belajarlah mencintai karena Allah...


Jika engkau mencintai istrimu karena Allah -

selain karena pesona paras wajahnya- 

niscaya kecintaanmu akan lebih langgeng, 

meskipun usia istrimu semakin bertambah..., 

niscaya engkau lebih menerima kekurangan yang ada pada istrimu..., 

niscaya engkau lebih mudah menjaga pandangan matamu...


Jika engkau mencintai sahabatmu karena Allah...,

niscaya engkau tetap baik kepadanya karena berharap wajah Allah 

meskipun ia kurang bersikap baik kepadamu. 

Karena persahabatanmu bukan dibangun di atas hubungan timbal balik antara engkau dengannya, 

akan tetapi karena mengharapkan kecintaan Allah padamu








By. Ust. Firanda Andirja

~ 3 Kelompok yang Shalatnya Tidak Terangkat ~




~ 3 Kelompok yang Shalatnya Tidak Terangkat ~


Oleh : Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafidzahullah



Saudara saudariku..

Berapa tahun kita berIslam?

Berapa tahun kita beribadah?

Berapa banyak ibadah kita yang diterima?

Berapa banyak amalan kita yang tidak diterima?

Untuk yang pertama dan kedua, kita tau...

Untuk yang ketiga, wallahu a'lam..

Untuk yang keempat, insyaAllah kita dapat mengetahuinya..

Bagaimana??...



Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Ada tiga kelompok yang shalatnya tidak terangkat walaupun hanya sejengkal diatas kepalanya (tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala) yaitu :

1. Orang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya

2. Istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya

3. Dua saudara yang saling mendiamkan (memutuskan hubungan)."

(HR. Ibnu Majah di hasankan oleh al-Albani, al Misyakah no. 1128)



Kalo Anda termasuk yang diatas, maka ketahuilah bahwa amalan Anda tidaklah di angkat.

Untuk yang ketiga, ingatlah bahwa orang-orang yang beriman itu saudara, bukan hanya dari saudara kandung saja.


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menekankan dalam hadits riwayat Muslim yang artinya :

"Pintu-pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan di ampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, 'Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai." 


(HR. Muslim)




Selasa, 11 Maret 2014

Mengadulah Kepada Allah ....



Mengadulah Kepada Allah


Setiap kali jiwamu merasa sempit, jangan mengadu kepada manusia, namun ucapkanlah selalu:

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ


"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". (Al Anbiya: 83)


Doa ini adalah doa Nabi Ayub alaihissalam, beliau mengadu kepada Allah dalam keadaan sakit, dan kemudian keluarga beliau meninggalkan beliau. Kemudian Allah pun mengabulkan doa beliau:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ

Maka Kamipun menjawab doanya (al Anbiya: 84)


Allah angkat penyakitnya

فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ

lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya (al Anbiya: 84)


Bukan hanya itu, keluarga yang pergi meninggalkan beliau, Allah kembalikan

وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ

dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya (al Anbiya: 84)


Dan bukan hanya itu! Allah tambahkan lagi bilangannya

وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ

dan Kami lipat gandakan bilangan mereka (al Anbiya: 84)


Dan jumlah yang banyak itu, bukan jumlah yang banyak namun membuat beliau susah dan sulit, namun jumlah banyak yang membuat beliau senang karena itu semua adalah

رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا

sebagai suatu rahmat dari sisi Kami(al Anbiya: 84)


Dan tentunya, ini pun pelajaran untuk kita sekarang, 
bagi yang sakit agar jangan putus harapan berdoa, 
Bahkan Nabi pun diuji dengan penyakit. 


Allah jadikan ujian itu sebagai sebuah pelebur dosa dan pengangkat derajat seorang mukmin. 
Maka hamba-hamba Allah yang sejati, adalah mereka yang bisa mengambil pelajaran

وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Dan untuk menjadi peringatan bagi para hamba Allah (al Anbiya: 84).





Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T

Rabu, 12 Februari 2014

Wanita Sholehah ....





Wanita solehah .... 

bukanlah dia yang tanpa cela...

bukanlah dia yang tanpa dosa..

bukan pula dia yang tak pernah alfa..


Namun dia selalu berusaha : 

Menjalankan perintah Rabbnya

Senantiasa menjauhi larangan Rabbnya..

Mencintai dan menjalankan Sunah Rasulnya.

Menaati suami dan menjaga kehormatannya