Laman

Jumat, 20 Desember 2013

Sahabat .....



Jika sahabatmu berlaku buruk terhadapmu, 
catat keburukannya di atas pasir, 
agar angin ‘kan menghapusnya..


Bila ia berlaku baik terhadapmu,
 catat kebaikannya di atas batu
 agar angin tak dapat menghapusnya.





.@almonajjid - Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA.

Wanita Yang Cantik ....



WANITA yang Cantik Kulitnya, akan Takut Terbakar Panas Matahari,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Akhlaknya akan Takut Terbakar Api Neraka..


WANITA yang Cantik Wajahnya akan Berseri- seri Menikmati Duniawi,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Hatinya akan Tunduk, Patuh dan Takut pada Illahi.


WANITA yang Cantik Dirinya, akan Menangis jika Dunia pergi Darinya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Jiwanya akan tercukupi Hidupnya dengan Aqidahnya..


WANITA yang Cantik Hidupnya akan Bangga dengan Kemewahaannya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik akhiratnya akan Berpuasa dan Bersedekah dengan Hartanya..


Dan WANITA yang Cantik Zamannya, akan mengikuti Akal, Nafsu dan Segala kehendaknya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Waktunya, akan menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Soleh untuknya.. 



( Via ust. Firanda Andirja )

Senin, 16 Desember 2013

Ujian Itu ....



Ujian itu ..........

Terurai jika di Adukan kepada Allah ta'ala.

Mengecil jika dirahasiakan,

Membesar jika dikeluh-kesahkan,

Merumit jika diumbar kepada manusia…

Merendahkan harga diri jika dibuat status di sosmed.



Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menukil perkataan Ibnu ‘Abbas: 

Malaikat tersebut mencatat setiap perkataan hamba, yang baik maupun yang buruk hingga mereka menulis perkataan; saya berkata, saya minum, saya pergi, saya datang, dan saya melihat.” 


Ibnu Katsir juga berkata: 

“Disebutkan bahwa Imam Ahmad mengeluh ketika sakit. 

Kemudian ia mendengar Thawus berkata, 

Malaikat mencatat segala sesuatu hingga suara keluhan. 

Imam Ahmad pun tidak pernah mengeluh lagi hingga meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya.” 

[Tafsir Ibnu Katsir 4/225]



HINDARI MENGELUH DALAM HIDUP !

Selasa, 10 Desember 2013

Wanita Muslimah ....



Muslimah...

wanita muslimah…laksana bunga….yang menawan…
wanita muslimah yang sholehah….
bagaikan sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya….
Begitu indah…
begitu berkilau...
begitu menentramkan...

teramat banyak yang ingin meraih bunga tersebut…
Namun tentunya....
tak sembarang orang berhak meraihnya….
menghirup sarinya….


”Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al Furqan: 74)


hanya yang dia yang benar-benar terpilihlah...yang dapat memetiknya...
yang dapat meraih pesonanya...
dengan harga mahal yang teramat suci…
sebuah ikatan amat indah…bernama pernikahan…
karena itu…sebelum saatmu tiba….sebelum orang terpilih itu datang dan menggandengmu dalam istananya…

janganlah engkau biarkan dirimu layu sebelum masanya…
jangan kau biarkan serigala liar menjadikanmu bahan permainan dalam keisengannya…
jangan kau biarkan kumbang berebutan menghisap madumu…
jangan kau biarkan mereka mengintipmu diam-diam…dan menikmati pesonamu dalam kesendiriannya….
Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta...

Ya…atas nama cinta…

Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta

Kau tau saudariku…??
Jika seseorang jatuh cinta….maka cinta akan membungkus seluruh aliran darahnya…membekuknya dalam jari-jarinya…dan menutup semua mata…hati dan pikirannya….
Membuat seseorang lupa akan prinsipnya….
Membuat seseorang lupa akan besarnya fitnah ikhwan-akhwat…
Membuat seseorang lupa akan apa yang benar dan apa yang seharusnya ia hindarkan…
Membuat seseorang itu lupa akan apa yang telah ia pelajari sebelumnya tentang batasan-batasan pergaulan ikhwan akhwat…
Membuat seseorang menyerahkan apapun…supaya orang yang ia cintai…”bahagia” atau ridho terhadap apa yang ia lakukan…

Membuat orang tersebut lupa…bahwa….cinta mereka belum tentu akan bersatu dalam pernikahan….

Ya saudariku….ukhty fillah…

Jangan sampai cinta menjerumuskanmu dalam lubang yang telah engkau tutup rapat sebelumnya…

Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati.
Cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin...

Cinta begitu dasyat pengaruhnya…jika engkau tau….
Karena itu…jika engkau mulai menyadari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…
segeralah…buat sebuah benteng yang tebal…yang kokoh…
Tanam rumput beracun disekelilingnya…
Pasang semak berduri di muara-muaranya….

Berlarilah menjauhinya…menjauhi orang yang kau cintai….
Buat jarak yang demikian lebar padanya….

jangan kau berikan ia kesempatan untuk menjajaki hatimu...

Biarlah air mata mengalir untuk saat ini…
Karena kelak yang akan kalian temui adalah kebahagiaan…
biarlah sakit ini untuk sementara waktu...
biarlah luka ini mengering dengan berjalannya kehidupan...

Karena…cinta tidak lain akan membuat kalian sendiri yang menderita…
Kalian sendiri…

Saudariku…. tentunya sudah mengerti dan paham...
bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta...
jika dia jauh..kita merasa sakit karena rindu...
jika ia dekat...kita merasa sakit...karena takut kehilangan....

padahal...ia belum halal untukmu...dan mungkin tidak akan pernah menjadi yang halal...

karena itu...jauhilah ia...
jangan kau biarkan dia menanamkan benih-benih cinta di hatimu....dan kemudian mengusik hatimu...
jangan kau biarkan dia mempermainkanmu dalam kisah yang bernama cinta...

maka...bayangkanlah keadaan ini...tentang suamimu kelak...

Hadis riwayat Abu Musa radhiyallaahu 'anhu, ia berkata:
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:

Tidak seorang pun yang lebih sabar mendengar sesuatu yang menyakitkan selain Allah, karena meskipun Allah disekutukan dan dianggap memiliki anak, tetapi Allah tetap memberikan kesehatan dan rezeki kepada mereka.

(Shahih Muslim No.5016)

sahabatku...
sukakah engkau..??
apabila saat ini ternyata suamimu (kelak) sedang memikirkan wanita yang itu bukan engkau..???

sukakah engkau..??
bila ternyata suamimu (kelak) saat ini tengah mengobrol akrab...

tertawa riang...becanda...
saling menatap...
saling menggoda...
saling mencubit...
saling memandang dengan sangat...
saling menyentuh...???
dan bahkan lebih dari itu...??

sukakah engkau saudariku...??

sukakah engkau bila ternyata saat ini suamimu (kelak) sedang jalan bersama gadis lain yang itu bukan engkau...??
sukakah engkau...??
bila saat ini suamimu (kelak) tengah berpikir dan merencanakan pertemuan berikutnya...??
tengah disibukkan oleh rencana-rencana...apa saja yang akan ia lakukan bersama gadis itu...??

tidak cemburukah engkau temanku..??
bila saat ini suamimu (kelak) sedang makan bareng bersama gadis lain...atau bahkan segerombolan gadis lain..?
suamimu (kelak) saat ini sedang digoda oleh gadis-gadis..
suamimu (kelak) sedang ditelepon dengan mesra...
suamimu (kelak) saat ini sedang dicurhatin gadis-gadis... yang berkata..."aku tak bisa jika sehari tak mengobrol denganmu..."

tidak cemburukah...?? tidak cemburukah...??
tidak cemburukaaaaahhhhhhhh......???

tidak terasa bagaimanakah..
jika suamimu (kelak) saat ini tengah beradu pandangan...
bercengkrama..
bercerita tentang masa depannya...
dengan gadis lain yang bukan engkau...???

sukakah engkau kiranya suamimu (kelak) saat ini tidak bisa tidur karena memikirkan gadis tersebut...??
menangis untuk gadis tersebut...??
dan berkata dengan hati hancur...

"aku sangat mencintaimu...aku sangat mencintaimu...???"
tidak patah hatikah engkau...???
sukakakah engkau bila suamimu (kelak ) berkata pada gadis lain.."tidak ada orang yang lebih aku cintai selain engkau...??"
menyebut gadis tersebut dalam doanya...
memohon pada Allah supaya gadis tersebut menjadi istrinya...

dan ternyata engkaulah yang kelak akan jadi istrinya...
dan bukan gadis tersebut...???

jika engkau tidak suka akan hal itu...
jika engkau merasa cemburu....
maka demikian halnya dengan suamimu (kelak)...

dan...Allah jauh lebih cemburu daripada suamimu....
Allah lebih cemburu...saudariku...
melihat engkau sendirian...namun pikiranmu enggan berpindah dari laki-laki yang telah mengusik hatimu tersebut....

saudariku....kalian percaya takdir bukan..?

saudariku....kalian percaya takdir bukan..?

apabila dua orang telah digariskan untuk dapat hidup bersama...
maka...
sejauh apapun mereka...
sebanyak apapun rintangan yang menghalangi...
sebesar apapun beda diantara mereka...
sekuat apapun usaha dua orang tersebut untuk menghindarkannya...

meski mereka tidak pernah komunikasi sebelumnya...
meski mereka sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya...
meski mereka tidak pernah saling bertegur sapa...

PASTI tetap saja mereka akan bersatu....
seakan ada magnet yang menarik mereka...
akan ada hal yang datang...untuk menyatukan mereka berdua....
akan ada suatu kejadian...yang membuat mereka saling mendekat...dan akhirnya bersatu...

Dari Usamah bin Zaid, Rosulullah shollallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tidak pernah kutinggalkan sepeninggalku godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki selain daripada godaan wanita.”

namun...
apabila dua orang telah ditetapkan untuk tidak berjodoh...
maka...
sebesar apapun usaha mereka untuk saling mendekat...
sekeras apapun upaya orang disekitar mereka untuk menyatukannya...
sekuat apapun perasaan yang ada diantara mereka berdua...
sebanyak apapun komunikasi diantara mereka sebelumnya...
sedekat apapun...

PASTI...akan ada hal yang membuat mereka akhirnya saling menjauh...
ada hal yang membuat mereka saling merasa tidak cocok...
ada hal yang membuat mereka saling menyadari bahwa memang bukan dia yang terbaik....
ada kejadian yang menghalangi mereka untuk bersatu...

bahkan ketika mereka mungkin telah menetapkan tanggal pernikahan...

namun...yang perlu dicatat disini adalah...
yakinlah...bahwa yang diberikan oleh Allah...
yakinlah...bahwa yang digariskan oleh Allah...
yakinlah...bahwa yang telah ditulis oleh Allah dalam KitabNya..
adalah...yang terbaik untuk kita....
adalah....yang paling sesuai untuk kita...
adalah...yang paling membuat kita merasa bahagia,,,,

karena Dialah...yang paling mengerti kita...lebih dari kita sendiri...
Dialah...yang paling menyayangi kita...
Dialah...yang paling mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita...
sementara kita hanya sedikit saja mengetahuinya...dan itupun hanya berdasarkan pada persangkaan kita...

dan....yang perlu kita catat juga adalah...

JIKA KITA TIDAK MENDAPATKAN SUATU HAL YANG KITA INGINKAN...
ITU BUKAN BERARTI BAHWA KITA TIDAK PANTAS UNTUK MENDAPATKANNYA....

NAMUN JUSTRU BERARTI BAHWA...
KITA PANTAS...
KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK DARI HAL TERSEBUT...
KITA PANTAS MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK...
SAUDARIKU....
LEBIH BAIK....

meskipun saat ini...mata manusia kita tidak memahaminya...
meskipun saat itu...perasaan kita memandangnya dengan sebelah mata...
meskipun saat itu...otak kita melihatnya sebagai sesuatu yang buruk....

Tidak...jangan terburu-buru menvonis bahwa engkau telah diberikan sesuatu yang buruk....bahwa engkau tidak pantas....
karena kelak...engkau akan menyadarinya...
engkau akan menyadarinya perlahan...bahwa apa yang telah hilang darimu....bahwa apa yang tidak engkau dapatkan....
bukanlah yang terbaik untukmu...bukanlah yang pantas untukmu...bukanlah sesuatu yang baik ,,,,untukmu....

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah bersabda :

"Berwasiatlah kalian yang baik kepada kaum wanita, karena mereka tercipta dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, maka kalau engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, namun jika engkau membiarkannya maka dia akan selamanya bengkok, oleh karena itu berwasiatlah yang baik kepada wanita.”

(HR. Bukhari 5168, Muslim : 1468)

karena itu...saudariku...
jangan mubazirkan perasaanmu...air matamu...
jangan kau umbar semua perasaan cintamu ketika engkau tengah menjalin proses ta'arufan...
jangan kau umbar semua kekuranganmu...jangan kau ceritakan semuanya...
jangan kau terlalu ngotot ingin dengannya...jika engkau mencintainya...
karena belum tentu dia adalah jodohmu...
pun jangan takut bila ternyata kalian tidak merasa cocok...
karena Allah telah menetapkan yang terbaik untuk kalian...

maka...memohonlah padaNya...
mintalah padanya diberikan petunjuk...
dan dijauhkan dari segala godaan yang ada...
karena...cinta sebelum pernikahan...
pada hakekatnya adalah sebuah cobaan yang berat...

apakah kalian sering merasa takut…??
Karena hanya memiliki sedikit saja atau bahkan tidak memiliki teman laki-laki…???

kemudian saudariku….
apakah kalian sering merasa takut…??
Karena hanya memiliki sedikit saja atau bahkan tidak memiliki teman laki-laki…???
Apakah kalian merasa khawatir…???
Apakah kalian sering merasa iri melihat gadis-gadis lain yang banyak yang mencintai…banyak yang melamar…banyak yang menginginkannya…??

Pernahkan terlintas rasa iri tersebut pada kalian…???
Atau sekedar ungkapan…
”hmm…enak ya..kamu…punya banyak temen laki-laki….”
“hmm..kamu sih enak…banyak yang mau…tinggal milih…?”

Saudariku…ketahuilah….
Kelak…kita hanya akan memiliki satu orang suami…
Hanya satu saudariku…atau kadang lebih…jika cerai dan menikah lagi…namun saat yang bersamaan…kita hanya akan punya satu suami bukan,,,,???
Jadi seberapa banyak pun laki-laki yang menyukai kita..
Seberapa banyak teman laki-laki kita…
Seberapa banyak kenalan kita….
Pada akhirnya kita hanya akan menikah dengan satu orang laki-laki…
Pada akhirnya kita hanya akan jadi milik satu orang laki-laki…


Dan…percayalah…semua itu tidak ada kaitannya dengan banyak sedikitnya kenalan…banyak sedikitnya teman laki-laki

sama sekali tidak...
karena jika wanita yang terjaga maka Allahlah yang akan mengirimkan pendamping untuknya...
karena wanita yang terjaga adalah wanita yang banyak didamba oleh seorang ikhwan sejati...
jadi...jagalah dirimu...hatimu...kehormatanmu...sebelum saatnya tiba...

perbanyak bekalmu...dan doamu...
yakinlah...bahwa Allah yang akan memilihkan yang terbaik untukmu...
Aamiin...


*Ya Allah...karuniakanlah kami seorang suami yang sholeh...
yang menjaga dirinya...
yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal baginya...
yang senantiasa memperbaiki dirinya...
yang senantiasa berusaha mengikuti sunnah Rasulullah...
yang baik akhlaknya...
yang menerima kami apa adanya...
yang membimbing kami dengan lemah lembut...
yang akan membawa kami menuju JannahMu Ya Rabb...

kabulkan ya Allah..
karena hati kami teramat lemah...
dan cinta sebelum menikah adalah sebuah cobaan yang berat...

al wakrah,
penghujung tahun, 11 Desember 2009

Rabu, 04 Desember 2013

Figur Seorang Ibu ....



Figur seorang ibu itu sangatlah penting ! Mengapa? - 
Karena ia sebagai tempat pondasi awal di dalam pendidikan yang pertama bagi seorang anak. 
Baik pendidikan agama maupun ilmu pengetahuan umum. 


Terkhusus pendidikan akhlak dan agama. -Ia menjadi teladan dan panutan bagi buah hatinya. 
Maka betapa banyak seorang ibu yang kurang baik akhlaknya,
 lalu buah hatinyapun mengikuti sifat dan perangainya. -
Ia menjadi penyeimbang ketenangan hati di dalam rumah tangganya. 


Itulah ibu yang cerdas ! Mampu mengkondisikan suasana. -
Ia menjadi cerminan bagi anak perempuannya di dalam sebuah ketaatan kepada suaminya.
 Maka anak perempuanpun akan melihat, bagaimana sikap ibunya kepada ayahnya. 
Apakah taat ataukah sering membangkang? 
Anak perempuan akan meniru sifat itu, setelah ia menikah nantinya. 

Maka perhatikanlah! Betapa mulianya peran seorang ibu di dalam rumah tangga. 
Tak tergantikan oleh harta maupun kedudukan. 
Tak tergantikan oleh yang lainnya. 


Menjadi ibu rumah tangga bukanlah suatu pekerjaan yang hina, namun sangatlah mulia. 
Bukanlah pekerjaan yang sia-sia , namun sangatlah berarti dan berjasa. 


Buat para ibu dan calon ibu; 
Janganlah tinggalkan rumahmu. 
Janganlah kau lupakan pendidikan yang terbaik untuk buah hatimu kelak. 
Janganlah kau terlalu tersibukkan dengan segala aktifitas di luar rumahmu. 
Karena peran dan figur seorang ibu di rumah, 
sangatlah penting dan teramat mulia bagi suaminya. 


Biarkan dan relakanlah suamimu untuk bekerja di luar sana, 
tanpa harus kau ikut terjun bersamanya. 
Relakanlah suamimu untuk pulang rumah berlarut malam karena pekerjaanya, 
tanpa kau yang harus menggantikan peranya. 


Isteri bukanlah suami dan suami bukanlah isteri. 
Masing-masing di antara keduanya memiliki hak dan kewajiban yang harus saling terpenuhi, 
tanpa harus mengorbankan salah satu di antara keduanya. 


Bagi seorang isteri, terimalah apa adanya segala pemberian dan hasil jerih payah dari suamimu. 
Tanpa menuntut dan meminta lebih, 
sehingga melupakan bagaimana cara yang terbaik untuk bersyukur. 


Itulah isteri yang baik. 
Figur seorang ibu yang bijak, 
di dalam menempatkan segala keadaan bersama pada tempatnya. 


Semoga Allah memudahkan segala perjuangan mereka (para wanita) untuk menjadi seorang ibu yang baik. Figur yang tepat bagi buah hati dan keluarganya. 
‪ibu‬ yang baik adalah cerminan bagi keluarga yang sakinah, serta masyarakat yang baik. 
Maka masyarakat yang baik, akan terlahir dari seorang ibu yang baik dan berakhlak mulia. 



by. Afza Fajri Khatami Masyhadi 
Ditulis Pada Penghujung Malam Di Kota Nabi. Rabu (04/12/13)

Jumat, 29 November 2013

Renungkan: Umurmu yang Berkurang



Tidak ada awal dan akhir tahun, 
yang ada hanyalah umur yang semakin berkurang. 
Mengapa kita selalu berpikir bahwa umur kita bertambah,
 namun tidak memikirkan ajal semakin dekat? 


Benar kata Al Hasan Al Bashri, seorang tabi’in terkemuka yang menasehati kita agar bisa merenungkan bahwa semakin bertambah tahun, semakin bertambah hari, itu berarti berkurangnya umur kita setiap saat.

Hasan Al Bashri mengatakan,

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 148)

Al Hasan Al Bashri juga pernah berkata,

لم يزل الليلُ والنهار سريعين في نقص الأعمار ، وتقريبِ الآجال

“Malam dan siang akan terus berlalu dengan cepat dan umur pun berkurang, ajal (kematian) pun semakin dekat.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383).

Semisal perkataan Al Hasan Al Bashri juga dikatakan oleh Al Fudhail bin ‘Iyadh. Beliau rahimahullah berkata pada seseorang, “Berapa umurmu sampai saat ini?” “Enam puluh tahun”, jawabnya. Fudhail berkata, “Itu berarti setelah 60 tahun, engkau akan menghadap Rabbmu.” Pria itu berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi rooji’un.” “Apa engkau tidak memahami maksud kalimat itu?”, tanya Fudhail. Lantas Fudhail berkata, “Maksud perkataanmu tadi adalah sesungguhnya kita adalah hamba yang akan kembali pada Allah. Siapa yang yakin dia adalah hamba Allah, maka ia pasti akan kembali pada-Nya. Jadi pada Allah-lah tempat terakhir kita kembali. Jika tahu kita akan kembali pada Allah, maka pasti kita akan ditanya. Kalau tahu kita akan ditanya, maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan tersebut.” Lihat percakapan Fudhail ini dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383.


Jadi sungguh keliru, jika sebagian kita malah merayakan ulang tahun karena kita merasa telah bertambahnya umur. Seharusnya yang kita rasakan adalah umur kita semakin berkurang, lalu kita renungkan bagaimanakah amal kita selama hidup ini?


Bukankah yang Islam ajarkan kita jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk akhirat. Ibnu ‘Umar pernah berkata,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. Bukhari no. 6416). 

Hadits ini mengajarkan untuk tidak panjang angan-angan, bahwa hidup kita tidak lama.


‘Aun bin ‘Abdullah berkata, “Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. 
Begitu banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. 
Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia pun tidak bisa menemui hari esok.
Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan.” ‘Aun juga berkata,

إنَّ من أنفع أيام المؤمن له في الدنيا ما ظن أنَّه لا يدرك آخره

“Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia adalah ia merasa bahwa hari besok sulit ia temui.”  [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 385.]


Di Balik Menunggu Pergantian Tahun

Setelah kita merenungkan berbagai nasehat di atas, moga yang berhati lembut bisa sadar bahwa waktu itu begitu berharga walau 1 detik saja. Namun cobalah lihatlah perayaan awal tahun yang dilakukan kaum muslimin saat ini, sungguh menyia-nyiakan waktu dan umurnya sendiri. Kadang yang wajib seperti shalat ditinggalkan hanya karena bela-belain menunggu pergantian waktu. Kadang pula di awal tahun malah diisi dengan maksiat dan penghamburan harta. Seharusnya yang dipikirkan adalah bukannya datangnya pergantian tahun atau bertambahnya umur. Yang mesti dipikirkan adalam umur kita senyatanya semakin berkurang, sehingga seharusnya amal sholih yang harus kita tingkatkan. Inilah yang lebih urgent.

Intinya, perayaan tahun baru punya berbagai sisi kerusakan di antaranya:

1- Merayakan perayaan non-muslim karena perayaan ini tidak pernah ada dalam Islam.

2- Mengikuti budaya orang kafir.

3- Berbagai maksiat dan bid’ah yang muncul saat perayaan tahun baru.

4- Meremehkan shalat lima waktu karena sibuk begadang.

5- Begadang untuk menunggu pergantian tahun pun sia-sia.

6- Seringnya mengganggu kaum muslim dengan petasan dan semacamnya.

7- Meniru perbuatan setan dengan bersikap boros.

source: Rumaysho.com

Rabu, 27 November 2013

Kejujuran Tak Akan Melukai Siapapun .....



Bismillah.

"Kejujuran tak akan melukai siapapun; 

sementara kebohongan hanya melukai si pelaku kebohongan."

---------------------------------------------------------------------

Perkataan Ibnul Jauzi Rahimahullah… seorang ulama yang dilahirkan
pada tahun 510H…. dalam bukunya Shaidul Khatir:

"“Terkadang muncul kesadaran ketika seseorang tengah mendengarkan nasehat,
 namun ketika ia sudah berpisah dari majlis ilmu tersebut, 
kerasnya hati dan kelalaianpun muncul kembali."


Dan aku perhatikan orang-orang berbeda dalam masalah ini :

Kondisi umumnya orang-orang, bahwa saat mendengar nasehat ketika berada dalam majlis ilmu dan seusai mendengar nasehat, hati tidak mempunyai sifat kesadaran yang sama dikarenakan dua sebab :


Pertama : bahwa nasehat itu bagaikan cambuk.

Dan cambuk sendiri setelah masa reaksinya habis tidak lagi menyakitkan seperti halnya rasa sakit kala cambuk itu dipukulkan.


Kedua : dalam kondisi tengah mendengarkan nasehat, seseorang menyingkirkan penyakit hatinya saat itu.
Dia kosongkan badan dan pikirannya dari berbagai tendensi duniawi dan dia mendengarkan dengan seksama sepenuh hati.

Namun kala dia kembali pada kesibukannya, dia pun terjerat virus yang bersarang dalam aktifitas dunianya.

Maka bagaimana mungkin kondisi hatinya menjadi seperti kondisi sebelumnya (yakni saat tengah mendengarkan nasehat).

Kondisi ini berlaku umum bagi semua orang.
Hanya saja orang-orang yang punya kesadaran yang berbeda-beda dalam hal sejauh mana pengaruh tersebut terus tetap membekas (dalam dirinya).

Diantara mereka ada yang mempunyai tekad bulat tanpa ada keraguan. Dia terus melenggang tanpa menoleh.
Andaikan tabiat jiwa menghentikan langkah mereka, pastilah mereka meradang.

Diantara mereka adapula orang-orang yang tabiat mereka sesekali condong kepada kelalaian.

Dan nasehat-nasehat tadi kadang bisa memotivasi mereka untuk beramal. 

Maka mereka ini bagaikan bulir padi yang diombang-ombingkan angin.


Ada lagi orang-orang yang mana nasehat tidak berpengaruh

pada mereka kecuali sebatas apa yang dia dengar,

seperti halnya air yang engkau gulirkan diatas batu yang halus.”



(Dikutip dari buku Shaidul Khatir : Untaian Renungan Hikmah Pembangkit Energi Takwa karangan Ibnul Jauzi, halaman 3-4)


Jumat, 22 November 2013

Belajar Dari Jam Dinding....



Dilihat orang atau tidak, ia tetap berdenting.
Dihargai orang atau tidak, ia tetap berputar.

Walau tak seorangpun mengucapkan terima kasih,
ia tetap Bekerja.
Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.

Hidup ini banyak pilihan namun Hidup ini pun sangat singkat...
Maka segera tentukan dan pilihlah prioritas hidup kita.

Jangan sia-siakan hidup kita
agar hidup kita lebih bermanfaat bagi orang lain.

Dan teruslah berbuat baik kepada sesama
meskipun perbuatan baik kita tidak dinilai dan diperhatikan oleh orang lain.

Ibarat Jam Dinding yang terus bekerja,
walaupun tak dilihat namun senantiasa memberi manfaat bagi orang sekitarnya..




by ust Hizbul Majid al Jawi

Rabu, 20 November 2013

Wanita .....





Wanita yang baik agamanya,

ketika ia memiliki kedudukan tinggi dan nasab yang mulia,

ia tidak menghina orang lain. 


Ia justru menjadi wanita yang mulia

dan menggunakan kedudukannya untuk membela kebenaran.


Wanita yang baik agamanya,

ketika ia cantik, ia tidak membuat suaminya resah. 
Ia justru menjadi penghibur hati 

dan penyejuk mata bagi suaminya tercinta



Kamis, 14 November 2013

Problema Anak Berbohong .....




Seorang ibu merasa kewalahan menghadapi puteranya yang berusia 9 tahun yang suka berbohong. 
Sang anak sering sekali berbohong bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. 
Ia berbohong tentang nilai ulangan hariannya,
 ia berbohong tentang siapa yang memecahkan pot bunga saat bermain bola,
 ia berbohong saat hendak pamit les, dan lain sebagainya. 


Sang ibu merasa sudah mengajarkan nilai kejujuran pada anaknya,
 bahkan sering memarahinya jika ketahuan bohong,
 tapi tidak nampak tanda-tanda anak ini mau berubah. Lalu, harus bagaimana?


Tidak diragukan lagi bahwa berbohong adalah sebuah perilaku tercela yang bisa menjadi kebiasaan apabila tidak ditangani sedini mungkin. Para pendidik, khususnya orang tua harus mencurahkan perhatian dan melakukan upaya-upaya perbaikan dari kebiasaan berbohong ini agar tidak menjadi kebiasan buruk yang mengakar kuat dalam diri seorang anak.


Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.”
(HR. Bukhari No. 6094, Muslim No. 2607)


Anak-anak memang tidak dilahirkan dengan kode moral. 
Moralitas adalah sesuatu yang dipelajari oleh seorang anak dalam tumbuh kembangnya secara bertahap dari tahun ke tahun. 
Dan perilaku berbohong adalah salah satu dari tahapan tersebut.


Dalam tumbuh kembangnya, anak-anak belajar tentang aturan-aturan sosial. 
Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada yang dinamakan khayalan, kebohongan, dan kenyataan. Dan umumnya, perilaku berbohong ini muncul dalam diri anak ketika ia mulai bisa bicara.


Rentang usia 4 sampai 9 tahun, anak-anak masih banyak hidup dengan khayalan-khayalan mereka. 
Mereka belum bisa membedakan yang mana khayalan dan mana kenyataan. 
Mereka sering beranggapan bahwa binatang bisa bicara layaknya manusia,
mereka mengira bahwa hantu dan monster itu benar-benar ada,
mereka yakin bahwa kartun-kartun animasi itu benar-benar hidup dan menjadi teman mereka. 
Dan sering kali mereka menempatkan diri mereka menjadi bagian dari khayalan tersebut.


Setelah usia 9 tahun, anak-anak mulai memahami aturan “tidak boleh berbohong”
Mereka mulai memahami bahwa sesuatu yang bukan sebenarnya itu berarti berbohong. 
Namun mereka masih memilah dan memilih, atau mempertimbangkan kapan mereka bisa berbohong atau tidak. 
Dalam artian, mereka belum benar-benar faham bahwa berbohong itu tercela. 
Karena ada kebutuhan lain yang lebih penting bagi mereka, yaitu kebutuhan untuk diterima dengan baik oleh suatu kelompok sosial tertentu.


Alasan Mengapa Anak Berbohong

Berikut ini ada beberapa alasan mengapa anak-anak berbohong :

1. Contoh yang salah dari orang tua

Anak-anak adalah peniru yang sangat baik. Mereka meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang dewasa di sekitarnya, termasuk berbohong.

Ya, anak-anak belajar berbohong pertama kali dari orang tuanya. Disadari atau tidak, orang tua seringkali memberikan contoh yang salah dalam perilaku berbohong ini, sehingga anak-anak menirunya di kemudian hari.

Contoh kecil, saat seorang ibu ingin mengalihkan perhatian anakknya atau menghentikan tangis anaknya, ibu itu berkata, “Eh, lihat itu ada cicak!” atau “Eh, lihat ada pesawat terbang!”. Padahal sesungguhnya tidak ada cicak atau pesawat terbang disana.

Contoh lagi, saat ada tamu atau telpon, sedangkan ibu atau ayah sedang menghindari orang yang bertamu atau telpon tersebut, ibu akan mengatakan, “Bilang saja ibu nggak ada di rumah…”. Padahal ibu jelas-jelas ada di rumah.


Atau, saat hendak mengajarkan anak berpisah dari orang tua saat di sekolah, ibu berjanji pada anaknya yang belum mau ditinggal untuk menunggu di luar kelas. 
Tapi, ternyata setelah anak masuk, sang ibu pergi untuk pulang hingga datang kembali untuk menjemput sang anak.


Kita sebagai orang tua ada role model utama bagi anak-anak kita. Karena kitalah yang paling sering berada di dekat mereka. 
Jadi kita harus berhati-hati tentang masalah berbohong ini. Jika kita sering berbohong, maka jangan salahkan anak bila kelak mereka ikut berbohong.
 Namun, bila kita membiasakan anak untuk jujur sejak kecil, maka insyaallah anak-anak pun akan menjadi anak yang jujur dan mudah untuk diarahkan.


2. Anak terlalu sering dikritik, tetapi jarang diberi pujian

Sering kali kita terburu-buru mengecap anak kita berbohong, mencurigainya, mengkritiknya, padahal anak berkata jujur. 
Dan kita akan langsung memberikan label “pembohong” ketika anak pernah sekali berbohong pada kita. Sehingga pada akhirnya, anak pun mengambil kesimpulan bahwa “bohong atau jujur sama saja, ibu akan tetap bilang aku ini pembohong”.

Dan kita juga lebih sering mengeluarkan kalimat-kalimat negatif pada anak, alih-alih memberinya semangat dan dorongan untuk selalu berbuat baik. 
Kita lebih sering mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan anak, mengecilkan hati anak, memberikan julukan yang negatif, dan lain sebagainya sebagai bentuk dari “kekerasan verbal” terhadap seorang anak.


Contohnya, kita masih sering terpatok pada “hasil akhir” dan bukannya “usaha” dari seorang anak. 
Kita akan mengkritik, “Hitungan mudah begini saja kamu nggak bisa” atau “sudah sering kamu diajari wudhu tapi masih saja nggak bisa wudhu yang benar!” dan yang semisal dengan itu.


Anak-anak yang terlalu sering mendapatkan kritikan dari orang tuanya, akhirnya menjadi haus pujian. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat orang tuanya mau memujinya. Salah satunya adalah berbohong. 
Dengan berbohong, mereka beranggapan bahwa mereka bisa menyelamatkan diri dari “omelan ibu” dan akan mendapatkan “pujian ibu”.


3. Bentuk pengalihan perhatian atau menghindari hukuman

Suatu ketika, saya pernah menegur keras putri saya yang baru berusia 3 tahun karena suatu hal. 
Saat saya memarahinya, putri saya tiba-tiba mengatakan pada saya, “Bunda, sakit perut…”. Dan akhirnya saya pun tidak marah lagi dan kemudian menyuruhnya untuk segera ke kamar mandi.
 Rupanya, putri saya ini merekam kejadian hari itu. Mungkin dalam benaknya, kalau bunda marah-marah aku bilang sakit perut, bunda jadi nggak marah. Dan esok harinya, saat saya menegurnya lagi karena hal yang lain, ia pun mengatakan hal yang sama, “Bunda, sakit perut…” padahal ternyata tidak keluar. Dan itu terjadi beberapa kali, sampai kemudian saya baru sadar bahwa “sakit perut” adalah alasan untuknya mengalihkan perhatian saya agar saya tidak marah-marah lagi.


Anak-anak yang masih kecil biasanya cenderung “tidak sengaja” berbohong. Dalam artian, mereka belum bisa memprediksi sebab-akibat. 
Jika kita menganggap jelas bahwa anak bermain bola dan memecahkan vas adalah suatu kesalahan, maka anak-anak tidak bisa berpikir demikian. Mereka hanya berpikir, “Aku main bola, dan aku ngga mecahin vas ibu. Bola yang mecahin vas ibu”. Dan itulah yang akan mereka katakan.


Anak-anak juga berbohong dengan menyalahkan orang lain atau hal lain untuk menyelamatkan diri dari hukuman. Contohnya, mereka menyalahkan kucing untuk pot bunga yang pecah saat mereka bermain di halaman, atau membuat alasan “kue ini buat kucing” saat ia kedapatan mengambil kue tanpa izin, dan lain sebagainya.


4. Ingin diterima oleh lingkungan dan teman-temannya

Pada anak-anak yang sudah lebih besar atau remaja, umumnya mereka berbohong untuk meningkatkan rasa percaya diri dan status sosialnya. 
Misalnya, mereka berbohong soal kekayaan keluarga, atau bersahabat dengan orang terkenal, dan lain sebagainya.
 Tujuannya adalah mereka ingin diterima oleh suatu komunitas sosial tertentu di kalangan teman-temannya. Mereka juga ingin dianggap “hebat” atau “keren” dan segala hal yang berbau pamor di kalangan para remaja. 
Terkadang, hal yang dimikian juga disebabkan karena anak pernah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari teman-temannya, seperti dipermalukan atau diremehkan.


Kebohongan lain adalah bohong terhadap orang tua agar orang tua mau menerima teman-teman sepermainannya. 
Mereka biasanya berbohong dengan mengendalikan informasi, seperti memberikan alasan belajar bersama di rumah teman, padahal mereka pergi main ke mall atau ke tempat persewaan PS, dan lain sebagainya.


Mendidik Anak Agar Tidak Bohong

Setiap orang tua tentunya merasa sedih dan kecewa bila melihat dan mendengar anaknya berbohong. 
Dan tidak jarang kita langsung merasa panik dan buru-buru men-judge anak “kamu bohong” atau “kamu pembohong”.


Yang harus kita lakukan adalah memahami perilaku tersebut sebagai tahapan perkembangan anak dan mencari solusinya agar tidak menjadi kebiasan di kemudian hari.

Keteladanan dari orang tua

Menanamkan sikap jujur dan tidak suka berbohong adalah tugas orang tua dan pendidik. Namun, tentu saja tidak bisa hanya sekedar teori, melainkan dengan keteladanan. 
Berusahalah untuk bersikap jujur dalam perkataan dan perbuatan. Karena anak-anak melihat dan mencontoh apa yang mereka lihat dan mereka dengar.

Jika kita ingin mengalihkan perhatian anak dari tangisnya, alih-alih kita mengatakan “lihat itu ada cicak!” kita bisa menggantinya dengan kalimat ajakan, “yuk, kita cari cicak,” sambil mengajaknya keluar.

Orang tua juga tidak boleh berpura-pura akan memberikan sesuatu pada anak jika anak menurut. Misalnya, kita bilang, “ayo nurut sama ummi, nanti ummi belikan mainan” atau yang semisal dengan itu. Padahal itu hanya untuk memancingnya saja tanpa benar-benar akan memberikannya mainan bila ia sudah menurut.


Menanamkan kejujuran sejak dini

Sesungguhnya kejujuran itu sederhana, tapi sulit untuk dilakukan. Semakin dewasa usia seseorang, akan semakin sulit dan makin banyak godaannya untuk berbuat jujur. Padahal, kejujuran adalah salah satu kecerdasan moral. Dan untuk melatih kecerdasan moral seperti ini jauh lebih sulit dari pada melatih kecerdasan intelegensi.


Para psikolog dan pakar pendidikan anak banyak menilai bahwa orang tua masa kini jauh lebih bisa mencerdaskan intelegensi anak dari pada mencerdaskan moral anak. Bukan berarti terjadi kemerosotan moral di sini, melainkan orang tua merasa tidak percaya diri dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Sehingga kemudian, orang tua pun menyerahkan tugas tersebut pada sekolah atau guru anak-anak mereka. Padahal, sejatinya pendidikan moral adalah hal yang juga harus diberikan oleh orang tua, bersama dengan pendidikan agama.


Hindari memberi hukuman yang terlalu berat pada anak

Jika kita ingin memberikan anak hukuman karena kesalahannya, maka hukumlah dengan “adil”. Dalam artian, tidak setiap kesalahan anak harus mendapatkan hukuman yang berat. Lihat dan pertimbangkan seberapa berat kesalahan anak dan hukuman apa yang paling tepat untuknya.

Misalnya, anak menumpahkan air. Ini adalah perkara yang sepele sebenarnya. Bisa jadi anak tidak sengaja melakukannya. Maka berikan ia konsekuensi, untuk mengambil lap dan mengeringkan airnya dengan bantuan Anda.

Atau misalnya, anak tidak menabungkan uangnya dan malah menggunakan uang tersebut untuk membeli mobil-mobilan baru. Jangan langsung menghukumnya dengan memukul atau mengomelinya sepanjang hari. Tapi, nasehati anak dengan baik dan minta ia untuk tidak mengulanginya. Konsekuensinya, anak belajar untuk menabungkan sebagian uang jajannya sebagai ganti dari uang tabungan yang telah ia pakai kemarin.

Hukuman yang terlalu berat dan sering dapat menimbulkan rasa takut pada anak yang dapat mendorong anak untuk berbohong.


Hargai setiap usaha yang dilakukan anak

Sudah kodratnya anak-anak itu butuh pujian dari orang tuanya. Mereka butuh penghargaan dari setiap usaha baik yang mereka lakukan. Selaras dengan “teguran” yang mereka dapatkan ketika mereka melakukan kesalahan.

Tentunya anak-anak akan bertanya-tanya, kalau aku salah aku selalu dimarahi, tapi kalau aku jadi anak baik, ibu dan ayah biasa saja.

Seorang anak lama-kelamaan akan merasa frustrasi dan jenuh ketika setiap usaha yang ia lakukan ia hanya mendapatkan kritikan pedas dari orang tuanya. Mereka akan merasa gagal, ditolak, tidak mampu, tidak percaya diri, dan rendah diri. Lebih-lebih jika orang tuanya membanding-bandingkan dirinya dengan saudaranya atau anak orang lain. Rasa frustrasi dan jenuh itulah yang juga bisa mendorong seorang anak untuk berbohong demi pengakuan.

Jika si kecil melakukan sesuatu, bahkan jika hasilnya kurang memuaskan, cobalah untuk mengatakan, “wah…subhanallah…kakak sudah pintar ya. Nanti kita buat lagi yang bagus supaya kakak bisa semangat lagi ya!”.

Penghargaan yang diterima oleh seorang anak anak menumbuhkan sikap menghargai orang lain di kemudian hari.


Hindari dan jauhkan anak dari tontonan atau cerita-cerita bohong
Sering memperdengarkan cerita-cerita bohong juga membuat anak-anak belajar berbohong. Karena sebagian besar anak-anak belum bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya khayalan saja.

Dari mana anak mengenal monster dan hantu jika bukan dari buku cerita fiksi dan film di TV? Karena itu orang tua harus benar-benar selektif dalam memilihkan buku bacaan dan tontonan untuk anak.

Saat ini banyak sekali buku-buku dan film-film yang isinya hanya merusak moral anak-anak, atau memperlihatkan adegan kekerasan, kisah-kisah yang tak masuk akal dan membuat anak-anak takut.

Jelaskan pada anak-anak bahwa monster dan hantu itu tidak ada dan hanya rekaan manusia. Kalau perlu, apalagi di jaman teknologi yang sudah canggih ini, kepada anak-anak yang sudah lebih besar, kita bisa memperlihatkan bagaimana “efek” monster dan hantu itu dibuat dengan komputer.


Dengarkan anak saat mereka bicara

Mendengarkan keinginan anak bukan berarti harus mewujudkan setiap keinginannya. Akan tetapi, mendengarkan di sini adalah menunjukkan antusiasme dan perhatian kita bahwa kita menghargai apapun yang mereka katakan.

Jika ternyata apa yang mereka katakan itu bukan hal yang sesungguhnya terjadi atau hanya khayalan mereka, jangan buru-buru marah atau menudingnya sebagai pembohong. Tapi, luruskanlah, agar anak-anak memiliki pola pikir yang lurus pula.


Berikan kepercayaan pada anak

Akan tiba masanya anak-anak harus bisa melakukan banyak hal sendiri, tanpa bantuan dan pantauan orang tua. Apalagi ketika usia mereka beranjak remaja, tentulah mereka tak ingin terus menerus dibayangi atau terlalu diatur oleh orang tua.

Seiring dengan bertambahnya usia, bertambahnya tanggungjawab, bertambah pula keinginan seorang anak untuk dihargai sebagai seorang “anak yang sudah besar”. Mereka menginginkan tanggungjawab yang lebih besar pula, dan menginginkan kemandirian. Karena itu, sudah sepatutnya orang tua memberikan kepercayaan pada anak-anaknya.

Ajarkan anak-anak bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi, dan harus dipertanggungjawabkan. Tanamkan bahwa setiap tindakan mereka adalah cerminan bagaimana orang tua mereka mendidik mereka. Lalu berikan mereka kepercayaan.

Sesekali waktu, anak-anak mungkin melakukan kesalahan. Namun, bantulah mereka untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan percayakan bahwa mereka belajar dari kesalahan tersebut.

Dari pada mengatakan, “tuh, kan…ternyata kamu memang nggak bisa dipercaya”, lebih baik katakan, “oke…ummi ngerti kalau hari ini kamu salah. Sekarang kita cari penyelesaiannya sama-sama, dan ummi harap kamu tidak mengulanginya lagi.”

Anak-anak yang mendapatkan kepercayaan dan merasa dipercaya, pada akhirnya akan belajar untuk menjaga kepercayaan tersebut dan mau belajar untuk senantiasa jujur dalam perbuatan dan perkataan.


***


Muslimah.or.id
Penulis: Nisa Sabardin Ummu Alifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits