Laman

Senin, 12 Maret 2012

Ayah.. Ibu... Sayangilah Aku ...




Wahai ayah ~ ibu, menyayangi dan bersenda gurau dengan anak kecil termasuk bentuk kasih sayang dan kedalaman pemahaman seseorang dalam dien.


Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam adalah sosok pemimpin manusia yang sangat bersikap lemah lembut terhadap anak-anak kecil. Seperti kita ketahui beliau pernah menggendong Hasan di atas pundaknya, Beliau pun mengajak tertawa, membuka mulut dan menciumnya, serta memperlihatkan dia sedang bermain, lari ke sana ke mari. Setelah itu Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam pun menangkapnya. Subhannallah…


Wahai ayah ~ibu, tidakkah kita bercermin dari Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam?

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan:

“Bahwasanya Rasulullah mencium Al-Hasan bin Ali kala itu Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi duduk di sisinya, Al-Aqra’ berkata: “Saya punya sepuluh orang anak namun tidak satu anakpun pernah saya cium!” Rasulullah menoleh kepadanya lalu berkata:

مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ
“Barangsiapa yang tidak menyayangi niscaya tidak akan disayang!”


‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha meriwayatkan:

“Datang seorang arab badui menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia berkata: “Apakah kalian mencium anak-anak? Adapun kami tidak mencium anak-anak! 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya:
“Sanggupkah kamu bila Allah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu!?”

Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam juga bersenda gurau dengan menjulurkan lidah beliau kepada anak-anak. 


Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa ”Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya di depan Hasan bin Ali, lalu ketika Hasan melihat merah lidah beliau, ia segera mendekat kepada beliau” 3


Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam selalu memberi motivasi kepada para orang tua dalam hal menyayangi anak-anak, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Anas, 

”Bahwa suatu ketika ada seorang perempuan datang ke rumah ’Aisyah Radhiyallahu’Anha lalu ’Aisyah memberikan tiga butir kurma kepadanya. Lalu perempuan itu memberikan masing-masing anak sebutir kurma sehingga ia menyisakan sebutir kurma untuk dirinya. Lalu kedua anak itu masing-masing memakan kurmanya sambil memandang kepada ibunya. Kemudian ibunya mengambil kurma itu dan membelah mejadi dua lalu ia berikan kepada masing-masing anak separuhnya. 

Kemudian datanglah Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam, lalu beliau diceritakan ‘Aisyah Radhiyallahu’Anha. Setelah itu beliau bersabda:

”Sungguh apa yang dilakukan perempuan itu membuat kamu terpesona. Semoga Allah mengasihi dia karena kasih sayang dia kepada kedua anaknya yang masih kecil”4



Subhannallah…


Lalu kenapa ada ibu-ibu yang tega menyiksa anak-anak mereka, padahal Allah akan mengasihinya bila ia menyayangi anaknya?.


Bisa jadi dikarenakan mereka tidak mengetahui keutamaan dalam Islam untuk menyayangi anak kecil. Sungguh mereka telah merugi… Allahua’lam… 



[Bintu Nashrun]



1. Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim (2318), Abu Dawud (XIV/129), At-Tirmidzi (1911), Ahmad (II/228, 241, 269, 514), Ibnu Hibban (2236), Al-Baghawi dalam Syarah Sunnah (XIII/34), dari jalur Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih!

2 Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim ((2317), Ibnu Majah (II/390), Ahmad (VI/56-70), Al-Baghawi (XIII/34-35), dari jalur Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

3 Al Silsilah As Shahihah, hal.70

4 HR. Bukhari, di dalam kitab Adabul Mufrad, kitabul Walidat Rahimat I : 89



Referensi:

Bekal-bekal Menuju Pelaminan, ,At-Tibyan Solo
Tumbuh di bawah naungan Illahi, Doa dan Kiat Nabi Shalallahu’alahi wa sallaam mendidik anak Sejak dalam Sulbi Ayah dalam Kandungan Ibu hingga Dewasa, syaikh Jamal Abdul Rahman, Penerbit Media Hidayah

Jumat, 09 Maret 2012

Yang Perlu Dihindari Menjelang Tidur ...





Yang seharusnya dihindari menjelang tidur

Catatan ini di kutip dari buku "Rahasia Tidur Orang-Orang Sholih oleh Abu Hudzaifah".

Beberapa hal yg seharusnya dihindari menjelang tidur adalah :

• Menghindari banyak makan dan minum.
Banyak makan dan minum dimalam hari akan menyebabkan tidur yang lelap, sehingga seseorang akan kehilangan kesempatan emas untuk meraih kemuliaan dan limpahan pahala.

Sufyan Ats-tsauri mengatakan,”Hendaklah kalian tidak terlalu banyak makan, sehingga kalian dapat melaksanakn qiyamul lail.

Sebagian orang-orang sholih mengatakan,”janganlah kamu banyak makan, sehingga menyebabkan banyak minum, lalu banyak tidur dan pada akhirnya kamu tertimpa banyak kerugian.


• Tidak berlebihan dalam menyediakan tempat tidur dengan maksud bersenang-senang dengannya.

Berlebih-lebihan dalam menyediakan tempat tidur dengan maksud bersenang-senang dengannya akan menambah panjangnya waktu tidur.


• Menghindari tidur dengan posisi tengkurap.

Cara tidur seperti ini tidaklah baik bagi kesehatan dan dibenci oleh Rosululloh. Abu Dzar pernah mengatakan,”Nabi pernah melewatiku, sementara aku sedang berbaring tengkurap. Kemudian beliau menndorongku dengan kaki seraya bersabda : “wahai junaidib (julukan Abu Dzar), sesungguhnya ini adalah cara berbaring penduduk neraka”, diriwayatkan oleh Ibnu Majah.


• Menghindari tidur tanpa atap.

Ini adalah salah satu perhatian islam untuk keselamatan pemeluknya dari hal-hal yang membahayakan. Sebab, saat tidur berlangsung maka seseorang tak mengetahui dan menyadari apa yang terjadi disekitarnya.


• jangan berniat menzholimi atau berbuat dosa ketika bangun tidur

Seorang muslim akan senantiasa mengharap akhir kehidupan yang baik. Sehingga waktu tidur yang sering dinamakan kematian kecil ini, seolah-olah mengingatkan dirinya akan berakhir perjalanan hidupnya di dunia ini untuk melanjutkan perjalanan ke kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu, ia tak berharap di akhir perjalanan ini, ia akhiri dengan sesuatu yang malah akan merugikan dirinya. Seyogyanya, menjelang tidur, seseorang tak berniat untuk melakukan perbuatan zholim atau keinginan melakukan kemaksiatan. Hendaklah ia tidur dengan membawa hati yang bersih dari berbagai niat yang buruk.


• Menghindari senda gurau dan perbuatan sia-sia sebelum tidur.

Senda gurau dan perbuatan sia-sia dapat menyebabkan hati menjadi mati dan lalai. Sehingga, pemiliknya tak ada gairah untuk berlomba-lomba dalam ketaatan dan amal sholih. Juga kadang senda gurau dan perbuatan sia-sia adalah amalan yang membuang-buang waktu tanpa guna.

Padahal setiap nafas yang kita hembuskan dan setiap detik yang kita jalani, pasti akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Alloh.

Tak selayaknya seorang muslim yang memahami hakikat tujuan hidup, ia membuang-buang waktu dan kesempatan yang telah dikaruniakan oleh Alloh.

Disisi lain senda gurau dan perbuatan sia-sia menjelang tidur akan menimbulkan kepenatan pada diri seseorang . Sehingga boleh jadi keberkahan malam yang telah disediakan oleh Alloh bagi umat manusia berlalu begitu saja.













source: Kisah2 Islami Penuh Hikmah

Kamis, 08 Maret 2012

Kita Pernah Dilukai Dan Melukai..




Kita pernah “DILUKAI”
dan mungkin pernah “MELUKAI”
tapi karena itu kita BELAJAR
tentang bagaimana cara menghargai, menerima, berkorban dan memperhatikan.


Kita pernah “DIBOHONGI”
dan mungkin pernah “MEMBOHONGI”,
tapi dari itu kita belajar tentang KEJUJURAN.


Andaikan kita tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup ini,
mungkin kita tidak pernah belajar arti diri MEMINTA MAAF dan MEMBERI MAAF.
Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini, tidak akan terulang kembali.
Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan,..
yaitu BELAJAR dari masa lalu untuk hari ESOK yang lebih baik.


Hidup adalah proses,
Hidup adalah belajar.
Tanpa ada batas umur,
Tanpa ada kata tua


JATUH, berdiri lagi
KALAH, mencoba lagi
GAGAL, bangkit lagi,
Hingga saat Allah Ta'alla memanggil:
“Waktu untuk PULANG”







source: Kisah2 Teladan Islami Penuh Hikmah

Selasa, 06 Maret 2012

the better choice ....



Bismillahirrohmanirrohim

Seseorang akan mengalami kesulitan untuk meninggalkan tabiat dan kebiasaan, akan tetapi seseorang yang meninggalkan tabiat dan kebiasaan dengan ikhlas karena Alloh Subhanahu wa Ta'ala, ia tidak akan mengalami kesulitan, melainkan di awal-awalnya saja dan itu sebagai ujian baginya,

Apakah ia bersungguh-sungguh ataukah hanya berdusta  ?

Apabila seorang hamba menyerahkan urusan kepada Robb-nya serta ridho dengan apa yang Alloh Subhanahu wa Ta'ala pilihkan untuk dirinya, Alloh Subhanahu wa Ta'ala pun akan mengirimkan pertolongan-Nya untuk melakukan apa yang Alloh Subhanahu wa Ta'ala pilihkan, berupa kekuatan dan tekad serta kesabaran.

Alloh Subhanahu wa Ta'ala akan palingkan darinya segala yang memalingkannya dari-Nya, di mana hal itu menjadi penghalang pilihan hamba tersebut untuk dirinya. Alloh Subhanahu wa Ta'ala pun akan memperlihatkan kepadanya akibat-akibat baik pilihannya untuk dirinya, yang ia tidak akan mampu mencapainya walaupun sebagian dari apa yang dia lihat pada pilihannya untuk dirinya.

Alloh Subhanahu wa Ta'ala berkata :

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian, dan bisa jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian, Alloh mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS.Al-Baqoroh: 216).

Seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Alloh Ta'ala, niscaya Alloh Ta'ala akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Paling agungnya pengganti adalah kerinduan kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala, rasa cinta, ketentraman jiwa, bahagia dan merasa puas serta cukup kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala.

Paling bodohnya seseorang adalah musafir yang tersesat di akhir perjalanan, padahal ia sudah dekat dengan rumahnya.

Akal yang dikuatkan oleh taufiq akan melihat, bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Shollallohu alaihi wa Sallam adalah kebenaran yang sesuai dengan akal yang sehat dan hikmah.

Akal yang ditaqdirkan tersesat akan memandang bahwa ada pertentangan antara wahyu dan hikmah, antara hikmah dengan syari'at.

Perantara yang paling mendekatkan kepada Alloh Ta'ala adalah,

pertama, menjalankan sunnah dan mengamalkannya, baik lahir maupun batin

kedua, senantiasa merasa butuh kepada Aloh Ta'ala

ketiga, menginginkan keridho'anNya semata baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Tidak akan sampai kepada Alloh Ta'ala, melainkan melalui salah satu dari ketiga jalan tersebut, tidaklah terputus dariNya, kecuali jika terputus dari ketiganya atau salah satunya.

Dasar yang mendasari kebahagiaan seorang hamba ada tiga perkara dan tiap-tiap dasar memiliki lawan, barangsiapa kehilangan dasar tersebut, maka ia akan mendapati lawannya :

pertama, tauhid lawannya syirik

kedua, sunnah lawannya bid'ah

ketiga, taat lawannya maksiat

Ketiga dasar itu memiliki satu lawan utama, yakni kosongnya hati dari rasa cinta dan takut kepada Alloh Azza wa Jalla.

wallohu a'lam bish showab

Allah Selalu Mengawasi



Salah satu bekal yang penting diberikan para orang tua kepada anak-anaknya adalah upaya menumbuhkan rasa optimis pada diri anak dalam menghadapi kehidupan yang sarat dengan problema. Cara terbaik untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengenalkan pada anak akan pertolongan Allah yang diberikan kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Anak perlu dipahamkan bahwa bila Allah telah memberikan pertolongan-Nya, maka permasalahan seberat apapun akan bisa diselesaikan.

Anak, dengan segala keunikan yang ada pada pribadinya, tidak terlepas dari permasalahan, baik berkenaan dengan dirinya, tempat belajarnya, ataupun orang-orang di sekelilingnya. Begitu pun sisi berat ringannya permasalahan yang dihadapi berbeda-beda antara satu anak dengan yang lainnya. Tak jarang dijumpai dalam keseharian anak-anak yang begitu penakut terhadap segala sesuatu yang tak pantas dikhawatirkan. Semua itu terkadang membuat orang tua berkerut dahi, dengan jalan apa kiranya mengatasi hal-hal semacam ini?

Jika demikian, tentu sang anak membutuhkan bekal untuk menghadapi setiap problema yang dihadapinya. Dia membutuhkan bimbingan agar senantiasa merasakan pengawasan Rabb-nya, meminta hanya kepada-Nya, disertai keyakinan yang kokoh terhadap ketetapan dan takdir-Nya.

Ketika itulah selayaknya orang tua melihat kembali, bagaimana Rasulullah r menanamkan optimisme dan kebesaran jiwa pada diri anak, agar menghadapi gelombang kehidupan ini dengan keberanian dan penuh harapan, hingga kelak mereka menjadi sesosok pribadi yang bermanfaat bagi umat ini.

Beliau pesankan kepada putra pamannya, Abdullah bin ‘Abbas :
“Wahai anak(ku), sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat.  Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran.”
(Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dan beliau berkata: hadits hasan shahih).1

Dan dalam riwayat selain At-Tirmidzi: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan lapang, niscaya Dia akan mengenalimu dalam keadaan susah. Ketahuilah, sesungguhnya apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang ditetapkan menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu berrsama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Inilah kalimat yang agung dan mulia dari lisan Rasulullah r, seakan beliau mengatakan: Jagalah batasan-batasan dan syariat Allah I dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, juga dengan mempelajari agama-Nya hingga engkau dapat menunaikan ibadah dan muamalahmu. Jagalah semua itu, niscaya Dia akan menjaga agama, keluarga, harta maupun dirimu, karena Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik atas kebaikannya. Sementara balasan yang paling penting adalah penjagaan-Nya terhadap agamamu serta menyelamatkan dirimu dari kesesatan.

Sebaliknya, seseorang yang menelantarkan agama Allah I, maka Allah I pun akan menelantarkan dirinya dan dia tidak berhak mendapatkan penjagaan dari Allah U, sebagaimana firman-Nya:
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah jadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)

Pesan Rasulullah r ini juga memberikan pelajaran pada seorang anak untuk meminta ataupun memohon pertolongan hanya kepada Allah semata, tidak memintanya kepada makhluk. Karena Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Namun, tidak terlarang untuk meminta pertolongan kepada makhluk pada hal-hal yang mampu dia lakukan. Kalaupun dia harus meminta sesuatu atau mencari pertolongan kepada makhluk, maka sesungguhnya makhluk itu hanyalah sebab dan Allahlah yang menciptakan sebab, hingga kepada-Nyalah harus bersandar.

Demikian pula segala kebaikan yang diberikan dan bahaya yang ditimpakan oleh makhluk, semuanya telah ditetapkan oleh Allah. Namun, bukan berarti seseorang tidak diperkenankan untuk menolak bahaya dari dirinya, karena Allah I berfirman:
“Dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan yang semisal.” (Asy-Syura: 40)

Oleh karena itu, seorang hamba harus menggantungkan harapannya kepada Allah U dan tidak berpaling sedikit pun kepada makhluk, karena makhluk tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk memberi manfaat maupun menimpakan bahaya.

Begitu pun nasihat ini berisi anjuran untuk menunaikan hak Allah di saat lapang, sehat dan berkecukupan, niscaya Allah I akan mengenalinya ketika berada dalam kesusahan, hingga Dia ringankan penderitaannya, menolong dan menghilangkan kesusahannya itu.

Ditemui pula pengajaran pada sang anak bahwa apa pun yang ditetapkan akan menimpa tak akan dapat ditolak. Dan apa pun yang tidak ditetapkan tak akan bisa diraih, karena Allah telah menetapkan semua itu.

Di dalam nasihat ini juga terdapat anjuran agar bersabar untuk memperoleh pertolongan. Kesabaran ini mencakup sabar untuk taat kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat kepada Allah, dan sabar di atas ketetapan Allah yang ‘menyakitkan’ (menurut manusia, red). Inilah kabar gembira bagi orang yang bersabar, karena pertolongan akan mengiringi kesabaran.

 Inilah kabar gembira bahwa kelapangan itu mengiringi kesusahan. Hendaknya pula ketika ditimpa kesulitan, seorang hamba bersandar diri kepada Allah dengan menanti-nantikan kemudahan dari Allah serta membenarkan janji Allah, karena Allah telah mengatakan di dalam Kitab-Nya yang mulia:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6)[Dirangkum dari Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t2]

Di waktu yang lain, Rasulullah r memberikan nasihat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah z:
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing dari keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan merasa lemah. Apabila engkau ditimpa sesuatu, janganlah mengatakan ‘Seandainya aku dulu melakukan begini dan begini’, namun katakanlah ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa pun yang Allah kehendaki pasti Allah lakukan’ karena ucapan ‘seandainya’ itu membuka amalan setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Yang dimaksud dengan kuat dalam ucapan Rasulullah r ini adalah jiwa yang kokoh dan bersemangat terhadap perkara akhirat. Sehingga orang yang seperti ini menjadi orang yang paling pemberani terhadap musuh, paling cepat bertolak ke medan jihad, paling teguh dalam memerintahkan orang lain pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, dan bersabar dalam menempuh semua itu, serta tabah dalam menempuh kesusahan karena mengharap Allah I. Dia pun menjadi orang yang paling senang menunaikan shalat, puasa, dzikir, maupun seluruh ibadah, bersemangat pula untuk menjalankan dan menjaganya. Akan tetapi, baik orang yang kuat maupun orang yang lemah memiliki kebaikan karena mereka sama-sama beriman, juga karena ibadah yang dilakukan oleh orang yang lemah itu.

Dianjurkan pula oleh Rasulullah r untuk bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah I dan menginginkan apa yang ada di sisi-Nya, serta memohon pertolongan kepada-Nya untuk mendapatkan itu semua. Hendaknya seorang hamba tidak merasa lemah dan malas untuk mencari amalan ketaatan dan memohon pertolongan dari-Nya. (Syarh Shahih Muslim)

Inilah yang semestinya tergambar dalam sosok pribadi seorang anak. Tak ada salahnya bila suatu ketika orang tua menuturkan kisah-kisah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang perjalanan hidup orang-orang yang Allah I beri kemuliaan, yang sarat dengan optimisme dan keyakinan kepada Rabb-nya. Karena anak senang dengan cerita dan biasanya berbekas dalam jiwanya. Salah satunya dituturkan oleh Shuhaib bin Sinan z3 dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah r:

Dulu hidup seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Ketika usia tukang sihir itu telah menua, ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya aku ini telah tua, maka utuslah padaku seorang pemuda yang dapat kuajari sihir.” Lalu raja pun mengirim seorang pemuda untuk diajari sihir. Di tengah jalan yang biasa dilalui pemuda itu menuju tukang sihir ada seorang rahib. Pemuda itu singgah duduk dan mendengarkan ucapan sang rahib. Dia pun merasa takjub. Maka demikianlah bila dia mendatangi tukang sihir, dia melewati rahib lalu duduk di hadapannya. Bila tiba di hadapan tukang sihir, tukang sihir itu pun memukulnya. Dia adukan hal itu kepada rahib. Si rahib menjawab, “Kalau engkau khawatir terhadap tukang sihir, katakan padanya ‘Keluargaku menahanku’, dan kalau engkau khawatir terhadap keluargamu, katakan ‘Tukang sihir menahanku’.”

Demikian terus berlangsung sampai suatu saat, muncul seekor binatang besar yang menghalangi jalan manusia. Pemuda itu berkata, “Pada hari ini aku akan mengetahui, apakah tukang sihir yang lebih utama ataukah rahib.” Lalu diambilnya sebuah batu sambil berkata, “Ya Allah, bila ajaran rahib lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir, matikanlah binatang ini, hingga manusia dapat lewat kembali.” Dilemparnya binatang itu hingga akhirnya mati dan orang-orang pun dapat melewati jalan itu lagi.

Kemudian dia datang kepada rahib dan menceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu rahib berkata, “Wahai anakku, sekarang engkau lebih utama daripadaku, engkau telah mencapai kedudukan sebagaimana yang kulihat, dan nanti engkau akan diuji. Jika engkau mendapatkan ujian, jangan sekali-kali menunjuk padaku.”

Pemuda itu pun dapat mengobati orang yang buta sejak lahir, orang yang berpenyakit sopak ataupun segala penyakit. Hal itu didengar oleh seorang pendamping raja yang buta. Dia pun mendatangi pemuda itu dengan membawa banyak hadiah, lalu berkata, “Semua yang di hadapanmu ini menjadi milikmu kalau engkau bisa menyembuhkanku.” Si pemuda menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkanmu.” Pendamping raja itu pun beriman dan Allah pun menyembuhkannya.

Pendamping raja itu kembali duduk di sisi raja sebagaimana biasanya. Sang raja bertanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” “Rabbku,” jawab pendamping raja. “Apakah engkau punya rabb selain aku?” tanya raja lagi. “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah,” jawabnya.

Sang raja pun menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai akhirnya pendamping raja itu menunjukkan si pemuda. Didatangkanlah pemuda itu dan dia mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Mendengar itu, raja segera menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai pemuda itu menunjukkan si rahib.

Didatangkan pula si rahib dan dikatakan padanya, “Keluar dari agamamu!” Rahib itu menolak. Raja meminta sebilah gergaji, lalu digergajilah tepat di tengah-tengah kepala rahib hingga terbelah dua badannya. Kemudian didatangkan pendamping raja dan dikatakan pula, “Keluar dari agamamu!” Akan tetapi dia menolak hingga digergaji tepat di tengah kepalanya sampai terbelah dua badannya.

Setelah itu didatangkan si pemuda dan dikatakan juga padanya, “Keluar dari agamamu!” Dia pun menolak, hingga raja menyerahkannya pada para pengawal, “Bawa dia naik ke gunung. Kalau kalian telah sampai di puncak, tawarkanlah kalau dia mau keluar dari agamanya. Kalau tidak, lemparkan dia!” Mereka membawa pemuda itu naik ke gunung. Pemuda itu berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Tiba-tiba gunung itu bergoncang dahsyat hingga para pengawal itu berjatuhan dari atas gunung. Pulanglah pemuda itu dengan berjalan kaki ke hadapan raja. Raja pun bertanya heran, “Apa yang mereka lakukan?” Jawab pemuda itu, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”

Kemudian raja kembali menyerahkannya pada pengawal, “Bawalah dia dengan perahu hingga ke tengah lautan, lalu tawarkan kalau dia mau keluar dari agamanya. Kalau tidak, lemparkan dia ke lautan.” Mereka pun membawanya ke tengah lautan. Pemuda itu lalu berdoa, “Ya Allah, selamatkan aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Tiba-tiba perahu itu terbalik hingga para pengawal raja tenggelam. Pemuda itu pulang ke hadapan raja dengan berjalan kaki. Raja bertanya lagi, “Apa yang mereka lakukan?” Pemuda itu menjawab, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”
Pemuda itu berkata lagi, “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau laksanakan saranku.” “Apa itu?” tanya raja. “Engkau kumpulkan manusia di sebuah tanah lapang, dan engkau salib aku pada sebatang pohon. Lalu ambil sebuah anak panah dari tempat anak panahku dan letakkan di busur. Kemudian ucapkan ‘Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini’ lalu panahlah. Kalau engkau lakukan ini, engkau akan bisa membunuhku.”

Raja segera mengumpulkan manusia di suatu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada sebatang pohon. Lalu diambilnya anak panah dari tempatnya kemudian diletakkan di busurnya sambil berkata, “Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.” Dilontarkannya anak panah tepat mengenai dahi pemuda itu. Pemuda itu pun meletakkan tangannya di dahinya, di tempat sasaran anak panah, lalu meninggal.
Menyaksikan hal itu, manusia pun berkata, “Kami beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman kepada Rabb pemuda itu!”

Disampaikanlah kepada raja, “Tidakkah engkau melihat apa yang engkau khawatirkan? Demi Allah, sungguh telah terjadi apa yang engkau takutkan. Manusia telah beriman.” Maka raja memerintahkan untuk dibuat parit besar di setiap pintu kota dan dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, “Barangsiapa yang tidak mau keluar dari agamanya, lempar dan bakar dia di dalamnya!” Perintah itu pun segera dilaksanakan.

Suatu ketika, datang seorang wanita membawa anaknya yang masih kecil. Dia merasa bimbang untuk masuk ke dalam api. Tiba-tiba berucaplah sang anak, “Bersabarlah wahai ibu, sesungguhnya engkau di atas kebenaran.”

Inilah di antara banyak kisah yang memberikan gambaran tentang keadaan seorang mukmin yang senantiasa bersandar kepada Allah untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahannya. Semogalah tuturan ini memberikan bekas kebaikan yang tertanam dalam jiwa anak-anak.


Wallahu a’lamu bish shawab.



(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman  Anisah bintu ‘Imran)

1 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/2043 dan Al-Misykat no. 5302.
2 Diambil dari www.binothaimeen.com
3 Diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahihnya no. 3005


source: Asysyariah.com

Senin, 05 Maret 2012

Angan-Angan Mereka Yang Telah Tiada ...



Angan-angan mereka yang telah mati ialah kembali ke dunia meski sejenak untuk menjadi orang shalih. Mereka ingin taat kepada Allah, dan memperbaiki segala kerusakan yang dahulu mereka perbuat. Mereka ingin berdzikir kepada Allah, bertasbih, atau bertahlil walau sekali saja. Namun mereka tidak lagi diijinkan untuk itu. Kematian serta-merta memupuskan segala angan-angan tersebut. Allah ta’ala berfirman mengenai mereka:
“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100)
Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.
Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka..
Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Allah ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.
Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ada dua orang Arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya bertanya kepada beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Hai Muhammad, siapakah lelaki yang terbaik?’ ‘Yang panjang umurnya dan baik amalnya.’ jawab Rasulullah. Kemudian yang satu lagi bertanya, ‘Sesungguhnya ajaran Islam terlampau banyak bagi kami, lalu adakah amalan yang mencakup banyak kebaikan yang dapat kami tekuni?’ ‘Usahakan agar lisanmu selalu basah dengan dzikrullah’, jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)
Tidakkah pembaca tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memuji Allah saat bangun tidur, karena Dia telah menghidupkan kita setelah mati, dan mengijinkan kita untuk kembali mengingat-Nya? Benar, tidur memang identik dengan kematian. Saat tidur, manusia berhenti dari segala aktivitasnya dan acuh akan apa yang terjadi di sekelilingnya. Alangkah miripnya ia dengan orang mati, andai saja Allah tidak mengembalikan ruhnya.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seorang terbangun hendaklah mengucapkan AL HAMDULILLAAHILLADZII ‘AAFAANII FII JASADII WA RADDA ‘ALAYYA RUUHII WA ADZINA LII BIDZIKRIHI. (Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku tubuhku, dan mengembalikan nyawa kepadaku, serta mengizinkanku untuk berdzikir kepadaNya).” (HR. Tirmidzi)
Sekarang kita masih mengenyam nikmatnya hidup, kita masih bisa menambah pahala dan menghapus dosa. Ingatlah bahwa suatu saat Anda akan tutup usia, dan semuanya menjadi angan-angan. Oleh karena itu, marilah kita wujudkan angan-angan itu mulai sekarang!
Ibrahim bin Yazid al-Abdi mengatakan, “Suatu ketika Riyah al Qaisy mendatangiku seraya berkata, ‘Hai Abu Ishaq –julukan Ibrahim-, ayo ikut bersamaku menemui penghuni akhirat dan marilah kita mengikat janji setia di samping mereka.” Lalu aku pun pergi bersamanya ke sebuah pemakaman. Kami duduk di samping salah satu kuburan di sama, kemudian Riyah berkata,
“Hai Abu Ishaq, kira-kira apakah yang diangankan oleh mayit ini jika ia diminta berangan-angan?”
“Demi Allah, ia pasti ingin dikembalikan ke dunia agar bisa taat kepada Allah dan memperbaiki amalnya,” jawabku.
“Nah, kita sekarang berada di dunia. Karenanya, marilah kita taat kepada Allah dan memperbaiki amal kita,” sahut Riyah.
Maka Riyah bangkit meninggalkan kuburan tersebut dan mulai bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ternyata tak lama berselang, ia dipanggil menghadap Allah, semoga Allah merahmatinya.
Saudaraku, jika Anda menziarahi pemakaman, carilah kuburan kosong dan duduklah di sampingnya. Perhatikan liang kubur yang sempit itu, dan bayangkan kalau Anda berada di sana ketika papan-papan kayu menutup tubuh Anda, lalu bongkahan tanah menimbun, kemudian sanak keluarga dan handai taulan pergi satu persatu. Anda terbaring sendirian dalam keheningan dan kegelapannya, tak ada teman di sana, dan tak ada yang Anda lihat selain amal Anda. Kiranya apa yang Anda damba-dambakan di saat menegangkan tersebut??
Bukankan Anda ingin kembali ke dunia supaya beramal shalih? Supaya shalat walau satu rakaat? Atau bertasbih dan berdzikir meski sekali?
Nah, sekaranglah waktunya…!!
Ibrahin At Taimi mengatakan, “Aku membayangkan tatkala diriku dicampakkan ke neraka, Lalu kumakan buah Zaqqum dan kuminum nanah, sedang tubuhku terkait dengan rantai dan belenggu. Saat itu kutanya diriku, “Apa yang kamu dambakan sekarang?” maka jawabnya, “Aku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih,” maka aku berkata, “Engkau sedang berada dalam angan-anganmu sekarang, maka beramallah!” (Lihat Umniyat al Mauta)
Saudaraku, tatkala Anda ziarah kubur atau mengiring jenazah, janganlah menjadi orang yang lalai. Jangan sibukkan diri Anda dengan mengobrol, namun ingatlah angan-angan mereka yang terkubur di sekeliling Anda, merekalah orang-orang yang kini tertawan oleh amal perbuatan mereka.
Jika hawa nafsu mengajak Anda bermaksiat, ingatlah angan-angan mereka yang tiada. Mereka ingin dihidupkan lagi untuk taat kepada Allah, lalu mengapa Anda justru bermaksiat?
Jika Anda merasa lesu untuk beramal, ingatlah angan-angan mereka yang tiada…
Konon ar Rabi’ bin Khutsaim menggali kuburan di halaman rumahnya. Jika dia merasa hatinya mulai keras, ia letakkan belenggu di lehernya lalu berbaring dalam kuburan tersebut selama beberapa waktu, kemudian berteriak, “Ya Rabbi, kembalikan aku ke dunia agar aku beramal shalih!!” sembari mengulang-ulangnya. Setelah itu ia bangun dan berkata kepada dirinya, “Hai Rabi’, kini permintaanmu telah terkabul, maka beramallah sebelum tiba saat engkau meminta namun tak dijawab.” (Lihat Ihya’ Ulumuddin)
Disalin dari buku Andai Si Mati Bisa Bicara karangan Sufyan bin Fuad Baswedan dengan sedikit pengeditan.

Sabtu, 03 Maret 2012

Manfaat Coklat Untuk Kesehatan





Banyak orang telah mengenal camilan yang satu ini terutama bagi wanita, tapi tidak banyak yang tau manfaat cokelat yang ternyata mempunyai berbagai manfaat bagi kesehatan. Bagi penikmat cokelat ada penelitian terbaru nih, bahwa mengkonsumsi cokelat memiliki resiko 37 persen lebih rendah terserang gangguan jantung, dan 29 persen lebih rendah terserang stroke, bila dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi.

Masih ada berbagai manfaat lain dari cokelat, berikut adalah Beberapa Manfaat Cokelat Untuk Kesehatan :


1.  Manfaat Cokelat dapat membantu dalam matematika.
cokelat mempunyai senyawa yang disebut flavonol yang dapat meningkatkan sirkulasi darah ke otak. Sebuah studi 2009 menunjukkan bahwa peserta yang mengkonsumsi cokelat dengan kandungan flavonol menghitung mundur tiga kali lebih cepat daripada mereka yang tidak mengkonsumsi cokelat.


2. Manfaat Cokelat dapat mengurangi nafsu makan.
Para peneliti dari Denmark menemukan bahwa mereka yang mengkonsumsi cokelat hitam sebelum makan akan memperoleh kalori 15 persen lebih sedikit. Selain itu mereka tidak tergoda untuk mengkonsumsi makanan berlemak dibanding dengan mereka yang tidak makan cokelat, maka cokelat sangat membantu bagi mereka yang sedang program diet.


3. Manfaat Cokelat dapat meningkatkan mood.
Cokelat mengandung phenethylamine, yang memicu pelepasan endorfin. Efeknya mirip ketika kita tengah jatuh cinta. Bahkan para penelii di Inggris mengatakan bahwa jika pasangan yang mengkonsumsi cokelat akan lebih mendapatkan kenikmatan saat berciuman dibanding yang tidak mengkonsumsi cokelat.


4. Manfaat Cokelat dapat mengusir kejenuhan/stres
banyak orang yang mengalami stress setiap harinya dan hal pertama yang mereka pikirkan adalah cokelat. Penelitian menunjukkan bahwa cokelat mengandung senyawa anandamide, yang mengaktifkan reseptor otak dengan cara kerja yang sama seperti ketika tengah menikmati ganja. Jadi dengan memakan sepotong cokelat dapat menghilangkan stress seseorang dan dapat mengubah mood.


5. Manfaat Cokelat dapat memperpanjang harapan hidup.
Sebuah penelitian yang dilakukan para ahli dari British Medical Journal menemukan bahwa bagi mereka yang mengkonsumsi cokelat dan permen minimal satu kali dalam sebulan dapat memperpanjang usia hingga satu tahun.  







(source:liputan6.com)

Mengenal Manfaat Buah Sirsak



Sirsak buah yang mempunyai nama latin Annona Muricata, juga di kenal dengan nama nangka sabrang, nangka londo, nangka buris, dan di Bali dikenal dengan nama srikaya Jawa. Di Luar Negeri dikenal dengan nama Soursop. Selain lezat, sirsak juga kaya kandungan obat.

Manfaat dari buah sirsak ini memberikan effek anti tumor/kanker yang sangat kuat,dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker. Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri, anti jamur(fungi), efektif melawan berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali sistim syaraf yang kurang baik.

Buahnya terasa manis keasaman itu memberikan sensasi tersendiri bagi para penikmatnya. Bagi yang suka sarapan dengan roti, buah sirsak juga sering ditambahkan dalam bentuk selai. Apapun bentuk olahannya, rasanya yang manis tetap melekat kuat pada produk, sehingga mudah untuk dikenali.


Kandungan gizi dari buah sirsak
Selain banyak mengandung air, kandungan zat gizi yang terbanyak dalam sirsak adalah karbohidrat. Salah satu jenis karbohidrat pada buah sirsak adalah gula pereduksi (glukosa dan fruktosa) dengan kadar 81,9 – 93,6 persen dari kandungan gula total.

Buah sirsak mengandung sangat sedikit lemak (0,3 g/100 g), sehingga sangat baik untuk kesehatan. Rasa asam pada sirsak berasal dari asam organik non volatil, terutama asam malat, asam sitrat, dan asam isositrat.

Vitamin yang paling dominan pada buah sirsak adalah vitamin C, yaitu sekitar 20 mg per 100 gram daging buah. Kebutuhan vitamin C per orang per hari (yaitu 60 mg), telah dapat dipenuhi hanya dengan mengkonsumsi 300 gram daging buah sirsak. Kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada sirsak merupakan antioksidan yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan (tetap awet muda).

Mineral yang cukup dominan adalah fosfor dan kalsium, masing-masing sebesar 27 dan 14 mg/100 g. Kedua mineral tersebut penting untuk pembentukan massa tulang, sehingga berguna untuk membentuk tulang yang kuat serta menghambat osteoporosis.

Keunggulan sirsak terletak pada kadar sodium (natrium) yang rendah (14 mg/100 g) tetapi tinggi potasium (kalium), yaitu 278 mg/l00 g. Perbandingan kalium dan natrium yang tinggi sangat menguntungkan dalam rangka pencegahan penyakit hipertensi.

Selain komponen gizi, buah sirsak juga sangat kaya akan komponen non gizi. Salah satu diantaranya adalah mengandung banyak serat pangan (dietary fiber), yaitu mencapai 3,3 g/ 100 g daging buah.

Konsumsi 100 g daging buah dapat memenuhi 13 persen kebutuhan serat pangan sehari. Buah sirsak merupakan buah yang kaya akan senyawa fitokimia, sehingga dapat dipastikan bahwa buah tersebut sangat banyak manfaatnya bagi kesehatan.

Senyawa fitokimia tersebut dipastikan memiliki khasiat bagi kesehatan, walaupun belum semuanya terbukti secara ilmiah. Berbagai manfaat sirsak untuk terapi antara lain pengobatan batu empedu, antisembelit, asam urat, dan meningkatkan selera makan. Selain itu, kandungan seratnya juga berfungsi untuk memperlancar pencernaan, terutama untuk pengobatan sembelit (susah buang air besar).

Sari buah (jus) sirsak di dalam sistem pencernaan akan meningkatkan selera makan. Kegunaan lain dari sari buah ini adalah untuk pengobatan pinggang pegal dan nyeri, penyakit wasir (ambeien), batu empedu, dan lain-lain.


Manfaat daun sirsak / Khasiat daun sirsak

Sirsak mempunyai manfaat yang besar dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit kanker. Untuk pencegahan, disarankan makan atau minum jus buah sirsak.
1. Dapat mengobati Penyakit Kanker
10 lembar daun sirsak yg tua direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas, minum 2 kali per hari selama 2 minggu. Daun sirsak ini katanya sifatnya seperti kemoterapi, bahkan lebih hebat lagi karena daun sirsak hanya membunuh sel sel yang tumbuh abnormal dan membiarkan sel sel yang tumbuh normal.

2. Berguna untuk Sakit Pinggang
20 lembar daun sirsak, direbus dengan 5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal3 gelas, diminum 1 kali sehari 3/4 gelas.

3. Mengobati Bayi Mencret
Buah-sirsak yang sudah masak. Buah sirsak diperas dan disaring untuk diambil airnya, diminumkan pada bayi yang mencret sebanyak 2-3 sendok makan.

4.  Mengobati Penyakit Ambeien atau Wasir
Buah sirsak yang sudah masak. Peras untuk diambil airnya sebanyak 1 gelas, diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.

5.  Mengobati Bisul
Daun sirsak yang masih muda secukupnya, tempelkan di tempat yang terkena bisul.

6.  Anyang-anyangen
Sirsak setengah masak dan gula pasir secukupnya. Sirsak dikupas dan direbus dengan gula bersama-sama dengan air sebanyak 2 gelas, disaring dan diminum.

7.  Sakit Kandung Air Seni.
Buah sirsak setengah masak, gula dan garam secukupnya. Semua bahan tersebut dimasak dibuat kolak. Dimakan biasa, dan dilakukan secara rutin setiap hari selama 1 minggu berturut-turut.

8.  Mengobati Penyakit Liver
Puasa makanan lain, hanya minum juice sirsak selama 1 minggu.

9.  Eksim dan Rematik
Tumbuk daun sirsak sampai halus dan tempelkan di bagian yang sakit.


Manfaat buah sirsak / Khasiat buah sirsak
  1. Menyerang sel kanker dengan aman dan efektif secara alami, tanpa rasa mual, berat badan turun, rambut rontok, seperti yang terjadi pada terapi kemo.
  2. Melindungi sistim kekebalan tubuh dan mencegah dari infeksi yang mematikan.
  3. Energi meningkat dan penampilan fisik membaik.
  4. Secara efektif memilih target dan membunuh sel jahat dari 12 tipe kanker yang berbeda, di antaranya kanker usus besar, payudara, prostat, paru-paru, dan pankreas.
  5. Daya kerjanya 10.000 kali lebih kuat dalam memperlambat pertumbuhan sel kanker dibandingkan dengan adriamycin dan terapi kemo yang biasa digunakan.
  6. Tidak seperti terapi kemo, sari buah ini secara selektif hanya memburu dan membunuh sel-sel jahat dan tidak membahayakan atau membunuh sel-sel sehat.
Sumber :
http://www.ibujempol.com/manfaat-buah-sirsak-sirsat-sebagai-obat-kanker-dll/
http://www.indonesiaherbal.com/forum/index.php?topic=15.0

Jumat, 02 Maret 2012

Bukti Keistimewaan Wanita Dalam Islam



Siapa yang dapat memungkiri bahwa islam memanglah rahmat bagi semesta alam. Islam adalah juga satu- satunya agama yang menentramkan lahir dan batin manusia. Barang siapa yang mengikutinya, maka kemuliaan akan melingkupinya. Barang siapa menyelaminya, maka kedamaian yang akan selalu menyertainya.

Islam, menyematkan kemuliaan dalam diri seorang wanita. Sang pesona dunia ini, diajarkan Oleh Allah Subhanahu Wata’ala  untuk tetap menjadi indah dan yang terindahkan. Namun sayang, banyak manusia yang lemah iman dan lemah ilmu yang justru tidak bisa menikmati dan menyadari keindahan itu dalam hati mereka. Dan begitulah, Allah telah menutup hati, dan indrawi mereka, dalam begitu kencangnya fitnah yang tujuan akhirnya sangat jelas, yaitu melucuti keindahan wanita itu sendiri, dengan cara merendahkan mereka layaknya hewan, atau bahkan lebih rendah dari itu. Naudzubillah...

Di dalam islam, wanita di perintahkan oleh Allah untuk menutup Aurat para wanita. Sungguh sesuatu yg mahal harganya akan dijaga bahkan disimpan dan di rawat dengan sangat hati- hati dan di hadiahkan pula tempat  teraman dan terbaik. Apakah pernah kita melihat seseorang membuang intan begitu saja di jalanan?.

Jilbab adalah identitas kemuliaan seorang muslimah, dan sekaligus benteng mereka dari berbagai gangguan orang- orang jahat yang mempunyai niat jahat kepada mereka. Maka maha benarlah Allah dalam firmannya,
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan di dalam Islam, seorang wanita jika dihadapkan kepada suaminya, memanglah ketaatan yang harus dilakukannya. Namun, seorang laki- laki wajib pula taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari sang ayah?. Maka perhatikan baik- baik wasiat rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam, berikut ini...

"Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’
(HR. Bukhari Muslim)

Diantara banyak fitnah yang di hembuskan oleh para musuh- musuh islam, adalah hal yang menyangkut poligami. Mereka mengatas namakan penderitaan wanita yang di dramatisir sedemikian rupa, agar terlihat lebih simpatik. Bahkan sebenarnya betapa kasihan mereka tentang hal ini. Tingkah polah mereka semakin membuktikan kekurangan akal pada diri mereka. Apakah sudah sampai pada mereka bahwa bila seorang lelaki khawatir tidak dapat berlaku adil dalam berpoligami, maka dituntunkan kepadanya untuk hanya menikahi satu wanita.

 Dan ini termasuk pemuliaan pada wanita di mana pemenuhan haknya dan keadilan suami terhadapnya diperhatikan oleh Islam, seperti Allah firmankan di dalam Al Quran,
Namun bila kalian khawatir tidak dapat berbuat adil maka nikahilah satu wanita saja.” (QS. An Nisa: 3)
Begitu di muliakannya wanita dalam islam, bahkan para suami, yaitu manusia yang paling berhak atas istri- istri mereka, tetap diperintahkan oleh Allah untuk tidak boleh berbuat sewenang- wenang kepada istri mereka.
“Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa`: 19)

Hal tersebut tetap berlaku walaupun sang suami dalam keadaan tidak menyukai istrinya. Seperti firman Allah berikut ini
Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa`: 19)

Dan Memanglah,  kasih sayang islam begitu sangat melingkupi kaum yang memang diciptakan Allah lebih lemah dari pada laki- laki ini. Maka dari itu, ketika wanita menerima warisan, memanglah wanita mendapat jatah kurang dari laki- laki. Bukan karena tidak adanya keadilan Allah disana, tapi sungguh harta yang jumlahnya kurang dari para laki- laki itu hanya menjadi milik pribadinya dan para wanita tidak perlu menyerahkannya suaminya. Sedangkan saat para lelaki atau suami menerima warisan, maka sudah menjadi kewajiban laki- laki itu untuk menggunakan hartanya demi kebutuhan seluruh keluarga, anak- anak dan istrinya.

Dalam lemahnya fisik dan kurangnya Akal karena lebih di dominasi perasaanya, wanita memang haruslah tetap melalui sebuah fase perjuangan terbesar yang membuatnya harus bersusah payah. Ya, selama mereka mengandung dan melahirkan anak, adalah perjuangan yang begitu sangat menguras waktu emosi, pikiran, tenaga dll.  Tetapi Kasih sayang Allah memang tiada batas. Ketika para wanita hamil, setiap saat mereka akan didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk Allah di mukabumi ini, dan ketika kematian ternyata datang atas mereka saat melahirkan, maka syahid akan Insyaallah akan di raihnya.

Dari Jâbir ibn ‘Atîk, Rasulullah saw. bersabda: "Mati syahîd ada tujuh, selain mati terbunuh dalam perang fîsabilillah, yaitu: (1) mati karena penyakit thâ‘ûn (semacam penyakit kelenjar), (2) mati karena tenggelam ,(3) mati karena penyakit lambung ,(4) mati karena sakit perut, (5) mati karena terbakar, (6) mati karena tertimpa reruntuhan, dan (7) perempuan yang mati karena hamil/melahirkan."

Pahala mati syahîd layak diberikan kepada ibu hamil/melahirkan dan meninggal, karena proses melahirkan adalah proses mengadu nyawa dan sama dengan perang membela agama Allah. Selain itu, kaum wanita berperan besar dalam pengembangbiakan keturunan. Dengan bersedianya seorang wanita untuk hamil, berarti ia telah mengemban amanat dan mewujudkan proses penyempurnaan sifat kefeminimannya.

Tidak itu saja, keistimewaan seorang wanita adalah ketika mereka diperbolehkan untuk memasuki pintu Syurga melalui mana pintu manapun yang disukainya. Dan untuk semua itu, para wanita cukuplah melalui 4 syarat saja : Sholat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya.
"Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki."
(Riwayat Ahmad dan Thabrani)

Maka sudah selayaknya, para pemilik mulut lancang yang tanpa ilmu mendengungkan topeng “kemerdekaan” bagi kaum wanita itu, menginsyafkan perbuatan mereka karena telah habis- habisan menyalakan propaganda untuk membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, sehingga wanita banyak yang terjerumus sebagai korban dari rencana mereka, dan kemudian membenci aturan islam.  Mereka yang tiada segan menfitnah agama mulia ini dengan dalih memerdekakan muslimah dari belenggu. Entah belenggu semacam apa yang mereka maksud, namun satu yang pasti bahwa kedengkian mereka atas islam, adalah sudah menjadi sebuah kepastian.

Sungguh, bahkan cara Islam memuliakan wanita itu lebih dari sekedar benar- benar tampak bagi logika waras manusia. Lalu satu pertanyaan pun akhirnya muncul bagi kita para wanita, “maka nikmat Rabb kamu manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman: 13).



(Syahidah/voa-islam.com)

Karierku... Keluargaku .....



Ketika wanita bekerja, banyak yang akhirnya mengeluhkan keterbatasan pikiran dan fisik mereka dalam mengurus rumah tangga, dan atau sebaliknya. Tidak hanya sampai disana saja, sering kali efek akhirnya adalah permohonan kemakluman mereka atas keterbatas mereka tentang semua itu.

Memanglah, dari kebanyakan pendapat para wanita, jika mereka bekerja tujuannya adalah hanya untuk kebahagiaan anak- anak dan membantu suami, serta teralisasinya pengaktualisasian diri dan ilmu kita kepada masyarakat. Namun apa jadinya jika dengan semua itu, justru ada yang satu terbengkalai dan yang lain lebih di optimalkan?

Karir dan keluarga seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk seorang wanita, karena keluarga yang bahagia adalah karir terbaik seorang wanita di dunia dan di akherat. Kalau definisi karir hanya terbatas pada kesuksesan pekerjaan kita di luar rumah, maka untuk apa kita dipanggil sebagai ibu?

...Menjadi seorang ibu yang menjadikan keluarganya bahagia adalah karir terbaik bagi seorang wanita...
Berbahagialah ketika kita tercipta sebagai wanita, yaitu yang menjadi pemulia kehidupan suami dan anak- anak kita. Maka sayang sekali jika semua itu hanya terbatasi kemuliaannya, pada hanya sekedar terhenti dalam nilai uang, dan gengsi atas sebuah jabatan.

Lalu bagaimana jika seorang wanita yang pendidikannya tinggi, tapi lebih memfokuskan dirinya untuk menjadi seorang ibu? Subhanallah, bahkan seorang anak dan para suami akan lebih bangga jika mereka memiliki ibu dan istri yang bergelar pengusaha sukses, tapi masih sempat menyuapi anaknya makan, seorang pengusaha sukses yang lebih memfokuskan diri sebagai seorang ibu. Sudah barang tentu hal ini sangat lebih baik dari pada menjadi seorang pengusaha yang hebat, tapi tidak sempat melihat apa yang disuapkan ke mulut anaknya, karena mungkin menyuapi makan sambil sibuk menerima telepon dan ngobrol dengan partner bisnisnya.

Benar- benar, karir kita yang pertama adalah tentang keluarga. Karena tidak ada keberhasilan tanpa berhasilnya keluarga untuk menjadi bahagia dan damai atas kehadiran kita sebagai seorang ibu dan istri ditengah- tengah mereka.

Ingatlah, bahwa seorang wanita itu adalah seharusnya menjadi pemandangan terindah bagi suaminya, apalagi jika dia dia bersanding dan kemudian mampu mengindahkan dan menjadi penutup kekurangan suaminya. Bukan berarti dengan ini semua beban jadi tertumpu pada diri wanita, tetapi menjadikan wanita itu lebih kuat dari berbagai kelemahan yang melekat pada dirinya. 

Sebuah Alat, akan berfungsi dengan baik, jika digunakan dengan tepat oleh penggunanya. Seperti halnya sebuah pekerjaan, dimana dia akan memuliakan, jika kita tahu bagaimana cara tepat memperlakukannya.

Biarkan para suami berpikir, bahwa kita juga adalah hadiah bagi mereka, karena kemantaban hati kita dalam mengurus rumah tangga, dan kecerdasan kita dalam bekerja, yang tidak lain pada akhirnya adalah untuk memuliakan hidup mereka. Dan dengan semua itu, tanpa harus menanyai dan mereka- reka apakah mereka masih akan menyayangi kita, maka para suami justru akan lebih tahu cara terbaik untuk memuliakan kita.




(Syahidah/voa-islam.com)