Laman

Sabtu, 14 April 2012

Nikah Beda Agama



Seringkali kita lihat di tengah masyarakat apalagi di kalangan orang berkecukupan dan kalangan selebriti terjadi pernikahan beda agama, entah si pria yang muslim menikah dengan wanita non muslim (nashrani, yahudi, atau agama lainnya) atau barangkali si wanita yang muslim menikah dengan pria non muslim. Namun kadang kita hanya mengikuti pemahaman sebagian orang yang sangat mengagungkan perbedaan agama (pemahaman liberal). Tak sedikit yang terpengaruh dengan pemahaman liberal semacam itu, yang mengagungkan kebebasan, yang pemahamannya benar-benar jauh dari Islam. Paham liberal menganut keyakinan perbedaan agama dalam pernikahan tidaklah jadi masalah.

Namun bagaimana sebenarnya menurut pandangan Islam yang benar mengenai status pernikahan beda agama? Terutama yang nanti akan kami tinjau adalah pernikahan antara wanita muslimah dengan pria non muslim. Karena ini sebenarnya yang jadi masalah besar. Semoga bahasan singkat ini bermanfaat.


Pernikahan Wanita Muslimah dan Pria Non Muslim
Tentang status pernikahan wanita muslimah dan pria non muslim disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS. Al Mumtahanah: 10)

Pendalilan dari ayat ini dapat kita lihat pada dua bagian. Bagian pertama pada ayat,

فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ

“Janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada suami mereka yang kafir”

Bagian kedua pada ayat,

لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ

“Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu”
Dari dua sisi ini, sangat jelas bahwa tidak boleh wanita muslim menikah dengan pria non muslim (agama apa pun itu).[1]

Ayat ini sungguh meruntuhkan argumen orang-orang liberal yang menghalalkan pernikahan semacam itu. Firman Allah tentu saja kita mesti junjung tinggi daripada mengikuti pemahaman mereka (kaum liberal) yang dangkal dan jauh dari pemahaman Islam yang benar.


Penjelasan Ulama Islam Tentang Pernikahan Wanita Muslimah dengan Pria Non Muslim

Para ulama telah menjelaskan tidak bolehnya wanita muslimah menikah dengan pria non muslim berdasarkan pemahaman ayat di atas (surat Al Mumtahanah ayat 10), bahkan hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama.

Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Para ulama kaum muslimin telah sepakat tidak bolehnya pria musyrik (non muslim) menikahi (menyetubuhi) wanita muslimah apa pun alasannya. Karena hal ini sama saja merendahkan martabat Islam.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat ini (surat Al Mumtahanah ayat 10) menunjukkan haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki musyrik (non muslim)”.[3]

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Ayat ini (surat Al Mumtahanah ayat 10) merupakan dalil bahwa wanita muslimah tidaklah halal bagi orang kafir (non muslim). Keislaman wanita tersebut mengharuskan ia untuk berpisah dari suaminya dan tidak hanya berpindah tempat (hijrah)”.[4]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatkan, “Sebagaimana wanita muslimah tidak halal bagi laki-laki kafir, begitu pula wanita kafir tidak halal bagi laki-laki muslim untuk menahannya dalam kekafirannya, kecuali diizinkan wanita ahli kitab (dinikahkan dengan pria muslim).”[5]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Orang kafir (non muslim) tidaklah halal menikahi wanita muslimah. Hal ini berdasarkan nash (dalil tegas) dan ijma’ (kesepakatan ulama). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” Wanita muslimah sama sekali tidak halal bagi orang kafir (non muslim) sebagaimana disebutkan sebelumnya, meskipun kafirnya adalah kafir tulen (bukan orang yang murtad dari Islam). Oleh karena itu, jika ada wanita muslimah menikah dengan pria non muslim, makanikahnya batil (tidak sah).[6]

Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim hafizhohullah dalam Kitab Adhwaul Bayan (yang di mana beliau menyempurnakan tulisan gurunya , Syaikh Asy Syinqithi), memberi alasan kenapa wanita muslimah tidak dibolehkan menikahi pria non muslim, namun dibolehkan jika pria muslim menikahi wanita ahli kitab. Di antara alasan yang beliau kemukakan: Islam itu tinggi dan tidak mungkin ditundukkan agama yang lain. Sedangkan keluarga tentu saja dipimpin oleh laki-laki. Sehingga suami pun bisa memberi pengaruh agama kepada si istri. Begitu pula anak-anak kelak harus mengikuti ayahnya dalam hal agama.[7] 
Dengan alasan inilah wanita muslimah tidak boleh menikah dengan pria non muslim.



Semoga dengan tulisan dengan sederhana bisa menyadarkan para remaja sekalian. Wallahu waliyyut taufiq.



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

Adab Bergaul Dengan Lawan Jenis



Dilahirkan sebagai seorang wanita adalah anugerah yang sangat indah dari Allah Ta’ala. Sebuah anugerah yang tidak dimiliki oleh seorang pria.Terlebih anugerah itu bertambah menjadi muslimah yang mukminah yaitu wanita muslimah yang beriman kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

Menjadi wanita muslimah yang beriman kepada Allah tentu tidak mudah,karena banyak sekali godaan-godan dalam mencapainya. Dikarenakan balasan yang Allah janjikan pun tidak terbandingkan dan semua wanita pun menginginkannya. Godaan-godaan untuk menjadi wanita shalihah sering kali datang dan menggebu-gebu saat kita menginjak usia remaja,di mana masa puberitas seorang wanita ada di masa ini. Bukan hal yang mudah pula bagi remaja muslim dalam melewati masa ini, namun sungguh sangat indah bagi para remaja yang bisa dikatakan lulus dalam melewati masa pubertas yang penuh godaan ini.

Salah satu godaan yang amat besar pada usia remaja adalah “rasa ketertarikan terhadap lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia, baik wanita atau lelaki. Namun kalau kita tidak bisa memenej perasaan tersebut,maka akan menjadi mala petaka yang amat besar,baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang yang kita sukai. Sudah Allah tunjukkan dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

”Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)

Sebagai wanita muslimah kita harus yakin bahwa kehormatan kita harus dijaga dan dirawat, terlebih ketika berkomunikasi atau bergaul dengan lawan jenis agar tidak ada mudhorot (bahaya) atau bahkan fitnah. Di bawah ini akan kami ungkapkan adab-adab bergaul dengan lawan jenis. Di antaranya:

Pertama: Dilarang untuk berkholwat (berdua-duan)

TTM, teman tapi mesra, kemana-mana bareng, ke kantin bareng, berangkat sekolah bareng, pulang sekolah bareng. Hal ini merupakan gambaran remaja umumnya saat ini,di mana batas-batas pergaulan di sekolah umum sudah sangat tidak wajar dan melanggar prinsip Islam. Namun tidak mengapa kita sekolah di sekolah umum jika tetap bisa menjaga adb-adab bergaul dengan lawan jenis. Jika ada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan maka yang ketiga sebagai pendampingnya adalah setan.

Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin." (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih)

Daripada setan yang menemani kita lebih baik malaikat bukan? Ngaji,membaca Al Quran dan memahami artinya serta menuntut ilmu agama InsyaAllah malaikatlah yang akan mendampingi kita.Tentu sebagai wanita yang cerdas, kita akan lebih memilih untuk didampingi oleh malaikat.

Kedua: Menundukkan pandangan

Pandangan laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya adalah termasuk panah-panah setan. Kalau cuma sekilas saja atau spontanitas atau tidak sengaja maka tidak menjadi masalah pandangan mata tersebut, pandangan pertama yang tidak sengaja diperbolehkan namun selanjutnya adalah haram.Ketika melihat lawan jenis,maka cepatlah kita tundukkan pandangan itu, sebelum iblis memasuki atau mempengaruhi pikiran dan hati kita. Segera mohon pertolongan kepada Allah agar kita tidak mengulangi pandangan itu.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

"Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku." (HR. Muslim)

Ketiga: Jaga aurat terhadap lawan jenis

Jagalah aurat kita dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Maksudnya mahram di sini adalah laki-laki yang haram untuk menikahi kita. Yang tidak termasuk mahram seperti teman sekolah, teman bermain, teman pena bahkan teman dekat pun kalau dia bukan mahram kita, maka kita wajib menutup aurat kita dengan sempurna. Maksud sempurna di sini yaitu kita menggunakan jilbab yang menjulur ke seluruh tubuh kita dan menutupi dada. Kain yang dimaksud pun adalah kain yang disyariatkan, misal kainnya tidak boleh tipis, tidak boleh sempit, dan tidak membentuk lekuk tubuh kita. Adapun yang bukan termasuk aurat dari seorang wanita adalah kedua telapak tangan dan muka atau wajah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

"Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki." (HR. Tirmidzi, shahih)

Keempat: Tidak boleh ikhtilat (campur baur antara wanita dan pria)

Ikhtilat itu adalah campur baurnya seorang wanita dengan laki-laki di satu tempat tanpa ada hijab. Di mana ketika tidak ada hijab atau kain pembatas masing-masing wanita atau lelaki tersebut bisa melihat lawan jenis dengan sangat mudah dan sesuka hatinya. Tentu kita sebagai wanita muslimah tidak mau dijadikan obyek pandangan oleh banyak laki-laki bukan? Oleh karena itu kita harus menundukkan pandangan,demikian pun yang laki-laki mempunyai kewajiban yang sama untuk menundukkan pandangannya terhadap wanita yang bukan mahramnya, karena ini adalah perintah Allah dalam Al Qur’an dan akan menjadi berdosa bila kita tidak mentaatinya.

Kelima: Menjaga kemaluan

Menjaga kemaluan juga bukan hal yang mudah,karena dewasa ini banyak sekali remaja yamng terjebak ke dalam pergaulan dan seks bebas. Sebagai muslim kita wajib tahu bagaimana caranya menjaga kemaluan. Caranya antara lain dengan tidak melihat gambar-gambar yang senonoh atau membangkitkan nafsu syahwat, tidak terlalu sering membaca atau menonton kisah-kisah percintaan, tidak terlalu sering berbicara atau berkomunikasi dengan lawan jenis, baik bicara langsung (tatap muka) ataupun melalui telepon, SMS, chatting, YM dan media komunikasi lainnya.

Sudah selayaknya sebagai seorang muslim-muslimah baik remaja atau dewasa, kita mempunyai niat yang sungguh-sungguh untuk mematuhi adab-adab bergaul dengan lawan jenis tersebut. Semoga Allah memudahkan usaha kita. Amin.



Penulis: Ummu Zainab (Santri Ma’had Umar)

Muroja'ah: M.A. Tuasikal

Artikel www.remajaislam.com

Kewajiban Mengajarkan Ilmu Agama kepada Keluarga



Kewajiban Mengajarkan Ilmu Agama kepada Keluarga

Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Di antara hak seorang isteri yg harus dipenuhi suaminya adl memberikan pendidikan & pengajaran dalam perkara agama. Dengan memahami & mengamalkan agamanya, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia & di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Artinya : Wahai orang-orang yg beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api Neraka yg bahan bakarnya adl manusia & batu; penjaganya Malaikat-malaikat yg kasar & keras, yg tdk durhaka kpd Allah terhadap apa yg Dia perintahkan kpd mereka & mereka selalu mengerjakan apa yg diperintahkan.” [At-Tahrim : 6]

Menjaga keluarga dari api Neraka mengandung maksud menasihati mereka agar taat, bertaqwa kpd Allah ‘Azza wa Jalla & mentauhidkan-Nya serta menjauhkan syirik, mengajarkan kpd mereka tentang syari’at Islam, & tentang adab-adabnya. Para Shahabat & mufassirin menjelaskan tentang tafsir ayat tersebut sbg berikut:

1. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ajarkanlah agama kpd keluarga kalian, & ajarkan pula adab-adab Islam.”

2. Qatadah rahimahullaah berkata, “Suruh keluarga kalian utk taat kpd Allah! Cegah mereka dari berbuat maksiyat! Hendaknya mereka melaksanakan perintah Allah & bantulah mereka! Apabila kalian melihat mereka berbuat maksiyat, maka cegah & laranglah mereka!”

3. Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullaah berkata: “Ajarkan keluarga kalian utk taat kpd Allah ‘Azza wa Jalla yg (hal itu) dpt menyelamatkan diri mereka dari api Neraka.”

4. Imam asy-Syaukani mengutip perkataan Ibnu Jarir: “Wajib atas kita utk mengajarkan anak-anak kita Dienul Islam (agama Islam), serta mengajarkan kebaikan & adab-adab Islam.” [ Lihat Tafsiir ath-Thabari (XII/156-157) cet. Darul Kutub Ilmiyah, Tafsiir Ibnu Katsir (IV/412-413) cet. Maktabah Darus Salam & Tafsiir Fat-hul Qadiir (V/253) cet. Darul Fikr.]

Untuk itulah, kewajiban seorang suami utk membekali dirinya dgn thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu syar’i) dgn menghadiri majelis-majelis ilmu yg mengajarkan Al-Qur’an & As-Sunnah sesuai dgn pemahaman Salafush Shalih -generasi yg terbaik, yg mendapat jaminan dari Allah-, sehingga dgn bekal tersebut dia mampu mengajarkannya kpd isteri & keluarganya.

Jika ia tdk sanggup utk mengajarkannya, hendaklah seorang suami mengajak isteri & anaknya utk bersama-sama hadir di dalam majelis ilmu yg mengajarkan Islam berdasarkan Al-Qur’an & As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, mendengarkan apa yg disampaikan, memahami & mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hadirnya suami-isteri di majelis ilmu akan menjadikan mereka sekeluarga dpt memahami Islam dgn benar, beribadah dgn ikhlas mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla semata serta senantiasa meneladani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Insya Allah, hal ini akan memberikan manfaat & berkah yg sangat byk karena suami maupun isteri saling memahami hak & kewajibannya sbg hamba Allah.

Dalam kehidupan yg serba materialistis seperti sekarang ini, byk suami yg melalaikan diri & keluarganya. Berdalih mencari nafkah utk menghidupi keluarganya, dia mengabaikan kewajiban yg lainnya. Seolah-olah dia merasa bahwa kewajibannya cukup hanya dgn memberikan nafkah berupa harta, kemudian nafkah batinnya, sedangkan pendidikan agama yg merupakan hal paling pokok justru tdk pernah dipedulikan.

Seringkali sang suami jarang berkumpul dgn keluarganya utk menunaikan ibadah bersama-sama. Sang suami pergi ke kantor pd pagi hari ba’da Shubuh & kembali ke rumahnya larut malam. Pola hidup seperti ini adl pola hidup yg tdk baik. Tidak pernah atau jarang sekali ia membaca Al-Qur’an, kurang sekali memperhatikan isteri & anaknya shalat, & tdk memperhatikan pendidikan agama mereka sehari-hari. Bahkan pendidikan anaknya dia percayakan sepenuhnya kpd pendidikan di sekolah, & bangga dgn sekolah-sekolah yg memungut biaya sangat mahal karena alasan harga diri. Ia merasa bahwa tugasnya sbg orang tua telah ia tunaikan seluruhnya.

Bagaimana kita dpt mewujudkan anak yg shalih, sedangkan kita tahu bahwa salah satu kewajiban yg mulia seorang kepala rumah tangga adl mendidik keluarganya. Sementara tdk bisa kita pungkiri juga bahwa pengaruh negatif dari lingkungan yg cukup kuat berupa media cetak & elektronik seperti koran, majalah, tabloid, televisi, radio, VCD, serta peralatan hiburan lainnya sangat mudah mencemari pikiran & perilaku sang anak. Bahkan media ini bisa menjadi orang tua ketiga, maka kita harus mewaspadai media-media yg ada & alat-alat permainan yg sangat berpengaruh buruk terhadap perilaku anak-anak kita.

Oleh karena itu, kewajiban seorang suami harus memperhatikan pendidikan isteri & anaknya, baik tentang Tauhid, shalat, bacaan Al-Qur’annya, pakaiannya, pergaulannya, serta bentuk-bentuk ibadah & akhlak yg lainnya. Karena Islam telah mengajarkan semua sisi kehidupan, kewajiban kita utk mempelajari & mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula kewajiban seorang isteri adl membantu suaminya mendidik anak-anak di rumah dgn baik. Seorang isteri diperintahkan utk tetap tinggal di rumah mengurus rumah & anak-anak, serta menjauhkan diri & keluarga dari hal-hal yg bertentangan dgn syari’at Islam.

Kamis, 12 April 2012

Pentingnya Ilmu Sebelum Berkata Dan Beramal



Mu'adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, "Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil Mungkar, hal. 15)



Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, "Al'Ilmu Qoblal Qouli Wal 'Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)". Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta'ala,


فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ


"Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu" (QS. Muhammad [47]: 19).



Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.


Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)


Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)


Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1/108)


Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal



----------------------------------------------------

Nasehat Salafush Shalih untuk Kaum Muslimin




Berikut ini beberapa atsar yang berisi nasehat dan keterangan akan pentingnya ilmu dan mempelajarinya.



Pertama: Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia.” (Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardiy, hal.48)


Kedua: Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau apabila melihat para pemuda giat mencari ilmu, beliau berkata: “Selamat datang wahai sumber-sumber hikmah dan para penerang kegelapan. Walaupun kalian telah usang pakaiannya akan tetapi hati-hati kalian tetap baru. Kalian tinggal di rumah-rumah (untuk mempelajari ilmu), kalian adalah kebanggaan setiap kabilah.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr, 1/52)

Yakni bahwasanya sifat mereka secara umum adalah sibuk dengan mencari ilmu dan tinggal di rumah dalam rangka untuk mudzaakarah (mengulang pelajaran yang telah didapatkan) dan mempelajarinya. Semuanya ini menyibukkan mereka dari memperhatikan berbagai macam pakaian dan kemewahan dunia secara umum demikian juga hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang kurang manfaatnya dan hanya membuang waktu belaka seperti berputar-putar di jalan-jalan (mengadakan perjalanan yang kurang bermanfaat atau sekedar jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas) sebagaimana yang biasa dilakukan oleh selain mereka dari kalangan para pemuda.



Ketiga: Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pelajarilah oleh kalian ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah khasy-yah; mencarinya adalah ibadah; mempelajarinya dan mengulangnya adalah tasbiih; membahasnya adalah jihad; mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah; memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan diri kepada Allah; karena ilmu itu menjelaskan perkara yang halal dan yang haram; menara jalan-jalannya ahlul jannah, dan ilmu itu sebagai penenang di saat was-was dan bimbang; yang menemani di saat berada di tempat yang asing; dan yang akan mengajak bicara di saat sendirian; sebagai dalil yang akan menunjuki kita di saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah dengan sabar; senjata untuk melawan musuh; dan yang akan menghiasainya di tengah-tengah sahabat-sahabatnya.

Dengan ilmu tersebut Allah akan mengangkat kaum-kaum lalu menjadikan mereka berada dalam kebaikan, sehingga mereka menjadi panutan dan para imam; jejak-jejak mereka akan diikuti; perbuatan-perbuatan mereka akan dicontoh serta semua pendapat akan kembali kepada pendapat mereka. Para malaikat merasa senang berada di perkumpulan mereka; dan akan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya; setiap makhluk yang basah dan yang kering akan memintakan ampun untuk mereka, demikian juga ikan yang di laut sampai ikan yang terkecilnya, dan binatang buas yang di daratan dan binatang ternaknya (semuanya memintakan ampun kepada Allah untuk mereka). Karena sesungguhnya ilmu adalah yang akan menghidupkan hati dari kebodohan dan yang akan menerangi pandangan dari berbagai kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba akan mencapai kedudukan-kedudukan yang terbaik dan derajat-derajat yang tinggi baik di dunia maupun di akhirat.

Memikirkan ilmu menyamai puasa; mempelajarinya menyamai shalat malam; dengan ilmu akan tersambunglah tali shilaturrahmi, dan akan diketahui perkara yang halal sehingga terhindar dari perkara yang haram. Ilmu adalah pemimpinnya amal sedangkan amal itu adalah pengikutnya, ilmu itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang berbahagia; sedangkan orang-orang yang celaka akan terhalang darinya.” (Ibid. 1/55)



Keempat: Dari ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:“Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan dia mempunyai dosa-dosa seperti gunung Tihamah, akan tetapi apabila dia mendengar ilmu (yaitu mempelajari ilmu dengan menghadiri majelis ilmu), kemudian dia menjadi takut, kembali kepada Rabbnya dan bertaubat, maka dia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak mempunyai dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkan majelisnya para ulama.” (Miftaah Daaris Sa’aadah, karya Al-Imam Ibnul Qayyim, 1/77)

Dan beliau juga berkata: “Wahai manusia, wajib atas kalian untuk berilmu (mempelajari dan mengamalkannya), karena sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai selendang yang Dia cintai. Maka barangsiapa yang mempelajari satu bab dari ilmu, Allah akan selendangkan dia dengan selendang-Nya. Apabila dia terjatuh pada suatu dosa hendaklah meminta ampun kepada-Nya, supaya Dia tidak melepaskan selendang-Nya tersebut sampai dia meninggal.” (Ibid. 1/121)



Kelima: Berkata Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu: “Sungguh aku mempelajari satu masalah dari ilmu lebih aku cintai daripada shalat malam.” (Ibid. 1/122)

Bukan berarti kita meninggalkan shalat malam, akan tetapi ini menunjukkan bahwa mempelajari ilmu itu sangat besar keutamaannya dan manfaatnya bagi ummat.



Keenam: Dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullaah, beliau berkata:“Sungguh aku mempelajari satu bab dari ilmu lalu aku mengajarkannya kepada seorang muslim di jalan Allah (yaitu mempelajari dan mengajarkannya karena Allah semata) lebih aku cintai daripada aku mempunyai dunia seluruhnya.” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab, karya Al-Imam An-Nawawiy, 1/21)



Ketujuh: Dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah, beliau berkata: “Tidak ada sesuatupun yang lebih utama setelah kewajiban-kewajiban daripada menuntut ilmu.” (Ibid. 1/21)

Adapun bait-bait sya’ir yang menjelaskan tentang permasalahan ilmu dan kedudukannya itu sangat banyak dan tidak bisa dihitung, dan di sini hanya akan disebutkan dua di antaranya:

“Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahlul ilmi (orang-orang yang berilmu) karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk bagi orang yang meminta dalil-dalilnya dan derajat setiap orang itu sesuai dengan kebaikannya (dalam masalah ilmu) sedangkan orang-orang yang bodoh adalah musuh bagi ahlul ilmi.”


Dan sya’irnya Al-Imam Asy-Syafi’i:

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا وَلَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ
وَإِنَّ كَبِيْرَ الْقَوْمِ لاَ عِلْمَ عِنْدَهُ صَغِيْرٌ إِذَا الْتَفَّتْ عَلَيْهِ الْجَحَافِلُ
وَإِنَّ صَغِيْرَ الْقَوْمِ إِنْ كَانَ عَالِمًا كَبِيْرٌ إِذَا رُدَّتْ إِلَيْهِ الْمَحَافِلُ


“Belajarlah karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan tidaklah orang yang berilmu seperti orang yang bodoh. Sesungguhnya suatu kaum yang besar tetapi tidak memiliki ilmu maka sebenarnya kaum itu adalah kecil apabila terluput darinya keagungan (ilmu). Dan sesungguhnya kaum yang kecil jika memiliki ilmu maka pada hakikatnya mereka adalah kaum yang besar apabila perkumpulan mereka selalu dengan ilmu.”



Disadur dari kitab Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi hal.18-22, Wallaahul Muwaffiq, Wallaahu A’lam.
Sumber : http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1012

Sabtu, 07 April 2012

Berbagai Sifat Buruk Wanita Pemicu Perceraian





Saudariku kaum muslimah, tulisan ini saya tujukan kepada diri saya pribadi, putri-putriku dan saudari-saudariku kaum muslimah semoga selalu mendapatkan taufik dan rahmat dari Allah untuk senantiasa memiliki akhlak yang mulia dan terhindar dari akhlak buruk yang akan mengakibatkan kehancuran bagi kehidupan terutama kehidupan rumah tangga.



Wanita dalam sejarah memiliki pengaruh yang sangat dasyat bagi kehidupan, dunia hancur karena wanita begitu pula dunia jaya karena wanita, penguasa yang kuat dan tangguh tidak berkutik dihadapan wanita, seorang ‘alim bisa tersandung karena wanita.



Islam sangat menjaga harkat dan martabat seorang wanita, menempatkan wanita pada tempat yang sangat mulia oleh karena itu wanita harus bisa meraih kedudukkan mulia tersebut dengan akhlak mulia sebagaiman yang disyariatkan oleh Islam dan jauhilah akhlak buruk.



Akhlak buruk seorang wanita yang bisa merusak keharmonisan rumah tangga adalah tabiat buruk dan perangai tercela. Seorang wanita seharusnya memiliki sifat lemah lembut tutur katanya, sopan santun perangainya dan memiliki rasa cinta yang mendalam karena dia adalah sosok pendidik pertama dan utama bagi putra dan putrinya, jika seorang wanita memiliki tabiat buruk maka bagaimana dengan putra-putrinya dan kondisi rumah tangganya?



Di antara tabiat buruk dan perangai tercela pada diri wanita yang sering kali menjadi pemicu perceraian adalah sebagai berikut:



1. Bersikap acuh, lancang dan kasar terhadap suami, dan tidak memiliki pendirian serta tidak pernah merasa puas.



2. Bersikap manja dan selalu merengek bila mengajukan berbagai tuntutan diluar kebutuhan yang wajar dengan meniru gaya wanita lain.



3. Bersikap melawan dan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan suami. Dan menjadikan keinginan dirinya dan keluarganya diatas keinginan suami dan anak-anaknya.



4. Bersikap sombong dan congkak terhadap keluarga suami, bahkan terkadang mencaci tanpa alasan yang jelas.



5. Suka menyulut pertikaian dengan keluarga suami dengan berbagai tindakan dan kedustaan.



6. Tidak pandai memperhatikan keadaan suami. Apakah sedang santai, istirahat, atau terlalu capek. Tuntutan di saat yang tidak tepat hanya akan memperbesar masalah.



7. Suka menyakiti suami dengan sikap bakhil dan sembrono di hadapannya atau dihadapan orang lain. Selalu mengeluhkan kekurangan dan kesengsaraan, padahal rumahnya penuh dengan kenikmatan dan kemewahan.



8. Sering keluar rumah untuk berkunjung kepada teman atau tetangga dan jarang berada di rumah. Sehingga tugas dan pekerjaan rumah tidak terselesaikan begitu pula dengan anak-anaknya tidak terurus.



9. Kurang bersyukur dan tidak tahu balas budi, ia selalu mengganggap bahwa hidup, mulia dan bahagia bila telah dipenuhi tuntutannya. Jika tuntutannya tidak terpenuhi maka ia akan berontak dan memaki-maki serta merasa seperti orang yang bernasib malang dan sial. Nabi bersabda:



“Saya melihat Neraka yang tidak pernah aku lihat seperti hari ini, dan saya melihat penghuni terbanyak dari kalangan wanita. Mereka bertanya: Kenapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Karena pengingkaran mereka. Beliau ditanya: Apakah karena ingkar kepada Allah? Beliau bersabda: Mereka membangkang dan mengingkari kebaikan suami. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang tahun lalu ia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukai) maka ia berkata “ saya belum pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (H.R Bukhari)



10. Sering membuat sang suami lalai dan patah semangat serta teledor terhadap hak-hak suami sementara sang suami membiarkan hingga mengetahui hakekat sebenarnya ternyata sang isteri semakin parah akhirnya thalakpun jatuh dan dia tidak tanggap kecuali setelah problem semakin kronis.



11. Suka menghina dan merendahkan sang suami baik dari sisi penampilan, pekerjaan, profesi atau ilmunya sehingga bersikap masa bodoh terhadap hak-hak suami bahkan untuk menangkal tuduhan buruk dari suami selalu menggunakan senjata utama yaitu pengajuan thalak. Dari Tsaubah berkata bahwasannya Rasulullah bersabda:



“Wanita mana saja yang meminta thalak kepada suaminya tanpa alasan maka haram baginya aroma surga.” (H.R Abu Daud dan Tirmidzi sementara beliau menghasankannya)



12. Lemah akal dan tenggelam dalam perasaan sehingga mudah terpengaruh ketika mendengar bisikan dari wanita lain yang mampu memperlakukan suaminya secara tidak wajar, maka boleh jadi seorang wanita datang kepada sang isteri seakan memberi nasehat dan penuh kasih sayang berkata kepadanya: Suamimu itu banyak kekurangannya dan dia sebetulnya tidak sederajat denganmu. Atau berkata: Sebetulnya statusmu lebih tinggi atau kamu memiliki kelebihan banyak yang sangat jauh dari suamimu.



Dia mempercayai para penghasut lagi pengadu domba dan bersikap sombong dan angkuh akhirnya meminta thalak atau selalu menyakiti suaminya padahal Rasulullah bersabda:



“Bukan termasuk golonganku orang yang bersumpah dengan amanah dan barangsiapa merusak hubungan seseorang dengan isterinya atau budaknya maka bukan termasuk golonganku.” (H.R Ahmad dan yang lainnya)



13. Sebagian wanita ketika melihat sang suami berperangai buruk maka sang isteri juga membalas sikap buruk itu dengan keburukan serupa, bersikap kasar, tidak sopan dan keras hati tidak mau berbuat kebaikan kepada suaminya. Maka suasana semakin keruh dan bisa jadi menjadi sebab percekcokan dan berakhir dengan perceraian.



14. Terlalu percaya kepada orang lain sehingga semua rahasia rumah tangga dibuka di hadapan orang tersebut kemudian hal itu sampai kepada sang suami.



15. Tidak tabah dan sabar menghadapi tabiat dan perangai laki-laki dan dia menyangka bahwa semua rumah tangga sepi dari percekcokan, perselisihan dan problem rumah tangga.



16. Bersikap sederhana di hadapan suami dalam berpakaian dan penampilan namun bersolek dan berdandan di hadapan laki-laki lain.



17. Bersikap dingin, tidak bisa bercanda, bercumbu dan berseda gurau dengan suami bahkan ketika berada di ranjang bersikap dingin dan menutup segala penglihatan dan pendengaran yang bisa menambah gairah dan cinta sehingga sikap itu menjadi penyebab sang suami bersikap acuh dan menikah dengan wanita lain. Rasulullah bersabda:



“Kenapa engkau tidak menikah dengan gadis agar kamu bisa bercanda dengannya dan dia bercanda denganmu.”



Dari Muawiyah bin Haidah berkata: Saya bertanya: Wahai Rasulullah, kapan kita boleh membuka dan menutup aurat? Beliau bersabda: Jagalah auratmu kecuali dari isterimu dan budakmu. (H.R Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, dan disahihkan oleh Al Hakim serta disetujui Adz Dzahaby).



18. Menganggap bahwa pendapatnya yang paling benar dan suaminya selalu berada di pihak yang salah. Jika suami berusaha untuk memahamkan maka pasti terjadi salah faham dan berakhir dengan percekcokan. Hal itu karena wanita terlalu dikuasai hawa nafsu dan perasaan sementara ia tidak menyadari bahwa sikapnya menyulut api perceraian.



19. Selalu menjauhi suami dalam pertemuan-pertemuan keluarga bahkan boleh jadi menjauhi sang suami dari tempat tidur. Rasulullah bersabda:



“Jika seorang wanita bermalam menjauhi tempat tidur suaminya maka malaikat melaknatnya hingga kembali lagi.” (H.R Bukhari dan Muslim)



20. Boleh jadi umur isteri lebih tua dari suami atau bekas isteri orang lain atau mempunyai anak banyak maka ia merasa sombong dengan kecantikan atau bekas suami yang dahulu sehingga tidak ingin suaminya memiliki isteri lain. Sementara suaminya ketakutan karena usia isterinya lebih tua atau dia memang sudah menikah sebelumnya maka kehidupan rumah tangga dirundung kegelisahan dan kekhawatiran dan pada akhirnya sang suami menikah lagi atau berakhir dengan perceraian.



21. Suka berbicara dan membuka obrolan dengan laki-laki lain sehingga bisa membangkitkan cemburu atau marah sang suami.



22. Sering curiga dan sangat berperasa, selalu curiga terhadap setiap ucapan yang didengarnya dan perbuatan yang dilihatnya sehingga dia selalu menaruh curiga terhadap suaminya atau orang yang hidup disekitarnya bahkan selalu ingin tahu apa yang diperbuat oleh suaminya.



23. Cemburu dan Hasad terhadap kerabat suami, tidak mau bersilaturrahmi dan berbuat baik kepada mereka bahkan ia hanya ingin mengutamakan diri sendiri dengan segala sesuatu dan menjadi orang yang paling diperhatikan.



24. Kurang memperhatikan suami karena terlalu mencurahkan perhatian kepada anak-anak, atau sibuk berkunjung dan menelpon teman-teman atau sanak kerabat sehingga hak dan kebutuhan serta kewajiban terhadap suami terlantar. Demikian itu bisa menjadi sebab sang suami menikah dengan wanita lain lalu menjauhinya atau menceraikannya.



25. Memiliki tabiat dan perangai yang suka berubah-ubah dan sulit dikendalikan, terkadang bersikap murung dan bermuka masam namun seketika berubah menjadi ceria dan berseri-seri.



26. Sebagian isteri kurang bersyukur kepada Allah yang telah memberi nikmat suami yang shalih, sering menciptakan suasana yang memicu percekcokan dengan suami, susah menerima nesehat dan pengarahan hingga suami terpaksa menikah dengan wanita lain akhirnya suasana semakin keruh dan tidak bisa dikendalikan serta berakhir dengan perceraian.



27. Terkadang seorang wanita terkena penyakit was-was yang selalu menguji kecintaan suami dan memojokkan dengan berbagai macam permintaan, atau berpaling dan membangkang atau berpura-pura sakit atau pikiran kalut lalu meminta diajak keluar atau jalan-jalan yang mengeluarkan biaya besar sehingga permasalahan menjadi semakin ruwet dan sering menimbulkan percekcokan lalu berakhir dengan kebencian atau perceraian.



28. Terpengaruh oleh sinetron murahan dan film-film cengeng yang merusak akhlak rasa malu sehingga membuat sang isteri berani melawan dan menentang sang suami serta meminta berbagai macam model pakaian.



29. Boleh jadi seorang isteri mandul atau sakit sehingga tidak mampu memenuhi hak-hak suaminya namun ia juga menolak suaminya menikah lagi akhirnya sang suami berada dalam posisi serba sulit, antara menceraikan sang isteri sehingga menambah parah penyakitnya atau terus-menerus hidup seperti itu.



30. Mempermahal mahar, banyak tuntutan materi, senang hidup boros dan mubadzir. Gemar membeli berbagai macam pakaian dan perabot rumah tangga yang kurang bermanfaat akhirnya terbuang di tong sampah dengan sia-sia, atau membeli berbagai perhiasaan emas di luar kebutuhan, kemudian dijual lagi dengan harga yang sangat murah sehingga sang suami mengalami kerugian dan kehabisan harta dan tidak mampu lagi menanggung beban kebutuhan rumah tangga dan tuntutan sang isteri akhirnya muncul percekcokan dan perselisihan. Seandainya seorang wanita rela dengan mahar yang sedikit maka bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain yang lebih penting. Jika seorang wanita menerima mahar cukup besar maka hendaklah ditabung, atau dibuat modal usaha lalu sebagian dari hasil usaha bisa digunakan untuk simpanan hari tua dan sebagian lain disedekahkan sehingga memberi manfaat bagi semua pihak baik keluarga maupun dirinya sendiri maka Rasulullah bersabda:



“Pernikahan yang paling berkah adalah yang paling murah beban biayanya.” (H.R Ahmad)



Dan Nabi bersabda:



“Wanita yang paling berkah adalah yang murah maharnya.” (H.R Hakim)



31. Berkhianat dalam kesucian dan harga diri sehingga menyalurkan kebutuhan seksual dengan cara yang diharamkan Allah. Allah berfirman:



“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Furqan 68-70)



Wahai Saudariku wanita muslimah, jauhkanlah diri kalian dari tabiat buruk dan perangai tercela di atas dan hiasilah hidupmu dengan akhlak yang mulia, perangai yang terpuji, prilaku yang baik dan kebiasaan terhormat. Karena sebaik-baik manusia adalah orang yang terbaik bagi keluarganya, kemudian lingkungan sekitarnya dan mampu memberi manfaat bagi orang lain.



***
oleh : Ummu Ahmad
http://groups.yahoo.com/group/assunnah-qatar/message/5025


Matahari Berputar, Bumi Diam.



Termasuk dari musibah yang menimpa kaum muslimin di zaman sekarang ini adalah di masukkannya aqidah rusak yang di ambil orang-orang kafir, melalui berbagai cara untuk membuat generasi kaum muslimin ragu dari perkara yang jelas dari agama mereka. Dan salah satu dari pemikiran rusak tersebut adalah tentang tetapnya (diam) matahari dan berputarnya bumi yang di ambil dari pendapat orang-orang kafir.


بسم الله الرحمن الرحيم


Muqoddimah

الحَمْدُ لِله حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَما بَعْدُ:

Berkata Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ يَوْمٌ أَوْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

“Tidaklah datang kepada kalian hari atau zaman kecuali setelahnya lebih jelek.”

[HR. Al-Bukhori (no.6657) Ahmad (no.12838) dari Anas radhiyAllohu 'anhu]



Termasuk dari musibah yang menimpa kaum muslimin di zaman sekarang ini adalah di masukkannya aqidah rusak yang di ambil orang-orang kafir, melalui berbagai cara untuk membuat generasi kaum muslimin ragu dari perkara yang jelas dari agama mereka.

Dan salah satu dari pemikiran rusak tersebut adalah tentang tetapnya (diam) matahari dan berputarnya bumi yang di ambil dari pendapat orang-orang kafir. Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata tentang orang-orang kafir:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللّهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ فَهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Alloh ialah orang-orang yang kafir, yang mereka itu tidak beriman.” [QS. Al-Anfal:55]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” [QS. Al-Bayyinah:6]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ – خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.

Alloh telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang Amat berat.” [QS. Al-Baqoroh:6-7]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللّهِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ – خَالِدِينَ فِيهَا لاَ يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلاَ هُمْ يُنظَرُونَ



“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam Keadaan kafir, mereka itu mendapat la’nat Alloh, Para Malaikat dan manusia seluruhnya.



Mereka kekal di dalam la’nat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” [QS. Al-Baqoroh:161-162]

قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. dan Itulah tempat yang seburuk-buruknya.” [QS. Ali ‘Imron:12]

فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

“Adapun orang-orang yang kafir, Maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.” [QS. Ali ‘Imron:56]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الأرْضِ ذَهَباً وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun Dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” [QS. Ali ‘Imron:91]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَاراً كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُوداً غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ الْعَذَابَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَزِيزاً حَكِيماً



“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Alloh Aziz Hakim (Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).” (QS.An-Nisaa’:4)



إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ اللّهِ قَدْ ضَلُّواْ ضَلاَلاً بَعِيداً – إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَظَلَمُواْ لَمْ يَكُنِ اللّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلاَ لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقاً

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Alloh, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezholiman, Alloh sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka.” [QS. An-Nisa’:167-168]

وَالَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka.” [QS. Al-Maidah:10]

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَّ يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلاَلُ الْبَعِيدُ

“Orang-orang yang kafir kepada Robbnya, amalan-amalan mereka adalah seperti Abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” [QS. Ibrohim:18]

Dan begitulah keadaan orang kafir sebagaimana dalam Al-Qur’an, apakah setelah ini kaum muslimin mau mengambil perkataan mereka serta meninggalkan dalil-dalil dari Al-Qur’an!!??

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” [QS. Al-Baqoroh:2]

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Hakim Hamid (yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji).” [QS. Fushilat:42]

Dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang bathilnya pendapat mereka sangatlah banyak, akan tetapi dalil yang banyak itu tidaklah mencukupkan mereka dari hal itu.

قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” [QS. Yunus:101]

Maka tidaklah pantas seorang muslim untuk memiliki pilihan lain setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan demikian dan mengambil pendapat manusia. Alloh subhanahu wa ta’ala berkata:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” [QS. Al-Ahzab:36]

Berkata Asy-Syafi’i t: “Kaum muslimin tentang bahwasanya barang siapa yang telah jelas padanya sunnah Rosululloh ` tidak boleh di tinggalkan karena perkataan seorang dari manusia.” [lihat “Ilamul Muwaqqin” (1/7)]

عَلَيْكَ بِطُرُقِ الهُدَى وَ لاَ يَضُرُّكَ قِلَّة السَّالِكِيْنَ

وَ إِيَّاكَ وَ طُرُق الضَّلاَلَةُ وَ لاَ تَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ الهَالِكِيْنَ

Tetapilah jalan petunjuk

Dan janganlah terpengaruh dengan sedikitnya orang yang mengikuti

Dan janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang dibinasakan

Dan hati-hatilah dari jalan jalan menyesatkan

Dan pada risalah kecil ini kami berharap bisa memberikan faedah dan memahamkan kaum muslimin kepada pemahaman yang benar.





Bab 1

Dalil tentang berputarnya Matahari

Alloh subhanahu wa ta’ala berkata:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Al-‘Aziz Al-‘Alim (yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui).” [QS. Yasin:38]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Ibrohim berkata: Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat, lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim.” [QS. Al-Baqoroh:258]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ الأَمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاء رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

“Alloh-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Alloh mengatur urusan, menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Robbmu.” [QS. Ar-Ro’d:2]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

وَسَخَّر لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَآئِبَينَ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” [QS. Ibrohim:33]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Alloh memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan Sesungguhnya Alloh Khobir (Maha mengetahui) apa yang kamu kerjakan.” [QS. Luqman:29]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى

“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” [QS. Fathir:13]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah Dialah Al-‘Aziz Al-Ghoffar (yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun).” [QS. Az-Zumar:5]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ

“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: Inilah Robbku, ini yang lebih besar. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” [QS. Al-An’am:78]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً

“Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) fajr. Sesungguhnya sholat fajr itu disaksikan (oleh malaikat).” [QS. Al-Isro:78]

Alloh subhanahu wa ta’ala berkata:

. وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُّرْشِداً

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Alloh. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”[QS. Al-Kahfi:17]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [QS. Yasin:40]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Robbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” [QS. Qof:39]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ` «مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ «

Dari Abu Huroiroh radhiyAllohu ‘anhu berkata: bersabda Rosululloh `: “Barang siapa yang bertaubat sebelum menculnya matahari dari barat, Alloh akan menerima taubatnya.”[HR. Muslim dalam “Ad-Dzikr..” (no.2703)]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ` « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَالله أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ«

Dari Abu Huroiroh radhiyAllohu ‘anhu berkata: bersabda Rosululloh `: “Kalau aku mengucapkan: SubhanaAlloh, Alhamdulillah, La ilaha illa Alloh dan Allohu Akbar lebih aku sukai dari pada terbitnya matahari.” [HR. Muslim (no.2695)]

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ` « لاَ تُرْسِلُوا فَوَاشِيَكُمْ وَصِبْيَانَكُمْ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ فَحْمَةُ الْعِشَاءِ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْبَعِثُ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ فَحْمَةُ الْعِشَاءِ «

Dari Jabir radhiyAllohu ‘anhu berkata: bersabda Rosululloh `: “Janganlah engkau menyuruh suruhan dan anak kalian ketika matahari telah tenggelam sampai hilang awal malam, karena Syaithon keluar ketika matahari tenggelam sampai hilang awal malam.” [HR. Muslim (no.2031)]

Dan dalil dari As-Sunnah banyak sekali, dan pada hal ini cukup bagi orang yang mau mengambil pelajaran.

“Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.”[QS. Al-Hasyr:2]

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya.” [QS. Qof:37]





Bab 2

Dalil Tentang Diamnya Bumi

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, Padahal kamu mengetahui.” [QS. Al-Baqoroh:22]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

أَلَمْ يَرَوْاْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ مَّكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّن لَّكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاء عَلَيْهِم مِّدْرَاراً وَجَعَلْنَا الأَنْهَارَ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُم بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قَرْناً آخَرِينَ

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, Padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, Yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” [QS. Al-An’am:6]

Alloh subhanahu wa ta’ala berkata:

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” [QS. Al-A’rof:10]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَاراً وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Dia-lah Robb yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Alloh menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi kaum yang memikirkan.” [QS. Ar-Ro’d:3]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

وَأَلْقَى فِي الأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَاراً وَسُبُلاً لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. An-Nahl:15]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجاً سُبُلاً لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” [QS. Al-Anbiya’:31]

Alloh subhanahu wa ta’ala berkata:

أَمَّن جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَاراً وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَاراً وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزاً أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Alloh ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” [QS. An-Naml:61]

Alloh Subhanahu wa ta’ala berkata:

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” [QS. Luqman:10]

وَلَكُمْ فِي الأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

“Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”[QS. Al-Baqoroh:36]

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَا وَلَئِن زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِّن بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً

“Sesungguhnya Alloh menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Alloh. Sesungguhnya Dia adalah Halim Ghofur (Maha Penyantun lagi Maha Pengampun).” [QS. Fathir:41]





Bab 3

Fatwa ‘Ulama tentang tetapnya bumi

Berkata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -semoga Alloh merahmatinya-: “Karena Alloh subhanahu wa ta’ala menjadikan bumi ini diam yang agar manusia berdiam di atasnya, dan yang seperti ini meniadakan bahwa bumi bergerak. Dan bagaimanapun itu, sesungguhnya menyibukkan diri dengan hal seperti ini tidak ada dalamnya faedah yang besar, maka kalau di katakan kalau bumi itu bergerak, maka dia berada pada dalam keadaan diam yang sempurna, dan ini menunjukkan tentang kesempurnaan kekuasaan Alloh subhanahu wa ta’ala. Dan kalau tidak bergerak , maka Allohlah yang menciptakannya serta menjadikannya tenang tidak bergerak. Akan tetapi sesuatu yang aku pandang yang itu harus adalah meyakini bahwasanya mataharilah yang mengelilinya bumi, dengan itulah terjadi pergantian siang dan malam, karena Alloh menyandarkan terbit dan tenggelam kepada matahari, Alloh subhanahu wa ta’ala berkata:

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri.” [QS. Al-Kahfi:86]

Dan empat sifat perbuatan itu semuanya di sandarkan ke matahari: apabila terbit, apabila tenggelam, condong dan menjauhi. Semua perbuatan itu di sandarkan ke matahari. Dan asal bahwa perbuatan tidak di sandarkan kecuali kepada pelakunya atau orang yang melakukannya, yakni orang yang melakukan perbuatan ini. Maka tidak di katakan: Zaid mati dan yang di maksudkan adalah ‘Amr mati. Dan tidak di katakan: Zaid berdiri dan yang di maksudkan ‘Amr berdiri. Maka ketika Alloh subhanahu wa ta’ala mengatakan: “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit” maka bukan maknanya bahwasanya bumi berputar sampai kita melihat matahari, karena kalau bumi yang berputar, maka terbitnya matahari akan berbeda-beda dengan perbedaan putaran…-sampai perkataan beliau t- dan dzohir Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan bahwasanya perbedaan malam dan siang di sebabkan karena berputarnya matahari mengelilingi bumi. Dan inilah yang wajib bagi kita untuk meyakininya…” [lihat “Fatawa Nur ‘ala Darb” Ibnu ‘Utsaimin t(4/7)]

Berkata Asy-Syaikh Bin Baz -semoga Alloh merahmatinya-: “Adapun berputarnya bumi, aku telah mengingkari dan menjelaskan dalil-dalilnya tentang batalnya hal tersebut, akan tetapi aku tidak mengkafirkan orang yang mengatakan demikian. Hanya saja aku mengkafirkan yang mengatakan matahari tetap tidak beredar karena perkataan ini bertentangan dengan sesuatu yang jelas dari Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Muthohharoh Ash-Shohihah yang keduanya menunjukkan tentang bahwasanya matahari dan bulan beredar…” [lihat “Majmu’ Fatawa Ibnu Baz” (9/228)]

Berkata Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan -semogag Alloh menjaganya-: “Alloh telah mengabarkan bahwasanya bumi ini diam dan matahari berputar…” [lihat “I’anatul Mustafid” (4/86)]





Bab 4

Ijma’ tentang tetapnya bumi

Berkata ‘Abdul Qohir Al-Baghdadi -semoga Alloh merahmatinya-: “Dan mereka sepakat tentang berhentinya bumi, dan tenangnya. Dan bergeraknya terjadi karena adanya sebab seperti gempa atau semisalnya.” [lihat “Al-Farq bainal Firoq” (hal.318)]

Berkata Al-Qurthubi -semoga Alloh merahmatinya-: “Dan yang di pegang oleh kaum muslimin dan Ahlul Kitab adalah perkataan bahwasanya berhentinya bumi serta terbentangnya. Dan bergeraknya di karenakan pada saat adanya gempa bumi.” [lihat Tafsir Al-Qurthubi pada surat Ar-Ro’d:3]

Berkata Asy-Syaikh At-Tuwaijiri -semoga Alloh merahmatinya-: “Dan ini jelas tentang hikayat Ijma’ dari Muslimin dan Ahlul Kitab tentang tetapnya bumi dan diamnya.” [lihat “Ash-Showa’iq Asy-Syadidah” (hal.54)]

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh -semoga Alloh menjaganya-: “Dan perkataan bahwa bergeraknya bumi adalah bathil, karena perkataan tersebut hampir-hampir tidak ada dalil satu pun yang bisa di terima…” [lihat “Fatawa wa Rosa’il Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh” (13/99)]





Bab 5

Hukum ucapan tentang tetapnya matahari dan berputarnya bumi

Berkata Asy-Syaikh Bin Baz -semoga Alloh merahmatinya-: “Kaum muslimin sepakat tentang bumi tenang dan matahari berputar…-sampai perkataan beliau- dan orang yang mengatakan tentang berputarnya bumi mengelilingi matahari, serta berpendapat dengan bahwasanya matahari diam adalah kufur,

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Al-‘Aziz Al-‘Alim (yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui).” [QS. Yasin:38]. (selesai) [lihat “Syarh Kitabut Tauhid” (hal.202)].

Berkata Asy-Syaikh Abu ‘Amr Al-Hajuri -semoga Alloh menjaganya-: -setelah menyebutkan perkataan Asy-Syaikh Bin Baz -semoga Alloh merahmatinya- “Di karenakan orang yang mengatakan tentang bergeraknya bumi serta berputarnya, dan diamnya matahari berlawanan dengan dalil-dalil yang shohih dan jelas. Dan ketika menetapkan (hukum kafir) secara individu di haruskan dengan terpenuhinya syarat dan tidak adanya penghalang takfir.Alloh subhanahu wa ta’ala berkata:

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُضِلَّ قَوْماً بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ إِنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Alloh memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui segala sesuatu.” [QS. At-Taubah:115]

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh -semoga Alloh menjaganya-: “Dan yang mengatakan bahwasanya matahari tidak berputar kafir, kekafiran yang memindah dari agama karena penyelisihannya terhadap Al-Qur’an.”

[lihat “Fatawa wa Rosa’il Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh” (13/99)]



Berkata Asy-Syaikh Bin Baz -semoga Alloh merahmatinya-: “. Hanya saja aku mengkafirkan yang mengatakan matahari tetap tidak beredar karena perkataan ini bertentangan dengan sesuatu yang jelas dari Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Muthohharoh Ash-Shohiha yang keduanya menunjukkan tentang bahwasanya matahari dan bulan beredar…”

[lihat “Majmu’ Fatawa Ibnu Baz” (9/228) telah lewat pada bab sebelumnya]



Ditulis oleh:

Abu Fahd Fuad bin Mukiyi (Pelajar di Darul Hadits Dammaj) -semoga Alloh menjaganya-

Selesai 24 Romadhon 1431 Hijriyyah

Berapakah Nilai Kecantikan Anda ?



Menurut kerangka pemikiran saya pribadi..tiap wajah wanita itu cantik, namun tergantung kadar nilainya saja yang berbeda-beda. Ada wanita yang kurang cantik (saya tidak katakan dia jelek), ada yang cantiknya standar dan biasa-biasa saja, ada yang cantik di atas rata-rata, ada juga yang cantiknya kelas La Femme Fatale “primadona” yang bisa membuat jantung lawan jenisnya seakan rontok seketika, menggelepar tak berdaya, laksana terkena panah pesona yang tepat menusuk dan menembus di jantung pria -karena saking cantiknya hingga pendar pesonanya begitu membutakan mata-.


[OOT] Maka dari itulah…baik wanita ataupun pria, mari kita bersama-sama menjaga seluruh indera kita -terlebih pandangan mata- dan kelakuan kita dari bermaksiyat kepada Allah Ta’ala..agar iman dan takwa di hati tidak rusak karenanya. Sebagai tambahan khususnya bagi yang sudah cukup mengerti dien: segeralah tinggalkan untuk bermudah-mudahan berkomunikasi dengan lawan jenis, hatta dengan alasan “dakwah”??? apalagi cuma kalo buat “cengengesan” ngobrol bercanda haha-hihi dengan lawan jenisnya.



Alasan saya, kenapa saya berpandangan seperti itu:


1. Kalau wanita dibilang cakep “tampan”, ya jelas lah…malah menakutkan :D. Laki-laki mungkin akan jadi merasa sangsi, “ini perempuan apa lelaki yah? kalo perempuan kok wajahnya tampan yah?” ==> meskipun ada sih ternyata lelaki yang wajahnya dianggap “cantik” seperti wanita, atau sebaliknya. Akan tetapi, kita keluarkan pembahasan tersebut dari pembicaraan kita saat ini.


2. Kecantikan merupakan perkara yang bersifat nisbi “relatif”. Ini berarti, nilai kecantikan bukan merupakan suatu hal yang sifatnya konstan absolut, namun berdasarkan variabel nisbi. Di sana, ada berbagai macam parameter yang bisa dijadikan acuan untuk menetapkan standar kecantikan. Bagi kebanyakan orang (jumhur), wanita A yang berkulit hitam, berhidung pesek, berbibir memble, berwajah kurang proporsional…bisa saja dibilang kurang cantik, namun bagi orang lain terlebih yang jatuh hati padanya…sangat mungkin dia masih dianggap cantik. Nah, berarti si A itu tetap saja cantik kan? meskipun hanya orang tertentu saja yang bilang si A itu cantik. Sederhananya saja….sekarang tinggal kecantikan itu menurut tolak ukur siapa…begitu bukan?



Dalam bilik kontemplasi yang saya miliki, sisi idealisme saya berujar bahwa kecantikan terbagi menjadi dua: kecantikan yang bersifat jasmani (outter beauty) dan kecantikan rohani (inner beauty). Apabila terkumpul pada seseorang dua macam kecantikan tersebut, sungguh saya katakan dia adalah seorang yang memiliki kualitas kecantikan sejati yang “nyaris sempurna” (karena kecantikan yang sempurna hanya pantas disandang oleh wanita penghuni surga). Akan tetapi, orang yang memiliki kulitas yang demikian pasti sangat sedikit jumlahnya.



A. Manakah yang lebih utama, cantik jasmani (tapi rohaninya kurang cantik) atau cantik rohani (meskipun jasmaninya kurang cantik)?


Jika dihadapkan pada pertanyaan pilihan seperti ini, tentulah kecantikan rohani itu yang jauh lebih baik. Kecantikan rohani inilah cermin dan manifestasi dari pancaran sinar ketakwaan dan keshalihahan yang berasal dari dalam kalbunya. Kecantikan ini akan nampak dengan jelas terlukis dari tingkah laku, tutur kata, buah pemikirannya yang seolah “mengabarkan” bagi tiap mata yang memandangnya…tiap sosok yang mengenalnya tentang bagusnya akhlak, amal, dan ilmu yang ia miliki…tentang begitu sejuk dan menyenangkan sekali roman wajahnya untuk dipandang -meskipun dia tidak terlalu cantik secara fisik-….tentang begitu kedamaian itu mengalir, membasahi dan menelusup di relung jiwa ketika berada di dekatnya…ibarat di dalam dirinya, kita temukan sebuah telaga berair sejuk nan bening, dikitari oleh pepohonan rindang agar kita bisa bernaung dan mereguk airnya untuk melepaskan sejumput dahaga.


Dalam pandangan saya pribadi, ketika saya bertemu wanita yang memiliki inner beauty ini…

Seakan-akan saya bisa melihat ada sebuah taman yang indah, damai, nyaman dan menyejukkan untuk dihuni, dalam kedalaman lubuk hati dan jiwa sang wanita. Sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga mekar warna-warni yang elok dipandang dan senantiasa harum mewangi. Yah..bunga-bunga inilah kiasan indah dari amalan batin yang ia miliki sebagai hiasan “taman” jiwanya -atau dalam bentuk kiasan saya lainnya, saya kiaskan hal tersebut dengan kekayaan beserta pundi-pundi harta karun…atau berupa “langit jiwa beserta taburan bintangnya yang berkerlipan laksana kilauan emas dan permata”-


Seolah-olah bebungaan di taman hati itu menebarkan aroma wangi surgawi…



B.Sepatah kata dariku untukmu



1. BAGI YANG HANYA PUNYA KECANTIKAN FISIK [terlebih jika ternyata akhlaknya belum baik]



Anda merasa memiliki kecantikan fisik? Oke….Stop!Stop! Prriiiiitttt! Jangan sok-sokan ‘ujub di depan saya!!! *duhhh bikin saya ilfil berat saja*



Sesungguhnya kecantikan fisik yang Allah berikan Anda adalah anugrah sekaligus fitnah (cobaan). Tergantung bagaimanakah Anda menanggapinya. Apakah dengan kecantikan itu akan semakin menjauhkan Anda dariNya atau mendekatkan diri padaNya. Ketika Anda merasa berbangga diri dengan kecantikan Anda lalu merendahkan orang lain, atau dengan kecantikan itu Anda semakin gemar bertabarruj dan menebarkan jerat godaan terhadap lawan jenis baik secara langsung atau tidak -salah satu contohnya dengan memajang pose wajah Anda tanpa ada keperluan yang bersifat darurat- [harap jangan tersinggung...saya sedang tidak marah-marah, saya juga tidak sedang memaki-maki dan menyindir Anda...stay cool saja...karena mungkin Anda belum tahu hukumnya], maka berhati-hatilah karena kecantikan itu bisa menjadi perantara yang mendekatkan Anda ke gerbang neraka. Akan tetapi, ketika kecantikan itu semakin membuat Anda bersyukur atas segala nikmatNya, membuat Anda menjadi pribadi yang rendah hati dan menjaga diri, Anda gunakan kecantikan itu sebagai sarana menyenangkan suami Anda dan meraih ridhaNya, bukan untuk “mengobral” diri dan menjerat lelaki agar Anda dikagumi…maka berbahagialah karena hal tersebut akan mendekatkan Anda kepada surgaNya.



Jika memang Anda terlahir dengan kecantikan lahir, maka lengkapilah kecantikan diri Anda dengan kecantikan batin. Karena kecantikan lahir yang Anda miliki, merupakan kecantikan yang bersifat temporer, dan akan lenyap seiring bertambahnya umur. Bayangkan…bagaimana suatu saat Allah tiba-tiba mencabut nikmat ini dari Anda…maka kecantikan lahir yang Anda miliki sudah tidak ada lagi artinya. Toh jika Anda dikafani dan mayat Anda sudah membusuk dan bercampur dengan tanah, kecantikan lahir tersebut akan segera sirna.

 Wajah dan tubuh Anda hanyalah seonggok kulit yang menempel di daging. Kulit tersebut akan mengalami degenerasi, keriput,mengendur dan lama kelamaan pun akan meredupkan dan mengikis kecantikan lahir yang Anda miliki. Berbeda halnya ketika Anda memiliki kecantikan batin. Kecantikan ini bisa diperbaharui dan tak lekang dimakan usia. Kecantikan ini akan terus ada jika Anda benar-benar menjaganya….sebuah kecantikan yang tidak dipengaruhi variabel masa dan usia. Yang pasti, kecantikan batin inilah yang akan mempermulus jalan Anda menuju surgaNya Insya Allah.



2. BAGI YANG WAJAHNYA KURANG CANTIK, SECARA FISIK KURANG MENARIK [lebih-lebih lagi kalau akhlaknya belum baik]



Kita punya kehendak, Allah pun punya kehendak. Apabila kita bisa memilih, tentu kita akan memilih segala kebaikan -dalam bentuk akhlak, ketakwaan, keshalihahan, anggota tubuh beserta kinerjanya, rupa, dan harta- terkumpul dalam diri kita. Jika demikian adanya, begitu banyak hikmah dan ajaran dalam syariat ini tidak akan ada artinya. Lalu apa gunanya syariat itu ada, jika semua orang sudah baik dan sempurna seluruhnya?



Allah telah menetapkan kuasa dan kehendakNya di atas kuasa dan kehendak kita semua, hingga diciptakanlah makhluk yang beraneka ragam bentuk dan rupanya. Ketika Anda merasa rendah diri dengan fisik yang Anda miliki…saya ingin memberikan sedikit hiburan bagi Anda bahwa sesungguhnya bukan fisik Anda yang akan dipandang oleh Allah kelak.



Diriwayatkan dalam Shahih Muslim hal 1987 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu,



“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk dan harta yang kalian miliki, akan tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan yang kalian lakukan.”



Dan di dalam riwayat Imam Muslim yang lain:



“Sesungguhnya Allah tidak melihat badan dan bentuk kalian, akan tetapi Dia melihat hati – hati kalian.”



Jika kita mau berpikir dan merenung, sesungguhnya Allah telah memberikan begitu banyak potensi, anugrah dasar (bawaan lahir maksudnya) yang bisa kita gunakan dalam meretas jalan menuju FirdausNya.



Misalkan, ada wanita berwajah cantik dan memiliki fisik yang baik lagi berilmu. Dia berdandan meraih ridha suami dalam rangka meraih keridhaan dan pahala dari Allah. Dia berusaha memaksimalkan kecantikan yang dia miliki untuk membantu menjaga pandangan suaminya, agar tidak terjerumus dalam perbuatan nista. Dia menggaet, menyihir, dan melelehkan hati suaminya dengan keelokan paras dan fisiknya. Lalu, dia kunci hati suaminya agar sang suami hanya berpaling pada wanita yang telah halal baginya itu. Sepertinya sepele ya? namun semua itu kembali kepada niat. bukankah sebuah amalan ringan yang dianggap sepele bisa berpahala besar, dan sebuah amalan yang besar bisa berpahala kecil hanya karena niat?



Lalu, ketika Anda tidak merasa berwajah cantik, fisik pun kurang menarik…Anda merasa sedih, kecewa? Jangan khawatir…Anda masih bisa meraih pahala demi meretas jalan menuju firdausNya dengan cara lain. Raihlah surgaNya dengan aset inner beauty yang Anda miliki, bahkan berusahalah untuk menggalinya lebih dalam lagi. Coba Anda pikirkan, sisi mana yang bisa Anda tonjolkan sebagai bentuk kemudahan dari Allah, agar Anda bisa masuk ke surgaNya.

 Mungkin Anda kurang cantik…namun Anda seorang yang ringan tangan, atau Anda seorang yang bertutur kata halus, bisa jadi Anda seorang yang peka terhadap kebutuhan orang lain, ataupula Anda seorang yang cerdas dan memiliki ingatan kuat hingga Anda mudah menghafal Al-Qur’an; As-Sunnah; perkataan ahli hikmah dan buku-buku para ulama…namun…namun…dan namun…Yah! gunakanlah itu sebagai sarana yang bisa mengantarkan Anda meraih ridhaNya. Maka, tuntutlah ilmu agama, kemudian amalkan, dakwahkan dan bersabarlah atasnya. Insya Allah sinar ketakwaan; gelora keimanan; dan pancaran sosok yang shalihah lagi berakhlak mulia akan membuat Anda terlihat begitu cantik dan menawan.


“Dan kini saatnya wahai para wanita dunia…jika engkau merasa kurang cantik, tidak menarik, dan belum terlalu baik…jangan kau kumpulkan 2 keburukan khalq dan khuluq sekaligus dalam dirimu. Berakhlaklah sebagaimana wanita penghuni surga yang didamba setiap pria…”



4. BAGI YANG CANTIK LUAR DALAM

Masya Allah…betapa beruntungnya lelaki yang mempersunting Anda. Wanita yang nyaris sempurna (karena saat ini, tidak ada manusia yang sempurna dalam arti sempurna sebenar-benarnya. Yang ada hanyalah “sempurna” menurut subyektivitas manusia. Sosok wanita yang betul-betul sempurna hanya akan ditemukan di surga, sebagai suatu nikmat yang Allah berikan bagi penghuninya. 

Oleh karena itu, ketika saya berbicara hakikat kesempurnaan wanita dunia saat ini, saya hanya katakan “nyaris sempurna”) seperti Anda -dalam pandangan manusia- mungkin dalam rasio 1:1 juta..1 milyar…1 trilyun…atau bahkan lebbbih dari itu di seluruh jagat raya. Anda merupakan salah satu di antara harta karun yang paling berharga bagi sang belahan jiwa. Anda bagaikan permata yang kemilaunya memukau mata *oww silau maaan 0____O*. Anda ibarat mutiara yang begitu terjaga, anggun bertahta, yang tetap eksis dalam cangkangnya. Anda laksana kerlip bintang yang elok menghiasi langit jiwa pasangan Anda. Anda seperti….ahhh terlalu banyak metafora yang tersedia bagi orang seperti Anda. Pertahankan dan jika perlu tingkatkan apa yang telah Anda lakukan!



C. Benarkah wajah wanita akan terlihat cantik ketika dibasuh dengan air wudhu?



Tergantung dari jenis mata yang Anda gunakan untuk melihat. Apabila Anda hanya menggunakan mata kepala, yang berbingkai rasionalitas yang realistis, tentu jawaban yang diberikan berdasar ranah penilaian kecantikan lahir semata.



Bagi orang seperti ini, kalau memang wajah wanita tersebut tidaklah cantik, mulus dan putih kinclong seperti Rianti Cartwright -misalkan- (bagi saya Rianti itu tergolong cantik, Masya Allah. Kalau pendapat Anda tidak seiring sejalan dengan saya ya silahkan saja…saya juga tidak memaksa. Saya hormati dan hargai pendapat Anda. Tadi kan sudah saya bilang, “bagi saya”. Artinya, itu opini pribadi saya yang subyektif) meskipun dibasuh air wudhu seluas samudera (permisalan mubalaghah *lebay* ini) pun tidak akan berubah jadi “criiing…jeng-jeng-jeng” seperti dia.



Beda halnya jika Anda memandang dengan mata hati di kedalaman jiwa, yang berbingkai dengan spiritualitas yang “teoritis”. Niscaya Anda akan mendapatkan sosok yang memang nampak betul-betul “cantik” (cantik dari dalam maksudnya….aliyas inner beauty). Bukankah wajah ketika habis dibasuh air wudhu itu jadi terlihat bersih, segar, nampak lebih “bersinar dan bercahaya” …terlihat begitu menenangkan “adem” dipandang. Terlebih jika ternyata wanita yang berwudhu itu memang seorang ahli “ilmu, amal, dan dakwah”. Jadi, berasa damai dan sejuk di jiwa. Kata orang, “aura” nya beda.



Apatah lagi jika Anda memandangnya dengan mata kaki yang tidak berbingkai…pantas saja kalau tindakan Anda srudak sana sruduk sini, seperti banteng “bolor” yang sedang menghadapi matador.



Bagi yang sudah memiliki tambatan hati…baik kiranya bagi Anda dan saya untuk berusaha meniru akhlak bidadari surga, hingga suami kita merasakan bahwa seolah-olah kita menjadi sosok “laksana bidadari dalam hati suami”.



INTINYA yang penting adalah: Kerahkanlah usaha terbaik dari kita semampu mungkin untuk meraih jalan menuju surgaNya. Tidak usah kita berkecil atau berbesar hati hanya karena rupa. Ingatlah tujuan utama hidup kita….ingatlah tempat kekal yang akan menjadi hunian kita. Berusaha menuju ke surga…surga..dan surga….itulah kata yang selayaknya senantiasa berdengung dalam pikiran, hati dan langkah kita. Itu saja…habis perkara!



.: Catatan :.



1. Sebetulnya, ingin saya menyuarakan perwakilan sebagian besar suara hati wanita, sekaligus teguran halus bagi segenap lelaki yang masih mendamba wanita dunia yang punya kualifikasi sebagaimana kesempurnaan yang dimiliki wanita penghuni surga. Silahkan baca dan kalau perlu sebarkan bagi lelaki di sekitar Anda, agar hendaknya mereka membuka pikiran, hati, dan mata untuk lebih bersikap realistis dalam menaruh harapan pada pasangan dan calon pasangan.



tekan “KLIK” di sini



2. Maaf saya hanya menyebutkan kata “hikmah” secara global saja, mengenai kondisi mengapa Allah telah menetapkan perbedaan kondisi yang dimiliki setiap hamba. Tadi sudah saya tulis beberapa hikmah secara rinci kenapa kita tidak bisa “memilih” seperti apakah diri kita, hingga kita merasa kecewa dan bahkan secara tidak sadar menggugat takdir yang Allah tetapkan bagi kita. Semakin lama ide tentang itu terlalu banyak untuk ditulis. Jadi, kok saya rasa malah memenuhi dan mengaburkan esensi pikiran utama yang akan disampaikan. Akhirnya, ya sudah..malah tidak ada satupun yang saya tulis di sini. Akan tetapi, jika memang para pembaca menghendaki…tidak mengapa jika saya tambahkan lagi, ketika saya memiliki waktu luang Insya Allah.



3. FYI: Bagi yang belum tahu…Firdaus ini salah satu surga dari sekian banyak surga. Firdaus merupakan surga yang tertinggi, dan berada di tengah surga lainnya. Di atas Firdaus inilah terdapat ‘Arsy Allah. Maka dengan segala keutamaan yang ada di dalamnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada kita, tatkala kita memohon sesuatu pada Allah, mintalah agar dimasukkan ke dalam surga Firdaus ini. Bukan hanya di emperan surga…atau malah berpemikiran tidak pantas berada di surga namun juga tidak kuasa menahan panasnya api neraka? Sebagaimana yang banyak dilantunkan orang Sufi (bukan SUka FIlm lho ya..). Ketahuilah bahwa yang pemikiran yang saya garis bawahi itu bukan kerendah hatian “tawadhu” hakiki, bahkan justru menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.



Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,



إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ



اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ



“Dalam surga terdapat seratus derajat yang Allah persiapkan bagi para mujahidin di jalanNya, yang jarak antara setiap dua tingkatan bagaikan jarak antara langit dan bumi, maka jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga firdaus, sebab firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya ada ‘Arsy Ar-Rahman, dan darinyalah terpancarnya sungai-sungai di surga.” (HR. Al-Bukhari)



4. Bagi yang belum memiliki pasangan: Apakah ada yang merasa rendah diri, merasa sedih atau diliputi perasaan negatif lainnya ketika Anda merasa secara wajah kurang cantik, fisik kurang menarik, dan akhlak belum baik ? sehingga Anda kerapkali menuai kekhawatiran dalam mendapatkan jodoh, dan perasaan rindu bertemu belahan jiwa pun semakin membuat Anda dirundung perasaan pilu, sendu [mengharu biru?]. 



source: muslimah.or.id

Jumat, 06 April 2012

10 Alasan Mengapa Wanita Enggan Berjilbab



Allah telah mewajibkan hijab atas setiap wanita demi melindungi kesuciannya dan menjaga kehormatannya serta menjadi pertanda bagi keimanannya. Oleh karena itu masyarakat yang jauh dari manhaj Allah dan menyimpang dari jalan-Nya yang lurus adalah masyarakat yang sakit, memerlukan pengobatan yang dapat mengantarkannya kepada kesembuhan dan kebahagiaan.

Diantara bentuk penyakit yang sangat menyedihkan adalah tersebarnya fenomena sufur (keberadaan wanita keluyuran diluar rumah) dan tabarruj (terbukanya aurat wanita, rambut, leher, wajah, lengan, kaki dan segala perhiasan dan dandanannya). Sangat disayangkan, fenomena tidak sehat ini telah menjadi ciri khas masyarkat Islam, meskipun pakaian islami masih tersebar didalamnya.

Maka pertanyaannya adalah: mengapa masyarakat sampai pada penyimpangan seperti ini? Mengapa kaum muslimah memilih untuk tidak berhijab, menutup aurat dan melindungi harga diri, kesucian dan kehormatan?

Untuk menjawab pertanyaan yang kami lontarkan kepada beberapa kelompok remaja putri ini ternyata hasilnya ada sepuluh alasan pokok, yang kalau kita cermati ternyata kesepuluh alasan itu sangat rapuh dan lemah.

Berikut ini kesepuluh alasan mereka beserta tanggapannya.

Alasan pertama. Kelompok pertama mengatakan, `Saya belum yakin dengan hijab.`
Maka kita ajukan dua pertanyaan:

Pertama: Apakah mereka secara mendasar telah yakin dengan keberadaan Islam? Jawabannya pasti “Ya”, karena ia mengucapkan لا إله إلا الله. Ini berarti mereka telah yakin dengan aqidah Islam. Dan mereka juga telah mengucapkan محمد رسول الله, ini berarti mereka telah yakin dengan syariat Islam. Jadi mereka telah menerima syariat Islam sebagai aqidah, syariat dan jalan hidup.
Kedua: Apakah hijab termasuk bagian dari syariat Islam dan kewajibannya?

Seandainya mereka ikhlas dan mencari kebenaran dalam masalah ini tentu mereka akan mengatakan “Ya”, karena Allah yang kita imani sebagai satu-satunya sesembahan yang benar telah memerintahkan hijab didalam kitab suci-Nya, dan Rasul saw yang kita imani sebagai utusan Allah telah memerintahkan hijab didalam sunnahnya.

Alasan kedua. Wanita kedua mengatakan: “Saya telah yakin dan menerima kewajiban syariat hijab, akan tetapi ibu saya melarang saya untuk memakainya, kalau saya mendurhakainya pasti saya masuk neraka.”

Alasan ini telah dijawab oleh makhluk Allah yang paling mulia yaitu Rasulullah saw dalam ungkapannya yang sangat singkat dan bijak:

« لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ »

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal mendurhakai sang pencipta.”

Kedudukan kedua orang tua terutama ibu adalah sangat tinggi dan luhur, bahkan Allah menyandingkannya dengan perkara yang paling agung yaitu ibadah menyembah kepada-Nya dan bertauhid kepada-Nya, dalam banyak ayat sebagaimana firman Allah:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak.” (al-Nisa`: 36)

Jadi taat kepada kedua orangtua tidak dibatasi oleh apapun kecuali satu hal yaitu jika keduanya memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah. Allah swt berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلىَ أَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti kedunya.” (Luqman: 15)

Dan ketidak taatan kepada keduanya dalam hal maksiat tidak menjadi penghalang bagi anak untuk berbuat baik kepada keduanya. Allah swt berfirman:

وَصَاحِبْهُمَا فِيْ الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)

Alasan ketiga. Wanita ketiga mengatakan: “Udara panas di negeri kami, saya tidak tahan, bagaimana jika saya memakai hijab?!

Kepada orang-orang seperti ini Allah I mengatakan:

قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُوْنَ

“Katakanlah: “Api nereka Jahannam itu lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui.” (At-Taubah: 81)

Bagaimana bila engkau bayangkan antara panasnya negerimu dengan panasnya api jahannam?

Ketahuilah bawa setan telah membelitmu dengan salah satu tipu dayanya yang rapuh agar kamu terbebas dari panasnya dunia menuju panasnya neraka. Selamatkanlah dirimu dari jerat-jerat setan, jadikanlah teriknya matahari sebagai nikmat bukan sebagai siksa, karena ia mengingatkanmu kepada dahsyatnya adzab Allah pada hari dimana panasnya melebihi penasnya dunia dengan berlipat-lipat ganda.

Alasan keempat. Wanita keempat mengatakan: “Saya takut bila saya berhijab sekarang maka suatu saat nanti saya akan melepaskannya sebab saya melihat banyak yang melakukan seperti itu.”

Kepadanya kita katakan: “Seandainya semua manusia berfikir dengan logika seperti ini tentu mereka meninggalkan agama ini secara total, tentu mereka telah meninggalkan shalat, karena sebagian mereka khawatir meninggalkannya. Tentu mereka juga tidak mau berpuasa karena banyak dari mereka khawatir jika suatu saat akan meninggalkannya … dst. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana sekali lagi setan menjeratmu dengan jaring-jaringnya yang rapuh agar kamu meninggalkan cahaya hidayah?

Rasulullah saw bersabda: “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling langgeng meskipun sedikit.” Mengapa engkau tidak mencari faktor-faktor yang membuat mereka itu menanggalkan hijabnya, supaya engkau dapat mengatasi dan menanggulanginya?”

Alasan kelima. Wanita kelima mengatakan: “Saya khawatir, jika saya mengenakan pakaian syar`i, saya akan dicap sebagai kelompok tertentu, sedangkan saya tidak suka tahazzub (berpecah belah atas dasar fanatisme golongan).”

Sesungguhya didalam Islam itu hanya ada dua hizib (kelompok) tidak ada yang lain. Keduanya disebutkan oleh Allah didalam kitab sucinya. Hizib pertama disebut dengan hizbullah. Yaitu orang yang ditolong oleh Allah kerena ia mentaati perintah-perintah-Nya dan manjauhi larangan-larangan-Nya. Kelompok kedua disebut hizbusysyaithon yaitu orang yang mendurhakai Allah, mentaati setan dan banyak berbuat kerusakan dimuka bumi. Ketika engkau mematuhi perintah Allah yang diantaranya adalah hijab maka engkau tergabung dalam hizbullah yang beruntung. Dan ketika engkau bertabarruj menampakkan kecantikanmu maka engkau suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar telah naik diatas perahu setan bersama rombongan mereka dari kelompok munafiqin dan kuffar. Sungguh mereka adalah seburuk-buruk teman.

Alasan keenam. Wanita keenam mengatakan: “Ada yang mengatakan kepada saya: “JIka kamu berhijab maka tidak ada laki-laki yang menikahimu.” Oleh karena itu saya tanggalkan dulu masalah hijab ini hingga saya menikah.”

Ukhti, sesungguhnya suami yang menginginkanmu keluar rumah dengan membuka aurat, dan bermaksiat kepada Allah adalah suami yang tidak layak untukmu, suami yang tidak cemburu atas kehormatan Allah, tidak cemburu atas dirimu, dan tidak menolongmu untuk dapat memasuki surga dan selamat dari neraka.

Sesungguhnya rumah tangga yang dibangun diatas dasar maksiat kepada Allah dan diatas kemurkaan-Nya adalah pantas bagi Allah untuk menulisnya sebagai keluarga yang sengsara di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah swt:

وَمَنْ أعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yag sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)

Setelah itu, sesungguhnya pernikahan itu adalah nikmat dari Allah yang dianugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, betapa banyak wanita berhijab yang menikah, betapa banyak wanita yang safirah (sering keluar rumah) mutabarrijah (membuka aurat, kecantikannya) tidak menikah. Apabila kamu mengatakan, bahwa sufurku dan tabarrujku adalah sarana bagi tujuan yang suci yaitu pernikahan, maka tujuan yang suci tidak menghalalkan cara-cara yang rusak dan maksiat dalam Islam. Apabila tujuan mulia maka saranapun harus mulia karena kaedah dalam Islam:

الْوَسَائِلُ لَهَا حُكْمُ الْمَقَاصِدِ :

“Washilah (sarana) itu memiliki hukum seperti hukum maksud (tujuan)

Alasan ketujuh. Wanita ketujuh mengatakan: Saya mengetahui bahwa hijab itu wajib, akan tetapi saya akan komitmen dengannya setelah Allah memberikan hidayah nanti.”
Tanyakan kepada ukhti ini, apa langkah-langkah yang ia tempuh agar mendapatkan hidayah dari Allah ini?!

Kita mengetahui bahwa Allah I menjadikan segala sesuatu itu ada sebabnya. Oleh karena itu orang yang sakit minum obat supaya sembuh, seorang musafir naik kereta atau kendaraan supaya sampai ketempat tujuan dst. Apakah ukhti ini benar-benar jujur telah mengikuti jalan hidayah dan mengerahkan kemampuannya untuk sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada hidayah?

Seperti berdo`a kepada Allah secara ikhlash sebagaimana firman Allah swt:

إاِهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Tujukilah kami kepada jalan lurus.” (Al-Fatihah: 6)

Seperti berteman dengan wanita-wantia shalihah, kerena mereka adalah sebaik-baik penolong untuk mendapatkan hidayah dan mempertahankannya, sehingga ia betul-betul komitmen dengan perintah-perintah Allah, dan memakai hijab yang diperintahkan oleh Allah kepada wanita-wanita beriman.

Alasan kedelapan. “Wanita kedelapan mengatakan: “Belum waktunya saya memakai hijab, karena saya masih kecil, nanti kalau saya sudah besar dan sudah haji saya akan berhijab.”

Ketahuilah ada satu malaikat yang berdiri didepan pintumu sedang menunggu perintah Allah. Dia akan bertindak cepat dan tepat kapan saja dari detik-detik kehidupanmu jika ketentuan Allah telah tiba.

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya.” (al-A`raf: 34)

Kemudian tidak pandang bulu, besar ataupun kecil. Bisa saja ajal menjemputmu ketika kamu masih bermaksiat kepada Allah dengan maksiat besar seperti ini; kamu melawan Allah dengan sufur dan tabarrujmu.

Alasan kesembilan. Wanita kesembilan mengatakan: “Kemampuan finansialku terbatas, sehingga aku tidak mempu mengganti baju-bajuku dengan pakaian-pakaian yang syar`i.

Kepada ukhti ini kita katakan: “Untuk mendapatkan ridha Allah dan untuk mendapatkan surga-Nya, semua yang mahalpun terasa tidak ada harganya; harta dan jiwa tidak ada nilainya. Dan ingat Allah pasti menolong hamba-hamba-Nya yang taat. Barangsiapa yang bertakwa pasti Allah berikan jalan keluar dan kemudahan.

Alasan kesepuluh. Akhirnya wanita kesepuluh mengatakan: “Saya tidak berhijab karena mengamalkan firman Allah I:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (al-Dhuha: 11)

Bagaimana saya harus menyembunyikan nikmat kecantikan yang telah Allah berikan kepada saya seperti rambut yang lembut, paras yang cantik dan kulit yang indah?!

Kita katakan: Ukhti ini bersedia mengikuti firman Allah dan komitmen dengan perintah Allah, tetapai sayang selama itu sesuai dengan hawa nafsunya dan menurut pemahaman yang semaunya. Dan meninggalkan perintah-perintah dari sumber yang sama ketika tidak bernafsu kepadanya. Jika tidak mengapa tidak mematuhi perintah Allah swt:

وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (An-Nur: 31)

Dan firman Allah swt:

يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيْبِهِنَّ

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (keseluruh tubuh mereka).” (al-Ahzab: 59)
Sesungguhnya nikmat Allah yang terbesar adalah nikmat iman dan hidayah. Lalu mengapa engkau tidak menampakkan dan memperbincangkan nikmat Allah yang terbesar ini yang diantaranya adalah hijab syar`i.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Allah, janganlah Engkau simpangkan hati kami ini setelah Engkau berikan hidayah kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami dari sisi-Mu sebuah rahmat, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi.”

http://gizanherbal.wordpress.com/