Laman

Tampilkan postingan dengan label Mother. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mother. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2015

Janji Persahabatan Yang Dilupakan




Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى


لِمَاذَا تَرَانِي بِقَفْرٍ سَحِيْقٍ ===== فَتُعْرِضُ عَنِّي وَتَنْسَى الصَّدِيْقَ
Kenapa tatkala engkau melihatku dalam padang tandus yang sangat jauh…. lantas engkau berpaling dariku dan engkau melupakan sahabatmu ini

وَأَلْمَحُ فِي نَظَرَاتِكَ هَجْرًا ===== فَتَتْرُكَنِي فِي الْمَعَاصِي غَرِيْق
Aku merasakan dari pandanganmu engkau menjauhiku dan menghindar dariku…. engkau membiarkan ku tenggelam dalam kemaksiatan


لِمَاذَا أُخَيَّ أَمُدُّ يَدَيَّ ===== فَتَتْرُكَهَا لِلَّظَى وَالْحَرِيْقِ
Mengapa wahai sahabatku? tatkala aku menjulurkan kedua tanganku (untuk kau tolong) …. lantas engkau membiarkan juluran tanganku dalam api yang membakar dan menyala-nyala?


أَتَعْلَمُ أَنِّي أَزِيْدُ انْحِدَارًا ===== وَأَنْتَ تَرَانِي بِهَذَا الطَّرِيْقِ
Tidakkah engkau tahu bahwasanya aku semakin tersesat ke jalan yang menyimpang…. padahal engkau melihat aku berjalan di jalan menyimpang tersebut


لِمَاذَا أُخَيَّ تُشِيْحُ بِوَجْهٍ ===== عَبُوْسٍ قَنُوْطٍ بِأَنْ لاَ أُفِيْقُ
Wahai sahabatku, kenapa engkau membuang mukamu…. dengan wajah yang merengut dan masam yang putus asa seakan-akan aku tidak akan bisa sadar kembali


أَتَنْسَى زَمَانًا بَهِيًّا نَدِيًّا ===== أَمِ الشَّوْقُ وَلَّى فَهَانَ الرَّفِيْق
Apakah engkau lupa masa yang indah …. Ataukah kerinduanmu telah sirna dan rendahlah sahabatmu ini

أَتَذْكُرُ عَهْداً قَطَعْنَاهُ يَوْمًا ===== بِأَنْ نَتَآخَى كَظِلٍّ لَصِيْقٍ
Apakah engkau ingat janji yang pada suatu hari pernah kita patrikan…. bahwasanya kita akan bersaudara sebagaimana bayangan yang selalu menempel


زَهِدْتَ بِقُرْبِي وَخَلَّفْتَ قَلْبِي ===== حَزِيْنًا رَهِيْنًا لِغَمٍّ وَضِيْقٍ
Engkau semakin menjauh dariku dan engkau meninggalkan hatiku… dalam kesedihan dan kegelisahan dan kesempitan


تُسَاوِرُنِي وَسْوَسَاتُ الدَّنَايَا ===== وَيُطْرِبُنِي عَزْفُ مَكْرٍ رَقِيْبق
Bisikan-bisikan keburukan menggrogotiku…dan lantunan tipu daya yang halus telah membuai dan melenakanku…


فَخُضْتُ الذُّنُوْبَ وَكَمْ مِنْ مَلاَهٍ ===== أَتَيْتُ وَكَمْ مِنْ حَيَاءٍ أُرِيْقُ
Maka akupun tenggelam dalam dosa-dosa, betapa banyak perkara yang melalaikan aku kerjakan… dan betapa banyak rasa maluku yang aku tumpahkan (karena bermaksiat)


أُخَيَّ تَمَهَّل وَخُذْنِي إِلَيْكَ ===== فَمَا عَادَ قَلْبِي لِبُعْدٍ يُطِيْقُ
Sahabatku berhentilah sejenak dan ambil dan ajaklah diriku bersamamu… Sungguh hati ini tidak sanggup untuk menjauh…


وَمُدَّ الْأَيَادِي وَلاَ تَنْتَقِصْني ===== وَكُنْ لِجِرَاحِي الطَّبِيْبَ الشَّفِيْقَ
Dan ulurkanlah kedua tanganmu dan janganlah engkau mencelaku… dan jadilah engkau terhadap luka-lukaku seorang tabib/dokter penyayang …


إِذَا مَا مَرَرْتَ بِقُرْبِي سَرِيْعًا ===== تَذَكَّرْ قَدِيْمًا عُهُوْدَ الصَّدِيْقِ
Jika tatkala engkau lewat di dekatku lantas engkau berjalan dengan cepat (untuk menjauhiku)… maka ingatlah janji persahabatan kita dahulu…


Sungguh ada sahabat-sahabat dekat kita dahulu yang saat ini butuh untuk kita dekati. Justru tatkala ia semakin jauh dari jalan Allah bukan semakin kita jauhi…akan tetapi semakin kita dekati.


Persahabatan yang dulu pernah kita jalin hendaknya tidak terlupakan dan sirna. Justru persahabatan lampau menuntut kita untuk menyayangi sahabat kita yang berada di persimpangan jalan….


Kasus yang sering terjadi juga adalah tatkala ada saudara atau sahabat kita yang futur (malas beribadah) atau bahkan terjerumus dalam kemaksiatan lantas sebagian kita malah menjauhinya…bahkan menjauh sejauh-jauhnya. Tidak ada yang mengunjunginya…tidak ada yang menasehatinya…akhirnya iapun semakin terpuruk dan semakin jauh dari jalan Allah.


Persaudaraan terlebih lagi persahabatan mengkonsekuensikan sikap yang sebaliknya, yaitu …mendekati dan menasehati…bukan menjauhi dan mencibir…

Jumat, 31 Oktober 2014

Ujian Pasti Menyapa ...



Siapa yang tidak pernah ditimpa kesedihan dan duka? 
Siapa yang tidak pernah ditimpa musibah? 
Dan siapa yang selalu hidup senang dan gembira? 


Sesungguhnya semua orang pernah mengalami keadaan yang tidak menyenangkan bagi dirinya. 
Dan tidak diragukan lagi bahwa tidak ada seorang pun yang selamat dari hal tersebut, sampai para nabi dan rasul serta orang yang shaleh pun pernah mengalaminya, 
bahkan ujian yang mereka terima jauh lebih berat dari yang lainnya.


Renungkanlah bagaimana Allah mengabarkan dalam Al Qur’an tentang ujian dan kepahitan hidup yang menimpa para nabi dan rasul serta oleh orang shaleh, tetapi mereka tetap dan terus bersabar serta ridha menerima ketentuan Allah tersebut. 


Perhatikanlah bagaimana kisah Nabi Nuh dalam firman Allah berikut:


“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana besar.” 

(QS. Al-Anbiya: 76)


Nabi Ayyub ditimpa musibah sakit selama delapan belas tahun. Sungguh masa yang sangat panjang dalam menerima cobaan dan penderitaan, tetapi ia tetap sabar dan ridha menghadapinya.


Kisah Nabi Yunus juga Allah sampaikan dalam firman-Nya:


“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari padakedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” 

(QS Al-Anbiya: 87-88)


Tentang Nabi Musa, Allah berfirman:


“(Yaitu) ketika saudara perempuanmu berjalan, lalu dia berkata (kepada keluarga Fir’aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati. Dan engkau pernah membunuh seseorang, lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat); lalu engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau wahai Musa, datang menurut waktu yang ditetapkan.”

(QS. Thaha: 40)



Demikianlah seluruh nabi dan rasul hingga Nabi Muhammad saat mendapatkan ujian. 
Mereka semua tetap sabar saat ditimpa kesedihan bahkan saat disakiti oleh kaumnya sendiri, 
dan ini merupakan ujian yang besar. Allah berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari padakedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Anbiya: 87-88)


Perhatikan dan renungkan secara mendalam bagaimana Allah mengabarkan tentang para penghuni surga. Mereka adalah yang dahulu ditimpa duka dan kesedihan di dunia sebagaimana firman-Nya berikut ini:


“Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam temapt yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.” (QS. Fathir: 34-35)


Lihatlah bagaimana mereka memuji Allah atas karunia-Nya berupa surga yang penuh dengan kenikmatan, dan dihilangkannya semua duka dan kesedihan yang dirasakan saat mereka di dunia. Sungguh ayat ini merupakan penyejuk hati orang yang beriman dan obat bagi hati yang sedang berduka, sehingga menjadi sabar dalam menjalani kehidupan dunia ini.


Dari sini hendaknya disadari bahwa kehidupan ini penuh dengan ujian dan cobaan. 
Hal tersebut menuntut kita agar memiliki pemahaman dan sikap serta akhlak yang benar dalam menghadapinya sehingga dapat keliar dari ujian sesuai dengan apa yang Allah ridhai.



Sumber tulisan: “Tepis Duka Raih Kebahagiaan” oleh Abu Ya’la Kurnaedi, Naashirussunnah: Maret 2013/ Rabiul Akhir 1434 H. via Jilbab.or.id

Ujian Kebaikan Dan Keburukan



Sebagian orang mengira bahwa ujian adalah ketika dia ditimpa musibah dan keburukan, pemahaman seperti ini adalah keyakinan yang salah dan keliru. Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa ujian itu berupa keburukan dan kebaikan, sebagaimana firman-Nya:


“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” 
(QS. Al-Anbiya: 35)


Allah juga berfiman:


“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” 

(QS. Al A’raf: 168)


Imam Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan Surat Al-Anbiya ayat 35:


“Dan firman-Nya, “Dan Kami uji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” artinya terkadang Kami mengujimu dengan musibah-musibah dan terkadang dengan kenikmatan, maka Kami melihat siapakah yang bersyukur? Siapakah yang kufur? Siapakah yang sabar? Dan siapakah yang putus asa? Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas: “Makna dari “Kami menguji kamu” adalah Dia melakukan ujian terhadap kamu “dengan keburukan dan kebaikan” yaitu dengan kesusahan, kelapangan, sakit, sehat, kekayaan, kefakiran, halal, haram, ketaatan, kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan. Dan firman-Nya: “Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami” yaitu Kami memablas amal-amal kalian.” 1

Sumber tulisan: “Tepis Duka Raih Kebahagiaan” oleh Abu Ya’la Kurnaedi, Naashirussunnah: Maret 2013/ Rabiul Akhir 1434 H. Catatan kaki: 1 Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil Adzhim, juz 3/218.

Selasa, 05 Agustus 2014

Jangan sampai Iblis ikut membina anak dan harta kita ...



Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sepenggal hikmah di surat Al-Isra ayat 61 sampai 65.
Ketika Iblis diusir dari surga karena membangkang perintah Allah, dia diberi kesempatan untuk menyesatkan manusia untuk menjadi temannya di neraka Jahanam.
Dia juga diberi kesempatan untuk memanfaatkan setiap harta dan anak yang dimiliki manusia agar menjadi propertinya.


Allah berfirman,

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

“Bergabunglah dengan mereka (manusia) pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka” 
(QS. Al-Isra: 64).


Ulama berbeda pendapat tentang bentuk bergabungnya iblis bersama manusia dalam hal anak dan harta. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyimpulkan perbedaan tafsir tersebut dengan menyebutkan keterangan Ibnu Jarir at-Thabari,

قال ابن جرير: وأولى الأقوال بالصواب أن يقال: كل مولود ولدته أنثى، عصى الله فيه، بتسميته ما يكرهه الله، أو بإدخاله في غير الدين الذي ارتضاه الله، أو بالزنا بأمه، أو بقتله ووأده، وغير ذلك من الأمور التي يعصي الله بفعله به أو فيه، فقد دخل في مشاركة إبليس فيه من ولد ذلك الولد له أو منه… فكل ما عصي الله فيه -أو به، وأطيع فيه الشيطان -أو به، فهو مشاركة

“Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling mendekati kebenaran, bahwa setiap anak yang dilahirkan wanita, dan menjadi sebab seseorang bermaksiat kepada Allah, baik dengan memberikan nama untuknya dengan nama yang Allah Allah benci, atau dengan memasukkan anak ini ke dalam agama yang tidak Allah ridhai, atau anak hasil zina dengan ibunya, atau anak yang dibunuh dan dikubur hidup-hidup, atau perbuatan lainnya yang termasuk maksiat kepada Allah terhadap anak itu, semua keadaan di atas termasuk dalam bentuk ikut campurnya Iblis terhadap anak. Oleh karena itu, semua anak dan harta yang menjadi sarana bermaksiat kepada Allah dan sebab mentaati setan maka Iblis ikut bergabung di dalamnya”

(Tafsir Ibnu katsir, 5/94).


Ayat ini mengingatkan kita untuk lebih mawas diri dalam mendidik dan memperhatikan manfaat harta dan pendidik anak.
Bisa jadi secara zahir itu harta dan anak kita, namun sejatinya telah dikendalikan iblis.



Perhatikan dengan baik, jangan beri kesempatan Iblis untuk bergabung membina harta dan anak kita.

Allahu a’lam

—

Penulis: Ust. Ammi Nur Baits, BA.

Artikel Muslimah.Or.Id


Nasehat Imam Asy Syafe'i ....



Imam Al-Muzany bercerita:

“Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?”


Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”


Aku berkata, “Nasihatilah aku.”


Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku,

“Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, 
jadikanlah kematian antara kedua matamu, 
dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. 
Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, 
jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, 
laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, 
dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. 
Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. 
Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, 
pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. 
Maafkanlah orang yang menzhalimimu, 
sambunglah (silaturrahmi dari)orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, 
berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu,
 bersabarlah terhadap segala musibah, 
dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”


Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”


Beliau melanjutkan,
“Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, 
rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, 
kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, 
kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, 
ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, 
rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, 
shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. 

Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, 
tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, 
dan kefakiran sebagai pembaringanmu. 
Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, 
Al-Qur`an sebagai juru bicaramu dengan kejelasan,
 serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. 
Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”


Kemudian, Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,


Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-

kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa

Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku

kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku

Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu

kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar

Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus

Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan

Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis

bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu,Adam

Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan

seorang yang congkak, zhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa

Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,

walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku

Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,

namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar



[Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431]



Kamis, 31 Juli 2014

Tentang jiwa...




“Jiwa tidak akan bisa meninggalkan sesuatu kecuali jika ada sesuatu [yang menggantikannya]”

النفس لا تترك شيئا ألا بشيئ

~Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-




.::Jangan salahkan Islam, bila Anda setengah-setengah dalam menjalankannya::.


1. Menjauhi jimat adalah kebaikan dan keharusan, tapi bila Anda tidak baca dzikir pagi dan sore, maka Anda seperti orang yang perang tanpa senjata dan pelindung, sehingga Anda rentan terkena serangan lawan.

2. Menjauhi riba dan bisnis haram adalah kebaikan dan keharusan, namun tanpa doa, giat, dan tekun dalam usaha yang halal, maka Anda bagai burung yang diam tapi mengharap perutnya kenyang.
Dan itu akan menjadikan dunia Anda semakin terpuruk.

3. Meninggalkan musik adalah kebaikan dan keharusan, namun tanpa banyak dzikir; jangan harap hati Anda akan tenang dan bahagia.



Dan tentunya masih banyak contoh-contoh lainnya.

Intinya adalah firman Allah ta'ala (yang artinya):

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah Islam secara kaffah (total), jangan kalian ikuti jejak-jejak setan, sungguh dia adalah musuh yang nyata bagi kalian".

[Al-Baqarah: 208]





via ust. Ad Dariny di timeline sdr. Abdul Rokhman As-Syukur


Rabu, 12 Februari 2014

Mencuci Piring ....




Sisa nasi yang mengeras sulit dibersihkan. 

Mencoba mencucinya akan membuang tenaga sia-sia. 

Seorang bijak akan merendamnya, 

dan membiarkan waktu bekerja melembutkannya. 

Kerak menjadi lunak, dan piring dapat dibersihkan dengan mudah.



Demikian juga dengan rasa dendam, 

patah hati dan emosi yang bersifat mengendap lainnya. 

Mencoba melepaskan mereka sesegera mungkin, 

akan membuang tenaga Kita sia sia. 

Seorang bijak akan merendam mereka 

dalam rasa ikhlas, 

dan waktu akan bekerja melunakkannya.


Jumat, 10 Januari 2014

Menyendiri Untuk Merenung '''''



# Menyendiri Untuk Merenung #



Bersendirian dengan jiwa 

akan memperbaharui ruhnya, 

membenahi pikirannya, 

mendekatkan jiwa tersebut pada Rabbnya, 

menjadikan jiwa mengenali kekurangan-kekurangannya 

dan menyingkap rahasia-rahasianya.





@nasseralqtami Nashir Al Qathami, sedang menempuh program Magister di bidang Studi Ilmu Al Qur’an, Imam Masjid Jami’ Al Qadhi Riyadh, Saudi Arabia. 132

Penyakit- Penyakit Berbahaya Dari Gigitan Seekor Nyamuk ....



Masyarakat kita tentunya sudah familiar dengan makhluk kecil yang terkadang menjadi momok yang mengganggu lelapnya tidur.


Gigitan nyamuk jangan dianggap enteng karena beberapa jenis nyamuk dikenal menjadi biang pembawa penyakit-penyakit berbahaya seperti demam chikungunya, penyakit kuning, malaria, demam berdarah, dan lainnya.

Oleh karena itu, perhatikan setiap saat apakah di rumah dan lingkungan Anda banyak terdapat sarang nyamuk atau tidak. Kalau banyak, maka Anda bersama warga sekitar harus segera membersihkannya. Berikut merupakan beberapa penyakit berbahaya yang disebabkan oleh gigitan nyamuk.


:: Demam Chikungunya

Penyebab dari demam chikungunya ini ialah virus cikungunya yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Virus jenis ini terus menimbulkan epidemik di kawasan Asia dan Afrika.

Gejala yang biasanya ditimbulkan dari demam cikungunya ini identik dengan demam berdarah dengue yakni demam yang tinggi, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, nyeri sendi, dan timbulnya bintik-bintik merah di kulit.

Yang membedakannya dengan demam berdarah ialah pada chikungunya tidak terjadi perdarahan hebat, rejan maupun kematian. Dan masa inkubasinya 2-4 hari.

Dibandingkan dengan demam berdarah dengue, demam chikungunya bisa dikatakan masih lumayan mudah untuk diatasi. Demam chikungunya ini termasuk self limiting disease atau penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya.

Makanya tak ada obat spesifik yang diberikan untuk penderita penyakit ini. Hanya terapi untuk menghilangkan gejala penyakitnya seperti dengan obat penghilang rasa sakit atau demam golongan parasetamol.

Namun demikian, untuk mempercepat proses penyembuhannya penderita disarankan untuk banyak mengonsumsi makanan bergizi, cukup karbohidrat dan tinggi protein. Tak lupa pula untuk banyak mengonsumsi buah dan sayuran segar.


:: Demam Penyakit Kuning

Demam penyakit kuning ditandai dengan panas dingin, nyeri otot terutama pada punggung, kehilangan nafsu makan, mual dan muntah. Nyamuk yang biasanya menimbulkan penyakit ini memiliki bintik-bintik putih pada sekujur punggung dan kakinya. Habitat dari nyamuk ini di genangan-genangan air.

Pengobatan terbaik untuk demam penyakit kuning ini ialah dengan banyak beristirahat dan banyak minum cairan. Mayoritas orang biasanya sembuh total pasca beberapa saat karena demamnya masih bisa ditaklukkan oleh antibodi.


:: Demam Malaria

Malaria merupakan suatu infeksi darah yang menyebabkan demam tinggi dan kedinginan. Malaria ini disebabkan oleh parasit yang disebut plasmodium yang ditularkan pada manusia dari nyamuk yang menggigit kebanyakan di waktu malam hari. Penyakit ini jangan dianggap enteng karena sudah jutaan orang mati dalam setiap tahunnya.

Malaria sendiri menyerang dalam 3 tahapan yakni pertama, timbulnya rasa kedinginan dan seringnya sakit kepala. Penderita akan menggigil selama 15 menit sampai 1 jam lamanya.

Kedua, gejala akan diikuti dengan demam tinggi dan yang terakhir, penderita mulai berkeringat dan demamnya menurun. Setelah demamnya turun penderita akan mengalami kelemahan.

Untuk pengobatannya sendiri, saat ini ada obat-obatan atau kombinasi obat-obatan baru yang diberikan untuk mengobati malaria di berbagai daerah. Salah satunya ialah artemisinin yang sering diberikan bersama dengan obat anti malaria lainnya atau dengan antibiotik.

Di beberapa daerah klorokin (obat yang paling banyak digunakan selama bertahun-tahun) masih ampuh. Satu-satunya cara untuk mengetahui obat apa yang ampuh di daerah Anda adalah dengan menanyakannya pada petugas kesehatan setempat.


:: Demam Berdarah

Penyakit demam berdarah tak kalah berbahayanya dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang dibawa oleh nyamuk hitam berbintik-bintik putih. Pertama kali seseorang terserang penyakit ini biasanya akan sembuh dengan istirahat dan minum air putih yang banyak.

Namun, kalau terserang untuk yang kedua kalinya maka resikonya sangat berbahaya bahkan bisa sampai menimbulkan kematian. Tanda-tanda penyakit demam berdarah ialah mengalami demam tinggi tiba-tiba yang disertai dengan kedinginan, sekit kepala dan tenggorokan, dan sakit pada beberapa bagian tubuh.

Bayi, anak-anak, dan orang tua atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (misalnya penderita HIV/AIDS), beresiko menderita demam berdarah dalam bentuk yang lebih parah. Jika tidak segera diobati, bentuk demam berdarah ini menyebabkan perdarahan dari kulit dan dapat mengarah pada kematian.


Semoga Bermanfaat .



source : Dari berbagai sumber

Rabu, 04 Desember 2013

Figur Seorang Ibu ....



Figur seorang ibu itu sangatlah penting ! Mengapa? - 
Karena ia sebagai tempat pondasi awal di dalam pendidikan yang pertama bagi seorang anak. 
Baik pendidikan agama maupun ilmu pengetahuan umum. 


Terkhusus pendidikan akhlak dan agama. -Ia menjadi teladan dan panutan bagi buah hatinya. 
Maka betapa banyak seorang ibu yang kurang baik akhlaknya,
 lalu buah hatinyapun mengikuti sifat dan perangainya. -
Ia menjadi penyeimbang ketenangan hati di dalam rumah tangganya. 


Itulah ibu yang cerdas ! Mampu mengkondisikan suasana. -
Ia menjadi cerminan bagi anak perempuannya di dalam sebuah ketaatan kepada suaminya.
 Maka anak perempuanpun akan melihat, bagaimana sikap ibunya kepada ayahnya. 
Apakah taat ataukah sering membangkang? 
Anak perempuan akan meniru sifat itu, setelah ia menikah nantinya. 

Maka perhatikanlah! Betapa mulianya peran seorang ibu di dalam rumah tangga. 
Tak tergantikan oleh harta maupun kedudukan. 
Tak tergantikan oleh yang lainnya. 


Menjadi ibu rumah tangga bukanlah suatu pekerjaan yang hina, namun sangatlah mulia. 
Bukanlah pekerjaan yang sia-sia , namun sangatlah berarti dan berjasa. 


Buat para ibu dan calon ibu; 
Janganlah tinggalkan rumahmu. 
Janganlah kau lupakan pendidikan yang terbaik untuk buah hatimu kelak. 
Janganlah kau terlalu tersibukkan dengan segala aktifitas di luar rumahmu. 
Karena peran dan figur seorang ibu di rumah, 
sangatlah penting dan teramat mulia bagi suaminya. 


Biarkan dan relakanlah suamimu untuk bekerja di luar sana, 
tanpa harus kau ikut terjun bersamanya. 
Relakanlah suamimu untuk pulang rumah berlarut malam karena pekerjaanya, 
tanpa kau yang harus menggantikan peranya. 


Isteri bukanlah suami dan suami bukanlah isteri. 
Masing-masing di antara keduanya memiliki hak dan kewajiban yang harus saling terpenuhi, 
tanpa harus mengorbankan salah satu di antara keduanya. 


Bagi seorang isteri, terimalah apa adanya segala pemberian dan hasil jerih payah dari suamimu. 
Tanpa menuntut dan meminta lebih, 
sehingga melupakan bagaimana cara yang terbaik untuk bersyukur. 


Itulah isteri yang baik. 
Figur seorang ibu yang bijak, 
di dalam menempatkan segala keadaan bersama pada tempatnya. 


Semoga Allah memudahkan segala perjuangan mereka (para wanita) untuk menjadi seorang ibu yang baik. Figur yang tepat bagi buah hati dan keluarganya. 
‪ibu‬ yang baik adalah cerminan bagi keluarga yang sakinah, serta masyarakat yang baik. 
Maka masyarakat yang baik, akan terlahir dari seorang ibu yang baik dan berakhlak mulia. 



by. Afza Fajri Khatami Masyhadi 
Ditulis Pada Penghujung Malam Di Kota Nabi. Rabu (04/12/13)

Jumat, 29 November 2013

Renungkan: Umurmu yang Berkurang



Tidak ada awal dan akhir tahun, 
yang ada hanyalah umur yang semakin berkurang. 
Mengapa kita selalu berpikir bahwa umur kita bertambah,
 namun tidak memikirkan ajal semakin dekat? 


Benar kata Al Hasan Al Bashri, seorang tabi’in terkemuka yang menasehati kita agar bisa merenungkan bahwa semakin bertambah tahun, semakin bertambah hari, itu berarti berkurangnya umur kita setiap saat.

Hasan Al Bashri mengatakan,

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 148)

Al Hasan Al Bashri juga pernah berkata,

لم يزل الليلُ والنهار سريعين في نقص الأعمار ، وتقريبِ الآجال

“Malam dan siang akan terus berlalu dengan cepat dan umur pun berkurang, ajal (kematian) pun semakin dekat.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383).

Semisal perkataan Al Hasan Al Bashri juga dikatakan oleh Al Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau rahimahullah berkata pada seseorang, “Berapa umurmu sampai saat ini?” “Enam puluh tahun”, jawabnya. Fudhail berkata, “Itu berarti setelah 60 tahun, engkau akan menghadap Rabbmu.” Pria itu berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi rooji’un.” “Apa engkau tidak memahami maksud kalimat itu?”, tanya Fudhail. Lantas Fudhail berkata, “Maksud perkataanmu tadi adalah sesungguhnya kita adalah hamba yang akan kembali pada Allah. Siapa yang yakin dia adalah hamba Allah, maka ia pasti akan kembali pada-Nya. Jadi pada Allah-lah tempat terakhir kita kembali. Jika tahu kita akan kembali pada Allah, maka pasti kita akan ditanya. Kalau tahu kita akan ditanya, maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan tersebut.” Lihat percakapan Fudhail ini dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383.


Jadi sungguh keliru, jika sebagian kita malah merayakan ulang tahun karena kita merasa telah bertambahnya umur. Seharusnya yang kita rasakan adalah umur kita semakin berkurang, lalu kita renungkan bagaimanakah amal kita selama hidup ini?


Bukankah yang Islam ajarkan kita jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk akhirat. Ibnu ‘Umar pernah berkata,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. Bukhari no. 6416). 

Hadits ini mengajarkan untuk tidak panjang angan-angan, bahwa hidup kita tidak lama.


‘Aun bin ‘Abdullah berkata, “Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. 
Begitu banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. 
Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia pun tidak bisa menemui hari esok.
Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan.” ‘Aun juga berkata,

إنَّ من أنفع أيام المؤمن له في الدنيا ما ظن أنَّه لا يدرك آخره

“Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia adalah ia merasa bahwa hari besok sulit ia temui.”  [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 385.]


Di Balik Menunggu Pergantian Tahun

Setelah kita merenungkan berbagai nasehat di atas, moga yang berhati lembut bisa sadar bahwa waktu itu begitu berharga walau 1 detik saja. Namun cobalah lihatlah perayaan awal tahun yang dilakukan kaum muslimin saat ini, sungguh menyia-nyiakan waktu dan umurnya sendiri. Kadang yang wajib seperti shalat ditinggalkan hanya karena bela-belain menunggu pergantian waktu. Kadang pula di awal tahun malah diisi dengan maksiat dan penghamburan harta. Seharusnya yang dipikirkan adalah bukannya datangnya pergantian tahun atau bertambahnya umur. Yang mesti dipikirkan adalam umur kita senyatanya semakin berkurang, sehingga seharusnya amal sholih yang harus kita tingkatkan. Inilah yang lebih urgent.

Intinya, perayaan tahun baru punya berbagai sisi kerusakan di antaranya:

1- Merayakan perayaan non-muslim karena perayaan ini tidak pernah ada dalam Islam.

2- Mengikuti budaya orang kafir.

3- Berbagai maksiat dan bid’ah yang muncul saat perayaan tahun baru.

4- Meremehkan shalat lima waktu karena sibuk begadang.

5- Begadang untuk menunggu pergantian tahun pun sia-sia.

6- Seringnya mengganggu kaum muslim dengan petasan dan semacamnya.

7- Meniru perbuatan setan dengan bersikap boros.

source: Rumaysho.com

Rabu, 20 November 2013

Wanita .....





Wanita yang baik agamanya,

ketika ia memiliki kedudukan tinggi dan nasab yang mulia,

ia tidak menghina orang lain. 


Ia justru menjadi wanita yang mulia

dan menggunakan kedudukannya untuk membela kebenaran.


Wanita yang baik agamanya,

ketika ia cantik, ia tidak membuat suaminya resah. 
Ia justru menjadi penghibur hati 

dan penyejuk mata bagi suaminya tercinta



Kamis, 14 November 2013

Problema Anak Berbohong .....




Seorang ibu merasa kewalahan menghadapi puteranya yang berusia 9 tahun yang suka berbohong. 
Sang anak sering sekali berbohong bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. 
Ia berbohong tentang nilai ulangan hariannya,
 ia berbohong tentang siapa yang memecahkan pot bunga saat bermain bola,
 ia berbohong saat hendak pamit les, dan lain sebagainya. 


Sang ibu merasa sudah mengajarkan nilai kejujuran pada anaknya,
 bahkan sering memarahinya jika ketahuan bohong,
 tapi tidak nampak tanda-tanda anak ini mau berubah. Lalu, harus bagaimana?


Tidak diragukan lagi bahwa berbohong adalah sebuah perilaku tercela yang bisa menjadi kebiasaan apabila tidak ditangani sedini mungkin. Para pendidik, khususnya orang tua harus mencurahkan perhatian dan melakukan upaya-upaya perbaikan dari kebiasaan berbohong ini agar tidak menjadi kebiasan buruk yang mengakar kuat dalam diri seorang anak.


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.”
(HR. Bukhari No. 6094, Muslim No. 2607)


Anak-anak memang tidak dilahirkan dengan kode moral. 
Moralitas adalah sesuatu yang dipelajari oleh seorang anak dalam tumbuh kembangnya secara bertahap dari tahun ke tahun. 
Dan perilaku berbohong adalah salah satu dari tahapan tersebut.


Dalam tumbuh kembangnya, anak-anak belajar tentang aturan-aturan sosial. 
Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada yang dinamakan khayalan, kebohongan, dan kenyataan. Dan umumnya, perilaku berbohong ini muncul dalam diri anak ketika ia mulai bisa bicara.


Rentang usia 4 sampai 9 tahun, anak-anak masih banyak hidup dengan khayalan-khayalan mereka. 
Mereka belum bisa membedakan yang mana khayalan dan mana kenyataan. 
Mereka sering beranggapan bahwa binatang bisa bicara layaknya manusia,
mereka mengira bahwa hantu dan monster itu benar-benar ada,
mereka yakin bahwa kartun-kartun animasi itu benar-benar hidup dan menjadi teman mereka. 
Dan sering kali mereka menempatkan diri mereka menjadi bagian dari khayalan tersebut.


Setelah usia 9 tahun, anak-anak mulai memahami aturan “tidak boleh berbohong”. 
Mereka mulai memahami bahwa sesuatu yang bukan sebenarnya itu berarti berbohong. 
Namun mereka masih memilah dan memilih, atau mempertimbangkan kapan mereka bisa berbohong atau tidak. 
Dalam artian, mereka belum benar-benar faham bahwa berbohong itu tercela. 
Karena ada kebutuhan lain yang lebih penting bagi mereka, yaitu kebutuhan untuk diterima dengan baik oleh suatu kelompok sosial tertentu.


Alasan Mengapa Anak Berbohong

Berikut ini ada beberapa alasan mengapa anak-anak berbohong :

1. Contoh yang salah dari orang tua

Anak-anak adalah peniru yang sangat baik. Mereka meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang dewasa di sekitarnya, termasuk berbohong.

Ya, anak-anak belajar berbohong pertama kali dari orang tuanya. Disadari atau tidak, orang tua seringkali memberikan contoh yang salah dalam perilaku berbohong ini, sehingga anak-anak menirunya di kemudian hari.

Contoh kecil, saat seorang ibu ingin mengalihkan perhatian anakknya atau menghentikan tangis anaknya, ibu itu berkata, “Eh, lihat itu ada cicak!” atau “Eh, lihat ada pesawat terbang!”. Padahal sesungguhnya tidak ada cicak atau pesawat terbang disana.

Contoh lagi, saat ada tamu atau telpon, sedangkan ibu atau ayah sedang menghindari orang yang bertamu atau telpon tersebut, ibu akan mengatakan, “Bilang saja ibu nggak ada di rumah…”. Padahal ibu jelas-jelas ada di rumah.


Atau, saat hendak mengajarkan anak berpisah dari orang tua saat di sekolah, ibu berjanji pada anaknya yang belum mau ditinggal untuk menunggu di luar kelas. 
Tapi, ternyata setelah anak masuk, sang ibu pergi untuk pulang hingga datang kembali untuk menjemput sang anak.


Kita sebagai orang tua ada role model utama bagi anak-anak kita. Karena kitalah yang paling sering berada di dekat mereka. 
Jadi kita harus berhati-hati tentang masalah berbohong ini. Jika kita sering berbohong, maka jangan salahkan anak bila kelak mereka ikut berbohong.
 Namun, bila kita membiasakan anak untuk jujur sejak kecil, maka insyaallah anak-anak pun akan menjadi anak yang jujur dan mudah untuk diarahkan.


2. Anak terlalu sering dikritik, tetapi jarang diberi pujian

Sering kali kita terburu-buru mengecap anak kita berbohong, mencurigainya, mengkritiknya, padahal anak berkata jujur. 
Dan kita akan langsung memberikan label “pembohong” ketika anak pernah sekali berbohong pada kita. Sehingga pada akhirnya, anak pun mengambil kesimpulan bahwa “bohong atau jujur sama saja, ibu akan tetap bilang aku ini pembohong”.

Dan kita juga lebih sering mengeluarkan kalimat-kalimat negatif pada anak, alih-alih memberinya semangat dan dorongan untuk selalu berbuat baik. 
Kita lebih sering mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan anak, mengecilkan hati anak, memberikan julukan yang negatif, dan lain sebagainya sebagai bentuk dari “kekerasan verbal” terhadap seorang anak.


Contohnya, kita masih sering terpatok pada “hasil akhir” dan bukannya “usaha” dari seorang anak. 
Kita akan mengkritik, “Hitungan mudah begini saja kamu nggak bisa” atau “sudah sering kamu diajari wudhu tapi masih saja nggak bisa wudhu yang benar!” dan yang semisal dengan itu.


Anak-anak yang terlalu sering mendapatkan kritikan dari orang tuanya, akhirnya menjadi haus pujian. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat orang tuanya mau memujinya. Salah satunya adalah berbohong. 
Dengan berbohong, mereka beranggapan bahwa mereka bisa menyelamatkan diri dari “omelan ibu” dan akan mendapatkan “pujian ibu”.


3. Bentuk pengalihan perhatian atau menghindari hukuman

Suatu ketika, saya pernah menegur keras putri saya yang baru berusia 3 tahun karena suatu hal. 
Saat saya memarahinya, putri saya tiba-tiba mengatakan pada saya, “Bunda, sakit perut…”. Dan akhirnya saya pun tidak marah lagi dan kemudian menyuruhnya untuk segera ke kamar mandi.
 Rupanya, putri saya ini merekam kejadian hari itu. Mungkin dalam benaknya, kalau bunda marah-marah aku bilang sakit perut, bunda jadi nggak marah. Dan esok harinya, saat saya menegurnya lagi karena hal yang lain, ia pun mengatakan hal yang sama, “Bunda, sakit perut…” padahal ternyata tidak keluar. Dan itu terjadi beberapa kali, sampai kemudian saya baru sadar bahwa “sakit perut” adalah alasan untuknya mengalihkan perhatian saya agar saya tidak marah-marah lagi.


Anak-anak yang masih kecil biasanya cenderung “tidak sengaja” berbohong. Dalam artian, mereka belum bisa memprediksi sebab-akibat. 
Jika kita menganggap jelas bahwa anak bermain bola dan memecahkan vas adalah suatu kesalahan, maka anak-anak tidak bisa berpikir demikian. Mereka hanya berpikir, “Aku main bola, dan aku ngga mecahin vas ibu. Bola yang mecahin vas ibu”. Dan itulah yang akan mereka katakan.


Anak-anak juga berbohong dengan menyalahkan orang lain atau hal lain untuk menyelamatkan diri dari hukuman. Contohnya, mereka menyalahkan kucing untuk pot bunga yang pecah saat mereka bermain di halaman, atau membuat alasan “kue ini buat kucing” saat ia kedapatan mengambil kue tanpa izin, dan lain sebagainya.


4. Ingin diterima oleh lingkungan dan teman-temannya

Pada anak-anak yang sudah lebih besar atau remaja, umumnya mereka berbohong untuk meningkatkan rasa percaya diri dan status sosialnya. 
Misalnya, mereka berbohong soal kekayaan keluarga, atau bersahabat dengan orang terkenal, dan lain sebagainya.
 Tujuannya adalah mereka ingin diterima oleh suatu komunitas sosial tertentu di kalangan teman-temannya. Mereka juga ingin dianggap “hebat” atau “keren” dan segala hal yang berbau pamor di kalangan para remaja. 
Terkadang, hal yang dimikian juga disebabkan karena anak pernah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari teman-temannya, seperti dipermalukan atau diremehkan.


Kebohongan lain adalah bohong terhadap orang tua agar orang tua mau menerima teman-teman sepermainannya. 
Mereka biasanya berbohong dengan mengendalikan informasi, seperti memberikan alasan belajar bersama di rumah teman, padahal mereka pergi main ke mall atau ke tempat persewaan PS, dan lain sebagainya.


Mendidik Anak Agar Tidak Bohong

Setiap orang tua tentunya merasa sedih dan kecewa bila melihat dan mendengar anaknya berbohong. 
Dan tidak jarang kita langsung merasa panik dan buru-buru men-judge anak “kamu bohong” atau “kamu pembohong”.


Yang harus kita lakukan adalah memahami perilaku tersebut sebagai tahapan perkembangan anak dan mencari solusinya agar tidak menjadi kebiasan di kemudian hari.

● Keteladanan dari orang tua

Menanamkan sikap jujur dan tidak suka berbohong adalah tugas orang tua dan pendidik. Namun, tentu saja tidak bisa hanya sekedar teori, melainkan dengan keteladanan. 
Berusahalah untuk bersikap jujur dalam perkataan dan perbuatan. Karena anak-anak melihat dan mencontoh apa yang mereka lihat dan mereka dengar.

Jika kita ingin mengalihkan perhatian anak dari tangisnya, alih-alih kita mengatakan “lihat itu ada cicak!” kita bisa menggantinya dengan kalimat ajakan, “yuk, kita cari cicak,” sambil mengajaknya keluar.

Orang tua juga tidak boleh berpura-pura akan memberikan sesuatu pada anak jika anak menurut. Misalnya, kita bilang, “ayo nurut sama ummi, nanti ummi belikan mainan” atau yang semisal dengan itu. Padahal itu hanya untuk memancingnya saja tanpa benar-benar akan memberikannya mainan bila ia sudah menurut.


● Menanamkan kejujuran sejak dini

Sesungguhnya kejujuran itu sederhana, tapi sulit untuk dilakukan. Semakin dewasa usia seseorang, akan semakin sulit dan makin banyak godaannya untuk berbuat jujur. Padahal, kejujuran adalah salah satu kecerdasan moral. Dan untuk melatih kecerdasan moral seperti ini jauh lebih sulit dari pada melatih kecerdasan intelegensi.


Para psikolog dan pakar pendidikan anak banyak menilai bahwa orang tua masa kini jauh lebih bisa mencerdaskan intelegensi anak dari pada mencerdaskan moral anak. Bukan berarti terjadi kemerosotan moral di sini, melainkan orang tua merasa tidak percaya diri dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Sehingga kemudian, orang tua pun menyerahkan tugas tersebut pada sekolah atau guru anak-anak mereka. Padahal, sejatinya pendidikan moral adalah hal yang juga harus diberikan oleh orang tua, bersama dengan pendidikan agama.


● Hindari memberi hukuman yang terlalu berat pada anak

Jika kita ingin memberikan anak hukuman karena kesalahannya, maka hukumlah dengan “adil”. Dalam artian, tidak setiap kesalahan anak harus mendapatkan hukuman yang berat. Lihat dan pertimbangkan seberapa berat kesalahan anak dan hukuman apa yang paling tepat untuknya.

Misalnya, anak menumpahkan air. Ini adalah perkara yang sepele sebenarnya. Bisa jadi anak tidak sengaja melakukannya. Maka berikan ia konsekuensi, untuk mengambil lap dan mengeringkan airnya dengan bantuan Anda.

Atau misalnya, anak tidak menabungkan uangnya dan malah menggunakan uang tersebut untuk membeli mobil-mobilan baru. Jangan langsung menghukumnya dengan memukul atau mengomelinya sepanjang hari. Tapi, nasehati anak dengan baik dan minta ia untuk tidak mengulanginya. Konsekuensinya, anak belajar untuk menabungkan sebagian uang jajannya sebagai ganti dari uang tabungan yang telah ia pakai kemarin.

Hukuman yang terlalu berat dan sering dapat menimbulkan rasa takut pada anak yang dapat mendorong anak untuk berbohong.


● Hargai setiap usaha yang dilakukan anak

Sudah kodratnya anak-anak itu butuh pujian dari orang tuanya. Mereka butuh penghargaan dari setiap usaha baik yang mereka lakukan. Selaras dengan “teguran” yang mereka dapatkan ketika mereka melakukan kesalahan.

Tentunya anak-anak akan bertanya-tanya, kalau aku salah aku selalu dimarahi, tapi kalau aku jadi anak baik, ibu dan ayah biasa saja.

Seorang anak lama-kelamaan akan merasa frustrasi dan jenuh ketika setiap usaha yang ia lakukan ia hanya mendapatkan kritikan pedas dari orang tuanya. Mereka akan merasa gagal, ditolak, tidak mampu, tidak percaya diri, dan rendah diri. Lebih-lebih jika orang tuanya membanding-bandingkan dirinya dengan saudaranya atau anak orang lain. Rasa frustrasi dan jenuh itulah yang juga bisa mendorong seorang anak untuk berbohong demi pengakuan.

Jika si kecil melakukan sesuatu, bahkan jika hasilnya kurang memuaskan, cobalah untuk mengatakan, “wah…subhanallah…kakak sudah pintar ya. Nanti kita buat lagi yang bagus supaya kakak bisa semangat lagi ya!”.

Penghargaan yang diterima oleh seorang anak anak menumbuhkan sikap menghargai orang lain di kemudian hari.


● Hindari dan jauhkan anak dari tontonan atau cerita-cerita bohong
Sering memperdengarkan cerita-cerita bohong juga membuat anak-anak belajar berbohong. Karena sebagian besar anak-anak belum bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya khayalan saja.

Dari mana anak mengenal monster dan hantu jika bukan dari buku cerita fiksi dan film di TV? Karena itu orang tua harus benar-benar selektif dalam memilihkan buku bacaan dan tontonan untuk anak.

Saat ini banyak sekali buku-buku dan film-film yang isinya hanya merusak moral anak-anak, atau memperlihatkan adegan kekerasan, kisah-kisah yang tak masuk akal dan membuat anak-anak takut.

Jelaskan pada anak-anak bahwa monster dan hantu itu tidak ada dan hanya rekaan manusia. Kalau perlu, apalagi di jaman teknologi yang sudah canggih ini, kepada anak-anak yang sudah lebih besar, kita bisa memperlihatkan bagaimana “efek” monster dan hantu itu dibuat dengan komputer.


● Dengarkan anak saat mereka bicara

Mendengarkan keinginan anak bukan berarti harus mewujudkan setiap keinginannya. Akan tetapi, mendengarkan di sini adalah menunjukkan antusiasme dan perhatian kita bahwa kita menghargai apapun yang mereka katakan.

Jika ternyata apa yang mereka katakan itu bukan hal yang sesungguhnya terjadi atau hanya khayalan mereka, jangan buru-buru marah atau menudingnya sebagai pembohong. Tapi, luruskanlah, agar anak-anak memiliki pola pikir yang lurus pula.


● Berikan kepercayaan pada anak

Akan tiba masanya anak-anak harus bisa melakukan banyak hal sendiri, tanpa bantuan dan pantauan orang tua. Apalagi ketika usia mereka beranjak remaja, tentulah mereka tak ingin terus menerus dibayangi atau terlalu diatur oleh orang tua.

Seiring dengan bertambahnya usia, bertambahnya tanggungjawab, bertambah pula keinginan seorang anak untuk dihargai sebagai seorang “anak yang sudah besar”. Mereka menginginkan tanggungjawab yang lebih besar pula, dan menginginkan kemandirian. Karena itu, sudah sepatutnya orang tua memberikan kepercayaan pada anak-anaknya.

Ajarkan anak-anak bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi, dan harus dipertanggungjawabkan. Tanamkan bahwa setiap tindakan mereka adalah cerminan bagaimana orang tua mereka mendidik mereka. Lalu berikan mereka kepercayaan.

Sesekali waktu, anak-anak mungkin melakukan kesalahan. Namun, bantulah mereka untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan percayakan bahwa mereka belajar dari kesalahan tersebut.

Dari pada mengatakan, “tuh, kan…ternyata kamu memang nggak bisa dipercaya”, lebih baik katakan, “oke…ummi ngerti kalau hari ini kamu salah. Sekarang kita cari penyelesaiannya sama-sama, dan ummi harap kamu tidak mengulanginya lagi.”

Anak-anak yang mendapatkan kepercayaan dan merasa dipercaya, pada akhirnya akan belajar untuk menjaga kepercayaan tersebut dan mau belajar untuk senantiasa jujur dalam perbuatan dan perkataan.


***


Muslimah.or.id
Penulis: Nisa Sabardin Ummu Alifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Kamis, 24 Oktober 2013

Kantung Berlubang ....



Ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.


Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.


Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.


Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.


Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.


Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.



Copas dari Al-Ustadz Fauzan ST.Lc (Mahasiswa S2 Fak. Syariah Univ. Islam Madinah Mudir Mahad Madinatul Qur'an)

via ustadz Firanda Andirja

Minggu, 20 Oktober 2013

Wahai Ibu Jangan Terlalu Keras Pada Anakmu....



Allah Ta’ala adalah Zat yang Maha Lemah Lembut.
 Allah Ta’ala menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan. 


Karenanya, telah menjadi kemestian bagi seorang muslim untuk senantiasa mengedepankan sikap lemah lembut ini.
 Dalam mendidik anak, hendaknya menghindari cara-cara kekerasan. 
Baik kekerasan bersifat fisik, juga kekerasan dengan menggunakan lisan (verbal).
 Demikian pula dalam urusan lainnya, hendaknya redam cara-cara yang berbau kekerasan.


Kekerasan verbal bisa dimaknai sebagai bentuk kekerasan yang tidak menggunakan tutur kata yang santun, yang bersifat menyakiti dan menzalimi orang lain. Mengumpat, mencaci maki, berdusta, menggunakan kosa kata tak patut dan santun, adalah bagian dari kekerasan bersifat verbal.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan hal ini berdasar hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Kata beliau (artinya):

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir berucaplah yang baik atau (bila tak mampu berkata yang baik) hendaklah diam.”

(HR. Muttafaqun ‘alaihi).


Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah muslimin yang utama itu?” Jawab Rasulullah, “Kaum muslimun yang menjadikan orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”

(HR. Muttafaqun ‘alaihi, hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)


Dalam hadits lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan sosok suami beliau yang tak pernah melakukan kekerasan fisik kepada anggota rumah.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah menggunakan tangannya sedikit pun (melakukan kekerasan fisik) terhadap istri dan pembantunya, kecuali saat jihad di jalan Allah.”

(HR. Muslim)


إن الله رفيق يحب الرفق في الامر كله
“Sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Lemah Lembut, dan Dia menyukai kelemahlembutaN dalam setiap perkara.”

(HR. Muttafaqun ‘alaihi)

Karenanya, sudah sepantasnya bagi setiap muslim meninggalkan kebiasaan melakukan kekerasan. 
Jangan didik anak-anak dan lingkungan kita dengan wajah kekerasan. 
Mulailah dari rumah kita. Wallahu ‘a’lam.



Jikalau anak bertingkah laku yang memancing emosi, bersabarlah dan menahan diri baik lisan maupun tangan. 
Bersikap tegas dan disiplin itu penting dalam rangka mendidik, namun bukanlah berarti dengan kekerasan verbal maupun fisik. 
Selain bisa membekas menjadi luka hati, juga bisa menjadi 'contoh langsung' yang dapat ditiru anak untuk melampiaskan kekesalan dengan amarah pada orang lain yang ia anggap lemah posisinya, seperti adiknya, khodimat (PRT) atau pada anaknya atau istrinya kelak saat ia sudah dewasa.


Jangan sampai menyesal di kemudian hari..

Hanya Allah yang memberi taufiq...

Allahu a'lam

Minggu, 22 September 2013

Musibah itu ......



Musibah itu ....

mengecil jika dirahasiakan; 

membesar jika dikeluhkesahkan; 

terurai jika diadukan pada Allah; 

merumit jika diumbar pada manusia...




Minggu, 15 September 2013

Jika Engkau Dicintai Allah .....



Jika engkau dicintai Allah

maka kebencian manusia kepadamu tidak akan memudhorotkanmu,

akan tetapi jika engkau dibenci oleh Allah

maka kecintaan manusia kepadamu tidak akan memberi manfaat kepadamu


Perbanyak amalan-amalan sunnah agar engkau meraih kecintaan Allah


Dalam hadits qudsi

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

"Senantiasa hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Akupun mencintainya"


source : ust. Firanda Andirja

Ikea Pruta , Food Container


IKEA PRUTA 

1 set berisi 17  units container

Kegunaan :

  • Bisa untuk tempat snack, sayuran, buah daging , ikan , dll.
  • Bisa di tempatkan di dalam Freezer , microwave, mengukus atau dibawa travelling
  • Bisa untuk menghangatkan makanan buah hati di microwave karena BPA Free
Bahan dan Keunggulan :
  • Kode Plastik PP - aman dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya meskipun diletakkan pada suhu 120 derajat celcius 
  • BPA Free Warna  ---> wadah transparan , Tutup Hijau  terbuat dari Polypropylene dengan design dan kualitas IKEA Swedia 
Ikea Pruta bentuk plastiknya tidak seperti 'tuppy" , tidak kedap udara tapi memiliki kelebihan bahan seperti ' tuppy' dengan BPA Free alias anti bakteri sehingga aman untuk digunakan oleh semua anggota keluarga. Selain itu dapat membuat kulkas anda lebih rapi dan sedap dipandang ^_^


Terdiri dari : 

2 unit  size  14x14x6
2 unit size  12x12x14
2 unit  size  23x16x8
2 unit  size  14x14x6
2 unit  size  12x12x4
3 unit  size  12x8x4
4 unit  size   9x9x4


Harga : Rp. 98.000 /set


Pemesanan : 

 Contact Person : ika ummu hanif
 Telp/sms/wa : 0812 75331024 ( simpati) / 0819 31940674 (XL)
 Pin BB  : 25AA5DBB
 


     


Ku akui Bahwa Aku Mencintainya ......



KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA …

Ya, aku memang mencintainya.
Aku mencintainya mengalahkan cinta seseorang kepada kekasihnya.
Bahkan manakah cinta orang-orang yang jatuh cinta dibanding cintaku ini?!


Ya, aku mencintainya.
Bahkan demi Allah, aku merindukannya. 
Aku merasakan sentuhannya yang lembut, menyentuh relung hatiku.
Aku tidak mendengarnya melainkan rinduku seakan terbang ke langit,
lalu hatiku menari-nari dan jiwaku menjadi tentram.


Aku mencintaimu duhai perkataan yang baik

Aku mencintaimu duhai perkataan yang lembut

Aku mencintaimu duhai perkataan yang santun.

Alangkah indahnya ketika seorang anak mencium tangan ibunya seraya berkata,

“Semoga Allah menjagamu ibu”.

Alangkah eloknya ketika seorang ayah senantiasa mendo’akan anaknya,

“Ya Allah ridhoilah mereka, dan bahagiakan mereka di dunia dan akhirat”.

Alangkah bagusnya ketika seorang istri menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman seraya berkata,

“Semoga Allah tidak menjauhkan kami darimu, rumah ini serasa gelap tanpa dirimu”.


Alangkah baiknya ketika istri melepaskan kepergian suami bekerja di pagi hari, ia berkata, “Jangan beri kami makan dari yang haram, kami tidak sanggup memakannya”.


Kalimat dan ungkapan yang indah, bukankah begitu? 
Bukankah kita berharap kalimat dan ungkapan seperti ini dikatakan kepada kita? 
Bukankah setiap kita berangan-angan mengatakan kalimat-kalimat seperti ini kepada orang-orang yang dicintainya? 
Akan tetapi kenapa kita tidak atau jarang mendengarnya?


Penyebabnyanya adalah kebiasaan. 
Barangsiapa yang membiasakan lisannya mengucapkan kata-kata yang lembut berat baginya untuk meninggalkannya, begitu pula sebaliknya.


Orang yang terbiasa memanggil istrinya dengan kata “kekasihku” sulit baginya memanggil istrinya seperti sebagian orang memanggil istrinya, ‘Hei ..hai ..”. atau “Kau ..” dan lain sebagainya.


Barangsiapa yang terbiasa memulai ucapannya kepada anaknya, “Ananda, Anakku, Putriku” tidak seperti sebagian lain yang mengatakan, “Bongak .. jahat ..setan!” maka ia berat mengucapkan selain itu.


Kenapa kita tidak bisa mengucapkan satu ungkapan cinta saja kepada anak-anak kita, ibu kita, dan keluarga kita? Jika adapun kalimat tersebut keluar dengan malu-malu.


Kenapa lisanmu terkunci di dekat istrimu atau dihadapan ayah dan ibumu, sedangkan dihadapan temanmu, kata-katamu begitu mesra?!


Biasakanlah – misalnya- mengucapkan kepada ibumu, “Ibu, do’akan kami. 
Apakah ibu ingin titip sesuatu agar ananda beli sebelum ananda berangkat?”


Biasakanlah mengucapkan kepada anakmu kata-kata (sayangku, anakku) dan apabila ia mengambilkan sesuatu untukmu seperti segelas air katakana kepadanya Jazakallah atau ungkapan terima kasih.


Jika putra atau putrimu meminta sesuatu darimu dan engkau sanggup memberikannya serta itu baik untuknya katakanlah kepada mereka dengan tulus,


“Dengan sepenuh hati, ayah akan bawakan untukmu”.

Cobalah kata-kata dan kalimat yang lembut dan senyuman yang manis, lalu lihatlah hasilnya!

Lihatlah bagaimana Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallama berbicara kepada anak istrinya.

Perhatikanlah kelembutan hatinya, serta keindahan tutur katanya.

Beliaulah sebaik-baik suri teladan.




SOURCE:

tulisan dari abuzubair.net (Ustadz. Abu Zubair Hawaary, Lc)

Selasa, 30 Juli 2013

am i still ......



“Am i still chasing the thing
That are less important
In this last 10 night?
Am i still chasing the thing
That are worldly
In this last 10 night?

Am i still chasing the thing
That are of no importance
In this last 10 night?

Am I still chasing the thing
Something other than
The Forgiveness of My Lord?

Ya Rabb
Make this 10 night be the best of night
In this whole of Ramadhan
Ameen Ya Rabb

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”